Tulalit tulalit...
Alarm berbunyi. Aku mengeryitkan kening, berusaha melawan sinar matahari pagi yang muncul dari jendela kamarku.
Kulirik arloji yang tergeletak di meja kecil di samping ranjang. Jam 9.15. Wah, telat lagi nih berangkat kerja, kataku dalam hati. Ah, biarin ajalah. Cuma jaga rental ini. Gaji juga kecil.
Mataku mencari sebungkus Marlboro merah sisa tadi malam. Kosong ? Sial? Kulempar bungkus berwarna putih merah itu ke lantai.
Mataku melirik dompet merk mahal Braün Buffel, hadiah ulangtahun dari mantan pacarku yang bekerja sebagai desainer grafis di jualjual.com
Kosong juga! Sial dan vangke! Ternyata hidupku lumayan apes selama dua bulan terakhir ini! Setelah mantanku meninggalkanku, pekerjaanku hanya sebagai penjaga rental komputer yang gajinya hanya cukup membeli bensin motor dan rokok sebungkus setiap hari. Belum lagi motor kesayanganku, Kawasaki Ninja R500 telah lenyap karena tak sanggup membayar cicilan. Dulu mantan pacarku yang turut membantu membayar DP dan cicilan Ninja biruku. Oalah, dengan tampang pas-pasan dan kantong cekak serta profesi rendahan seperti ini, siapa yang mau melirikku ? Mana motorku sekarang hanya motor Honda Beat, bukan seperti Blue-ku yang dulu.
"Dimas, kamu tuh sudah 25 tahun. Kapan kamu cari kerja yang bener ? Dari dulu kerja diputus kontrak terus,"tegur Mama dengan ketus tadi malam ketika aku baru tiba di rumah setelah seharian main game online di kost teman kuliahku.
"Iya, Ma. Ini juga lagi usaha."kataku lemah seraya menghindari tatapan tajam Mama. Adik-adikku, Renny dan Nisa, menatapku dengan rasa iba.
"Tuh, lihat adikmu si Renny. Untuk bayar uang kuliah aja, dia mesti kerja di butik. Alhamdulillah Nisa masuk SMA Negeri dan nggak butuh biaya banyak. Kamu kan anak laki satu-satunya di keluarga ini, Dimas. Yang paling besar lagi. Mestinya sudah bisa menanggung beban keluarga."
Aku terpekur mendengar keluhan Mama. Beliau memang tidak salah menegurku. Sejak Papa meninggal 3 tahun lalu, aku dan Renny harus bekerja membiayai kuliah kami. Uang pensiun Papa hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan aku dan Renny masih kuliah.
Dulu aku bekerja sebagai waiter di sebuah restoran siap saji ternama di dekat rumah. Hanya bertahan 2 tahun karena pekerjaanku berat sekali, dengan sistem shift dan mobilitas yang tinggi. Belum lagi supervisor restoran yang terkadang rewel dan otoriter. Duh, aku yang biasa bermain di waktu SMA, merasa terbebani dengan pekerjaan ini. Dan menurutku, pekerjaan ini tidaklah keren. Buktinya beberapa SPG mall yang kutaksir tidak ada satu pun yang melirikku.
Aku sempat berkenalan dengan Shinta, gadis yang usianya lebih tua 5 tahun dariku. Ia adalah seorang desainer grafis. Ia tomboy dan tidak pernah punya pacar. Dengan mudah ia berhasil jatuh ke pelukanku, berkat bujuk rayuku. Ia juga berhasil kurayu untuk membayar DP dan cicilan Kawasaki Ninja yang telah lama kuimpikan. Aku tak tahu mengapa gadis yang terlihat cerdas ini rela berkorban demi aku yang berwajah pas-pasan dan masih kuliah ini? Benarlah kata orang kalau cinta itu buta.
Inilah kondisiku saat ini. Sejak di PHK dari perusahaan resto siap saji tersebut dan ditinggal secara tiba-tiba oleh Shinta, hidupku luntang lantung tak karuan. Usahaku mengirim CV ke beberapa perusahaan ditolal karena aku belum mengantongi ijazah sarjana. Walhasil aku terpaksa menerima pekerjaan sebagai penjaga warnet tetanggaku daripada menganggur dan mendengar omelan Mama di rumah. Lumayan penghasilanku untuk sekedar membeli rokok, bensin dan makan di warteg.
