Author POV
Alarm berbunyi. Dain bangun sebelum Lita mual atau tidak mual, sebelum Letta jadi hakim telur.
Dia cuci muka, pakai kemeja, kerah lurus, dicek di kaca toilet tamu, bukan di kamar Lita. Ember di lantai. Jon sudah chat: siap di bawah. Jesika sudah di basement, lalu di unit, tepat ketika Dain mengikat sepatu, membawa termos dan muka yang tidak boleh dibantah.
Lita minum air, tidak pucat. "Tidak mual. Jangan batal. Pergi." Letta masih mengantuk, sempat cium pipi Dain, sempat ulang: titik, sempat menaruh barbie di tas Dain, lalu diambil Lita. "Barbie tidak ke kantor. Om saja."
"Pergi," kata Lita. "Timbang. Kabari. Jangan cafe tujuh tahun. Jangan parkir lama. Jangan pesta di lift kantor."
Jesika menyodorkan termos. "Minum. Jangan kopi banyak. Ibu di sini. Pergi."
Dain turun, tidak menoleh ke unit, Lita tidak di jendela, gorden tetap. Jon antar, bukan ngegas, radio mati, mint di dashboard. Kantor masih berbau kopi dan karpet, poster keselamatan yang sama. Orang menoleh, lebih sedikit dari minggu lalu, satu senyum kaku, Dain tidak memancing. Dia masuk toilet dulu, cuci muka, kerah, napas, muka ember, baru ke ruang briefing.
HRD, humas, kapten. Map lebih tipis. Kopi tidak diminum. Kursi keras, jujur.
Humas membuka dengan ringkasan yang sudah Dain dengar di kepala: nama maskapai sempat terseret, sekarang mereda, jangan diseret lagi. HRD menambahkan cuti administratif berakhir bertahap. Kapten menatap mata, bukan map.
"Evaluasi internal cukup. Tidak ada pelanggaran dinas. Pemberitaan mereda. Anda boleh kembali jadwal terbatas, domestik dulu, bukan jangka panjang, mulai minggu depan, jika Anda fit. Medis standar, jangan ditawar. Tetap tidak komentar. Kalau ada media di bandara, lapor kami, jangan jawab. Kalau keluarga di parkir membuat keributan, lapor, jangan adu mulut. Kami sudah dengar ada kemungkinan itu."
Dain hampir tersenyum pahit: Orl benar. Dia hanya mengangguk.
Dain mengangguk. Dada ingin pesta. Mulut tidak. Tangannya di lutut, tidak gemetar, kerah lurus.
"Saya fit untuk evaluasi medis. Saya tidak ambil yang jauh dulu. Terima kasih. Tidak komentar. Kalau ada yang menghubungi atas nama saya, teruskan humas."
HRD mencatat. Humas mengangguk. Kapten menepuk bahu, pelan, bukan untuk kamera. Humas menambah satu: "Jangan wawancara 'klarifikasi pribadi'. Pribadi sudah cukup merusak. Dinas yang kami butuhkan."
"Selamat datang pelan. Jangan bawa rumah ke cockpit, jangan bawa cockpit ke portal. Jadwal minggu depan, pendek, kita lihat medis. Jangan ngegas ke ops minta yang lebih cepat. Kalau tidak fit, bilang. Lebih baik kosong daripada berita baru."
"Siap, Sir. Pelan. Jujur." Dain tanda tangan form terbatas, membaca dua kali, tidak ada klausul yang menjebak, hanya dinas, tanggal, rute dekat. Dia hampir tertawa: dia sudah alergi klausul. Keluar, dia hisap permen Letta di koridor, manis, tidak ngegas.
Keluar, Dain mengetik ke Lita dulu, bukan ke Freya, bukan ke grup.
Terbatas, domestik, minggu depan, medis dulu. Tidak jauh. Pulang.
Lita membalas: Titik. Pulang. Mom di sini. Tidak mual.
Di parkir, panas merata, CCTV di tiang. Mama Freya berdiri dekat mobil Dain, bukan Freya, tas mahal, muka acara yang batal, sepatu yang tidak untuk mengejar. Jon sudah lebih dulu di sisi pintu.
"Dain. Kamu kembali terbang. Bagus. Usir janda sebelum kamu dinas. Keluarga saya tidak mau nama Freya diinjak pilot yang sibuk. Saya tidak bawa kamera. Saya bawa akal. Akal itu: kamu pulang ke yang tujuh tahun, atau kamu bawa malu ke cockpit."
Dain tidak ngegas. Tangan di sisi, tidak ke tas wanita itu. "Bu, urusan saya lewat pengacara. Saya tidak usir siapa-siapa. Saya pulang. Jangan bandara. Jangan unit. Jangan pakai kata cockpit untuk usir orang."
"Kamu tujuh tahun. Freya hamil, lab kalian bohong."
"Lab bukan milik saya. Tujuh tahun tidak menampar orang. Permisi." Dia tidak menaikkan suara. Jon buka pintu. Dain masuk. Itu muka ember di aspal.
Mama Freya masih bicara ketika Dain sudah memutar kunci. Jon menutup pintu, putar jalan lain, bukan jalan yang biasa ke cafe tujuh tahun. Dain tidak merasa pahlawan. Dia merasa kerahnya masih lurus, tangan ingin turun, kaki tetap di karpet mobil, dan itu cukup untuk tidak adu mulut di parkir yang punya CCTV dan punya judul.
"Bos, saya catat plat. Pengacara."
"Catat. Jangan kejar. Pulang." Dain mengetik laporan singkat, lalu menutup. Lita menunggu titik, bukan pidato.
Di unit, kode dua kali, rantai, Lita menunggu di sofa, Jesika di dapur, Letta memegang ember seperti piala konyol, lalu menaruhnya di kaki Dain seolah menandai: pulang, bukan kabur.
"Langit pelan," kata Dain, duduk di lantai dulu, baru sofa. "Minggu depan, dekat, medis dulu. Mama Freya di parkir. Tidak usir. Tidak tinju. Tidak debat. Pulang. Pengacara dapat plat."
Lita menghela, memegang kerahnya sebentar, merapikan, lalu melepas kancing atas. "Kamu timbang. Saya percaya sedikit lagi. Duduk. Kerah lurus, mata merah. Tidur siang. Jangan pesta domestik. Jangan telpon Freya karena kemenangan kecil. Kemenangan kecil itu umpan."
"Tidak pesta. Tidak telpon." Dain membiarkan Letta menaruh ember di sisinya. "Ember dan langit, om jaga dua-duanya, tidak kabur. Titik. Medis jujur. Tidak jauh." Lita mengulang titik, Jesika mengulang jangan balas, Letta mengulang kaos, dan Dain hampir tertidur di tengah daftar itu.
Jesika mengangguk, menuang air, bukan pidato. "Bagus. Ibu pulang siang. Lita, angka. Dain, tidur. Jangan balas mama itu. Ibu yang bicara ke Gavin. Kamu jangan jadi juru bicara parkir."
Dain tidak balas. Pengacara yang dapat laporan. Gavin dapat ringkas dari Jesika, membalas satu baris: pelan, jangan pesta. Rumah, siang itu, menahan piala. Domestik bukan kemenangan. Itu izin pelan. Lita makan dua suap, Dain makan berdiri, Letta makan sambil menatap ember seolah piala juara tidak pukul, lalu Dain hampir tidur di sofa dengan kerah yang akhirnya dilepas, diganti napas, diganti sepi yang kali ini dia coba percaya sebentar, sebelum Letta datang mencabut kerah dari leher.