Author POV
Pagi medis, Jesika sudah di unit sebelum Dain mengikat sepatu.
Termos, muka yang tidak boleh dibantah, Letta masih mengantuk. Lita minum air, tidak pucat, tidak mual.
"Pergi. Jujur. Pulang. Jangan cafe. Jangan pesta di lift. Kerah lurus, mata jangan merah karena portal. Kamu tidak buka, kan?"
"Tidak buka." Dain hisap permen. Letta cium pipi, ulang titik, hendak memasukkan barbie ke tas, Lita ambil. "Barbie jaga rumah. Om jaga jujur."
Dain turun, tidak menoleh ke jendela, gorden tetap, Lita tidak melambai, Letta tidak ke lobby. Orlando setir, radio mati, mint di dashboard, AC pelan. Di jalan Dain hampir buka portal, Orl menepuk setir. "Tidak. Klinik. Jujur. Pulang." Dain hisap permen. Klinik maskapai bersih, dingin, kaca, poster telinga, tensi, tidur, obat, bukan darah IGD, bukan gel USG, bukan wartawan. Dain syukur campur aneh: dua dokter, dua nyawa, jangan campur, janji, tepat waktu, tidak lebih awal, Lita luluskan dari jauh.
Lobby klinik berbau alkohol tipis dan AC. Ada pilot lain, tidak saling sapa panjang. Pendaftaran memanggil namanya, bukan nama Rocarlton secara meriah, bukan judul portal. Dain duduk, hisap permen, Orl di luar, tidak masuk ruang. Ruang periksa putih, poster tidur, tensi, darah, mata, telinga, napas, kuesioner singkat. Dokter dinas perempuan, datar, tidak tertarik portal, tidak tertarik janda, tertarik angka tubuh.
"Anda kelihatan capek, bukan tidak fit. Tidur kurang. Tidak ada zat. Tidak ada tanda yang menahan izin terbatas. Evaluasi ulang setelah tiga sector. Jangan tambah kopi. Kalau insomnia memburuk, lapor, jangan terbang. Jangan jadi pahlawan."
Dain jujur, pelan, muka ember, tangan di lutut.
"Tidur di sofa. Stres keluarga. Tidak obat tidur. Tidak alkohol. Kopi saya kurangi. Saya tidak mau bohong fit. Dulu saya pernah bilang sehat padahal tidak, untuk orang lain. Sekarang saya tidak ulang. Kalau Ibu tahan, saya terima. Malu cuti lebih murah."
Dokter menatap, mencatat, tidak menghakimi, tidak memuji berlebihan. "Fit terbatas. Jujur bagus. Tiga sector, pulang hari yang sama lebih aman. Jangan minta yang jauh. Jangan tambah dinas diam-diam. Kalau tidur memburuk, email saya, jangan diam-diam minum apa pun."
"Siap. Pelan. Jujur. Tidak diam-diam." Dain hampir ingin pesta. Mulut tidak. Dada ingin kabari dunia, ingin bilang ke Freya 'saya fit, jangan tunggu di udara', ingin bilang ke portal diam. Jemari hanya ke form. Dia tanda, baca dua kali, alergi klausul, form ini hanya dinas, tanggal, batas, tiga sector. Tidak ada nama Lita. Tidak ada perut. Bagus.
Keluar, toilet, cuci muka, hisap permen di koridor, manis, ketik Lita dulu, bukan Freya, bukan grup, bukan kapten. Urutan rumah. Orl sudah berdiri, tidak tanya panjang, baca muka, puas. Lift sepi. Dain tidak senyum ke kamera lift. Fit bukan konten. Di mobil, Dain ulang ke Orl: tiga sector, tidur kurang, jujur. Orl: bagus, jangan tambah. Jalanan biasa. Tidak ada hoodie. Tidak ada mama. Pulang terasa lebih jauh karena ingin cepat, Dain minta Orl jangan ngegas. Orl tertawa. "Loe yang biasa ngegas. Belajar." Dain belajar, permen, titik. Di basement unit, Jon angguk. Kode dua. Rantai. Ember. Fit masuk rumah tanpa pesta, dan karena tanpa pesta, Lita percaya sedikit, cukup untuk menyuruh kaos dan angka, bukan kerah dan judul.
Fit terbatas, tiga sector, tidur kurang, saya jujur, pulang, tidak pesta.
Lita membalas: Titik. Tidak pesta. Mom masak. Tidak mual. Kaos nanti.
Parkir klinik sepi dari Mama Freya, sepi dari kamera, hanya satpam dan panas merata. Dain menunggu Orl buka pintu, tidak ngegas ke setir. Orl mengangguk. "Bagus. Jangan beli gunting langit. Jangan chat Freya 'saya fit'. Fit bukan senjata. Pulang. Rumah dulu, dunia belakangan. Gue yang monitor grup mama."
Dain hisap permen cadangan. "Pulang. Titik." Jalan pulang radio tetap mati. Dia tidak belok cafe. Dia tidak belok sekolah. Urutan: klinik, rumah. Lita menunggu titik, bukan piala.
Di unit, kode dua, rantai, Letta menaruh ember di kaki Dain seperti piala konyol. Lita cek muka, bukan kerah dulu, lalu kerah, lalu tangan.
"Kamu jujur. Saya percaya sedikit. Duduk. Kaos. Angka saya. Langitmu pelan. Tiga sector, bukan piala. Jangan telpon Freya karena fit. Fit itu umpan kalau dipamerkan."
"Tidak telpon. Tidak pesta." Dain ganti kaos, kerah jauh, Letta tepuk ember pelan seperti tepuk bahu. Jesika menuang air, puas pelan, memeriksa Lita sekali lagi, lalu siap-siap pulang. "Ibu pergi. Lita angka. Dain tidur. Jangan portal. Fit tidak perlu diumumkan ke kolom. Kalau sekolah atau Freya gerak, ibu dulu, bukan kamu ngegas."
Dain angguk. Lita angguk. Pintu rantai setelah nenek. Rumah lebih longgar, lebih rawan, tetap pendek. Fit duduk di sofa, tidak di judul. Mereka belum tahu sore sekolah. Karena belum, Dain sempat tutup mata dua puluh menit, bangun, angka Lita, apel Letta, sepi yang licin. Mereka tidak buka portal. Mereka tidak telpon Freya. Fit tetap di rumah, tidak di story. Siang menahan piala. Sore belum datang dengan wali. Belum. Damai masih diizinkan beberapa jam, licin, tidak dibeli sebagai selesai, hanya diduduki di sofa, tanpa judul, tanpa lagu, tanpa chat hon, sampai wali belum mengetuk dan damai masih boleh diduduki sebentar saja, itu.
Rumah menahan fit seperti menahan piala. Dain hampir tidur siang, kerah sudah jauh, kaos sudah dipakai, Letta menaruh ember di sisi sofa lalu mengambilnya lagi, mainan aturan. Hakim bilang om lulus jujur, nilai bagus, boleh satu kue sisa Ro jika masih ada. Tidak ada. Diganti apel. Lita koreksi satu angka Nana, menelpon singkat, tidak turun. Jesika sudah pergi. Siang itu, untuk beberapa jam, damai. Damai itu licin. Dain hampir percaya. Lita tidak sepenuhnya. Dia tetap turunkan gorden. Mereka belum tahu sekolah akan mengetuk, dan karena belum tahu, Dain sempat tidur dua puluh menit tanpa portal. Itu juga fit.