Author POV
Seseorang tengah melamun saat memasukkan beberapa baju kedalam mesin cucinya. Dia melamun hingga tidak menyadari jika putrinya tengah memanggil-manggil namanya.
"Bunda" ini sudah panggilan kelima yang digunakannya untuk memanggil bundanya, tetapi tidak ada satupun panggilan darinya yang didengar oleh Sang Bunda.
Melihat bundanya tengah melamun itu, membuatnya menghampiri sang bunda. Dia berjalan dengan perlahan karena kepalanya masih sedikit terasa berdenyut-denyut bahkan tubuhnya masih terasa panas dingin membuatnya tadi tidak bisa memanggil bundanya dengan suara keras terlebih suaranya terasa habis karena flu . Mungkin karena itu bundanya tidak mendengar panggilan darinya, sehingga kini dia harus menghampiri bundanya dan hendak memberitahukan bahwa didepan ada tamu.
"Bunda" panggilnya sambil memegang tangan bundanya dengan perlahan. Namun ternyata hal itu membuat bundanya terkejut.
"Ahh... Letta ke...kenapa sayang" seseorang itu adalah Lita dan juga putrinya Letta.
Lita tadi awalnya hendak mencuci pesanan laundry yang seharusnya dia kerjakan kemarin malam karena ada suatu kejadian semalam yang membuatnya tidak bisa mengerjakan ini sehingga barulah pagi hingga siang inilah dirinya terus berkutik dengan cucian.
Tetapi dipertengahan dia mengerjakannya, tiba-tiba dia terbayang akan kejadian semalam, dimana seseorang yang bukan siapa-siapanya mencium bibirnya begitu saja dan bodohnya dia juga ikut menikmatinya. "Kenapa aku jadi memikirkan kejadian itu. Lita jangan memikirkan hal itu. Tapi...ciumannya ahh"
Selama ini walaupun statusnya adalah seorang Janda, tidak pernah dia mengumbar dirinya kepada laki-laki manapun tetapi entah mengapa kemarin dia luluh begitu saja kepada laki-laki asing yang baru dikenalnya. Dia sendiri masih tak percaya, ada apakah dengan dirinya saat itu yang bisa menerima orang baru bahkan mereka melakukan hal yang lebih.
"Kamu bodoh Lita"
"Bunda" panggilan dari putrinya itu membuat Lita kembali sadar dan menatap putrinya.
"Iya sayang. A...ada apa?"
"Bunda kenapa?"
"Bunda gapapa kok" Lita sudah berjongkok tepat didepan putrinya kemudian dia mengelus rambutnya. "Kok Letta keluar kan masih sakit sayang jangan keluar ataupun bantuin bunda dulu yah. Kamu harus banyak istirahat biar cepat sembuh"
"Iya bunda, tapi Letta kesini mau bilangin Bunda ada tamu didepan"
"Tamu siapa? Apa Bu Iis mau ambil cucian, atau orang lain yang mau taruh cucian. Siapa sayang?"
"Bukan bunda"
"Terus siapa yang datang kerumah kita?"
"Om yang kemarin"
"Hah uhuk uhuk uhuk" Lita yang terkejut itu berasa tersedak dengan air liurnya sendiri sehingga membuatnya terbatuk-batuk.
"Bunda kenapa? Bentar bunda aku ambilin air" Letta segera berlari menuju dapur yang ada di samping tempat cucian kemudian dia mengambil air disana dan setelah selesai, dia kembali dan menyerahkan itu kepada bundanya.
"Bunda minum pelan-pelan"
Lita segera mengambil minum itu dan meneguknya dengan perlahan.
"Letta ambilin minum lagi ya bunda" tawar Letta kembali ketika melihat minumannya sudah habis.
"Tidak perlu sayang. Bunda sudah baikan" setelahnya Lita terdiam beberapa saat, sebelum dia menanyakan maksud dari putrinya tadi.
"Maksudnya om yang kemarin tolongin kita sayang"
"Iya bunda. Om nya sudah ada didepan"
"Okey kalau gitu kita temuin om nya ya, tapi kita buatkan minum dulu" Lita mencoba untuk tetap tenang didepan putrinya, walaupun jantungnya sudah berdegup tak beraturan tetapi dia harus bisa mengontrolnya terlebih didepan putrinya ini.
"Orangnya ada tiga bunda satunya anak kecil" jelas Letta kepada bundanya, bahwa tamu yang ada didepan sana terdiri dari dua orang dewasa dan satu anak-anak.
"Okey bunda buatkan tehnya tiga saja ya"
"Iya bunda" sementara Lita membuat minuman teh untuk tamunya yang juga dibantu putrinya itu terdengar sedikit keributan dari ruang tamu depan.
