Author POV
Tidur siang pecah karena Letta, bukan karena berita.
Dain hampir nyenyak, kerah masih di leher, konyol, seperti orang yang tidur siap dinas. Letta mengetuk dadanya.
"Om, nenek pulang. Bunda angka. Om jangan pakai kerah di sofa. Kelihatan mau kabur. Letta takut om terbang sekarang."
Dain melepas kemeja, ganti kaos, kerah dilipat rapi ke sandaran, jauh dari tangan. Lita tersenyum dari laptop, angka masih terbuka.
"Anak ini lebih teliti dari humas. Kamu boleh langit minggu depan. Hari ini kaos. Saya mau dengar medis itu apa. Jangan bohong fit kalau tidak fit. Saya pernah lihat kamu bohong sehat demi Freya. Jangan ulang ke perut saya."
"Saya janji medis jujur. Kalau tidak fit, tidak terbang. Timbang. Bukan demi siapa, demi cockpit dan ember." Dain minum air, masih serak. "Mama Freya di parkir. Sudah ke pengacara. Bukan ke kamu. Kamu angka."
Sore, pengacara kirim panjang, Dain bacakan: Mama Freya di parkir tercatat CCTV, tidak cukup untuk tahan, cukup untuk surat jangan mendekat ke kantor jika diulang, tembusan humas maskapai. Freya sendiri story lagi, bukan baik-baik, hanya lagu sedih, komentar orang lama, tidak ada kata perut, tidak ada kata janda. Dain tidak membuka. Lita juga tidak, setelah Dain bilang cukup, dan setelah Letta dilarang pegang ponsel om.
"Lagu sedih itu jebakan tujuh tahun," kata Lita. "Kamu pernah beli tas karena lagu. Sekarang beli diam."
Dain beli diam. Dia membantu PR Letta, salah bagi, dibetulkan, lulus, salah cerita, dibetulkan lagi. Dia tidak membeli langit lebih cepat. Dia tidak membeli lagu. Dia membeli waktu: seminggu di rumah, kaos, ember, angka, lalu medis, lalu dekat. Lita mendengar daftar itu, mengangguk, menambah: "Lalu pulang. Selalu pulang."
Mereka makan. Bubur, buah, telur yang Letta luluskan dengan catatan tidak gosong. Jesika sudah tidak ada, rumah lebih longgar, lebih rawan. Lita menatap Dain lama, kacamata masih di hidung.
"Kalau kamu terbang, saya tetap di sini. Bukan menunggu pahlawan. Menunggu kabar. Letta menunggu om, bukan menunggu berita. Kalau Freya sebar perut saat kamu di udara, Mom dan pengacara, bukan kamu yang putar pesawat. Jangan jadi kapten yang memutar hidup di tengah landasan karena caption."
"Tidak putar pesawat. Urutan. Saya tulis untuk Letta." Dain menulis di kertas, bukan notes saja, tempel di kulkas dekat titik: om kabari, om pulang, om tidak kabur, om dekat. Letta membaca, mengangguk, menggambar pesawat kecil di bawahnya, sayap tidak simetris.
Letta mengangguk, menempel kertas itu dengan magnet jelek. "Om terbang dekat. Bunda titik. Ember di rumah. Tante Frey jangan masuk. Mama tante jangan parkir. Om kaos."
Mereka mencuci piring bersama, Dain basah, Letta kering, Lita komando dari sofa: gelas di kanan, piring di kiri, jangan pecah, jangan ngegas. Rumah berbunyi kerja. Tidak ada lagu sedih di speaker. Dain hampir menyalakan radio, Lita menggeleng. Sepi lebih aman daripada nada yang pernah dibeli tas.
Sore pecah jadi malam pelan. Jon ganti shift. Nana kirim toko tutup. Pengacara kirim 'cukup hari ini'. Dain tidak membalas Freya yang tidak chat. Itu juga kerja. Dia menulis di notes: medis jujur, dekat, pulang, tidak lagu, tidak parkir, tidak cincin. Lita melihat dari jauh, tidak minta dibaca, percaya daftar itu tidak kotor.
Letta mandi, piyama, cium bunda, cium om, ember, titik. Rumah turun lampu. Perang di luar. Sapu di dalam. Dain cek rantai sekali lagi, gerakan bodoh, Lita mengangguk dari ambang. Cukup untuk ditiduri, cukup untuk tidak beli selesai, cukup untuk tidak beli tas, cukup untuk langit pelan, ember kosong di lantai, kerah yang dilipat, dan sofa yang sama, kaki menggantung, sampai pagi benar-benar datang, portal mati, diam.
Malam, Lita ke ambang, lebih kuat dari malam mual.
"Dain. Saya belum siap kasih nama. Saya belum siap bilang adik. Saya siap bilang ini: kamu boleh langit pelan. Saya boleh angka. Kita belum nikah, belum suci, belum selesai perang. Jangan pakai minggu depan untuk menutup semua dengan cincin. Jangan juga untuk kabur. Sofa masih sofa. Kasur masih bukan perjanjian."
"Sofa. Bukan cincin. Bukan kabur. Muka ember, bahkan di domestik." Dain menatap plafon retak. "Saya takut senang. Senang terasa seperti pesta. Saya pernah pesta kecil di cafe lalu menabrak anakmu. Saya tahan. Senang nanti, pelan, di rumah, bukan di judul."
"Tahan. Senang boleh kecil, di telur, di kerah, di Letta yang luluskan om, di medis yang jujur. Bukan di portal. Bukan di lagu. Bukan di parkir." Lita menahan kusen. "Saya juga takut senang. Senang bikin saya kira perang selesai. Perang belum. Freya masih lagu. Mamanya masih parkir. Perut masih rahasia. Kita sapu. Kita tidur. Kita jangan beli selesai."
Dain mengangguk. "Tidak beli selesai. Beli tidur." Letta dari belakang, sudah mengantuk, mengulang: tidak beli selesai. Rumah itu, malam itu, kaya dengan kalimat miskin, dan itu lebih aman.
Dain memejam. Ember di lantai. Map terbatas di tas. Mama Freya di suatu mobil. Freya di lagu sedih. Tumbuh di kamar, belum nama. Dua hari yang lalu dia kira langit hilang. Hari ini langit pelan. Perang belum selesai. Rumah belum bersih. Tapi kerah sudah dilipat, kaos sudah dipakai, dan itu, untuk malam ini, lebih jujur daripada tujuh tahun di cafe.
Letta menaruh barbie di dadanya, sebentar, lalu bisik, "Om jangan pakai kerah tidur. Om pakai ember tidur. Besok angka. Lusa om masih rumah. Minggu om dekat. Kalau tante kirim lagu, om jangan beli tas."
"Tidak beli tas. Dekat. Titik." Dain benar-benar tidur, kaos, bukan kerah, pintu rantai, gorden turun, portal mati, kertas titik di kulkas, pesawat jelek di bawahnya, dan untuk pertama kali sejak bandara dulu, dia memikirkan jadwal terbang tanpa ingin ngegas menuju siapa pun. Hanya pulang. Hanya kabari. Hanya tidak kabur.