Laju bus kota sangat kencang siang itu, membuat Inara Rusli yang lelah setelah kuliah seharian tertidur lelap di sisi kursi dekat jendela bus. Seolah dia tersadar ada seseorang yang memperhatikan dia tidur, matanya pun terbuka dan melempar senyum kepada penumpang bus disampingnya.
"Maaf, saya duduk di kursi samping kamu. Tadi saya perhatikan kamu lelah dan mengantuk sekali," celetuk seorang pria yang berpenampilan casual namun kelihatan akademis.
Inara menjawab dengan santai, "Iya, seharian tadi jadwal kuliah saya padat sekali."
Obrolan mereka pun berlanjut seiring dengan kencangnya laju bus menuju ke kota sebelah. Pria itu bernama Reyhan Firdaus. Seorang mahasiswa S2 yang sedang menempuh pendidikan double degree di salah satu kampus ternama di kota itu. Sebelum Inara turun dari bus, Reyhan sempat menanyakan nomor handphonenya. Dan mereka berdua pun bertukar nomor.
Sore itu Inara sengaja pulang ke rumah budhenya karena kakak perempuannya menikah.
"Mbak cantik sekali, aku sampai pangling loh. Mas Alfan pasti makin terpesona sama mbak" puji Inara pada kakak perempuan satu-satunya.
"Masa sih dek, kamu berlebihan deh."balas Amira pada pujian adek tersayangnya.
"Aku jadi rindu mama, mbak," ucap Inara tertunduk sedih karena sejak kecil dia sudah menjadi anak yatim piatu.
"Mama udah bahagia sama papa dek, kita sebagai anak hanya bisa mendoakan mereka yang sudah lebih dulu menghadap Sang Pencipta," Amira mengusap lembut kepala Inara yang tertunduk di pangkuannya.
Terdengar suara Shona membuyarkan tangis haru kedua saudara kandung itu, "Loh, kenapa jadi lomba menangis di hari bahagia ponakan budhe yang cantik ini sih."
Inara menyalami dan memeluk Shona yang sejak tadi dia cari tapi tak nampak karena sibuk menyiapkan acara akad nikah dan resepsi Amira dan Alfan sore itu.
"Budhe, makasih ya sudah merawat kami seperti anak budhe sendiri. Dan hari ini hari bahagia Mbak Amira akan menikah dengan pujaan hatinya. Budhe juga yang menyiapkan semuanya," isak Inara pada budhe yang sangat disayanginya itu.
"Kamu nih ngomong apa sih, kalian berdua sudah budhe anggap seperti anak-anak budhe sejak mama dan papamu meninggal waktu kecelakaan maut itu. Udah ya, sekarang kita bantu mbakmu bersiap karena akad akan segera dimulai," tegas Shona pada kedua keponakan tersayangnya.
Shona adalah seorang wanita wiraswasta yang sukses dan mandiri, belum lama ditinggal meninggal oleh suaminya karena sakit. Shona belum dikaruniai seorang anak pun selama 20 tahun pernikahannya. Sejak orang tua Inara meninggal, Shona yang merawat dan membesarkan keponakannya itu seperti anak sendiri.
"Dek, mbak udah terlihat cantik belum?" tanya Amira pada Inara.
"Cantik sekali mbak, iya kan budhe?" Inara melempar pertanyaan yang sama ke Shona yang sedang sibuk merapihkan kebaya Amira.
"Ya tentu cantik keponakan budhe. Biar budhe sama Inara ya yang mengantar ke meja akad, Alfan dari tadi sudah gugup menunggu kedatangan calon istrinya," jawab Shona sambil menggandeng Amira keluar kamar pengantin.
Di meja akad sudah terlihat Serda Alfan yang setia menanti kemunculan Amira. Alfan adalah seorang tentara yang sejak SMA memang berpacaran dengan Amira. Mereka berdua bagaikan dua sejoli yang tidak pernah terpisahkan hingga Alfan akhirnya berstatus sebagai seorang prajurit yang harus pergi bertugas ke Papua.
"Sudah siap mengucap ijab kabul, Mas Alfan," tanya penghulu.
"Sudah siap, Pak," jawab Serda Alfan mantap sambil melirik ke arah Amira disampingnya yang sore itu terlihat sangat cantik.
Acara akad dan resepsi pernikahan Amira berjalan lancar dan meriah. Banyak tamu undangan yang hadir. Inara beringsut ke dalam kamarnya di lantai 2 dan memeriksa pesan yang masuk di WhatsAppnya.
"Hallo Inara, ini aku Reyhan yang tadi ketemu di bus. Simpan nomorku ya,"Inara membaca pesan dari Reyhan.
"Ok, Reyhan." balas Inara singkat.
"Kapan balik ke kampus? Kita searah kan, siapa tahu bisa ketemu lagi dalam bus yang sama," balas Reyhan cepat sesaat Inara membalas pesannya.
