"Gimana, Dim ? Lo udah nembak si Dara belom ?"ujar Irwan yang tiba di warnet dan segera menghampiriku."Waduh, susah nih, Wan."kataku seraya menggaruk kepalaku yang memang gatal karena belum cuci rambut.
"Kenapa?" Irwan mengeryitkan kening.
"Horang kayah, Lau. Nyerah gue."Aku menghela nafas.
"Nah, justru bagus itu! Lo manfaatin itu."
"Waduh...gue nyerah deh, ma horang kayah! Gue bukan levelan dya, Wan. Susahlah! Mana omongannya tinggi lagi. Ke Eropa, ke Amerika, dia lulusan apa tuh...aduh, namanya juga susah. Lits di Inggris...gue taunya club bola aja. Chelsea, MU..."
"Hahaha...Leeds University ya ? Ya bagus, dong!"
"Ya gue dari kampung, Wan. Minder gue."keluhku.
"Jangan minder. Lo pinter dikit jadi orang. Dia kan belum merit. Lo masih muda. Bedanya jauh...10 taon. Lo janji-janjiin aja."
"Janjiin apa? Nggak ada ide gue."
"Janjiin apa, kek. Lo kan brondong haha...masak si Shinta bisa, dia nggak bisa ? Dia tuh pasti kesepian! Udah tua kayak gitu nggak punya suami, nggak punya anak." Irwan menghembuskan asap rokoknya. "Inget...waktu lo dua bulan lagi. Inget perjanjian kita, Dim. Lo fikirin deh, caranya. Lo harus berjuang, dong. Emang lo kira BMW GT6 murah? 1,2 M Bro!"
Kuacak-acak rambutku. Benar juga kata Irwan. Dara memang bukan wanita sembarangan.
Tapi tetap saja aku harus berusaha. Kucek i********: Story dan Snap WA nya. Hmm, ia sedang on the way Tebet. Gimana kalau aku nekad aja ajak ketemuan di Tebet, ya ?
+ Assalamualaikum, Kakak Sayang.
- Waalaikumussalam. Hello, Dim.
+ Kakak lagi di Tebet, ya ?
- Iya. Kok kamu tau ?
+ Tau dong...punya kontak bathin gitu kalo sama Kakak, sih.
- Hahaha ada2 aja kamu.
+ Kak, ketemuan yuk. Ada waktu, nggak ?
- Hari ini ? Aku selesai meeting jam 4. Boleh, deh. Di daerah Tebet ?
+ Iya, Kak. Nanti aku ke situ. Di Kopiku yah.
- Ok, see you.
Aku sampai di Kopiku 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Kulihat Dara sudah duduk manis di pojok cafe sembari menikmati Mocca Latte dan pisang bakar keju.
"Hai, Dim. Macet, ya ?"ujarnya ramah.
"Iya nih, Kak. Sorry aku tadi juga telat jalannya dari warnet."
"Ohyah gpp. Anyway, mau order apa ?"
Wah, kebetulan aku lagi lapar. Belum makan dari pagi. Ditawari pisang bakar keju, boleh juga nih.
"Mas, es capuccino sama pisang bakar keju ya."
Hmmm, inilah saatnya, fikirku. Kugosokkan tanganku seraya memikirkan kata-kata yang tepat yang dapat kuungkapkan ke Dara. Sebelumnya, telah kusiapkan HPku untuk merekam semua percakapan sebagai tanda bukti bahwa ak berhasil menaklukkan seorang Dara.
"Ehm...Kak, sekarang Kakak kan lagi nggak deket sama siapa-siapa ya ?"kataku pelan.
"Nggak, tuh. Kenapa, ya ? " ia menghentikan suapannya.
"Aku tuh, sayang sama kamu, Dara. "Sekarang aku ber Dara-Dara ria. Tanpa Kakak.
"What ? Yang bener aja ?"
"Beneranlah. Masak nggak percaya?"Kutatap wajahnya dengan penuh keyakinan. "Aku udah suka sama kamu dari dulu. Kamu tuh smart, cantik, dan mandiri. Cuma kan waktu itu ak masih punya cewek. Jadi aku ragu deketin kamu."
Dara masih terlihat terkejut dengan pernyataanku. Mata indahnya membesar. Sebenarnya ia sangat cantik dan baik hati. Sangat perhatian terhadap sesama. Ibadahnya pun rajin. Tapi aku tidak berminat dengan wanita yang lebih tua, meskipun dia cantik dan kaya. Aku masih muda, masih kuat dan tampan. Apa kata teman-teman dan keluargaku kalau aku mencintai wanita yang lebih tua ? Memangnya aku nggak laku? Sedikit lagi, kesuksesan akan kuraih.
"Gimana, Sayang ? Kalau kita jalani semua ini?"
Ia hanya terdiam dan menunduk.
Cepat-cepat aku menjepretnya, sebagai bukti untuk Irwan bahwa Dara telah menerima cintaku.
"Well, I think I have to go."Tiba-tiba Dara mengeluarkan suara setelah terdiam beberapa lama dan melambaikan tangannya meminta bill.
" Lho, kok buru-buru sih, Sayang?"
"Iya...sudah malam, Dim." Dara membuka dompetnya dan mengeluarkan 100.000
"Eh maaf, Sayang...tolong bayarin aku dulu, ya. Hehe...maklum, belum gajian."ujarku agak malu. Tapi tak apalah. Dara kan sosialita. Apa artinya uang 100.000 untuknya ?
"Oh...iya, ya."ujarnya sambil tersenyum pengertian.
Yesss, sorakku dalam hati. Akhirnya jadi juga aku memiliki seseorang yang bisa kujadikan tumpuan harapan seperti Shinta.
*******************************
Jakarta, 23 July 2018
For my kids and ❤ A
Paid StoriesCoba PremiumDapatkan AplikasinyaBahasaPenulis|BisnisPekerjaanPersPersyaratanPrivasiBantuan© 2020 w*****d