Jantung tolong kerjasamanya ya, aduh bagaimana ini, sekarang aku lagi menuju ke kafe biasa tempat aku mampir, dan yang tidak biasa adalah sekarang ada Gilang yang sedang menunggu kedatanganku. Sejak pertemuan kami waktu itu dia benar-benar menepati janjinya, setiap hari tidak pernah absen memberi kabar entah itu telepon vidiocall atau cuma kirim pesan, semuanya dia lakukan sekarang. Jujur aku senang walau masih tidak menyangka semuanya nyata.
"Fita!!" Gilang langsung melambaikan tangan begitu melihatku memasuki kafe, dia duduk di bangku sudut.
"duduk fit, capek ya pulang kerja?"
"menurut situ?" dia cuma tertawa kecil
"nggak ada yang lebih mendadak lagi? gila kamu ya ngabari ngajak ketemuan pas banget aku baru pulang, coba kalau aku nggak sempetin buka hape?"
"ya tinggal telepon terus samperin ke rumah."
"dih gampang banget emang kamu tau aku tinggal dimana sekarang?"
"lah emang sekarang udah pindah?"
"ngilang sih kamu, jadi nggak tau kan kalau udah nggak tinggal sama ortu lagi?"
raut mukanya langsung sendu, aduh aku salah ngomong.
"aku mau pesen minum dulu deh haus nih, sekalian pesen makan kayaknya laper juga, kebetulan hari ini kerjaan banyak banget."
aku coba mengalihkan pembicaraan, kayaknya tidak seru kalau baru datang sudah sendu.
"aku pesenin ya, masih samakan nasi goreng seafood sama es lemon tea?"
"wow bapak yang satu ini ternyata masih ingat."
dia mengacak rambutku pelan sebelum bangkit, kebiasaannya tidak berubah dari dulu dan salah satu kebiasaannya yang kadang membuat aku kesel.
*
*
"Gimana kenyang sekarang?" aku tertawa lebar sambil mengangguk. Ternyata di pertemuan kedua kami ini tidak secanggung bayanganku, karena mengingat pertemuan pertama kami yang kebanyakan Gilang hanya diam.
"sekarang mau ngomong apa, nggak mungkin kan ngajak ketemuan cuma mau lihat aku makan doang?"
"kalau iya emang nggak boleh?"
"ayolah Lang, kamu masih utang cerita loh sama aku."
"cerita yang mana?"
"Gilang!!! aku pulang nih."
"iya iya, jangan ngambek dong." dia malah tertawa lebar, perasaan dari tadi ketawa terus tidak kering tuh gigi.
"aku senang fit kita bisa kaya gini lagi, banget malah. ada masa dimana aku kangen banget sama kamu tapi aku nggak bisa nemuin kamu dan rasanya nyiksa banget fit."
"kenapa kamu nggak bisa nemuin aku?"
dia tersenyum sambil menatapku menanggapi pertanyaan ku.
"kamu kangen nggak fit sama aku?"
"masih perlu ditanya, emang kalau aku bilang kangen kamu mau tanggungjawab?"
"mau bangetlah, kamu mau aku tanggungjawab kaya apa? suruh aku nikahin kamu aku juga siap."
aku sungguh tidak menyangka dengan jawaban Gilang kali ini
"ih apaan sih tiba-tiba ngomongin nikah nggak jelas banget, sekarang yang terpenting kamu jelasin dulu kenapa kemaren ngilang?"
"kalau udah aku jelasin, berati kamu mau kan kalau aku nikahin?"
"belum tentu juga, ih lagian apa sih nikah nikah, nggak gampang ya."
ku lihat dia terdiam seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk memulai cerita, apa ceritanya begitu berat sampai kamu sulit untuk menceritakannya atau kamu sulit untuk berbagi cerita denganku.
"aku sempet masuk pusat rehabilitasi obat-abat terlarang Fit."
"Hahh!!!" sangat mengagetkan aku sampe menutup mulutku karena sungguh tidak menyangka, ini kabar yang sungguh sungguh mengejutkan. Orang seperti Gilang bisa sampai begitu, apa masalahnya?
"kaget kan, kamu pasti nggak nyangka, tapi ya memang kenyataannya ceritanya seperti itu."
"kenapa?kapan Lang?" suara bergetar karena menahan tangis, tidak tahu kenapa aku ingin menangis seakan aku ikut merasakan kesakitannya.
"aku juga merasa seperti orang bodoh, setelah aku menyadarinya semuanya sudah terlambat." Gilang sempat diam sesaat seperti menahan rasa sakitnya yang selama ini dia pendam.
"butuh satu tahun untuk menata ulang semuanya Fit, kabar aku yang mau dijodohkan sebenarnya itu permintaan aku ke mamah untuk mengarang cerita seperti itu agar di dengar sama kamu, aku nggak berani nemuin kamu, aku merasa gagal, aku takut kamu kecewa, kamu berhak mendapatkan yang terbaik tapi bukan aku."
Aku cuma diam bingung mau berkata apa, terlalu banyak pertanyaan di kepalaku, yang mana yang harus ku pertanyakan lebih dulu.
"seenggak percaya itukah kamu sama aku Lang? kita sudah bersama sangat lama tapi apa aku nggak ada artinya buat kamu?"
akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.
"bukan, bukan aku nggak percaya , bahkan aku sangat yakin kamu pasti akan selalu ada kapanpun aku butuh aku cuma nggak mau kamu ikut menanggung akibat dari kebodohanku, kamu nggak selayaknya terkena imbas dari ketololanku."
"terus kamu kenapa bisa jadi pecandu, maaf."
"nggak apa-apa aku memang pecandu waktu itu."
"aku mohon kali ini kamu harus cerita, aku harus tahu semuanya." dia mengangguk sambil tersenyum miris ku lihat di matanya ada butiran bening yang coba dia tahan.
"sebelum cerita boleh nggak aku bersandar bentar?" tanpa menjawab aku bangkit dan berpindah duduk di sebelah Gilang, setelahnya Gilang langsung merebahkan kepalanya di pundakku, awalnya hening tapi kelamaan kurasakan badannya bergetar, perlahan tapi pasti dia berubah posisi jadi memelukku erat, aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, seorang Gilang Permana yang aku tahu seperti apa sosoknya kepribadiannya sampai menangis seperti ini, beban hidup seperti apa yang selama ini kamu alami kamu simpan sendiri, ku tepuk punggungnya pelan mencoba untuk sekedar menenangkan .
"capek Fit, aku capek banget."