Tidak terasa sudah sebulan sejak Gilang antar jemput aku waktu itu, sorenya dia langsung buru-buru pulang katanya jam tujuh sudah harus tiba di bandara untuk menyusul atasannya di luar negeri karena besok ada agenda penting.
Jam segini adalah waktu biasanya Gilang telepon, dia yang selalu menyesuaikan dengan jamku, terakhir kemaren dia telepon dari apartemennya berarti dia sudah pulang dari luar negeri, eh ngomong-ngomong itu kan dua hari yang lalu, kemaren aku lembur pulang malam jadi cuma kirim pesan. Panjang umur baru juga dipikirkan, sudah ada telepon masuk darinya.
"iya Lang."
"lagi apa?"
"rebahan di kamar."
"pulang jam berapa tadi?"
"nyampe jam tujuh kena macet tadi."
"jangan-jangan belum mandi ini?"
"enak aja udah ya, nggak tau wangi banget ini."
"masa sih, jadi pengin langsung terbang ke situ." kami tertawa bersama menanggapi candaan kami yang garing, tidak terasa kami mengobrol sudah hampir dua jam.
"kamu sudah makan belum?"
"sudah, kenapa kamu belum? ya udah makan dulu aku tutup teleponnya ya."
"jangan ditutup teleponnya, kamu temenin aku makan ya, nggak enak sepi sendirian."
"tapi kan kamu mau makan, emang bisa makan sambil teleponan?"
"bisa banget, kalau sama kamu apa aja aku pasti bisa."
"idiiih." aku pura-pura merinding padahal aslinya sedang menutupi salah tingkahku, lagian dia enak banget kalau ngomong kayak tanpa beban, tidak taukah kalau yang di sini dag dig dug serr tidak karuan.
"ya udah tapi aku sambil rebahan ya."
"iya boleh, kamu sudah ngantuk ya, kalau mau tidur aja ntar aku yang matiin."
"lah gimana ceritanya, namanya nggak nemenin dong."
"buat aku yang penting liat muka kamu udah berasa ditemenin samping aku."
" apaan sih, tenang aja masih bisa melek ini." aku mengatur bantal untuk menyandarkan hape sedang aku tidur miring menghadap hape. Ku lihat dia juga memposisikan hapenya di atas meja menghadap dia, dan satu persatu mulai mengeluarkan makanan dari bungkusnya, sepertinya dia membeli makanan dari luar ada logo restoran di bungkas makanannya.
*
Pagi ini aku lagi menyiapkan ruang meeting, karena sebentar lagi akan ada meeting bulanan. Semalam aku tidak tahu ketiduran jam berapa, saat bangun sudah jam empat shubuh. Fita kira-kira semalem kamu tidurnya ileran tidak ya, malu kan kalau sampai beneran ileran.
"sudah siap ruangan Fit?"
"sudah pak."
"ya sudah informasikan kita meeting sepuluh menit lagi."
"baik pak." Pak Farhan hari ini sepertinya terlihat agak kusut, perasaanku saja kali, semoga aman dan tidak kebawa ke meeting nanti.
Benar saja meeting kali ini Pak Farhan terlihat gampang marah, sedikit saja ada yang tidak sesuai langsung kena marah, meski tidak parah tetap saja membuat suasana tidak nyaman, jeleknya Pak Farhan kalau ada masalah pribadi suka kebawa ke kerjaan.
"Fita nanti hasil rapat hari ini saya minta sudah masuk ke saya sebelum jam tiga dan sekalian berkas kerja sama dengan klien yang kemaren bisa tolong dirapikan mau saya cek lagi, harus sebelum jam tiga kalau lewat berati otomatis kamu lembur."
"baik pak." tuh kan aku juga yang kena, kayaknya harus ekstra nih kerjanya, semangat Fita, tenang saja besok sudah libur.
*
akhirnya selesai juga semuanya saatnya laporan, semoga lancar tidak ada masalah aku sudah capek sekali.
tok! tok!tok!!
"masuk." aku langsung masuk begitu Pak Farhan menjawab.
"siang pak, ini berkas yang bapak minta terus hasil meeting hari ini sudah saya email langsung ke bapak."
"oke taruh saja di meja terima kasih."
"baik Pak."
