Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Ini mimpi atau nyata? Aku cubit lenganku. Sakit! Berarti ini bukan mimpi. OK lah kalau begitu, sepertinya aku harus mencari jawabannya. Aku harus menelepon perawan tua itu lagi.
Akhirnya dengan penuh rasa penasaran dan tidak sabaran, kutelepon Dara.
"Hallo ?"
"Hallo, Sayang. Apa kabar?" Ujarku sok mesra dan berpura-pura ceria padahal aku merasa jijik mengucapkan hal itu. Ya...tapi demi 8 juta, kataku dalam hati sambil membayangkan puluhan kertas berwarna merah di dalam dompetku.
"Baik. Ohya, sorry, aku lagi di GI nih."
"Lagi di GI ? Nggak ngajak2 nih. Traktir traktir kek...di GI."kataku tak merasa malu sambil membayangkan makan Sushi Tei atau Penang Bistro. Di sana juga banyak outlet keren, hmm...bisa saja ia membelikan aku baju.
"Ohya, mau ke sini. Ke sini aja ya. Aku tunggu"
"Bener, nih?"
"Iya, beneran."
"Ok. Aku jalan, ya."
Setibanya di GI, aku segera menuju Benedict, resto yang terlihat cozy dan mahal. Betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang duduk di samping si perawan tua itu seraya menyantap egg benedict. Riza Lougan!
"Hi, Dimas! Ayo duduk sini."
Dengan riang, Dara menepuk sofa di samping aktor terkenal blasteran Inggris tersebut. Aku berjalan mendekati mereka dengan agak ragu. Betapa keren nya Riza Lougan. Tinggi, berbadan tegap, bermata biru dan berdagu kebiruan, bekas cukuran yang membuatnya tampak macho. Aku merasa rendah dan buruk duduk di sampingnya. Meskipun aku jauh lebih muda daripada mereka, tetapi dengan kemeja flanel yang sudah pudar, celana jeans dan sepatu boot kesayanganku, aku seperti asisten mereka.
"Dimas, kenalin ini...Riza."Dara tersenyum ke arahku.
"Ohya, yang suka main sinetron itu, kan?"kataku agak gugup. Minder juga aku duduk dekat orang ganteng.
"Haha, yeah...yeah."ujar Riza tertawa.
Sialan, kok aku jadi gugup begini ya ? Kataku dalam hati. Perawan tua itu kelihatan cantik hari ini. Rambutnya diblow natural. Berbeda dengan penampilannya sehari-hari.
"Mau makan?"tanya Dara
Hmmm, makan. OK lah, aku lumayan lapar. Dan haus pula, kataku dalam hati. Aku memesan granola dan ice lemon tea.
"Well, your name is Dimas?" Riza angkat bicara. Walah, sok inggris lo, gerutuku dalam hati. Mentang-mentang blasteran Londo.
"I..i-iya."jawabku gugup. Aku menjadi sangat gugup karena Riza menatapku tajam.
"Makan aja dulu, Dimas."
Makanan dan minuman datang. Aku langsung menyantapnya tanpa basa-basi. Namun hatiku berkata lain. Sepertinya 8 juta tidak akan berada di genggamanku, karena Dara tampak mesra sekali dengan Riza Lougan dan cowok ganteng yang digila-gilai gadis remaja itu pun tampak sayang sekali padanya.
Aku jadi iri. Meskipun aku sering mengirim pesan ke Icha dan mencoba flirting dengannya, tetapi aku belum pernah sekali pun mengajaknya ngedate, apalagi di restoran mahal seperti ini.
Selesai makan, tiba-tiba saja Dara memberikan sebuah amplop berwarna broken white dengan tulisan emboss berwarna emas. Seperti undangan pernikahan.
"Dimas, terimakasih ya, sudah datang. Ini undangan pernikahanku dengan Riza. Jangan lupa nanti datang ya, dengan pacarmu."kata Dara lembut seraya memamerkan lesung pipitnya.
Aku tersentak. Menikah? Apa?! Dengan pemain sinetron yang kaya raya dan ganteng ini? Si perawan tua?!