Author POV
Hari sebelum briefing, rumah memendekkan semua kalimat.
Dain bangun karena alarm percobaan, bukan hari H, hanya supaya tidak kaget besok. Lita mengumpat pelan, lalu tertawa kecil: "Lusa, bukan sekarang." Ember kosong. Pagi Lita mual sedikit, tidak hebat, duduk di kamar mandi, Dain di luar dengan ember yang tidak jadi pakai, Letta di ranjang mengulang titik.
Dain masak bubur, bukan telur, Letta protes lalu menerima karena bunda yang minta, lalu menuntut madu sedikit, ditolak Lita, diterima satu tetes, hakim kompromi. Angka dari Nana: sepi mereda, dua pelanggan lama kembali, satu masih kasar di chat, diblok, titipan tanpa nama nol, satpam sepi, plat tidak muncul. Lita mencatat di buku, bukan di kepala, garis lurus, seperti orang yang menolak jadi berita.
"Tidak turun. Tidak mesin. Tidak lima menit. Angka cukup. Kemenangan hari ini: saya tidak rindu sampai bodoh."
Dain mengangguk. Itu kemenangan yang tidak diumumkan, dan justru karena tidak diumumkan, aman. Dia cuci panci bubur, Letta menjilat sendok, Lita menutup buku. Siang masih panjang, briefing masih besok, kalimat tetap pendek. Dain menyetrika celana sekali lagi, Lita bilang sudah, jangan sampai gosong karena takut. Takut gosong juga ngegas. Dia matikan setrika, duduk, hisap permen titipan, manis, diam.
Orlando belum datang. Rumah menunggu sahabat tanpa membuka pintu lebih awal. Lita tidur lima belas menit, tangan di samping perut, bukan di atas. Dain jaga di sofa, tidak portal, tidak gang, tidak sekolah. Itu shift. Ketika Lita bangun, Dain masak air, bukan berita, bukan lagu. Orl belum ketuk. Rantai tetap. Letta menghitung permen di saku om, masih ada, lulus. Siang berlanjut pendek, tanpa judul, tanpa gang, tanpa lima menit. Hanya air hangat, permen di saku, rantai di pintu, dan orang yang belajar tidak ngegas.
Dain merapikan map cuti, kemeja, kerah yang sudah lurus, sepatu, kartu identitas yang sempat tidak dia sentuh seminggu. Lita memeriksa seperti memeriksa nota, satu-satu, tidak melewatkan kancing.
"Kamu ke kantor besok pagi. Mom datang subuh. Saya tidak mualkan kamu dengan drama. Saya tidak minta kamu batal kalau saya pusing. Kamu timbang. Kalau mereka izinkan terbang, jangan langsung ambil yang jauh. Kalau tidak, jangan ngegas ke HRD. Jangan janji media. Pulang. Kabari. Titik."
"Titik." Dain tersenyum kecil. "Kata itu menular."
"Menular lebih baik daripada klausul. Klausul panjang. Titik pendek. Saya sudah alergi yang panjang." Lita menaruh tas Dain di dekat pintu, bukan untuk mengusir, untuk berangkat. Letta memasukkan permen ke saku dalam, "om kalau takut, hisap, jangan ngegas."
Siang, kode dua kali, Jon konfirmasi sahabat. Orlando mampir sebentar, tidak duduk lama, tidak omong kasar, sepatu rapi, muka capek pengacara.
"Briefing, loe diam yang perlu diam. Jangan cerita sofa. Jangan cerita tumbuh. Jangan cerita ember, nanti jadi meme. Cerita cuti, pengacara, tidak komentar. Freya story pagi ini cuma lagu. Gue bosan, itu bagus. Hoodie diam. Ojek tidak ulang. Mama Freya gerak, gue dengar dari satpam kantor loe, mungkin besok. Jangan adu mulut di parkir."
Letta mengintip. "Om berisik yang ini. Tidak boleh kata burung. Boleh kata titik."
"Titik," kata Orlando cepat, hampir hormat. "Saya pergi. Dain, jangan ngegas ke kampus sebelum kantor. Urutan: kantor, rumah, baru dunia. Kalau mama di parkir, masuk mobil, chat gue, bukan turun debat."
Dain mengangguk. Lita mengantar Orl sampai rantai, bukan sampai lobby. "Terima kasih tidak bawa keramaian." Orl hanya angguk, pergi.
Setelah Orl pergi, Lita menatap Dain. "Sahabatmu belajar. Kamu juga. Malam ini tidur. Benar. Kerah lurus tidak berguna kalau mata kamu merah. Saya bisa jaga angka. Mom jaga ember. Kamu jaga napas. Jangan jaga semua sampai kamu jatuh di kantor."
Dain hampir membantah, lalu mengangguk. Dia tidur siang dua puluh menit, bangun karena Letta menaruh permen di saku, lalu benar-benar merapikan tas, hitung kertas, hitung napas. Lita mengoreksi angka. Rumah berbunyi kertas, bukan sirine.
Sore, Dain dan Letta jalan di koridor dalam apartemen, tidak ke lobby, tidak ke taman, hanya bolak-balik lantai, supaya anak tidak gila di unit. Lita di pintu, memegang kusen, mengawasi, tidak ikut. Letta menghitung pintu, Dain menghitung napas. Tetangga lewat, menunduk, tidak bicara. Dain menunduk. Perang kecil: tidak memberi muka, tidak memberi cerita, tidak memberi perut.
"Om, besok ke kantor. Jangan kabur. Nenek datang. Letta jaga titik."
"Tidak kabur. Dekat. Titik." Mereka putar tiga kali, lalu empat, Letta minta lima, Dain tolak, tiga cukup, jangan jadi etalase koridor. Masuk, rantai, gorden. Lita mengangguk, seperti bos yang luluskan shift. "Cukup. Jangan lima menit di lorong. Lima menit kita sudah pernah rugi." Dain tertawa kecil, pahit, setuju.
Malam, setelah koridor, Lita ke ambang lebih lama, selimut di bahu, tidak pucat.
"Dain. Besok kamu pergi. Saya takut, bukan karena Freya lebih kuat, karena saya terbiasa kamu di sofa. Kebiasaan itu bukan alasan menahan langit. Saya pernah menahan orang dengan takut, itu klausul. Tidak lagi. Pergi. Pulang. Jangan hilang. Kalau mual, Mom. Kalau Freya di lobby, Jon, bukan kamu yang turun sendirian dari kantor. Kalau mama di parkir, mobil, bukan mulut."
"Urutan tercatat. Saya tidur. Ember tetap. Kerah lurus. Tidak cafe. Tidak judul."
Lita mengangguk. "Kalau kamu tidak tidur, briefingmu jelek. Saya marah kalau kamu jatuh karena jaga saya berlebihan. Jaga yang cukup. Cukup itu sapu."
Letta titip, sudah mengantuk: "Om jangan kabur ke pesawat jauh. Pesawat tidur dulu, dekat. Bunda titik. Letta titik. Permen di saku, jangan ngegas."
"Dekat. Titik. Permen." Dain memejam, alarm sudah dipasang, ponsel telungkup, story Freya tidak dibuka. Dia sempat cek ember, kering, konyol, siap. Sempat cek rantai. Sempat tidak cek portal. Sempat hisap permen, manis, bodoh, cukup. Hari sebelum langit, rumah menang dengan kalimat pendek, dan dengan orang yang belajar tidur meski takut.