Author POV
"Bunda, kita ini mau kemana ini kok belum sampai-sampai. Letta sudah mengantuk" ucap seorang anak kecil yang tengah duduk di bagian depan motor. Dimana dia adalah Letta.
Dia bahkan kini sudah meletakkan kepalanya yang masih memakai helm itu di bagian depan motor. Matanya sudah terasa berat sekali, terlebih ini sudah sangat malam tetapi dia dan bundanya mencari alamat yang hendak memesan jasa bundanya yang sejak tadi belum ditemukan.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai" jawab Lita sambil melihat arahan jalan dari ponsel yang diletakkannya di bagian depan motornya itu.
Dia sejak tadi merasa kesusahan ketika mencari alamat seseorang yang hendak memesan jasanya untuk laundry pakaian ditempatnya. Bahkan dia sampai salah jalan dan harus putar balik lagi ketika mencari alamat ini.
Dan kini akhirnya setelah dia mencari selama satu jam lebih, akhirnya dia telah sampai disebuah gedung mewah menjulang tinggi dengan bertuliskan 'Rocarlton Apartement'.
"Ya ampun bunda gedungnya bagus sekali. Kita mau ambil orderan disini ya?" gumam Letta dengan takjub melihat gedung yang ada didepannya. Tadinya dia yang sudah mengantuk itu kini matanya langsung terbuka lebar karena melihat gedung yang begitu indah dan mewah dihadapannya ini.
"Iya sayang. Yuk sayang kita harus segera masuk biar bisa pulang cepat dan kamu bisa istirahat"
"Iya bunda ayo"
Lita kembali menjalankan motornya dan hendak memasuki gerbang yang sudah terbuka dengan lebar secara otomatis itu, tetapi ketika dia tepat berada di jalanan masuk melewati gerbang, tiba-tiba ada alarm berbunyi membuatnya terkejut dan langsung menghentikan motornya.
"Bunda ini kenapa? Apa itu alarm kebakaran ya bunda" tanya Letta dengan panik ketika mendengar bunyi yang semakin keras itu.
"Bunda ju..." Belum sempat Lita menjawab pertanyaan dari putrinya, karena tiba-tiba dia sudah di kelilingi oleh orang bertubuh besar yang berpakaian serba hitam. Dimana orang-orang ini tadinya adalah penjaga depan dan post satpam apartemen ini.
"Anda siapa? Mencari siapa disini? Dan ada tujuan apa kesini?" Pertanyaan bertubi-tubi itu dilayangkan oleh seseorang yang ada didepannya.
Sedangkan Letta yang mendengar hal itu dibuat ketakutan yang luar bisa bahkan dia sudah berbalik dan memeluk tubuh bundanya dengan sangat erat. "Bunda" ucapnya dengan sudah menangis sambil terisak dipelukan bundanya.
"Tenang sayang, ada bunda disini nak. Kamu jangan takut" Lita mencoba menenangkan putrinya sambil mengelus pundaknya.
"Jawab pertanyaan dari saya" ucap orang itu dengan membentak.
Sedangkan Lita kini sudah tidak bisa terus menerus diam, karena dia harus melawan orang-orang yang ada disekitarnya ini yang telah membuat putrinya ketakutan.
"Bisakah anda berbicara sedikit lebih pelan, putri saya sudah ketakutan"
"Saya hanya menanyai anda dan saya membutuhkan jawaban dari anda secepatnya. Saya tidak perduli akan hal lain"
"Kalau hanya masalah itu seharusnya bisa dibicarakan dengan baik-baik tidak seperti ini. Dimana bapak menanyai saya seakan-akan saya ini perncuri"
"Bisa jadi anda seperti itu, karena untuk masuk ke apartemen ini tidak sembarang orang yang bisa masuk termasuk ANDA"
"BUNDAKU BUKAN PENCURI ATAUPUN ORANG JAHAT. Om jangan bilang seperti itu aku lempar pakai sepatu Letta"
"Letta tenang sayang, jangan berbicara seperti itu nak. Biar bunda saja yang mengurusnya" Lita langsung membekap kembali putrinya dan mencoba menenangkannya dengan mengelus pundaknya beberapa kali.
"Masih kecil sudah tidak punya sopan santun. Bagaimana ANDA mendidik putri anda?" ejek orang yang berada disamping kanan Lita.
