Amira dan Alfan sudah kembali dari perjalanan honeymoon. Mereka nampak berseri-seri selayaknya pasangan suami istri yang baru menikah.
"Budhe, Inara blum pulang jenguk budhe lagi?" tanya Amira kepada Shona.
"Blum Ami, lahwong adekmu itu sibuk, kuliah kerja juga. Budhe sampai kuatir kalau dia terlalu sibuk kuliah dan kerja makannya jadi tidak teratur" Shona selalu menghawatirkan Inara.
"Budhe Shona, ini oleh-oleh dari Solo, kami bawakan khusus untuk budhe, " Alfan menghampiri dan menenteng tas yang berisi oleh-oleh untuk Shona.
"Terima kasih ya Ami, Alfan oleh-olehnya. Budhe senang sekali melihat kalian akhirnya menikah. Kamu kapan kembali bertugas ke Papua?" tanya Shona kepada Alfan.
"Minggu depan Alfan harus kembali ke Papua, budhe. Ami sudah setuju untuk tinggal di rumah Alfan biar dekat dengan mama Alfan yang sudah sering sakit-sakitan, budhe tidak apa-apa kalau Ami tinggal di rumah Alfan?"
Shona menjawab dengan nada sedih dihatinya dan berusaha untuk menutupinya, selama ini Amira yang bekerja sebagai perawat selalu setia menemani Shona, "Tentu tidak apa-apa Alfan. Budhe yakin Amira bisa menjaga mamamu dengan baik. Jangan lupa tengok budhe sesekali ya Ami."
"Pastilah budhe, Ami akan tengok budhe, jarak rumah mama dan budhe kan tidak jauh. Budhe tidak perlu khawatir ya, Amira menenangkan hati Shona sambil memeluknya.
"Kalau gitu, Alfan ijin untuk pamit ke rumah mama sekaligus membawa barang-barang Ami ke sana ya budhe." Alfan membawa koper Amira ke mobilnya.
"Iya, kalian jangan menunda punya momongan ya. Budhe sama mamamu pasti senang kalau ada cucu di rumah," Shona menggandeng tangan Amira dan mengantarkannya ke mobil.
Ami selalu lupa untuk memasangkan seatbelt ketika berada dalam mobil. Alfan yang sigap memasangkan sabuk pengaman melingkar di badan Ami sambil mencuri kesempatan untuk mencium bibir Ami yang basah.
"Mas, nanti ketahuan budhe kan malu mas," Ami memprotes sikap Alfan yang selalu pandai mencari kesempatan untuk bermesraan dengan istrinya.
Perjalanan dari rumah Shona ke rumah Alfan tidak terlalu jauh. Baru beberapa menit selesai menurunkan koper di kamar Alfan, handphone Ami berdering.
"Mas tengok mama dulu di kamar ya, kamu angkat tuh telephonenya" Alfan beranjak menuju pintu kamarnya.
"Iya mas, nanti aku nyusul ke kamar mama," Amira ucap lembut sambil bergelayut di pelukan Alfan yang berbadan tinggi tegap proporsional dari balik pintu.
"Iya sayang," Alfan berlalu sambil mendaratkan ciuman ke kening Ami.
Dari jauh terdengar suara Inara menanyakan kabar kakak perempuan yang paling ia sayangi.
"Mbak Ami udah pulang? Gimana honeymoon sama mas Alfan mbak, pasti seru kan?" Tanya Inara bersemangat.
"Iyanih, mbak baru sampai di rumah mama Mas Alfan. Budhe udah ngomong belum kalau mbak tinggal di rumah mama?" Amira menjawab dan bertanya kembali ke Inara.
Inara nyerocos "Udah sih mbak, sepi dunk ya rumah ga ada mbak. Kasihan budhe Shona sendirian sama Bik Iyem doank."
"Makanya kamu sering pulang dek tengok budhe. Meskipun ada Bik Iyem, budhe tuh suka sekali ngobrol sambil ditemani minum teh di halaman belakang rumah kalau sore hari." Pinta Ami kepada adeknya.
"Iyadeh, nanti kalau weekend aku sempetin pulang mbak. Kan aku ada kerjaan sampingan juga nih disini, kasih kursus bahasa Jepang anak pejabat daerah sini, tapi nanti akan kusempetin pulang nengok budhe kog mbak," Inara menenangkan hati kakanya tanpa berdebat lagi.
