Hampir setiap hari Reyhan mengirim pesan ke Inara melalui w******p menanyakan aktifitas yang dilakukan oleh Inara dan sesekali mengajak Inara jalan.
"Tumben Reyhan ga ada kabar, biasanya pagi-pagi hp udah trang tring trung kepoin aku lagi mau ngapain aja," Inara bicara dalam hati dan nampaknya ia mulai terbiasa dengan kiriman pesan dari Reyhan setiap pagi.
Inara mengambil ponsel lalu mengetik pesan ke Reyhan tapi ia urung melangsungkan niatnya. Digapainya handuk dan baju lalu lanjut mandi. Sambil menunggu jadwal kuliah siang Inara memasak ala anak kos, nasi goreng jawa ditambah sosis. Gadis itu memang pandai memasak meskipun jarang bermain di dapur.
Di kampus seberang, Reyhan nampak sibuk dengan jas laboratoriumnya dan sedang menggunakan aparatus untuk menuang larutan. Hari itu Reyhan benar-benar tidak ada waktu senggang untuk sekedar say hi pada Inara.
Keesokan harinya Inara ada jadwal kuliah pagi. Seperti biasa, dia hanya menyeruput kopi hitam dan makan selembar roti tawar untuk sarapan.
"Pagi Inara, mau jalan bareng ke kampus ga? kayaknya kamu ada jadwal pagi deh", Lydia mengajak Inara jalan ke kampus bersama.
"Tau aja sih jadwal kuliahku pagi. Ya mau dunk jalan bareng, daripada jalan bengong sendirian" Inara mengiyakan ajakan Lydia untuk jalan bareng ke kampus.
"Eh, tumben si itu ga keliatan siapa namanya yang tempo hari kamu kenalin ke aku," tanya Lydia iseng.
"Reyhan namanya bukan si itu" jawab Inara singkat padat dan jelas kayak teller bank.
"Iya si Reyhan, kamu pacaran sama dia?" selidik Lydia sambil nyomot roti tawar Inara.
"Enak ajah kalo ngomong, aku tuh masih berstatus single alias jomblo ting tong," timpal Inara kesal karena Lydia terus menginterogasinya seperti detektif.
Akhirnya keduanya pun berjalan beriringan keluar kos menuju gedung kuliah. Mereka berpisah di depan lapangan basket karena gedung kuliah mereka berbeda.
Inara kuliah dari pagi sampai pukul 4 sore hari. Dari luar gedung muncul Reyhan sedang menunggu Inara keluar. Reyhan sengaja tidak memberi tahu Inara kalau dia akan menyusul Inara.
"Inara! Sini!" Suara Choy teman dekat Inara memanggil dan memintanya untuk duduk berdampingan di gazebo depan kampus. Dari jauh Reyhan memperhatikan Inara dan Choy dengan rasa cemburu. Tak lama setelah Inara ngobrol dengan Choy. Inarapun langsung jalan pulang ke arah kosnya.
Inara terkejut ketika di sampingnya ada suara Reyhan dan motornya menguntitnya berjalan, "Nay, mau pulang ke kos, aku antar ya? Naik motorku yuk!"
Inara menjawab dengan mata berbinar, "Eh kamu Rey, kog udah muncul di sini aja."
"Iya, aku sengaja menunggumu di depan tadi, eh ada cowok nyamperin kamu dan ngobrol deketan sama kamu. Emang siapa cowok tadi?" Reyhan bertanya jealous.
Inara jawab santai tanpa beban, "Oh itu tadi teman baikku Choy namanya. Kita sering sharing tentang tugas kuliah bahkan kerja freelance pun sering partneran."
Reyhan mendengarkan jawaban Inara lalu mengajaknya untuk shalat di masjid dekat taman kota lanjut dinner bersama di angkringan. Inara menerima undangan itu karena sedang tidak ada tugas kuliah maupun kerjaan freelance.
Selepas shalat, mereka duduk di kursi taman kota. Reyhan memberanikan diri untuk menembak Inara sore itu.
"Nay, sengaja kemarin aku ga kirim pesan ke kamu. Tapi emang lagi sibuk sih ada tugas lab yang harus aku selesaikan. Ternyata seharian ga WA kamu dan ga ketemu kamu perasaanku jadi aneh," tegas Reyhan jujur.
"Aneh gimana maksudnya, Rey?" Inara masih tidak peka kalau Reyhan menaruh perasaan padanya.
