Hari ini rasanya kepengen di kamar saja, badan sepertinya sudah menyatu dengan kasur, sebenarnya tadi pagi mamah telepon, ngajakin kondangan tapi aku menolak dengan alasan kecapekan kemaren banyak kerjaan sampai pulang malam, tapi memang benarkan kemaren karena permintaan Pak Farhan yang minta cepat dan sedikit memaksa aku jadi kerja dengan tenaga ekstra, ditambah sorenya harus mengantar Pak Farhan ke klinik yang tadinya sudah berusaha supaya tidak lembur akhirnya pulang malam juga.
Kemaren selesai dari klinik jam setengah tujuan tapi karena jalanan lumayan macet sampai apartemen jam delapan, aku pulang bareng mobil Pak bos karena tidak dibolehin pulang sendiri, alhasil motor aku masih ada di kantor, tapi kemaren sempat titip ke pak satpam sebelum ke klinik.
Ku lihat handphoneku di meja menyala sepertinya ada yang menelepon, benar saja pas aku lihat, loh kok mamah?
"iya mah?"
"kamu beneran nggak bisa nemenin mamah kondangan?"
"kan tadi pagi udah ngomong mah, Fita capek banget pengen nyantai"
"kan istirahatnya bisa ntar lagi pas pulang kondangan sayang."
"yang ada ntar jadi double capeknya mah, lagian kan mamah kondangan bareng mas Nathan sama mba Risa, si embul juga pasti ikut kan?" embul adalah panggilan kesayangan buat ponakanku anaknya mas Nathan dan mba Risa.
"ya iya sih."
"tuh kan, udah rame itu, banget malah."
"tapi mamah udah janji sama temen mamah buat ngenalin anak gadis mamah yang paling cantik ini."
"maksudnya mah? kok aku mencium bau-bau yang mengarah ke jodoh-jodohan lagi."
"cuma kenalan dulu Fit, mamah nggak maksa."
"ngomongnya nggak maksa tapi ujung-ujungnya tetep aja maksa, mah udah dong mah Fita nggak suka kayak gini, Fita masih bisa cari sendiri, kayak nggak percaya banget sama anaknya."
"bukan nggak percaya sayang, tapi yang namanya orangtua kan pengin ngasih yang terbaik buat anaknya."
"iya Fita tau, Fita juga makasih banget, tapi Fita tetep nggak mau."
"beneran ini sayang, anaknya ganteng loh, baik pula mamah udah pernah ngobrol."
"tetep nggak mau, kalau mamah mau sama mamah aja."
"husss!!! terus papahmu mau dikemanain, kalau ngomong suka ngawur."
"ya lagian mamah udah anaknya nggak mau masih kekeh aja."
"ya udah mamah nyerah, besok pulangkan, awas kalau sampai nggak pulang."
"iya pasti Fita juga udah kangen."
"kalau bisa mbok ya besok ada gitu yang dibawa ke rumah buat dikenalin."
"iya besok Fita bawa satpam apartemen buat kenalan sama mamah."
"ih ngapain, nggak usah aneh-aneh, maksud mamah tuh pacar apa boyfriend gitu."
"sabar mah ntar kalau udah saatnya juga pasti ada."
"ituuuu terus alasannya, ya udahlah mamah capek, besok jangan lupa, hati-hati jaga kesehatan."
"siap mamahku sayang."
Ya ampun mamah, mah anak gadismu ini masih sanggup loh buat cari cowok, lagian umur juga masih aman.
*
Saat ini aku lagi di dalam lift mau mengambil kiriman makanan di satpam lobi, di sini setiap ada kiriman harus lewat keamanan dulu tidak boleh langsung ke atas kecuali memang sudah ada permintaan dari penghuni, itu pun masih harus diperiksa dulu, setiap penghuni disediakan loker khusus.
Tadi aku sempat kebingungan karena aku merasa tidak pesan makanan, ternyata itu kiriman dari Pak Farhan sebagai ucapan terima kasih, nah kalau ini salah satu kebaikan Pak bos tidak pelit sama bawahan.
"banyak banget mba?"
"iya mba Fita ini sampai nggak muat, bentar masih ada satu lagi."
Aku sampai melongo, ini tidak salah kan, tadi katanya buat aku semua Bayu sudah ada sendiri, tapi ini terlalu kebanyakan kalau cuma buat aku sendirian. Orang kaya memang beda, ku lihat ada tiga box paket nasi berikut minumnya dengan menu yang berbeda ditambah dengan satu keranjang buah yang lumayan besar, ini aku bagaimana bawanya, aku inisiatif memisahkan satu paket nasi sama minumannya.
