Saat ini kami sedang di jalan menuju ke apartemenku, kami berbincang sambil mengendarai motor, tadi Gilang datang ke kafe menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan aku termenung memikirkan cerita Gilang tadi, aku sungguh tidak menyangka ayah Gilang om Rama, orang yang begitu loyal kepada keluarga sangat menyayangi anak dan istrinya bisa tergoda dengan orang lain.
Jadi menurut cerita Gilang, ayahnya sempat tergoda dengan wanita lain yang menjadi kliennya. Om Rama memiliki usaha periklanan dan usaha om Rama termasuk lumayan terkenal, banyak perusahaan besar yang menggunakan jasa periklanannya dan wanita itu salah satunya. Kemudian Tante Dewi mamahnya Gilang mengetahui perselingkuhan om Rama dan wanita itu, tentu saja tante Dewi tidak terima dan ingin berpisah, tetapi om Rama menolak berpisah dan tetap memilih keluarganya, tapi disini wanita tersebut tidak terima malah meneror mamah Gilang, ternyata wanita itu memang sudah lama mengincar papahnya Gilang dan wanita ini sepertinya sangat terobsesi dengan papahnya Gilang sampai usaha om Rama pun kena imbasnya, untungnya orangtua wanita itu mengetahui dan segera bertindak untuk mengatasi segala kesalahan yang dilakukan anaknya, apalagi orangtua wanita itu orang yang cukup terkenal dan berpengaruh dan kalau sampai masyarakat mengetahuinya akan sangat mencoreng nama baiknya.
Dengan segala permasalahan yang terjadi di antara orangtuanya, rasa kecewa kepada ayahnya, rasa terkhianati, marah dan sedih, karena selama ini baginya ayah adalah sosok yang menjadi panutan dalam hidupnya, semuanya menumpuk menjadi satu ditambah pengaruh dari lingkungan pertemanan yang akhirnya membuat Gilang terjerat dengan obat terlarang.
Untungnya sebelum semuanya terlalu jauh, om Rama memergoki Gilang yang saat itu baru saja mengkonsumsi obat terlarang tersebut. Ayah Gilang langsung mengambil tindakan dengan mengirimnya ke tempat rehabilitasi, sedangkan kuliah Gilang mengambil cuti untuk beberapa saat selama masa penyembuhan. Dengan semua kejadian yang terjadi di keluarganya, ayah Gilang jadi semakin menyadari bahwa semua berawal dari kesalahannya dan sangat menyesalinya.
Perlahan semuanya semakin membaik, rumah tangga orangtuanya semakin harmonis, usaha ayahnya juga perlahan ikut membaik, setelah Gilang dinyatakan sembuh dia pun menyelesaikan pendidikannya yang sempat terhenti, namun rasa kecewa untuk ayahnya hingga kini masih ada, saat Gilang sudah menyelesaikan studinya dia masih enggan untuk kembali ke rumah karena merasa belum siap untuk berdamai dengan ayahnya, dia lebih memilih kembali ke tempat asal ibunya dan tinggal bersama neneknya, enam bulan setelah tinggal di sana neneknya meninggal kemudian tidak lama dia bekerja di perusahaan yang sekarang, padahal waktu itu ayahnya meminta dia pulang dan bekerja di perusahaan ayahnya, karena bagaimana pun nantinya cuma Gilang yang akan melanjutkan karena dia anak tunggal, tapi Gilang menolak dengan alasan ingin mencari pengalaman di luar.
*
"tempatnya benar nggak?" tidak terasa kami sudah sampai di komplek apartemen tempat tinggal ku.
"bener, masuk ke parkiran dalam aja." tapi Gilang malah berhenti di depan lobi apartemen
"loh kok berhenti di sini?"
"aku langsung pulang aja ya, kamu capek biar nanti langsung istirahat aja."
"oh oke."
"emm motornya aku pinjam bolh nggak?besok berangkat jam berapa?"
"ya udah bawa aja besok aku bisa naik taksi atau nggak ojeg."
"ya nggak dong, besok aku jemput aja ya."
"emang kamu libur?"
"kebetulan aku besok masih cuti makanya aku bisa balik, kebetulan juga ada sesuatu yang harus diurus."
"oh gitu, ya udah besok biasanya aku berangkat dari rumah setengah delapan lebih dikit, tapi kalau nggak bisa juga nggak apa."
"pasti bisa tenang aja, ya udah masuk gih udah malam, maaf udah capek kerja masih aku repotin."
"apaan sih kaya sama siapa aja, kalau ingat dulu aku yang sangat merepotkan ini belum seberapa."
"kan emang aku yang mau, lagian aku senang kok."
"ya udah aku masuk ya, hati-hati nyetirnya."
sebelum aku balik badan Gilang menarik lenganku pelan dan seketika bibirnya sudah menempel di dahiku. Aku mematung sesaat karena kaget dengan tindakan Gilang, sungguh tidak bisa menyangka. Setelahnya dia tersenyum sambil membelai pipiku.
"makasih untuk malam ini, masuk gih."
aku cuma mengangguk seperti orang linglung, sesaat setelah memasuki unitku kupegang dadaku rasanya seperti orang yang habis lari maraton, berdetak sangat cepat.
Jantung kenapa jadi kamu yang heboh sekali,
ya Tuhan ini apa,
Gilang tadi itu apa,
kenapa kamu manis sekali.
ya Tuhan ini nyata kan, aku tidak bermimpi.