Aku segera mandi dan berpakaian. Kusambar kunci motor di atas meja makan, berusaha menghindari Mama yang saat ini sepertinya sibuk menyetrika pakaian.
"Dimas...nggak sarapan dulu?"
Langkahku terhenti ketika Mama tiba-tiba muncul di pintu ruang tamu.
"Eh Ma..."ujarku gugup. Aku segera mencium tangan Ma dan berlari keluar. "Nggak usah, Ma. Udah telat, nih."
"Kebiasaan kamu. Nanti sakit maag, lho! Udah nggak pernah sarapan. Begadang terus. Jarang sholat Subuh. Makanya rezekimu seret. Hidup nggak teratur, sih." keluh Mama.
"Ya udahlah Ma. Aku pergi dulu yah!"seruku menyalakan mesin motor.
**************************
"Hi, Dim! Telat lagi lo? " ujar Irwan, si pemilik rental komputer.
"Eh...sorry Wan...kebablasan gue. Biasa...semalem kan La Liga."kataku seraya ber toss ria dengannya.
"Yelah...kebiasaan begadang lo ah! Bola mulu."cibir Irwan. Ia memang teman dekatku sejak SD sehingga kami biasa bercanda.
"Daripada lo...cewek mulu."ejekku.
"Yah ealah...daripada lo jones....hahaha..."Irwan tertawa terbahak-bahak.
"Eh, gimana si Icha? Nggak berhasil lo deketin dia?"
Irwan menyebut nama seorang gadis manis berhijab dan berkulit putih, teman kerjaku dulu.
"Hadeeh, apeslah gue. Mana mau dia ma gue. Nggak ada modal gini gue sekarang,"keluhku seraya teringat Icha yang kuajak nonton dan pulangnya minta ditraktir makan di Aeon Mall Cakung. Di resto Jepang yang mahal pula. Pulang dari mall, uang gajiku sebulan nyaris habis. Setelah itu, ia pun sulit kuhubungi.
"Makanya lo cari kerjaan yang tetap, Dim. Biar ada modal ngegaet cewek." Irwan menyodorkan rokok Gudang Garam kepadaku.
"Yah ini juga lagi cari-cari. Susah sih, gue belum lulus."
"Lulus dululah,"Irwan menghembuskan asap rokok.
"Nunggu lulus kapan? Masih 2 taun lagi."keluhku.
Kugebrak meja. Irwan nyaris terlompat dari duduknya.
"Tapi gue harus sukses, Wan! Gila lo! Bokap gue kan udah nggak ada. Adek-adek n Nyokap gue tuh, tanggungjawab gue. Gue harus ngejar karier, nih!" Mataku memerah menyala-nyala
"Mau tau cara cepat dapet duit? Sini gue bisikin."
Kucoba untuk mengikuti saran Irwan. Tapi siapa ya, yang harus kutuju? Bingung juga. Karena tidak ada teman cewekku yang memenuhi kriteria yang seperti Irwan sampaikan padaku. Kalau pun ada, satu-satunya adalah Shinta. Tapi sepertinya ia sudah tidak ingin kuhubungi lagi. Meskipun social media dan aplikasi chatku tidak diblokir olehnya, tetapi ia tidak pernah membalas pesanku. Beberapa kali kucoba untuk menarik perhatiannya dengan memberikan tanda 'like' di postingan Instagramnya, tetap saja ia tidak pernah meresponsku. Kutelepon pun tidak pernah diangkat.
Waduh, siapa ya ? Kataku dalam hati. Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal. Sudah nyaris 6 bulan lebih, aku bertahan hidup dengan penghasilan pas-pasan. Dulu, setelah aku didepak dari resto siap saji tersebut, aku bisa bertahan hidup berkat belas kasihan Shinta. Profesinya sebagai desainer grafis dan belum berumahtangga menyebabkan ia memiliki penghasilan yang cukup untuk hidup agak mewah di belantara kota Jakarta. Apalagi ia juga suka mengendarai motor sport, nonton anime dan main Mobile Legend sepertiku. Sehingga ia tak segan membagi rezekinya denganku dan mengajakku ke bioskop dan menambah aksesori Ninja biruku. Tapi kini ia telah pergi dan Ninjaku pun telah kujual. Jadi ya, inilah aku menggigit jari.
