Author POV
Lita berjalan bersama putrinya sambil membawa dua kantong besar. Dia sedikit kesusahan membawanya ,membuatnya beberapa kali harus berhenti. Namun kini dia bisa bernafas lega karena dia sudah berhasil masuk ke lift dan menunggu lift itu membawanya ke lantai 12 sebuah apartemen.
"Huh" dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Berat ya bunda. Nanti Letta bantuin bawa satu ya"
"Eh jangan sayang, ini berat kamu tidak akan bisa jadi biar bunda saja yang membawanya"
"Tapi kasian bunda, pasti capek"
"Tidak apa sayang ini tidak terlalu berat kok"
"Nanti Letta pijitin malamnya bunda"
"Boleh. Tapi memangnya kamu tidak capek sayang?"
"Capek an bunda yang sudah kerja seharian belum lagi mengurus laundry-laundry ini pasti lebih capek"
Lita yang mendengar penuturan dari putrinya ini membuatnya tersenyum. "Kamu ini bisa saja nak. Bunda tidak capek kok, karena ini sudah tanggung jawab bunda, buat bahagiain kamu jadi seberat apapun pekerjaan bunda pasti akan bunda jalani sayang"
"Bunda memang terbaik. Nanti kalau sudah besar aku mau jadi Pengusaha yang sukses biar bisa bahagiain bunda dan pastinya ayah juga. Letta sayang ayah dan bunda" Letta langsung memeluk kaki sebelah kiri bundanya dengan begitu erat.
"Bunda juga sangat menyayangimu nak" dan Lita membalas pelukan dari putrinya dengan mengelus puncak kepala putrinya.
"Bunda..." panggilnya sambil mendongakkan kepalanya.
"Iya sayang, kenapa hemm? Mau beli es krim setelah bunda pulang kerja nanti"
"Tidak bunda"
"Apa Letta ingin makanan yang lainnya? Bilang nanti bunda belikan, soalnya bunda dapat orderan banyak sayang"
"Tidak bunda. Uangnya ditabung saja"
"Kamu kenapa sayang? Sepertinya ada hal yang mau disampaikan ke bunda. Bilang saja sayang, bunda tidak apa kok"
"Ehmm, Letta kangen ayah. Letta ingin bercerita bersama dan juga ingin peluk ayah. Ayah kapan pulang bunda?" ucapnya dengan menunduk takut-takut.
Sedangkan Lita yang mendengarnya, langsung diam terpaku ditempatnya. Dia kini dilanda kebingungan akan menjawab seperti apa lagi pertanyaan dari putrinya yang memang sudah kesekian kalinya ditanyakan. Bahkan dia sekarang sudah kehabisan akal untuk membohongi putrinya lagi.
"Ehmm kan ayah masih kerja sayang. Ayah kerja jauh, dan tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Dan ayah sudah berpesan sama kamu juga, ayah akan pulang kalau uang ayah sudah banyak"
"Iya sih, ayah memang bilang seperti itu tapi kan bunda...ayah sudah pergi lama sekitar 1,5 tahun" jawab Letta sambil mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kalinya dia bertemu dengan ayahnya. Dan dalam ingatannya yaitu dia terakhir bertemu dengan ayahnya selama 1,5 tahun lamanya dan itu saat dirinya berumur 2 tahun. Dan kini dirinya sudah berumur 3,5 tahun.
Oleh sebab itulah dia kini sangat merindukan ayahnya pulang dan bisa berkumpul dengan bersama-sama seperti dulu. Tetapi harapannya seakan sirna ketika mendengarkan jawaban bundanya tadi, bahwa ayahnya masih sibuk mencari uang dan tidak akan pulang dalam waktu dekat.
Sebenarnya bagi Letta, uang bukanlah segala-galanya karena baginya uang hanya akan memisahkan dirinya dengan ayahnya. Karena yang Letta inginkan sekarang bukanlah ayahnya yang akan pulang ketika uangnya sudah banyak dan membelikannya barang-barang mahal atau yang lainnya, tetapi yang di inginkannya adalah ayahnya bisa segera pulang dan berkumpul bersamanya. "Ayah dimana? Apa ayah tidak kangen sama Letta. Letta kangen sama ayah. Cepatlah pulang ayah"
Ting
Tepat saat itu pintu lift terbuka, membuat Lita dapat bernafas dengan lega karena setelah ini dia tidak akan dipusingkan lagi dengan pertanyaan dari putrinya mengenai ayahnya.