Setelah selesai menelpon, Amira menyusul Alfan ke kamar mamanya.
"Mama lagi istirahat, kita temuin mama nanti sore saja" Alfan menutup pintu kamar.
"Mas Alfan, Neng Ami, maaf mbok baru tau kalau kalian datang, tadi mbok Darmi dari pasar disuruh belanja sama Ibu," Mbok Darmi muncul dari balik dapur mengagetkan Alfan dan Ami.
"Iya mbok, tidak apa-apa. Kami berdua mau istirahat dulu ya. Nanti sore kalau mama bangun kami mau ketemu mama." Alfan memberi aba-aba ke mbok Darmi kalau dia tidak mau di ganggu siapapun.
"Baik, mas. Nanti kalau Mas Alfan atau Neng Ami butuh apa-apa panggil mbok aja ya," mbok Darmi mengerti kode dari pasangan pengantin baru itu.
Selepas shalat dhuhur Alfan mengajak Ami untuk melanjutkan ronde yang tertunda kemarin. Ami tidak bisa menolak walaupun masih terasa perih. Alfan m*****t bibir Ami dan m*********i tubuh Ami tak menyisakan sehelai kain pun di tubuhnya.
"Amira sayang, rilex," bisik Alfan lembut sambil memulai perjuangannya.
"Pelan-pelan mas, sakit nih," pinta Amira memelas.
Siang itu mereka berdua menyelesaikan beberapa ronde. Amira pun merasa mulai menikmati permainan Alfan yang bertubuh perkasa.
Sore harinya, Ami bergegas menyusul ke kamar Peni Wiraatmaja untuk memastikan mama mertuanya sudah bangun.
"Ami, sini masuk nak, pinta Peni kepada menantu satu-satunya itu.
"Kamu dan Alfan sampai sini jam berapa, nak?"
Ami menjawab Peni dengan santun, "Maaf Ma, kami sampai tadi siang, terus melihat Mama tidur lelap sekali akhirnya kami kembali lagi ke kamar. Paling bentar lagi Mas Alfan menyusul ke sini."
"Mama bahagia sekali akhirnya kalian berdua menikah. Kamu yang sabar ya, temani mama disini karena Alfan masih harus bertugas di Papua sampai tahun depan, nak. Mama berharap kamu betah tinggal sama mama yang sudah tua dan sakit-sakitan disini." Peni berharap menantunya tidak keberatan.
"Ami senang sekali bisa menemani, Mama. Mama jangan bicara begitu ya. Ami sudah menganggap mama seperti ibu kandung Ami sendiri. Sejujurnya Ami seperti menemukan kasih sayang dari seorang Ibu dari Mama selain budhe Shona. Ami merasa beruntung sekali. Terima kasih, Ma," Amira menitikkan air mata dan mencium punggung telapak tangan Peni.
Alfan merasa terharu mendengar percakapan istri dan mamanya dari balik pintu kamar.
"Mama, gimana keadaannya, mama pasti sehat kan udah Al bawain perawat cantik untuk hibur mama setiap hari nih?"Alfan menyeruak masuk ke dalam kamar mamanya.
"Kamu tuh selalu candain mama terus, Al. Makanya mama tuh ingin sehat dan panjang umur biar bisa liat cucu mama, pasti kalau cowok ganteng kaya kamu, kalau cewek cantik seperti Ami" jawab Peni sambil mengeratkan pegangan tangannya ke tangan Ami.
"Mama, bikin anak tuh kaya bikin kue donat gampang lah itu, yang penting mama sehat dan doain Al sama Ami biar cepet punya anak" seru Alfan sambil melempar senyum ke arah mamanya.
"Tuh kan, kamu dengar sendiri Ami. Alfan tuh memang begitu. Selalu bikin mama kesel. Ngomong serius dijawabnya ngasal," Peni protes kepada menantunya.
"Mas, jangan suka bercandain orang tua. Nanti kualat loh, " sambil mencubit mesra pinggang suaminya.
"Aduh, enak sayang, cubit lagi dunk," Alfan menggerakkan tangannya mau memeluk Ami dari samping namun Amira menolak dengan halus karena malu dengan mertuanya.
Peni Wiraatmaja begitu senang melihat kemesraan anak semata wayang dan istrinya itu. Dia berharap sebelum tutup usia ada cucu yang memanggilnya dengan sebutan nenek.