Inara dan Reyhan memang tidak pernah mengatakan mereka berpacaran, tapi mereka saling menjaga satu sama lain.
"Nay, ada satu lagi permintaan ya?"Reyhan menatap Inara serius.
"Apalagi sih Rey?" Inara bertanya balik.
"Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan Mas?" ungkap Reyhan genit.
"Hmmm, iya Mas Reyhan. Kenapa aku harus manggil Mas Reyhan? Apa bedanya dengan Reyhan ajah?"
Reyhan menjawab lugas, "Kita kan beda usia lumayan Nay, mas 24 kamu 21 tahun, jadi kan lebih tua mas daripada kamu, masa main panggil Ray Rey gitu.
Inara menertawakan kepolosannya sendiri, "syiap bos, ada lagi?"
"Engga sih itu aja, Nay. Eh iya, bulan depan mas mau kenalin kamu ke abang kandung mas ya, mau?" Rey meminta persetujuan Inara.
"Secepat itu mas, kenapa buru-buru sih, lagian kan kita masih gini-gini aja. Aku takut kalau belom apa-apa udah mau di kenalin ke saudara Mas Rey. Ntar dulu lah, "pungkas Inara keberatan.
Reyhan mulai melembutkan nadanya 1 oktaf agar Inara mau diajak mengunjungi abang kandung Reyhan, "Mas serius sama kamu, Nay. Supaya nanti kalau mas penelitian di Taiwan setahun ada abangnya mas yang bisa jagain kamu biar ga diambil laki-laki lain."
"Emang Inara barang bisa diambil ambil. Inara kan sudah setuju untuk menunggu Mas Rey pulang ke Indonesia. Justru malah Inara yang kuatir Mas Rey bisa engga jaga janji suci kita untuk saling menunggu dan mas kembali ke Indonesia untuk melamar Inara ke budhe Shona" Inara kali ini seperti memiliki firasat bahwa hubungannya dengan Reyhan tidak akan mulus.
"Kamu yakin sama mas kan Nay? Bantu doa ya supaya penelitian mas lancar di Taiwan dan bisa cepat pulang buat melamar kamu ke budhe Shona." Reyhan meyakinkan Inara yang terus meragukan kesungguhan hati
Dalam hati Inara berkecamuk perasaan bingung karena saat ini ada perasaan cinta yang terus dipupuk dan takut kehilangan Reyhan. Inara seperti kehilangan jati dirinya sebagai seorang gadis tangguh, mandiri dan easy going.
Tiba hari dimana Inara dipertemukan dengan abang kandung Reyhan yang bernama Faisal Firdaus. Pembawaan Faisal sangat dewasa dan serius.
"Inara, mas,"Reyhan memperkenalkan Inara kepada Faisal.
"Faisal" jawab Faisal singkat sambil mengulurkan jabat tangan tanda perkenalan.
"Kamu sudah berapa lama kenal dengan Reyhan?"Faisal bertanya penuh selidik kepada Inara yang sejak tadi berdiri mematung.
"Belum lama mas," suasana hati Inara kurang nyaman.
Reyhan yang mengerti kekakuan situasi perkenalan abangnya dengan pujaan hatinya akhirnya mencairkan suasana dengan menanyakan kegiatan abangnya. Kedua saudara kandung yang jarang bertemu itu ngobrol serius. Inara yang canggung hanya mengikuti alur obrolan antara kakak beradik.
Matahari bergulir ke peraduannya, Reyhan dan Inara pamit kepada Faisal. Sepanjang jalan di dalam bus kota Reyhan memastikan bahwa Inara baik-baik saja.
"Nay, kenapa diem aja?"pertanyaan Reyhan membuyarkan lamunan Inara yang sedang memandangi sunset dari balik jendela kaca bus kota.
Inara menyaut, "Gak apa-apa mas. Cuman masih kebawa nervous aja abis ketemu Bang Faisal."
"Bang Faisal memang begitu orangnya Nay, tapi sebenernya dia baik kog," ungkap Reyhan.
Kantuk menyerang Inara. Saat tertidur kepalanya terpentok jendela kaca bus kota. Reyhan berinisiatif untuk meletakkan kepala Inara ke pundaknya. Reyhan memandangi gadis polos disampingnya yang tertidur lelap sepanjang jalan.
"Nay, sayang, sudah sampe terminal nih kita,"Reyhan membangunkan Inara dengan lembut.
"Eh maaf Mas Rey, Nay ketiduran abis ngantuk banget,"Inara merasa tidak enak karena dia terbangun di pundak Reyhan.
"Makan dulu yuk. Mas yang traktir," Reyhan mengajak Inara makan di warteg.
"Emang mas punya duit traktir Nay makan? Biar Nay yang traktir Mas Rey aja kali ini," Inara sebenarnya mengetahui isi dompet Reyhan tipis sekali.
Keluarganya dari kalangan tidak berada. Tapi hal itu tak lantas menyurutkan semangat Reyhan untuk berjuang mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikannya. Berbeda dengan Inara. Meskipun dia yatim piatu, warisan orang tuanya lebih dari cukup untuk membiayai kuliah Inara. Budhe Shona yang mengasuh Inara sejak kecil mengajarkan Inara untuk selalu belajar, bekerja keras dan hidup mandiri.
Reyhan mengantar Inara pulang ke kos, "Udah masuk ke kos dulu, mas tunggu sini sampai kamu masuk."
"Okay bos, langsung pulang ya mas. Hati-hati di jalan," Inara berlalu menuju gerbang masuk kosnya.
Saat berbalik mau menutup gerbang Reyhan masih terlihat memperhatikan punggung Inara hingga hilang di balik pintu kos. Reyhan sangat menyayangi Inara dan berjanji dalam hati suatu saat akan membuat gadis yatim piatu itu menjadi istri yang paling berbahagia sedunia.