Dimana satu orang dewasa tengah beradu mulut dengan seorang anak kecil yang tengah bersembunyi dibelakangnya.
"Haduh ini bocil kenapa sih, pakek ngumpet segala di ketiak. Ini bukan dirumah Fa, jangan main petak umpet gini dong, apalagi main ketiak-ketiak an segala malu"
"Gak main petuk umpet dad tapi atu mayu..."
"Hah malu"
"Iya, cewek tadi tantik yah Dad lucu. Fafa mau punya istli gitu nanti"
"Heh bocil. Baru aja umur 4 tahun main bilang istri aja, siapa yang ajarin?"
"Daddy lah"
"Heh Daddy gak pernah ngajarin gitu, Daddy cuma ngajarin cara menggoda perempuan biar luluh sama kita itu aja, itupun kamu belum lulus- lulus pakai bilang ngajarin cari istri"
"Tapi dia tantik yah dad, ucu, imut. Fafa kalau sudah besal nanti mau punya istli tayak ditu"
"Heleh sok-sok an lu bocil. Sudah belajar ngomong R dulu baru mikirin tentang cewek. Sekarang bilang mau jadiin istri, apa mau kasih makan pakek dot s**u punyamu itu"
"Daddy jahat"
"Gak ja..." Ucapannya terhenti karena dia kini terfokus dengan seseorang yang ada didekatnya. Dimana dia tengah tersenyum sambil memandang foto yang ada di dinding.
"Eh Sarden, pakek senyum-senyum segala" Dimana orang yang mengatakan itu adalah Orlando. Orlando datang tidak sendirian karena dia datang bersama dengan sahabatnya Dain dan juga putranya Fafa.
Mereka kini tengah bertamu ke rumah seseorang sesuai dengan keinginan Dain. Sebenarnya Orlando sempat menolak untuk mau diajak kesini karena dia sudah mengantuk dan ingin segera pulang tetapi karena paksaan dari sahabatnya ini membuatnya mau datang kesini, walupun dia juga tidak tau ini rumah siapa.
"Permisi" ucap seorang wanita yang begitu cantik keluar dari dalam dan hanya mengenakan daster batik. Walaupun dia memakai daster tetapi tidak mengurangi kecantikannya.
Kecantikan alami yang dimilikinya itu membuat kedua orang dewasa yang ada disana begitu terpesona hingga keduanya dibuat terkagum-kagum.
"Ini minumannya"
"Astagfirullah inget Zalina" ucap Orlando sambil mengusap wajahnya beberapa kali.
"Tatanya Ndak boyeh mikilin cewek telus tapi Daddy apa. Atu bilangin Umi ah"
"Heh jangan bilang Umi juga bocil. Gue tinggalin di jalan tol nanti"
"Jangan dad, ya sudah gak atu bilangin deh. Tapi jangan tinggalin atu dad"
"Nah gini kan baru anak Daddy"
"Maaf. Ini ada apa ya?" percakapan antara Orlando dan Fafa harus terhenti mendengar pertanyaan itu, dan mulut Orlando sudah terbuka dan siap menjawabnya, tapi tiba-tiba tempat duduknya di geser begitu saja oleh sahabatnya Dain.
"Aduh apaan sih" ucapnya dengan kesal
"Elo sudah punya bini gak boleh lirik-lirik gue bilangin Zal nanti"
"Yah elo kan udah pun..." Kini ucapannya kembali tertahan karena mulutnya langsung dibekap oleh Dain.
"Udah diem yah gue mau jawab Lita. Atau kalau perlu elo pulang aja deh nih kuncinya nanti gue bisa naik ojek"
"Gimana ini Fa, tadi saja maksa suruh nemenin sekarang kita dibuang gitu saja. Ya sudah ayo pulang Fa"
"Dinini dulu dad"
"Halah ini bocil sama om nya sebelas dua belas" dan kini mau tidak mau Orlando tetap berada disana menunggu kedua orang yang tengah tergila-gila dengan seorang wanita.
"Ada apa? Apa ada barang yang ketinggalan. Ah iya jaket sama selimutmu masih aku cuci dan sepertinya belum ker..." belum selesai Lita berbicara tapi sudah dipotong oleh Dain
"Ada"
"Apa ada yang lain? Biar saya ambilkan"
"Itu..." Dain terdiam sejenak."Ciuman yang kemarin masih ketinggalan bahkan masih kurang...kurang lama"
"Apa?"
"Tidak ada kok, Cuma kurang aja" jawabnya sambil tersenyum malu-malu.
"Kurang? Maksudnya?"
"Saya kesini rindu kamu...eh salah maksudnya jenguk anak kamu. Kamu juga gapapa. Ini aku bawain kalian jajanan" Dain menyerahkan satu kantong krengsek besar berisi buah-buahan dan berbagai makanan yang tadi dibelinya saat di mall.