Inara gadis yang sangat cuek, pintar, dan pekerja keras. Meskipun dia masih kuliah S1 tapi dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan freelance sebagai penerjemah bahasa Jepang dan content writer. Tak sedikit rupiah yang dia hasilkan dari pekerjaan freelance itu untuk membiayai kuliahnya.
Setelah acara resepsi selesai, Amira dan Alfan memutuskan untuk langsung pergi honeymoon ke Solo. Alfan yang mampu menjaga kesucian Amira sejak berpacaran, malam itu merenggut k**********n Amira dengan lembut. Amira menangis terisak bahagia karena telah mempersembahkan mahkotanya yang paling berharga kepada sang suami.
"Maafkan mas ya Ami, semalam membuat kamu kesakitan." peluk Alfan hangat pada istrinya yang masih terkulai lemas di tempat tidur.
"Tidak apa mas, memang sudah menjadi kewajibanku untuk melayani suamiku karena kamu berhak atas diriku saat ini." jawab Amira penuh cinta.
"Kamu mau sarapan apa sayang?" tanya Alfan pada istrinya yang sangat dicintainya itu.
"Apa aja asal makannya di dalam kamar ini saja mas, aku malu kalau harus keluar kamar sekarang karena jalanku pasti terlihat aneh setelah peristiwa semalam."Amira merajuk pada Alfan.
"Maafin mas sekali lagi ya sayang, mau mas pesankan bubur ayam special?"Alfan bertanya dengan perasaan bersalah terhadap istrinya karena semalam dia begitu b*******h membuat istrinya kesakitan karena baru pertama kali ini.
"Bubur ayam special kayaknya enak mas, aku mau jus jambu merah juga ya mas, thanks." Amira menambahkan menu jus favoritnya itu.
Tak lama setelah itu makanan di antarkan ke kamar hotel bintang 3 yang menjadi saksi indahnya kisah cinta mereka.
Hari itu hari Minggu sore, waktunya Inara kembali ke kota sebelah karena esok harinya Inara ada jadwal kuliah pagi. Tak disangka, dia bertemu kembali dengan Reyhan.
"Inara, kamu naik bus ini juga? Bisa kebetulan banget ya kita bertemu lagi." Reyhan basa basi pada Inara.
"Hey, Reyhan ya? Iya nih, besok ada kuliah pagi, jadi aku balik ke kos sore ini biar besok ga telat. Dosennya killer banget. Aku takut terlambat."Inara menjawab Reyhan santai.
"Kemarin aku w******p kamu lagi loh, kenapa ga di balas?" Reyhan bertanya dengan nada sedikit kesal.
"Oh, kamu kirim pesan lagi? maaf ya aku belum sempat membuka pesan di w******p kemarin. Kebetulan aku lagi sibuk banget ada acara nikahan mbakku."Inara menjawab jujur.
"Iya, aku kirim pesan nanya kamu balik ke kampus kapan. Eh ternyata kita ditakdirkan ketemu lagi nih." Reyhan memperhatikan Inara merapihkan tas backpacknya.
Sepertinya Reyhan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Inara. Inara gadis polos dan cuek. Dia tidak menyadari tatapan Reyhan yang begitu dalam padanya.
"Kuantar kamu ke kos pakai motor ya nanti? Kebetulan aku parkir motor di terminal." Reyhan berharap Inara mau mengiyakan ajakannya.
"Ga usah Rey, aku terbiasa naik angkot kog." jawab Inara singkat.
"Lagian ini udah gelap loh, masa iya aku tega membiarkan seorang cewek naik angkot sendirian. Sekali ini aja ya ijinkan aku anter kamu ke kos" bujuk Reyhan.
"Hmm, yaudah deh, tapi sekali ini aja ya, aku ga enak ngerepotin orang lain" tegas Inara.
"Ah engga, ga ngerepotin kog. Justru aku senang kalau kamu mau ku anter. Lagian aku kan bukan orang lain lagi, kan kita udah jadi teman," celoteh Reyhan senang karena Inara mau diantar olehnya.
Bus berhenti di pemberhentian terakhir. Inara dan Reyhan berjalan ke parkiran motor. Reyhan nampaknya penasaran dengan gadis yang bernama Inara itu. Sepanjang jalan menuju tempat kos Inara, Reyhan tak berhenti bertanya tentang Inara.
"Sampai juga nih di kosku. Thanks ya udah repot-repot nganterin aku, Rey." Inara berterima kasih karena telah diantar sampai di depan kosnya.
"Cie cie, tumben ada yang anter, kencan Minggu malam Senin nih ye." Sapa Lydia teman satu kos Inara.
"Apaan sih, sini ku kenalin sama Reyhan, dia mahasiswa S2 di kampus seberang kampus kita nih." Inara memperkenalkan Reyhan pada Lydia.
