Irwan mendengarkan rekaman percakapanku dengan Dara di Kopiku dengan serius. Kemudian melihat foto Dara yang sedang menunduk kebingungan."Dia diem aja, Dim. Nggak jawab apa-apa." Irwan sedikit mencibir.
"Yaelah Wan...kan dia diem aja. Nggak nolak gue! "tegasku. "Kata orang, cewek yang diem aja pas ditembak tuh, artinya jawabannya IYA."
"Eit itu sih kalo dilamar, Man...."
"Yeee...sama aja!"Kutepuk punggungnya. "Mana janji lo ma gue?"
"Ah, tapi gue nggak yakin dia mau sama elo."
"Kenapa, Wan ? Lo ngerendahin gue banget, Bray."ujarku sedikit emosi.
"Bukan gitu. Doi cantik, pinter, orang kaya. Kok bisa mau sama elo yang bukan siapa-siapa?"
Aku tertawa keras.
"Yah pasti maulah! Tante-Tante kayak dia masak nggak mau ama brondong kayak gue ? Gue masih muda, masih kuat, Cuy!"kataku menepuk d**a.
Irwan menggeleng-gelengkan kepala. Ia melemparkan 5 lembar uang kertas berwarna merah ke arahku.
"Tuh, ambil dah!"
" Hahaha...thanks Wan!"
Kucium 500.000 hasil menang taruhan mendapatkan Dara. Irwan mendengus kesal karena uang 500.000 melayang dari dompetnya.
"Ada apa nih, rame-rame" Anto datang menghampiri kami.
"Ini Bray....kampret banget, uang 500 rebu gue melayang."dengus Irwan.
"To, lo mau gue traktir ngopi nggak ?" Senyumku lebar.
"Melayang kenapa? Lo abis menang lotre, Dim?"
"Bukan, sih. Cuma gue menang taruhan dapetin si Dara, temen kerja gue dulu. Cantik...tajir, Bray!"kataku mengacungkan jempol.
"Kok bisa ?"
"Bisalah. Dia kan udah tua, udah umur 35. Pasti maulah ama gue!"ujarku angkuh.
"Sa ae lo, Dim." Anto terkekeh. "Jadi lo taruhan buat dapetin dia ? Lo pura-pura suka ama dia, gitu?"
"Iya...gue nembak dia. Pura-pura suka ama dia. Terus dia diem aja. Hehe...berarti dia suka juga ama gue. Lumayan, gue dapet 500.000 buat sebulan sih, cukuplah."ujarku bangga seraya mengipaskan 5 lembar uang kertas berwarna merah itu.
"Gila lo, Dim. PHP in orang!"tukas Anto.
"Hahaha biarin aja. Lagian dia kan orang tajir. Besok-besok juga dapet suami dia. Mungkin dianya terlalu pemilih."tukasku.
"Tetep aja lo maenin anak orang, Dim."Anto menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya abis gimana lagi? Gue butuh duit, Bro. Hari gini nggak usah pake acara kasian segala, deh. Duit berbicara, Bray."
"Kamvret lo ya!"Anto tergelak. "Eh, daripada lo maenin cewek, mendingan lo kerja di kantor gue aja. Mana CV lo sini...kirim ke email gue."
"Wah boleh, tuh. Gajinya berapa, To ?"
"Untuk pemula sih, 3 juta. Tapi lumayanlah, lo kan juga belum lulus."
"Wah...lumayan banget segitu." Mataku berbinar-binar. Segera kukirim CVku ke email Anto.
"Tapi lo kerja yang bener, ya. Jangan main-main lho! Boss gue rada ribet. Nggak beres dikit, pecaaaat!"
"Siap, To. Tuh udah gue kirim CV nya. Kalau ada info, kabarin ya."
"Ok, gue cabs dulu ya gaes!"
*******************************