"ya, kenapa?"
"kamu sudah bangun?"
"belum bangun masih tidur."
"waah siapakah gerangan yang sedang mengobrol denganku ini?"
"bidadari dari kayangan." ku dengar tawa Gilang nyaring sekali mendengar jawaban asalku, lagian kalau aku belum bangun bagaimana aku jawab telepon darinya, pertanyannya sungguh basa-basi sekali.
"sudah ketawanya, ada apa kamu pagi-pagi sudah telepon? katanya libur."
"emang kalau nggak kerja nggak boleh bangun pagi? lagian kan juga mau nganterin bidadari berangkat kerja."
"oh iya lupa, nggak usah maksain Lang klau nggak juga tak apa."
"aku nggak maksain Fita, lagian aku yang mau kok."
ya sudah kalau Gilang maunya begitu, kalau dia sudah sperti itu menolak pun percuma.
"aku ke situ sekarang ya sekalian sarapan bareng, nggak enak sarapan sendirian, mau dibeliin apa buat sarapan?"
"ya udah ke sini aja, nggak usah aku udah ada."
"aku dibagi nggak?"
"boleh aku bikin banyak cukup buat berdua, cuma kalau mau sarapan lainnya beli aja takut nggak cocok seleranya."
"pasti cocoklah, udah lupa dulu perutku selalu jadi tempat sampahmu wahai bidadari." aku cuma ketawa aja menanggapi jawaban Gilang, jadi malu sendiri kalau di ingat-ingat.
sekarang sudah setengah jam lewat saat Gilang bilang mau ke sini tapi batang hidungnya belum nonggol juga, katanya dia menginap di hotel dekat sini, karena sesuai ceritanya dia belum bisa sepenuhnya memaafkan ayahnya, jadi kalau dia kembali lebih memilih menginap di hotel dan balik ke rumah cuma mampir untuk menengok mamahnya.
ting!!tong!!ting!!tong!!
eh kayaknya itu orangnya sampai, benar dia, pas pintu kebuka langsung disambut dengan senyuman yang ehem!ehem!
pagi ini dia terlihat sangat segar sekali dan entah kenapa senyuman Gilang sekarang sangat mempengaruhi jantungku, apa lagi kalau ingat semalam tiba-tiba dia, aduh udahlah mungkin karena lama tidak bertemu, iya itu yang paling benar karena lama tidak bertemu.
"masuk yuk." dia masuk mengekoriku dan mengganti sepatunya dengan sandal rumahan.
"itu sorry ya sandalnya kekecilan, nggak ada ukuran cowok di sini."
"iya nggak masalah, besok berarti harus sedia sandal cowok dong." aku cuma mengangguk aja menanggapinya.
"kenapa mukanya jadi asem gitu?"
"kayak nggak ikhlas banget ngiyainnya, jangan-jangan aku sebenarnya nggak boleh ke sini?" aku cuma bisa melongo mendengar omongannya, ini orang kenapa pagi-pagi sudah main drama ya, masa iya umurnya doang yang bertambah tapi kelakuan masih sama kaya dulu.
"iya Gilang ntar aku sediain sandal khusus buat kamu nanti sekalian aku kasih nama GILANG kalau perlu tempel foto sekalian biar nggak ada yang pakai selain kamu puas?" aku sepanjang ngomong sambil memaksakan tersenyum lebar, ya ampun sungguh terlalu.
" iya iya percaya, udah yuk sarapan sudah laper." aku langsung tepuk jidat mendengar responnya, lagian siapa juga yang mulai duluan ngedrama.
"kamu masak?"
"aku masak ayam semur sama tumis sayur pakcoy suka nggak?"
"waah menggoda banget, kamu tiap pagi kayak gini?"
"seringnya, tapi kadang juga beli, kenapa? iya tau dulu aku cuma bisanya makan doang." Gilang malah mengacak rambutku.
"Gilang! berantakan lagi kan rambutku, kebiasaan deh!"
"uluh uluh sini aku bantu rapiin."
"nggak usah." aku menjauh menuju rak di dapur, kebetulan aku belum mengambil nasi karena memang sengaja menunggu dia datang.
"nasinya segini cukup nggak?"
Gilang menghampiriku.
"cukup, makasih ya, biar aku yang bawa, punya kamu juga."
"mau minum teh atau kopi?"
"nggak usah air putih aja, tadi di hotel sudah ngopi."
"oh oke."
sepanjang makan kami banyak bercerita bagaimana keseharian kami selama ini, kadang juga diselingi candaan receh yang mengalir begitu saja, aku kira akan canggung setelah adegan cium kening kemaren ternyata tidak, apa cuma aku yang terlalu baper ya.
selesai sarapan lanjut aku siap-siap dan Gilang maksa cuci piring bekas sarapan kami, aku tidak memaksa loh ya katanya sudah dikasih sarapan gratis harus tahu diri, anak baik.
*
Kami sampai tempat kerjaku jam delapan kurang, saat ini sudah lumayan banyak karyawan lain yang datang, dan yang membuatku kurang nyaman aku merasa banyak yang curi-curi lihat ke arah kami, bahkan bapak satpam yang setiap pagi selalu menyapa dengan ramah juga senyum-senyum sambil melirik ke arah kami, apa ini sesuatu tontonan yang menarik? aku kan bukan artis yang menarik.
"aku masuk ya, makasih, bawa motornya hati-hati." Gilang mengangguk sambil tersenyum, sebelumnya membantuku membuka helm tanpa ku minta dan sedikit merapikan rambutku.
"semangat kerjanya, aku balik, sini cium tangan dulu." Gilang sudah menyodorkan tangan kanannya.
"Lang nggak lucu ya, apaan sih nggak usah aneh."
"kok malah aneh?"
"aku serius Lang."
"aku seratus rius."
"Gilang aku nggak mau ya ntar di kantor ada gosip aneh, nggak liat apa dari tadi banyak yang ngelirik kita, tuh bapak satpam juga dari tadi senyum-senyum mulu."
"sengaja." sambil tersenyum dia masih belum menurunkan tangannya, sengaja? maksudnya apa coba, dari pada jadi tontonan terus, dengan menahan malu terpaksa aku menyalami tangannya dia dengan santai menempelkan punggung tangannya ke keningku.
"buruan masuk ntar telat, semangat kerjanya." aku langsung masuk tanpa tengak tengok sambil menahan malu, bapak satpam yang biasa aku sapa juga aku lewati begitu saja.
"semangat kerjanya mba Fita kan sudah dianter pacar." tuh kan bapak satpam akhirnya bersuara juga, tahu begini aku tidak mau diantar tadi.
Gilang tanggungjawab kamu!! awas kalau menghilang lagi aku kutuk jadi batu kamu!!!!