Author POV
Besok itu sama, sampai Letta hampir tidak sama.
Dain bangun lebih dulu, ember kosong, Lita tidak batuk. Pagi: telur, angka, gorden, ember menganggur. Nana kirim foto lebih cepat, Lita koreksi satu angka, puas. Dain menyetrika celana briefing, Lita bilang lipatan masih seperti anak kos, Dain ulang, Lita luluskan dengan muka bos. Mereka hampir tertawa. Letta bilang om dan bunda jangan ketawa terlalu keras, tetangga bisa kira pesta. Lalu jam wali kelas, dan ketawa itu habis.
Letta memakai kemeja sekolah, Dain di kamar, Lita di luar frame. Semua seperti semula, sampai wali bertanya, lembut, "Letta, bunda sudah lebih baik? Kemarin temanmu doakan perut bunda."
Di luar frame, Lita membeku. Di dalam frame, Letta mengedip.
"Bunda lebih baik. Perut bunda kerja. Ada yang tumbuh, diam, jangan ke teman. Om bilang. Ember, bukan pukul. Timbang."
Wali kelas tersenyum kaku. "Bagus, Letta. Istirahat. Kirim tugas."
Layar mati. Lita tidak marah pada anak itu. Dia duduk, menahan napas, lalu menatap pintu kamar Dain yang terbuka karena Dain sudah keluar terlalu cepat.
"Teman doakan perut. Berarti ada yang bicara. Bukan Letta yang mulai di grup, mungkin orang tua. Dain, kamu tidak salah kemarin. Tapi hari ini kita harus lebih pendek. Letta."
Letta sudah menangis sebelum dimarahi. "Letta janji jangan ke teman. Wali tanya. Letta jujur. Letta salah?"
"Tidak salah jujur ke wali. Mulai sekarang, kalau ditanya perut, jawab: bunda berobat, dokter, istirahat. Titik. Tidak tumbuh. Tidak ember. Tidak om. Hafal."
"Hafal. Bunda berobat, dokter, istirahat. Titik." Letta mengulang tiga kali, Lita mengangguk, Dain mengangguk, rumah mengulang titik.
Dain ke koridor dalam, bukan lobby, menelpon wali, sopan, tidak statement, suara rendah.
"Ibu, kami minta perut tidak dibahas di kelas. Bunda berobat, privasi. Terima kasih doa, jangan disebar. Letta anak jujur, jangan dijadikan sumber berita."
Wali mengerti, atau pura-pura mengerti, berjanji akan mengingatkan, berjanji tidak akan menanyakan tumbuh. Cukup untuk kertas sekolah, tidak cukup untuk menutup mulut orang tua di grup. Dain berdiri di koridor sampai napas rata, tidak ke lift, tidak ke sekolah, lalu kembali. Lita sudah menuliskan kalimat titik di kertas, tempel di kulkas, di bawah gambar bintang siang yang salah. Letta menyalin di buku: bunda berobat, dokter, istirahat, titik. Tiga baris, satu nyawa.
Siang, Lita menelpon Nana lebih singkat, suara datar, bos yang tidak memberi celah menangis di lini usaha. Angka jalan. Tidak ada hoodie. Ada satu pelanggan yang tanya Mbak kapan cantik lagi di toko, Nana potong, Lita memuji potongan itu. Pengacara kirim: story baik-baik Freya tidak menyebut nama, tidak perlu somasi baru, tetap diawasi. Dain ingin somasi rasa, ingin menulis panjang, ingin tujuh tahun bicara.
Lita menggeleng, menutup ponselnya.
"Jangan perang ke caption baik. Kamu kelihatan kecil. Simpan kertas untuk kertas. Kalau kamu tulis 'aku sudah bukan hon', itu judul. Kalau kamu diam, itu sapu. Pilih sapu."
Dain pilih sapu. Dia cuci ember yang tidak terpakai, keringkan, taruh lagi, kerja bodoh yang menenangkan. Letta menonton, lalu membantu mengelap lantai di sekitar ember, berlebihan, Lita bilang cukup. Cukup itu kata hari ini. Bukan baik-baik. Bukan judul. Cukup.
Sore, Letta mengerjakan PR dengan titik di mulut, kadang terucap, kadang ditulis di pinggir buku. Dain membantu bagi, salah, dibetulkan, lalu diminta Letta ulang sampai benar dua kali. Lita berbaring, tidak mual, capek, mengawasi dari sofa, kadang menyela: "Jangan ajar dia ngegas di soal. Pelan." Jesika tidak datang, hanya chat: ibu dengar dari Dain soal wali, sudah dihubungi sekolah lewat jalur sopan, jangan ngegas ke orang tua, jangan datang ke gerbang.
Dain membalas: tidak ke gerbang. Titik. Lita melihat chat itu, puas. Rumah, sore itu, menang tanpa gerbang.
Malam, Freya mengirim pesan ke Dain, bukan story.
Saya dengar perut. Sekolah kecil, mulut besar. Saya tidak sebar. Saya tunggu kamu briefing. Kalau kamu terbang, janda itu sendirian. Pikir.
Dain meneruskan, tidak membalas. Lita membaca, pipinya memanas, bukan hanya memar.
"Dia dengar perut. Bukan dari Letta. Dari orang tua, atau dari diammu di lobby dulu. Dua-duanya jelek. Kita tidak usir. Kita tidak jawab. Besok kamu tetap ke? Bukan. Briefing lusa. Besok sofa. Saya yang telpon wali lagi, bukan kamu. Kamu muka ember, bukan muka perang sekolah."
Dain duduk di lantai, punggung ke sofa, ember di pandangan. "Saya takut dia sebar tumbuh. Saya yang diam di lobby. Saya yang buka celah."
"Celah itu kita jaga sekarang, bukan kita ganti dengan ngegas." Lita mengetuk kertas titik di kulkas. "Kalau sebar, pengacara. Kalau tidak, diam. Kamu jangan ke kampus. Jangan ke sekolah. Jangan ke gang. Tiga jangan. Tambah: jangan jelaskan perut ke siapa pun, termasuk Ro, termasuk kapten, termasuk pramugari yang baik. Baik-baik juga mulut."
"Tercatat. Empat jangan. Titik." Dain ingin memegang tangan Lita, tidak. Dia memegang tepi ember, konyol, cukup.
Letta memeluk Lita. "Letta hafal titik. Om jangan takut. Ember kosong. Kalau tante chat, om cuci piring, jangan cuci perang."
Dain tertawa pelan, pecah. "Hakim benar. Saya cuci piring." Dia benar-benar cuci piring yang sudah bersih, Lita membiarkan, karena tangan perlu kerja yang tidak membuat judul.
Sore itu Dain hampir ke sekolah, keys di tangan, Lita bilang duduk. Dia duduk. Kunci kembali ke mangkuk. Letta melihat, mengerti tanpa kuliah: om tidak ngegas.
Malam itu Dain tidak tidur dalam. Ember di lantai. Pesan Freya di arsip. Titik di mulut anak. Lusa briefing. Dia berbalik di sofa, kaki menggantung, plafon retak, lalu memejam dengan muka ember, dan dengan takut yang tidak dia pesta. Kalau takut jadi pesta, Freya menang. Dia memilih kalah tidur, menang diam. Ponsel telungkup. Ember kosong. Titik di kulkas. Lusa kerah. Malam ini, cukup tidak membalas hon dan tidak membuka story.