Dain memang membelikan itu semua khusus untuk kedua orang yang tengah dijenguknya sekarang ini.
"Seharusnya tidak perlu repot-repot, kemarin mas nya mau menolong kami saja itu sudah lebih dari cukup. Dan kami tidak papa. Anak saya juga sudah mulai sembuh ya sayang"
Letta putrinya yang berada dipangkuan itu langsung menganggukkan kepalanya, kemudian dia memandang anak kecil laki-laki yang tak jauh dari tempatnya. Kedua anak kecil itu saling berpandang-pandangan, kemudian mereka langsung menunduk sambil tersenyum malu-malu.
"Iya gapapa ini buat kalian, gak mungkin aku bawa pulang lagi kan"
"Kalau gitu makasih ya, maaf kembali merepotkan"
"Iya tidak papa" setelahnya ke lima orang itu terdiam dan tidak ada yang berbicara.
"Maaf saya tidak punya apa-apa hanya bisa menyuguhkan teh ini saja"
"Oh tidak apa, ini juga sudah enak kok"
"Ish ish ish. Biasanya kalau teh kayak gini apa mau dia dirumah mbak cuma disini saja" Orlando menyahut obrolan itu. Dia sejak tadi sudah geram dengan sahabatnya ini yang bersikap sangat manis didepan wanita ini.
"Mungkin ini Janda yang dimaksud Dain tadi. Cantik sih, dan sepertinya baik juga. Dan yang lebih penting sepertinya dia lebih baik dari Frey. Semoga wanita ini yang terbaik buat Sarden"
"Heh Sarden"
"Apaan lagi sih Balado"
"Handphone loe bunyi, keknya wajah Bebeb kesayangan elo tuh. Dia VC tuh" ucap Orlando sambil melirik ponsel Dain yang ada di meja depannya.
"Gak mungkin dia belum Bangun pasti. Udah loe jangan ganggu deh Balado Terong"
"Ish dibilangin juga nih loe lihat sendiri" Orlando yang sudah jengkel itu langsung mengambil handphone milik Dain yang ada di meja, kemudian dia menunjukkan ponsel itu didepan mata Dain.
"Hah beneran ini" ucapnya dengan tak pervaya
"Iya Sarden. Sana segera angkat, sebelum Singa Betina lo marah"
"Astaga gaswat ini" pekik Dain ketika dia melihat sendiri bahwa kekasihnya tengah mem video call dirinya. Berarti jika sudah seperti ini kekasihnya pasti sudah menelponnya berulang kali. Dan ini sangat bahaya bagi dirinya jika tidak segera mengangkat panggilannya.
"Cepat angkat, bisa hancur dunia ini" Orlando tertawa sambil mengejek sahabatnya ini karena dia tau betul bagaimana kekasih sahabatnya ini.
"A...aku angkat panggilan ini sebentar ya" pamitnya kepada Lita, kemudian dia langsung menatap tajam sahabatnya. "Eh Balado elo jangan gangguin dia inget istri dirumah"
"Iya-iya bawel sana" setelahnya Dain meminta ijin keluar dari ruang tamu itu untuk mengangkat panggilan itu.
Sementara itu Orlando dan juga Dhaffa masih berada disana. Orlando yang tidak bisa dalam keadaan yang saling diam seperti ini, ,membuat keingintahuannya langsung muncul. Karena jika menyangkut sahabat yang sudah dianggap seperti adiknyasendiri itu dia akan mencari tau sampai ke akar-akarnya.
Jangankan seperti hal ini, sesuatu hal tentang kekasihnya Dain sekarang, dia tau semuanya. Orlando melakukan ini bukan karena apa, tetapi dia tidak ingin Dain kembali dibohongi oleh wanita yang seperti kekasihnya Dain itu. Sehingga dia harus mencari tau tentang wanita ini.
"Nama kamu siapa?"
"Lita"
"Dan ini anak kamu?"
"Iya"
"Namanya siapa?"
"Letta"
"Wah seperti anak kembar yah Lita dan Letta" Orlando mencoba mencairkan suasana karena sepertinya dia terlihat seperti seorang detektif sungguhan, dan membuat wanita ini terlihat tidak nyaman ketika bersamanya.
"Tuh Fa, namanya adik Letta sudah Daddy tanyain"
"Letta, kenalkan ini Kakak Dhaffa atau bisa dipanggil Kak Fafa. Ayo kenalan Fa" Orlando mencoba menarik tangan Dhaffa yang bersembunyi dibawah ketiaknya.