"Ayo kita antar ini, nanti bunda bisa terlambat masuk kerjanya" ajaknya kepada sang putri yang masih berdiam di lift sedangkan dia berada tepat di pintu lift agar pintu itu tak segera tertutup karena masih ada putrinya disana.
"Bunda sama ayah tidak bisa sama-sama lagi ya, makannya tidak bisa satu rumah seperti dulu lagi. Memangnya kenapa bunda? Apa ayah punya salah sama bunda? Kalau iya Letta mohon maafkan kesalahan ayah, Letta ingin kita bisa bersama seperti dulu"
Deg
Perkataan dari putrinya itu membuatnya diam terpaku ditempatnya. "Kenapa Letta bisa berbicara seperti itu. Apa dia mengetahui bahwa aku dan ayahnya sudah berpisah dan tidak mungkin kembali bersatu kembali? Kenapa dia bisa tau?"
Disaat Lita dan Letta masih terdiam di lift, lift sebelahnya terbuka dan keluarlah sepasang kekasih yang sedang bercanda tawa dan asik sendiri, hingga dia tidak menyadari bahwa ada dua orang yang memperhatikan keduanya.
"Kamu kok sudah kesini, habis ini Dain kesini sayang. Aku tidak mau kita ketahuan"
"Tidak akan, habis ini aku ke apartemenmu sebentar lalu aku akan kembali ke apartemenku. Tapi ingat nanti malam waktunya kita bermain-main okey baby"
"Iya kalau itu pasti, nanti siang Dain sudah kerja lagi kok sayang"
"Okey ya sudah yuk masuk dulu, aku sudah bawakan sarapan untukmu"
"Okey yuk" kedua pasangan itu segera masuk ke kamarnya dan mereka tidak mengetahui keberadaan Lita beserta putrinya yang masih berada di lift itu.
"Ayo bunda kita antarkan ini, nanti bunda bisa terlambat" Letta yang tadi masih berada didalam lift itu segera menghampiri bundanya dan menarik tangan bundanya untuk segera keluar dari lift karena ada seseorang yang hendak masuk ke lift.
Sedangkan Lita yang masih melamun itu, diam saja dan mengikuti tarikan putrinya. Lita terdiam karena dalam benaknya terlintas nama yang baru saja disebutkan oleh sepasang kekasih yang begitu mesra tadi. "Dain. Apakah nama orang itu sama dengan laki-laki yang menci.... Pasti beda, bukan dia"
"Ayo bunda. Kita antar punya Tante Frey dulu ya soalnya siapa tau Letta dapat coklat. Letta juga ingin tau Tante Frey ini seperti apa karena selalu kasih cokelat" ucap Letta dengan begitu semangat. Karena setelah ini mereka akan ke seseorang yang sudah merupakan langganan bundanya untuk laundry. Dan orang itu sangatlah baik kepadanya bahkan sering memberikannya makanan apapun itu terutama coklat, tetapi dia belum pernah tau seperti apa wajahnya. Jadilah sekarang dia begitu bersemangat sampai disana.
"Jangan mengharap sayang, kasian Tante Frey yah. Tapi kalau kamu mau tau Tante Frey seperti apa, dia tadi yang barusan lewat disini sama temannya"
"Apa! Jadi itu tadi Tante Frey. Letta seperti pernah ketemu sebelumnya, tapi dimana?"
"Mungkin kamu ketemu waktu itu di Cafe, soalnya Tante Frey juga sering kesana. Waktu itu Tante Frey, ingin kenal kamu tapi dia buru-buru pergi mau cariin temannya"
"Iya mungkin bunda, tapi Tante Frey itu sepertinya....seperti pacarnya om baik, tapi kenapa tadi beda pacaranya?" Letta tidak melanjutkan perkataannya, dia hanya bisa membatinnya saja.
"Sepertinya apa sayang?"