"Anda jangan mengejek anak saya seperti itu. Anak saya sudah saya ajarkan sopan santun kepada orang yang tepat bukan seperti anda-anda ini. Dan satu lagi, apa yang dibilang anak saya tadi benar, seharusnya anda tidak perlu menuduh tanpa bukti seperti ini"
"Kenapa saya benar kan. Kalian berdua itu mencoba datang ke apartemen ini pasti ujung-ujungnya mau minta sumbangan atau mengemis"
"Jaga ucapan anda sebelum saya..."
"Saya apa?! Orang kecil seperti kamu ini tidak akan bisa melakukan apapun"
"Sudah-sudah hentikan. Parno diamlah" bentak seseorang yang pertama kali menanyai Lita tadi.
"Anda ada keperluan apa kesini?"
"Saya mau ambil pesanan laundry an atas nama Joirdain"
"Apa Mas Joirdain? Mimpi kamu mbak" Kemudian dia dan rekan-rekannya langsung tertawa.
"Apa mungkin anak dari pemilik apartemen ini mau laundry ditempat orang sepertimu. Jelas tidak, kamu tidak selevel sama beliau" sahut yang lainnya kemudian diikuti suara tawa kembali dari rekan-rekannya
"Jadi pemesan itu adalah anak dari pemilik gedung ini?" Tanya Lita dengan tidak percaya, karena dia pun tidak tau bahwa yang menghubunginya dan memintanya untuk datang ke apartemennya ini adalah anak dari pemilik gedung yang megah ini.
"Iya dan itu tidak mungkin memakai jasamu. Ada-ada saja alasanmu supaya bisa masuk kesini" semua orang yang ada disana langsung tertawa bersamaan.
"Tapi beliau sendiri yang memesannya dan ini" Lita menyerahkan ponselnya dan menunjukkan bukti bahwa pelanggannya itu telah memesannya melalui aplikasi chat.
"Anda pasti berbohong karena tidak mungkin anak bos mengirim pesan itu"
"Buat apa saya bohong pak, saya sudah lelah cari alamat ini di malam-malam seperti ini sampai membawa anak saya"
"Banyak mbak kasus yang seperti mbak ini, bawa-bawa anak untuk meminta belas kasihan sama orang berada agar mereka kasian dan memberikan bantuan ke kalian"
"Astagfirullah pak, terserah bapak kalau saya tidak boleh masuk, saya bisa pergi saja. Percuma saja kalau saya harus menjelaskannya ke orang yang tidak bisa menghargai sesama manusia seperti ini. Walaupun saya miskin tapi saya tidak mungkin se hina itu untuk berniat melakukan kejahatan. Bapak-bapak ini juga sama seperti saya kan dari kalangan menengah kebawah tapi sikap anda semua seperti pemilik apartemen ini saja. Kalau gitu permisi" Lita sudah bersiap menyalakan motornya tetapi teriakan seseorang dari arah samping kiri membuatnya menghentikan aktifitasnya.
"Mbak tunggu..." merasa dirinya dipanggil, Lita langsung melihat ke orang yang telah memanggilnya.
"Ada apa Joni, biarkan dia pergi. Orang yang suka berbohong sepertinya biar pergi saja"
"Gila kamu Don. Aku barusan dapat telpon dari pak bos kecil dan kita diberikan tugas untuk mengantarkan wanita ini ke dalam"
"Wanita ini? Gak salah dengar aku"
"Tidak. Sudah jangan menghalanginya kalau tidak kita semua akan dipecat" setelah berbicara dengan para teman-temannya yang masih terkejut setelah mendengar penjelasan darinya. Setelah menjelaskan hal itu, dia segera menunduk dengan hormat kepada Litta.
"Maaf atas kesalahan saya dan teman-teman saya tadi mbak. Ini benar Mbak Lita dan putrinya bernama Letta ya?"
Lita langsung terkejut ketika namanya juga putrinya disebut oleh orang ini. "I...iya itu kami pak"
"Kalau gitu maafkan teman-teman saya tadi mbak, kami tidak tau kalau mbak nya ini teman pak bos"
"Saya Bu..."
"Sudah ayo mbak mari saya antar ke tempatnya pak bos" Lita hendak memarkirkan motornya itu, langsung ditahan oleh orang yang mengejeknya sejak tadi.
"Mbak sudah biar saya saja yang memarkirkannya. Maafkan saya mbak, jangan bilangin ke pak bos nanti kita bisa dipecat semua. Kalau dipecat istri dan anak saya mau makan apa"
"Sekarang saja minta maaf, tadi om marah-marah sama aku dan bunda" celoteh Letta dengan tangan sudah berkacak pinggang.