"Fa, gimana ingat ajaran daddy tidak. Jangan sia-siakan kesempatan apalagi tentang cewek" setelah mengucapkan itu Fafa yang tadinya bersembunyi di ketiak Daddy nya itu langsung mendongakkan kepalanya. Dan dengan perlahan-lahan dia mulai berdiri dan menghampiri Letta yang masih duduk dipangkuan ibunya.
"Fafa" dia memperkenalkan dirinya dengan malu-malu.
Sedangkan Leta dengan malu-malu mengulurkan tangannya untuk menerima uluran tangan itu. "Letta" jawabnya, kemudian dia menunduk dengan malu-malu.
"Heh bocil sudah sini duduk" dengan berat Fafa kembali duduk didekat daddy-nya.
"Maaf, papanya Letta kemana? Kerja ya?" tanyanya dengan sedikit canggung.
"Ehmm... Letta bunda minta tolong ambilkan om nya kue yang ada di meja dapur ya"
"Iya bunda"
"Pelan-pelan yah nak"
"Iya bunda" Letta langsung pergi dari sana dan masuk ke dalam.
Sementara itu Lita menatap orang yang ada didepannya ini yang untuk mengambilkan pesanan bundanya.
"Saya seorang Janda" jawab Lita dengan pelan, dia melakukan ini karena tidak ingin putrinya mendengar hal ini.
"Apa JANDA?!" Ucap kedua orang secara bersamaan dan itu berasal dari Orlando dan Dain.
"Iya" jawab Lita dengan masih menunduk.
"Bunda" Letta kini sudah kembali dengan membawa satu piring berisi kue ditangannya.
Seketika semua orang terdiam termasuk Dain yang baru kembali dari luar itu kembali duduk ditempatnya semula.
Ada sebuah senyuman kecil terbit di bibirnya. Namun senyuman itu seketika pudar saat dia teringat sesuatu.
"Balado. Kita harus pulang"
"Kenapa cew..." Orlando tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena mulutnya kembali dibekap oleh Dain.
"Diamlah Balado" ancam Dain sambil melorotkan matanya ke arah Orlando sahabatnya.
"Ehmm ehmm ehmm" Orlando mencoba melepaskan bekapan itu hingga dia berhasil.
"Ihh gila tangan loe bau upil pasti habis mencari harta karun ya" ucapan spontan itu membuat semua orang langsung tertawa termasuk Lita.
Dia kini bisa tertawa lepas hanya karena melihat kedua orang dewasa ini yang seperti anak kecil yang tengah bertengkar kecil saja.
"Kok elo tau bau upil. Sudah dipastikan elo ketara sering ngupil dan di ciumin baunya. Bener banget gue tadi habis ngupil gede lagi dan sepertinya belum gue buang awas ada di bibir loe tuh lihat aja" Orlando segera membersihkan area mulut hingga seluruh wajahnya. Dan hal itu membuat Dain tertawa dengan puas karena berhasil mengerjai sahabatnya ini.
"Bohong elo yah, awas jodoh loe Janda nanti"
"Gue Aminin, walaupun seorang Janda yang penting cantik dan baik. Amin ya Allah" Doa Dain, kemudian dia teringat bahwa mereka tidak berdua saja membuatnya kini langsung mengitarkan pandangannya kearah Lita yang masih duduk ditempatnya dan menatapnya juga, membuatnya langsung tersenyum malu. "Mati, Lita kan juga Janda. Eh tapi tidak apa siapa tau dia jodoh gue"
"Eh maaf ya ini mulut temenku memang gini, kayak emak-emak aja"
"Iya gapapa"
"Kalau gitu aku pamit dulu ya karena masih ada urusan. Kapan-kapan aku pasti akan main kesini lagi. Assalamualaikum" pamitnya dengan terburu-buru.
"Wa'alaikumsalam"
Dengan kasar Dain langsung menarik baju sahabatnya hingga hampir membuatnya terjatuh. "Astaga gue bisa jalan sendiri Sarden. Tidak perlu ditarik kayak kucing gini juga. Lagian gue belum pamitan juga sama si mbak cantik"
"Sudah gak perlu, kan sudah gue wakilin. Bahaya entar elo bisa naksir"
"Eh Fafa" dan benar ternyata Fafa masih tertinggal didalam karena dia masih berpamitan dan mencium tangan pemilik rumah ini termasuk Letta.
"Astaga itu anak si Ro, kenapa jadi kayak elo sih suka gangguin cewek. Keseringan berguru sama elo jadi kayak gini"
"Kan sama kayak elo juga"
"Udah ah ayo pulang. Fa ayo pulang" ketiganya kemudian segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah itu dengan cepat.
"Om dua tadi lucu ya bunda" ucap Letta yang masih berada diteras bersama bundanya melihat kepergian tamu mereka.
"Iya sayang om nya lucu" Lita tersenyum. "Dan juga sangat menawan. Cukup Lita"