"mba ini buat mbaknya ya."
"loh nggak usah mba Fita."
"nggak apa banyak banget ini, itung-itung bantu ngabisin, hee."
"beneran ini, makasih loh."
"iya sama-sama nggak usah sungkan."
aku lumayan kesusahan kalau membawa semuanya, lagian dapat rejeki banyak jangan lupa berbagi.
*
FITA!!! spontan aku balik badan, eh kenapa orang itu ada di sini, aku tidak salah lihat kan.
"KAFITA PUTRI PRADIPTA heh malah bengong."
tau-tau orang ini sudah berdiri tepat di depanku.
"kamu kenapa ada di sini?"
aduh pertanyaan apa ini, beberan aku sungguh sangat terkejut.
"kabur dari rumah mau nampung nggak?"
"apa?!!!"
"udah ah kagetnya, bukannya disambut malah bengong mulu."
"lagian kamu nggak ngabarin dulu, ya udah yuk naik ngobrol di atas aja."
"ini banyak banget bawaannya, sini aku bawain, lagi ada tamu ya, berarti aku ganggu dong."
dia langsung mengambil alih semua bawaanku, Gilang selalu begini dari dulu, benar orang yang datang dan saat ini sedang membawakan bawaanku adalah Gilang.
"nggak ada siapa-siapa lagi sendirian." kami masuk lift dan menuju lantai lima tempat unitku berada, sesampainya aku membantu Gilang mengambil sendal dan menaruh sepatunya di rak, setelahnya kami langsung menuju ke meja makan yang menyatu dengan dapur.
"taruh di meja aja Lang, kamu mau minum apa?"
"air putih aja, tapi yang dingin."
aku mengambilkannya dan dia bukannya duduk malah mengekor di belakangku, Gilang langsung meminumnya sampai habis tanpa sisa, aku meminta gelasnya kembali.
"mau lagi, kelihatannya haus banget."
"makasih, enggak usah, tadi emang belum sempet minum dari bandara langsung ke hotel terus naruh barang langsung ke sini."
"kenapa nggak istirahat dulu di hotel?"
bukannya dijawab dia malah menarik lenganku lembut dan memelukku.
" aku kangen banget Fit, enggak tau kenapa sekarang bawaannya kangen terus, perasaan kemaren tahan banget bertahun-tahun nggak ketemu, kamu kangen nggak sama aku?"
"ya kangen, tapi__"
"tapi kenapa?"
aku bingung mau menjawab apa, sebenarnya lebih ke arah kaget dengan tindakannya ini.
"kok malah diam nggak jawab?"
"kamu tuh emang gini orangnya?"
"kayak gini gimana maksudnya, coba jelasin."
dia minta aku buat jelasin tapi tidak melepaskan pelukannya, bagaimana mau menjelaskan kalau jantungku berdetak tidak normal kayak begini.
"ya kayak gini tiba-tiba meluk, tiba-tiba cium, perasaan dulu nggak kayak gini Lang, bikin aku jantungan tau nggak, kamu sekarang pasti bisa ngerasain detak jantungku kan."
akhirnya dilepas juga pelukannya, tapi ini kenapa tangan jadi nyaman sekali di pinggangku.
"kamu tahu Fit, meskipun terdengar egois tapi semenjak kejadian kemaren dan tau selama ini ternyata kamu menungguku, jujur aku senang dan tidak menyangka, terus kamu yang sabar mendengar ceritaku, kamu tidak menjauh meski sudah tahu aku pernah mengalami kondisi seperti itu membuat aku merasa sangat bersyukur sudah dipertemukan lagi sama kamu."
sejenak dia menjeda ceritanya, tersenyum dan membelai pipiku aku ikut tersenyum melihatnya.
"aku juga sekaligus merasa sangat bersalah, nggak seharusnya aku bersikap seperti itu sama kamu, nggak seharusnya aku mengabaikanmu, aku memang bodoh, maaf Fit."
"nggak usah diingat lagi yang sedih-sedih, sekarang saatnya kita harus bahagia."
dia pun kembali tersenyum menanggapi jawabanku.
"iya sekarang kita harus bahagia, dan aku ingin bahagiaku bersama kamu tidak mau dengan yang lain, kamu mau kan kita selalu bersama seterusnya, kamu masih mau kan memberi kesempatan untukku?"
"tentu."
aku pun mengangguk dan tersenyum, Gilang memelukku kembali.
"Lang__"
"I love you."
"EHHH??!!!!"