"Maafkan om yah dik. Om tidak tau"
"Ayo bunda kita pergi saja, disini banyak orang jahat dan munafik" Leta segera menarik tangan bundanya dan mengajaknya segera masuk.
Kemudian keduanya diantar oleh seseorang yang telah berjanji akan mengantarkan mereka tadi. Setelahnya mereka segera masuk ke gedung megah itu. "Bunda memangnya bunda kenal sama pemilik apartemen ini?" Tanya Letta di samping bundanya. Kini keduanya sudah berada di lobby apartemen. Sama seperti halnya kemegahan yang terlihat diluar tadi, didalam bahkan tiak kalah mewahnya.
Lita dan Letta dibuat terpana akan kemegahan gedung apartemen ini. Karena baru pertama kalinya bagi mereka menginjakkan kakinya di gedung semegah ini." Bunda juga tidak kenal karena orang ini baru tadi sore kirim pesan ke bunda untuk mengambil laundry disini sayang" karena Leta pun sebenarnya juga bingung dengan pemesannya ini yang tidak dikenalnya, tetapi mereka bisa diperlakukan dengan sangat spesial seperti ini. "Siapakah orang ini? Apakah orang ini akan jahat kepadaku dan juga putriku. Semoga saja tidak, semoga dia adalah orang baik"
"Mari lewat lift sini mbak" tunjuk bapak pengantar itu kepada keduanya. Kini mereka berada di lift sebelah kanan yang sepertinya memang lift khusus karena ketika masuk tadi, lift akan terbuka setelah bapak itu menempelkan kartu kecil berwarna gold ditempat yang disediakan.
Tak lama lift itu membawa mereka menuju gedung teratas di gedung ini. Dimana di lantai 20. "Ayo mari silahkan"
Lita dan Letta keluar dari lift itu, kemudian mereka mengamati sekitar dan disana begitu sepi, bahkan disini hanya ada dua pintu. Dimana satu pintu bertuliskan Ruang Pemimpin dan tak jauh dari ruangan itu terdapat satu pintu yang tidak ada tulisan nomor ataupun sebaginya.
"Ruangannya pak bos disini mbak, kalau begitu saya pergi dulu karena saya hanya berhak untuk mengantarkan sampai sini saja, selebihnya mbak"
"Ba...baik ma...makasih pak"
"Sama-sama" setelah peninggalan bapak itu, bahkan ketika bapak itu sudah masuk kedalam lift, Lita masih terdiam ditempatnya bahkan sampai dia di panggil oleh putrinya.
"Bunda" panggil Letta yang kedua kalinya.
"I...iya sayang"
"Kenapa tidak ketuk pintunya"
"Ehmm i...iya" dengan ragu Lita mengetuk pintu itu, tapi ketika dia menyadari bahwa ada bel kecil di pintu bagian tengah dia memencet bel itu.
Sebenarnya Lita merasa was-was ketika hendak menemui orang asing ini terlebih disini hanya ada dua ruangan dan yang terpakai hanya ini. Jika nanti terjadi apa-apa dengan mereka, pasti akan sulit meminta pertolongan.
"Bunda pintunya terbuka" pekik Letta saat pintu yang tadinya tertutup itu terbuka dengan lebar.
"Wah bunda banyak coklat dan ada mainan juga" pekiknya kembali dan langsung berlari masuk ke dalam begitu saja dan meninggalkan bundanya yang masih diluar sambil memanggil namanya.
"Letta jangan" larangnya tapi dia terlambat karena putrinya itu sudah masuk ke sana dan mengambil beberapa coklat di meja.
Lita yang mengetahui putrinya hendak memakan coklat itu membuatnya menghentikan putrinya dengan masuk kedalam. "Letta...jangan nak ini bukan milik kita"
"Tap..."
"Tidak apa-apa makanlah adik Barbie" ucap seseorang yang baru saja keluar dari salah satu kamar dengan rambut basah.
"Ka...kamu. Jadi i...ini semua"
"Iya maaf yah pasti ka...kamu terkejut" seseorang itu langsung duduk dan mengajak Letta kepangkuannya dan menemaninya makan Es Krim, Coklat dan Jajanan lainnya yang memang telah disediakannya untuk tamu spesialnya ini.
Sementara itu Lita masih diam terpaku ditempatnya sambil memandangi putrinya yang tengah bahagia menikmati jajanan kesukaannya di pangkuan orang itu.
"Jadi dia pemilik apartemen ini dan semua ini memang sudah rencananya. Berarti dia dari keluarga yang sangat kaya"