Kutatap komputer di hadapanku. Kubuka f*******:, i********:, w******p, dan Line bergantian, layaknya orang kebingungan. Siapa yang harus kutuju? Kriteria yang disebutkan Irwan agak berat. Fikiranku nyaris buntu memikirkan siapakah wanita itu.
"Kenapa, Bro ? Kok bengong gitu ? " Seseorang datang menepuk punggungku. Rental masih sepi karena pengunjung yang mayoritas pelajar masih berada di sekolah masing-masing.
"Hei, ngopi lo."kataku menyambar segelas kopi hitam yang dibawa Anto, tetangga Irwan.
"Iya, nih... Mampir sini dulu. Eh liat elo lagi bengong gitu. Kenapa? Belum naik level?"
"Nggak, sih... "kataku seraya meneguk kopi. "Lagi mikirin kerjaan aja. Udah lama nih, nggak kerja. BT juga gue. "
"Oh, gitu."Anto mengeluarkan ponselnya, mengecek pesan masuk. "Nah, cewek lo mana? "
"Cewek yang mana"tanyaku mengeryitkan kening.
"Yang itu. Yang bawa CBR."
"Oh Shinta... Hehe udah putus, Bro. Jomblo gue sekarang."
"Yah... Payah lo, Beb."ledek Anto yang memanggilku dengan panggilan sayang Shinta padaku. Shinta memang memanggilku Bebi.
"Lumayan kan, kalo ada dia. Lo nggak usah repot-repot kerja. Kerja tuh, capek. Nih, kayak gue gini. Pulang jam 10 malam setiap hari. Lumayan juga, kan? "
"Ya iya, sih. Tapi gimana, To... Dia udah ninggalin gue."
"Makanya main cantik dong lo... Sama cewek kayak gitu. Padahal gampang banget kan, deketin dia. Hobi kalian kan, sama. Terus dia orangnya cuek, nggak cemburuan. Lo bisa ke mana aja lo suka. Bisa ngegebet cewek lain yang unyu-unyu hehe... Dia cinta mati tuh, ama elo Bro! Lhah lo minta duit buat beli PS aja dya kasih, tuh. "
" Yah iya sih, salah gue juga. Gue waktu itu nggak perhitungan pas ngegebet si Icha."
" Makanya lain kali ati-ati, Dim. Kan sayang, tuh. Tambang emas tuh, si Shinta. "Anto mengedipkan matanya. "Oya, Bray, lo bisa bikin aplikasi buat di HP gitu, nggak? Lo kan anak IT, tuh."
"Emang kenapa, To? "
"Gue keknya ada job buat elo deh, di kantor gue. Jadi web developer gitu. Coba nanti gue tanya orang HRD dulu deh, masih butuh apa enggak. "
"Wah, boleh tuh, Bro!"ujarku antusias. "Tapi gue belum lulus kuliah, gak papa tuh? "
"Tenang, kan ada gue, Dim. "Anto menyambar kunci motornya. "Gue cabut dulu, ya. Takut telat gue."
"Jangan lupa info lokernya ya, To!"ujarku.
"Yoi... Pastinya!"
Aku kembali mengalihkan pandanganku ke layar komputer.
Ketika aku membuka f*******:, seketika mataku menangkap profile seorang wanita teman kerjaku dulu di resto siap saji. Wanita itu, Kak Dara aku memanggilnya, manajer pemasaran di tempatku dulu bekerja. Usianya 10 tahun di atasku, tetapi sampai saat ini masih betah melajang. Mungkin sibuk berkarier dan menyelesaikan studi pasca sarjananya.
Aku meraih mousse dan mengklik beberapa fotonya. Hmm, wajahnya tidak jelek. Bahkan ia lebih cantik daripada Shinta, mantan pacarku, dsn juga gadis-gadis muda seusiaku. Tapi kenapa belum menikah juga, ya ? Penasaran aku jadinya.
Di beberapa foto kulihat ia mengadakan perjalanan ke beberapa negara Asia dan Eropa dengan keluarga dan teman-temannya. Hmm, boleh juga nih, kataku dalam hati. Sasaran empuk setelah Shinta. Apalagi usianya sudah mencapai kepala 3. Pastinya ia kesepian dan butuh kasih sayang seorang pria muda sepertiku. Shinta saja bisa kutaklukkan, apalagi Kak Dara.