"Aku masuk ke kos dulu ya, aku baru sampai juga nih," pamit Lydia kepada Inara dan Reyhan.
"Jadi kamu biasa sendirian? Kamu blum punya pacar?" bidik Reyhan memanfaatkan momen untuk menanyakan hal privasi yang sangat ingin ia tanyakan pada Inara.
"Ah kamu nih, baru juga ketemu 2x udah nanyain punya pacar apa blum. Aku lagi fokus kuliah, lagian tugas dan kerja freelance udah cukup menyita waktuku banget. Mana sempat mikirin pacaran, Rey." Inara menjawab sambil pamit masuk ke kos.
Reyhan pulang ke kontarakannya dengan hati penuh harap setelah mendengar langsung dari Inara kalau dia belum memiliki pacar. Sesampainya di kontrakan Reyhan langsung memegang poselnya dan kembali menulis pesan kepada Inara.
"Hey, udah tidur blum Nay?" tanya Reyhan.
"Hai, Rey, namaku Inara bukan Nay, kenapa panggil Nay? Tanggung nih masih ngerjain PR dari dosen sastra," jawab Inara kesal karena di panggil Nay.
"Hehe, maap ya Nay, aku boleh telpon kamu bentar ga?" Reyhan ingin sekali mendengar suara Inara.
"Iya boleh, tapi bentar aja ya. Aku mau tidur besok bangun pagi kuliah jam 7," jawab Inara ketus.
Mereka ngobrol beberapa menit, Reyhan mengundang Inara untuk makan siang dengannya. Kebetulan kampus Reyhan dan Inara dekat. Mereka sepakat untuk makan siang bersama di Resto Padang dekat kampus Inara.
"Mau makan dan minum apa Nay hari ini aku yang traktir ya, tanya Reyhan.
"Ga usah Rey, aku bayar sendiri aja. Lagian kita sama-sama masih kuliah kan, biaya masih dari orang tua masak mau traktir-traktir," saut Inara penuh pengertian.
"Gak apa, sekali ini saja Nay. Udah ah, mau makan dan minum apa sebelum aku berubah pikiran nih," Reyhan sedikit memaksa Inara yang terlihat tidak suka dipanggil Nay dan ditraktir dengan orang yang baru saja ia kenal.
Akhirnya Inara pun mengalah dan mau ditraktir Reyhan. Mereka makan siang dengan lahap menu masakan nasi Padang.
"Makasih ya Rey udah di traktir nasi Padang. Lain kali giliranku yang traktir. Kamu nih kuliah jurusan apa sih kog jadwalnya senggang banget sampe bisa ngajakin makan siang," tanya Inara penasaran.
Reyhan menjelaskan panjang lebar kalau dia sebenarnya kuliah jurusan pertanian konsentrasi agroteknologi. Dia mendapatkan beasiswa double degree untuk S2 di Indonesia 1 tahun dan melakukan penelitian 1 tahun di Taiwan.
"Luar biasa, hebat banget kamu ya Rey," Inara berdecak mulai mengagumi Reyhan.
"Ah biasa aja, Nay. Ngomong-ngomong kamu kuliah jurusan apa dan semester berapa?"Reyhan penasaran karena tidak menemukan setitik informasi pun dari media sosial tentang gadis bernama Inara itu.
"Aku menekuni jurusan Sastra Jepang, Rey. Karena aku kagum sekali dengan keindahan kota Jepang dan cita-citaku suatu saat bisa mengunjungi Tokyo" jawab Inara dengan berapi-api.
"Kamu mau ga kalau suatu saat nanti kita pergi lanjut kuliah bersama-sama di Jepang?" Reyhan yang bercita-cita melanjutkan pendidikan S3 di Jepang menanyakan hal itu pada Inara.
"Ngawur ah, masa pergi kuliah bareng ke Jepang dengan lelaki yang baru ku kenal. Lagian aku takut dekat-dekat pria yang bukan muhrim, kuatir ada setan jahat" Inara bukannya menolak, tapi dia tau harus menjaga batasan antara wanita muslimah yang belum menikah dengan pria muslim.
"Ya kita menikah dulu Nay sebelum berangkat kuliah ke Jepang, tapi aku selesaikan dulu pendidikan S2ku di Taiwan, gimana?" jantung Reyhan berdetak kencang saat melontarkan pertanyaan serius itu ke Inara.
"Apaan sih nih obrolannya jadi belok serius banget. Bercanda aja kamu, Rey. Udah ah aku ada kuliah siang nih." Inara menjawab sekenanya.
Reyhan Firdaus merasa tertantang untuk menakhlukkan hati Inara Rusli yang begitu kekeh tidak mau pacaran dan hanya mau serius segera menyelesaikan kuliahnya. Reyhan sangat kagum dengan Inara seorang gadis yatim piatu yang kuliah sambil bekerja freelance.