Reyhan mulai mengungkapkan isi hatinya ke Inara sore itu di taman depan masjid megah di pusat kota, "Nay, aku tau kita baru saja berkenalan. Aku tau kamu juga ga mau pacaran. Aku bukan mencari pacar tapi calon istri yang mau menungguku pulang dari Taiwan dan bisa mendampingi studi S3ku ke Jepang. Kamu mau ga?"
Inara bingung harus menjawab apa karena Inara tidak ada rencana untuk menikah di usia muda.
"Kamu boleh menolakku, tapi tolong pikirkan lagi ya, aku menunggu jawaban kamu Nay" Reyhan menggenggam tangan Inara.
Inara tak enak hati dengan ungkapan perasaan Reyhan yang terlalu jujur dan sangat mendadak, lagi pula Inara masih mau melanjutkan mimpinya untuk mendapat beasiswa kuliah di Jepang. Inara meminta waktu untuk memberikan jawaban pada Reyhan.
1 hari, 2 hari, 3 hari hingga 1 minggu tak ada kabar dari Inara. Reyhan Firdaus merasa sangat gelisah. Dia mencemaskan Inara yang tidak memberi kabar apapun. Bahkan pesan Reyhan tidak satupun ada yang dibalasnya. Reyhan bertekad untuk menghampiri Inara di kosnya sore itu.
Kebetulan sekali Reyhan bertemu dengan Lydia di depan kos. Lydia baru saja pulang dari perkuliahan jam terakhir.
"Eh, Mas Reyhan, kenapa disini ga masuk aja di ruang tamu?" tanya Lydia.
Reyhan terlihat lega setelah bertemu Lydia, "Iyanih, lagi nungguin Inara, telpnya lagi ga aktif susah di hubungi. Bisa minta tolong panggilin Inara buat turun ke sini?"
"Syiap, tunggu sebentar ya mas kupanggilin Inara dulu," Lydia bergegas naik ke kamar Inara.
"Eh, ini dia orangnya yang lagi di buru sama calon dosen pertanian," celetuk Lydia kepada Inara yang sedang serius menulis sebuah content di majalah ternama.
"Maksudnya apa nih, dateng-dateng main serang aja udah kayak striker bola, "jawab Inara santai seperti biasa.
"Kamu ditungguin sama Mas Reyhan tuh di bawah dari tadi sampe lumutan dia kelamaan nungguin kamu. Buruan turun sekarang" Lydia berseloroh panjang.
"Hah? ngapain itu orang di bawah? yawdah aku turun," Lydia bergegas turun ke bawah menemui Reyhan.
Saat mata Inara dan Reyhan beradu pandang, ada getaran cinta bersemi di hati keduanya. Selang beberapa detik mereka berdua terdiam berpandangan dan tidak sengaja memanggil nama berbarengan.
"Inara."
"Reyhan."
"Nay, maafin kelancanganku tempo hari ya. Aku ga bermaksud untuk memaksamu menjadi istriku sekarang jika kamu belum siap. Tapi kamu juga ga bisa diemin aku seperti ini, Nay. Aku coba telp ga di angkat, kirim pesan ga di balas, please Nay," Reyhan memelas.
Inara terdiam beberapa saat memandangi wajah Reyhan yang sendu.
"Maafin aku ya Rey, sebenernya aku..." Inara ragu meneruskan kalimatnya.
Reyhan menunggu Inara meneruskan kalimatnya dengan sabar.
"Aku juga punya perasaan yang sama denganmu Rey. Tapi aku takut untuk memulai kisah cinta karena aku belum pernah berpacaran. Akupun belum siap kalau menikah di usia muda. Aku masih punya cita-cita yang belum kesampaian, Rey,"Inara terbata-bata mengungkapkan perasaannya terhadap Reyhan.
"Aku minta maaf ya Nay sudah membuatmu berpikir begitu keras. Aku akan sabar menunggu kamu siap menjadi istriku sembari aku menyelesaikan penelitian S2 ku di Taiwan tahun depan dan kamu bisa menyelesaikan kuliah S1 kamu di sini. Apakah itu membuatmu merasa lebih baik sekarang?" tanya Reyhan kepada Inara yang masih tertunduk lesu tak bersemangat.
Inara menangkupkan kedua tangan di wajahnya yang masih kebingungan harus menjawab apalagi. Tapi Inara setuju dengan usulan Reyhan. Sejak hari itu Reyhan dan Inara membuat janji suci untuk saling bersabar dan menunggu hingga kuliah mereka selesai.