Kuraih ponselku. Sepertinya aku masih menyimpan no HP nya. Hmm, bilang apa ya ? Ah...basa basi ajalah. Sok minta kerjaan (memang butuh kerjaan, sih).
- Assalamualaikum, Kak Dara
+ Waalaikumussalam. Ya. Dengan siapa ini?
- Ini Dimas. Masih inget, nggak ?
+ Dimas ? Hmmm....ohyah....baru saya lihat fotonya. Dimas pacarnya Shinta, ya ?
- Hehe, udah nggak, Kak. Udah putus.
+ Oh, sorry to hear that. Sayang banget, dong.
- Ya udah takdir, Kak . Kakak sekarang masih kerja di HNI ?
+ Oh, ya...masih. Masih.
- Wah, sukses deh. Udah jadi petinggi nih, sepertinya.
- Hehe yah nggak juga sih.
+ Kak, cariin aku kerjaan dong. Lagi nganggur, nih.
- Ohya? In syaa Allah deh, kalau ada loker nanti aku info. Udah lulus kuliah belum?
- Belum, Kak. Makanya aku butuh dana buat kuliahku. Adikku kan juga kuliah. Aku harus ngebiayain keluargaku, Kak.
+ Oya? Jadi tulang punggung keluarga ya?
- Ya...begitulah Kak.
+ Ya nanti kukabari kalau ada lowongan.
- Kakak masih tinggal di Bintaro ?
+ Masih, kok.
- Oya, boleh dong, kapan-kapan aku main ke rumah Kakak.
+ Ya, silakan aja. Dengan senang hati.
- Maaf Kak ..jadi ganggu Kakak. Senang bisa bersilaturahmi dengan Kakak.
+ Ya, sama-sama.
Yesss, aku melompat kegirangan. Usaha awalku berhasil. Selanjutnya aku akan mengunjungi Dara di rumahnya dan menyatakan cintaku padanya. Lumayan juga sih, dya tidak jelek, meskipun sudah berumur. Lagipula ia punya posisi yang cukup tinggu dan berasal dari keluarga berada. Kubayangkan menikmati hasil keringatnya yang akan dikucurkan kepada pria muda kesayangannya, yaitu aku. Sehingga aku tidak usah susah-susah mencari pekerjaan seperti sekarang ini.
Aku turun dari Beatku dan menghampiri rumah mewah berpagar hitam di kawasan elite Bintaro. Kulirik mobil di balik pagar hitam yang tingginya mencapai atap carport. Hmm, Honda New Civic Turbo warna hitam dan BMW 6 Series GT warna silver. Not bad lah, gumamku dalam hati. Eh, bukan not bad sih. Amazing. Karena Shinta yang berhasil kugaet adalah gadis yang tinggal di kawasan Bekasi dan hanya menumpang mobil orangtuanya, Honda HRV.
Kupencet bel yang agak tersembunyi. Tak lama kemudian, kudengar suara pintu terbuka dan seseorang wanita setengah baya yang kuduga adalah ART rumah ini muncul.
"Cari siapa, Mas?"
"Maaf, Bu....Kak Daranya ada?"
"Non Dara...dengan siapa, ya ?"
"Saya Dimas, Bu. Teman kantornya dulu."
"Sebentar ya, Mas."
Lima menit kemudian, munculah gadis yang kutunggu-tunggu. Masya Allah, bertambah cantik saja wanita satu ini. Uang memang tidak bisa menipu. Wanita ini pasti rajin fitness dan merawat diri. Kubayangkan pundi-pundi uang mengalir ke dompetku. Kalau seperti ini, aku tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan.
"Hi, Dimas. Apa kabar ? Mendadak banget main ke sini."
Mata indahnya terbelalak melihat sosokku. Wanita yang satu ini memang terkenal dengan mata indah dan hidung mancungnya.
"Eh...hehe...aku lagi lewat daerah sini. Habis dari coffee shop, Kak. Maaf nggak WA dulu."
"Oh nggak papa kok. Ayo, silakan masuk."
Dara membuka pagar dan mengajakku duduk di ruang tamu mewah rumahnya. Terbelalak aku melihat deretan lampu kristal, sofa lembut dan kaligrafi mahal. Ini sih kakap punya, kataku dalam hati.
Jakarta, 13 July 2018
For my kids and my love, A ❤