"Tidak apa bunda. Ayo bunda aku gak sabar mau ketemu Tante Freya"
"Iya sudah ayo, dua kamar lagi tempatnya Tante Frey"
"Iya Bunda"
Ting Tong
"Assalamu'alaikum Tante. Tante Frey, ini Letta sama bunda" Letta mengetuk dengan bersemangat.
Ceklek
Pintu terbuka dan keluarlah dua orang yang ditemui mereka tadi ketika di lift.
"Oh hai Mbak Lit. Loh i...ini yang namanya Letta ya mbak?"
"Iya Mbak Frey, ini Letta anakku. Letta salaman sama Tante dan Om"
"Hai Tante, Om" Letta mencium kedua tangan orang dewasa itu secara bergantian.
"Ya ampun kamu gemesin sekali Let, cantik juga"
"Makasih Tante"
"Iya kamu cantik sekali dik" sahut laki-laki disamping wanitanya, kemudian dia menatap kearah Lita dan tersenyum jahil.
Lita yang ditatap seperti itu langsung menunduk. "Kenapa dia menatapku seperti itu"
"Makasih om" ucapnya kepada seorang laki-laki yang tengah mencubit pelan pipinya.
"Aku pergi dulu ya sayang, sampai jumpa nanti"
"Iya hati-hati"
"Ayo adik cantik om pergi dulu" pamitnya kepada Letta kemudian dia mengamati Lita dan kembali menatap Lita dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat Lita menjadi takut diperhatikan seperti itu.
"Ayo mari mbak" ucapnya sambil mengedipkan mata dengan nakal kepada Lita.
"Ayo masuk dulu" wanita yang bernama Freya itu mempersilahkan Lita dan Letta untuk masuk ke dalam apartemen miliknya.
"Eh jangan Mbak Frey, makasih saya buru-buru mau kerja di cafe mbak"
"Oh ya sudah, lain kali kalian harus main disini"
"Iya Mbak Frey"
"Sebentar, tante ambilin coklat ya soalnya coklat Tante banyak habis dikasih pacar tante. Ayo Letta sini masuk"
"Jangan mbak ngerepotin"
"Biarin aja mbak, aku gak merasa di repotin kok"
"Ya sudah saya tunggu disini saja yah mbak"
"Iya mbak" kemudian Letta diajak masuk oleh sang sama pemilik apartemen ini. Sedangkan Lita masih berdiam diluar menunggu putrinya keluar. Dan tak lama putrinya keluar dengan membawa satu kantong besar dan satu kantong kecil.
"Loh kok banyak sekali mbak, maaf ngerepotin. Letta gak boleh minta gitu sayang"
"Bukan Letta bunda ini dikasih sendiri sama Tante Frey sendiri. Tante Frey baik bunda"
"Iya mbak tidak apa itu ada boneka-boneka ku dari pacarku dulu dan sekarang sudah tidak dipakai jadi daripada disini habisin tempat, lebih baik aku kasih ke Letta biar dia punya banyak mainan"
"Aduh mbak maaf yah jadi merepotkan"
"Tidak apa mbak"
"Let, sudah bilang makasih sama Tante"
"Sudah bunda tapi, sekali lagi gapapa. Makasih banyak yah Tante buat boneka sama coklatnya"
"Sama-sama sayang"
"Ya sudah ini mbak baju-bajunya sudah siap"
"Wah makasih mbak selalu tepat waktu, suka aku. Dua hari lagi kesini lagi mbak, seperti biasa"
"Iya mbak siap"
"Oh iya ini uangnya mbak sama buat dua hari lagi yah. Dan lebihnya mbak ambil aja buat beli Es Krim nya Letta"
"Astaga. Makasih ya mbak. Saya jadi tidak enak kalau begini"
"Tidak apa mbak santai saja"
"Kami pergi dulu mbak"
"Iya hati-hati. Sering ikut bunda kesini ya Letta"
"Iya tante"setelahnya Lita mengajak putrinya berjalan kembali untuk mengantarkan pesanan laundry mereka yang terakhir.
Pesanan laundry ini diantarnya ke tempat yang tak jauh dari tempat mereka berada bahkan masih satu lantai disini cuma bedanya jika pelanggan yang barusan sebelah kiri dari lift sekarang pelanggannya di sebelah kanan lift.
