Author POV
Fit terbatas belum sempat jadi damai sampai sore.
Dain baru saja membantu bagi, salah, dibetulkan, ketika ponsel Lita bergetar, wali kelas, bukan Nana. Lita angkat, speaker, Dain diam, Letta disuruh kamar.
"Mbak Lita, beberapa orang tua menanyakan apakah bunda hamil. Ada yang sudah bicara di grup. Kami meredam. Mohon keluarga tidak membawa isu ke anak. Letta tetap online. Kami tidak mengusir. Kami minta bantuan diam."
Lita memegang ponsel sampai buku-buku jari putih. Dain ingin merebut, tidak. Suaranya pendek, bos, bukan menangis, bukan merendah.
"Terima kasih tidak mengusir. Terima kasih meredam. Bunda berobat. Privasi medis. Jangan spekulasi kehamilan di grup orang tua. Kami tidak konfirmasi. Kami tidak sangkal panjang. Sangkalan panjang jadi judul. Kami minta diam. Letta hanya jawab: berobat, dokter, istirahat, titik. Bukan tumbuh. Bukan perut kerja. Bukan nama om. Kalau ada yang memaksa anak, mohon Ibu yang potong."
Wali terdengar capek, janji mengingatkan lagi, janji mute yang kasar. Cukup kertas sekolah. Tidak cukup dunia. Setelah tutup, Lita letakkan ponsel, duduk, Dain berdiri, kunci mobil sudah di tangan, ngegas hampir jadi.
"Duduk," kata Lita. "Bukan Letta yang mulai. Mulut orang tua. Freya bilang dia dengar perut. Ini ujungnya. Kamu tidak ke gerbang. Kunci ke mangkuk. Pengacara. Kalimat: tidak komentar medis, kekerasan dikecam, anak dilindungi. Tidak ya. Tidak tidak. Diam yang sapu."
Dain duduk. Kunci ke mangkuk, bunyi keramik, Letta di kamar mendengar, tidak keluar dulu. Tangan gemetar, lalu kerja: teruskan rekaman isi ke pengacara, ke Jesika, ke Orlando, singkat, tanpa pidato. Tidak ke Freya. Tidak ke grup orang tua. Tidak ke Nana, toko jangan dicampur sekolah. Lita mengawasi sampai dia selesai, baru izinkan napas. Letta dari celah, muka takut, barbie di dada.
"Bunda berobat. Titik. Letta salah?"
"Tidak salah. Mulut orang lain. Kamu hafal titik. Jangan tambah tumbuh. Jangan ember. Jangan om. Jangan cerita hakim ke teman. Tutup celah, gambar, PR. Om tidak ke gerbang. Bunda tidak ke grup. Kita sapu."
Letta mengangguk, menangis sedikit, lalu berhenti, gambar bintang di siang lagi, salah, tetap. Lita usap tangan anak itu, tidak perut. Dain usap kepala, tidak pidato. Sekolah jauh. Kunci di mangkuk. Itu jarak yang benar.
Sore pecah jadi kerja kertas. Pengacara siapkan draf jika portal tulis hamil, dibacakan, Lita setuju yang pendek, coret yang mau menjelaskan perut. Jesika marah dingin di telpon: ibu hubungi sekolah jalur sopan, Dain jangan ngegas ke gerbang, jangan ke orang tua, ibu yang bicara. Orl: Freya belum sebar, bau dia, jangan balas, jangan hon, jangan baik-baik. Dain duduk di lantai sampai lutut pegal, kunci kembali ke mangkuk.
Rumah makan bubur tanpa lapar. Letta tidak ditanya panjang. Lita tidak menangis di depan anak. Dain tidak ke sekolah. Itu sapu. Itu juga perang. Perang yang tidak kelihatan di atas gang, tidak kelihatan di live, kelihatan hanya di kunci yang kembali ke mangkuk dan di anak yang menggambar bintang salah. Dain mencuci tangan lama. Lita: cukup. Cukup menular. Mereka tahan sore sampai malam tanpa gerbang, dan itu lebih berat daripada lima menit toko, karena yang ingin dikejar bukan mesin, melainkan mulut. Mulut tidak bisa dikejar. Mulut disapu dengan diam, dengan titik, dengan kunci di mangkuk, dengan anak yang disuruh gambar, dengan om yang tidak ke gerbang. Sore itu mereka menang tanpa siapa pun di portal tahu, dan itu, kata Lita, justru sapu yang benar.
Malam Freya chat, seperti menunggu jam.
Perut sudah jadi tanya. Saya tidak sebar. Saya bisa. Fitmu saya dengar. Terbang saja. Saya tunggu kamu di udara. Janda sendirian lebih mudah jadi judul.
Dain meneruskan, tidak membalas, tidak menulis hon. Lita baca sekali, dua kali, tutup, buka nota, tangan perlu angka, perlu kiloan, perlu sesuatu yang bukan hon.
"Dia mau kamu di udara supaya saya sendirian di judul. Dia dengar fit seperti dengar perut: dari celah, dari mulut, dari diam lobby dulu. Kamu tetap terbang pelan kalau fit. Saya tidak menahan langit. Saya menahan kamu membalas. Menahan kamu ngegas ke sekolah. Menahan kamu tulis 'saya tidak hamilin berita'. Mom bisa di sini hari terbang. Ember. Titik. Jangan beli selesai dengan sangkalan panjang. Sangkalan panjang jadi judul. Diam yang sapu. Kamu sudah janji sapu."
Dain mengangguk, pahit. "Sapu. Tidak hon. Tidak gerbang. Tidak udara malam ini." Dia arsip chat, bukan balas. Tangan gatal, lalu cuci, lalu ember, konyol, cukup.
Letta keluar, lihat muka, pegang ember. "Hakim larang sekolah. Hakim larang ngegas. Om sofa. Bunda titik."
Dain di lantai. "Tidak sekolah. Tidak udara malam ini. Tidak balas. Sofa. Tidak gerbang. Tidak hon." Dia tidak pesta fit. Dia tidak beli selesai. Perut jadi tanya di grup orang tua, belum jadi judul portal. Itu tipis, itu berbahaya, itu belum darah.
Lita mematikan lampu lebih awal. "Tidur. Besok titik lagi. Kamu jangan tulis sangkalan di notes sampai jadi pidato. Pidato jadi judul."
Dain menulis hanya: diam, sapu, tidak gerbang, tidak hon, tidak pidato. Lalu mematikan layar, telungkupkan ponsel, jauh dari tangan. Lita dari ambang: "Bagus. Pendek. Tidur." Letta sudah dengkuran titik. Ember kosong. Tanya di grup, belum di portal. Mereka tahan malam itu tanpa satupun sangkalan panjang, dan tangan Dain berhenti gemetar. Dia cuci muka, cek rantai, tidak cek grup. Lita sudah tidur miring. Perang di luar. Sapu di dalam. Cukup untuk ditiduri tanpa pidato, tanpa gerbang, tanpa hon, tanpa sangkalan panjang. Malam itu menang tipis, seperti mendarat di cuaca buruk yang masih diizinkan, asalkan tidak ngegas di taxiway, asalkan tidak memutar balik hanya karena mulut di grup. Ember di lantai. Rantai. Letta tidur dengan titik. Dain tidak dalam, cukup, dan itu sudah sapu untuk malam ini, pendek, tanpa judul, tanpa gerbang.