"Hai apa kabar?"
ku beranikan diri untuk menyapanya lebih dulu, kalian boleh menilai aku agresif tapi aku tidak perduli, Tuhan sudah bermurah hati mengabulkan doaku jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya, aku sudah bertekad kalau hari ini aku ingin memperjelas semuanya agar tidak ada lagi rasa yang mengganjal ataupun sesuatu yang akan kesesali nantinya.
Saat ini kami di taman area kantor, setelah meeting dengan rasa yang susah payah ku tahan akhirnya selesai, mereka tidak langsung pulang, kulihat para petinggi memasuki memasuki ruangan Presdir sedang orang itu menyingkir ke arah tempat lain.
"Gilang!"
ya Gilang setelah sekian lama akhirnya aku bisa memanggil namanya lagi, dia berhenti sejenak tanpa berbalik sepertinya dia tidak menyangka aku akan mendatanginya.
"Lang, aku mau ngomong sebentar bisa?"
akhirnya dia berbalik
"ngobrolnya sambil duduk di sebelah sana aja biar lebih nyaman."
"oh oke."
kami berjalan beriringan menuju ke bangku taman menghadap trotoar, suasananya sepi karena memang sudah lewat jam kerja.
"gimana kabarnya ta?"
Gilang langsung memulai obrolan begitu kami duduk
"baik, kamu sendiri baik?"
"iya aku juga baik, kamu sekarang kerja di sini?"
aku hanya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan pertanyaannya.
"selamat ya impianmu terwujud, aku ikut senang."
"kamu selama ini kenapa nggak ada kabar?"
aku menunggu jawabannya tapi Gilang malah terlihat melamun atau sedang memikirkan jawabannya, entahlah.
"maaf aku langsung tanya kaya gini, aku tahu kamu lagi buru-buru jadi aku nggak mau nahan kamu lama-lama."
"maaf Ta,"
Dia memandangku sambil tersenyum
"kenapa harus maaf? apa tidak ada penjelasan yang lain? apa ada sesuatu yang aku nggak boleh tau?"
"aku tahu aku salah, seharusnya aku nggak menghilang begitu aja, seharusnya aku nggak menggantungkan janji aku, Skali lagi maaf."
"kamu sudah ada pasangan? waktu itu aku dengar keluargamu mau menjodaohkanmu?"
dia cuma diam dengan kedua tangan yang bertaut.
"jawab Lang jangan cuma diam aja, kalau pun iya nggak apa aku sudah siap mendengarnya, mungkin ini memang takdir kita."
kami sesaat diam dengan pikiran kami masing-masing.
"selamat kalau memang kamu udah ada pasangan, sekarang aku akan berusaha menjalani hidup dengan baik."
lagi dan lagi dia hanya diam mungkin benar kalau dia sekarang sudah tidak sendiri lagi.
"sekali lagi selamat, di sini aku pasti kecewa tapi aku coba menerimanya dan harus berusaha baik-baik aja. ya udah aku ke sana duluan terimakasih waktunya."
Aku bangkit dan meninggalkannya sendirian yang masih bertahan dengan kediamannya, dari sorot matanya aku merasakan ada sesuatu yang coba dia tahan, kami berteman sudah lama jadi sedikit banyak kami bisa merasakan satu sama lain tanpa harus bercerita, tapi biarlah kalau memang dia ingin merahasiakannya, sekarang kami sudah dewasa dan ke depannya kami akan memiliki kehidupan kami masing-masing. Terpenting sekarang aku sudah melepaskan semua yang mengganjal dihatiku, ke depannya tinggal menata hati dan menjalani hidup dengan baik.
"Fita!"
belum terlalu jauh aku berjalan Gilang memanggilku otomatis aku terdiam dan berbalik, sejenak dia diam menatapku dalam.
"iya Lang, kenapa?"
tiba-tiba dia berjalan menghampiriku.
"boleh pinjam hape?"
"ya???"
aku reflek menyodorkan hapeku, ku lihat dia mengetik beberapa angka dan melakukan panggilan, detik berikutnya hape di saku bajunya bergetar.
"ini nomer hapeku, nomer kamu sudah masuk di hapeku, nanti aku hubungi, sekarang aku buru-buru sebentar lagi kami mau menuju ke bandara. kamu belum ada pasangan?"
aku menggelengkan kepala dengan ekspresi bingung, dia tersenyum manis sangat manis malah, oh Gilang kenapa kamu tega sekali bagaimana dengan tekad aku yang tadi yang katanya mau menata hati kalau kamu meninggalkan senyum semanis in, eh!! eh!!! apa ini, dia meluk?!!!
" aku juga belum ada pasangan."
"apa???"
"begitu aku sampai sana aku kabari. Kali ini aku pastikan aku tidak akan kabur lagi."
spontan ku dorong dadanya otomatis pelukannya terlepas, ku lihat dia malah tertawa kecil, maksudnya ini apa.
"aku pergi dulu, kamu baik-baik ya di sini."
dia sempat mengacak rambutku pelan sebelum pergi meninggalkan aku dengan segala kebingunganku yang belum bisa aku pahami.
Ya Tuhan....apa lagi ini?????