"maaf kalau hari ini saya terlalu menekan, hari ini kamu tidak perlu lembur nanti bisa pulang sesuai jamnya."
"iya Pak tidak masalah."
"oh iya satu lagi tolong saya pesankan makan siang di restoran yang waktu itu, menu juga sama persis kayak waktu itu juga, kamu boleh ikut pesan kalau mau."
"astaga bapak belum makan siang, maaf pak saya teledor kelupaan biasanya makan siang bapak dikirim sama ibu."
iya benar hari ini tidak ada kiriman makan siang dari istri Pak bos, biasanya memang begitu kecuali kalau ada kerjaan di luar.
"tidak apa, ya sudah bisa pesankan sekarangkan?"
"iya pak, saya permisi dulu."
aku langsung kembali ke meja kerjaku dan buru-buru memesankan makan siang buat bapak, aduh kenapa aku kelupaan gara-gara terlalu fokus kerjaan jadi lupa, sepertinya memang benar pak bos hari ini lagi tidak baik-baik saja dan sepertinya itu ada sedikit masalah sama istrinya.
*
*
Akhirnya pulang juga, tadi tidak sengaja ketemu temen yang dulu training bareng cuma beda divisi jadi ngobrol lumayan lama sambil ngopi cantik di kafetaria kantor, besok Sabtu libur mau malas-malasan seharian ceritanya, terus hari minggunya biasa pulang ke rumah absen muka takut nyonya besar marah nanti namaku dicoret dari kartu KK, hee.
Kunci motor kemana ya, perasaan tadi pagi sudah aku masukan tas.
BRAKKK!!!
suara apaan tuh, aku sampai terlonjak karena sangkin kaget, kulihat di pojok bagian parkir mobil ada dua mobil dan salah satunya terlihat penyok lumayan parah bagian depannya, sepertinya menabrak tembok pembatas, tunggu bukannya itu mobil yang biasa dipakai Pak bos, terlihat empat orang berlari menghampirinya, termasuk Pak satpam dan Pak Bayu sopir bapak, aku buru-buru berlari menghampiri mobil tersebut.
Sesampainya kulihat salah seorang satpam sedang berusaha mengeluarkan seseorang yang duduk di balik kemudi, ya ampun benar Pak bos, saat berhasil keluar ku lihat Pak Farhan masih sadar, karena terlalu kaget aku sampai bingung mau ngapain.
"kita bawa bapak ke rumah sakit, mba Fita sementara tolong temani bapak ke rumah sakit ya, biar mobil nanti kami yang menangani."
"iya pak tentu."
sopir pak Farhan langsung berlari mengambil mobil yang lainnya, begitu Pak Farhan masuk ke mobil aku langsung masuk dan duduk di samping Pak sopir.
"Pak kita langsung ke rumah sakit ibu ya, bapak masih kuatkan?"
istri Pak Farhan salah satu dokter di rumah sakit terkenal sekaligus menjabat sebagai salah satu managernya.
"tidak perlu, bawa saja saya ke klinik dekat sini."
"tapi Pak."
"ini cuma luka lecet, dibersihkan dan dikasih obat sudah cukup."
"Pak jangan menggampangkan luka, bapak harus diperiksa takutnya ada luka serius yang tidak terlihat."
"saya bilang ke klinik saja Fita, pemeriksaannya nanti saja."
"tapi Pak_"
"tidak ada tapi-tapian."
"baik Pak, kalau begitu ini saya ngabari ibu ya."
"tidak perlu Fita! sekarang kita langsung ke klinik mengerti?!"
"iya Pak."
kalau Pak Farhan sudah begini aku tidak berani membantah, kemudian bapak bersandar dan memejamkan matanya, ku lihat lukanya ada di kening dan di sudut bibir, tapi ini perasaanku saja apa memang benar terlihat sudut bibirnya sedikit robek mengeluarkan darah dan agak lebam kebiruan, bajunya juga kusut seperti bekas diremas dan sedikit berantakan seperti orang habis berkelahi.
"Pak klinik yang di depan pertigaan saja ya."
"baik mba Fita."
aku memberi tahu sopir begitu mobil keluar dari area kantor, untungnya jam kerja sudah lewat satu jam yang lalu jadi sudah lumayan sepi.