Kini mereka telah sampai di sebuah pintu, kemudian Lita mengetuk beberapa kali hingga pintu itu terbuka dan dia menyerahkan laundry an itu. Namun disaat dia disibukkan dengan urusannya ini, tiba-tiba dia mendengar suara yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Kenapa ini? Suara. Suara itu..."
Lita yang begitu penasaran akan suara yang terasa tidak asing itu membuatnya melihat ke sumber suara yang ternyata beda di bagian sebelah kirinya terlebih di sekitar lift.
Saat di melihat kesana ternyata suara yang tidak familiar itu dari seseorang yang selama ini membuatnya susah tidur selama beberapa harian ini dengan apa yang telah dilakukannya. "Kenapa aku memikirkan ciuman itu lagi. Tapi tunggu...kenapa dia mesra sekali dengan Mbak Frey. Apa dia kekasihnya, tapi tadi kenapa tadi Mbak Frey..."
"Mbak ini uangnya" Lita tidak menyadari bahwa dirinya tengah diberi uang upah laundry.
"Mbak"
Letta yang melihat bundanya tengah melihat ke arah sebelah kiri itu membuatnya memegang pelan tangan bundanya sambil memanggil namanya. "Bunda"
"Hah i...iya sayang ada apa"
"Itu Cece Mei kasih uangnya"
Lita segera melihat ke salah satu pelanggannya yang sering memesan jasanya, dan benar ternyata dia sudah diulurkan uang. "Aduh maaf Ce Mei saya melamun" dengan malu-malu Lita segera mengambil uang itu.
"Iya tidak apa mbak"
"Ya sudah kalau gitu kami pergi dulu yah mbak"
"Eh tunggu sebentar" orang keturunan Cina itu kembali masuk ke dalam unit apartemennya. Tak lama karena setelahnya orang itu kembali keluar sambil membawa satu paper bag berukuran besar.
"Ini ada jajanan sisa natal kemarin mbak, dan ada parcelan coklat. Buat Letta saja disini masih banyak soalnya"
"Jadi merepotkan Ce Mei"
"Tidak apa, ini Letta" kantong kresek itu diberikan ke Leta dan dengan senang hati dia langsung menerimanya.
"Terima kasih Cece Mei"
"Iya sayang sama-sama"
"Kalau begitu kami pulang dulu, makasih yah Ce"
"Iya sama-sama" kini Lita mengajak putrinya kembali berjalan untuk pergi meninggalkan apartemen ini sambil membawa dua kantong besar di masing-masing tangan mereka.
Mereka memang sering mendapatkan sesuatu dari pelanggan Lita yang memang sudah berlangganan dengannya. Tetapi yang lebih sering mendapatkan hadiah seperti ini adalah Letta putrinya. Dan seperti hari ini sudah dua orang yang memberikan hadiah kepada Letta.
"Sini bunda bawain sayang pasti berat"
"Jangan bunda, kasian bunda tadi juga sudah bawa yang berat"
"Ya sudah yuk" keduanya berjalan menuju lift dan tepat saat itu sepasang kekasih baru saja masuk kedalam lift.
"Loh bunda i...itu tadi kayak Tante Freya ya tapi yang cowok bukan om tadi tapi om baik"
"Om baik? Siapa sayang?" tanya Lita dengan bingung.
"Om yang bantuin kita waktu jatuh dijalan itu loh bunda. Letta tidak tau namanya, cuma Letta panggil dengan om baik saja"
Sementara itu Letta kembali berceloteh."Kan tadi Tante Frey sudah punya cowok bunda, lalu Om baik apa pacarnya juga ya? Memang boleh ya bunda punya pacar dua"
"Kita naik sebelah sini sayang, ini sudah terlalu siang. Kita harus segera pergi, bunda bisa terlambat nanti" Lita melakukan hal ini karena dia ingin mengalihkan perhatian putrinya. Dia tidak ingin membuat putrinya berfikir tentang hal yang seharusnya tidak dipikirkannya.
Walaupun Lita sama seperti putrinya memikirkan hal yang baru saja mereka lihat, tetapi dia mencoba menghilangkan berbagai pertanyaan yang ada di benaknya karena itu bukan urusannya. "Kenapa hatiku terasa sakit melihat mereka seperti itu"