Satya Abimayu :
Pulang jam berapa?
Pesan dari Satya lima belas menit yang lalu baru saja Rissa buka. Ia mengangkat alisnya sebelah, entah apa yang akan 'calon suaminya' itu lakukan sampai repot-repot menanyakan kapan ia pulang.
A Rissa Az-Zahra :
30 menit lagi. Kenapa?
Baru saja Rissa berniat menyimpan kembali handphone miliknya di dalam tas, benda itu lebih dulu bergetar, menandakan ada pesan baru yang masuk.
Satya Abimayu :
Saya jemput.
A Rissa Az-Zahra :
Gue bawa mobil. Emang mau kemana?
Lima menit berlalu namun pesan yang Rissa kirim belum juga mendapat balasan padahal pesannya sudah di baca oleh pria itu. Rissa mencibir kesal, ia kembali menyimpan handphone-nya dan fokus pada materi yang dijelaskan dosen di depan sana.
"Kenapa lo?" Tanya Melody yang tidak sengaja melihat wajah kesal Rissa.
"Gak! Udah lo gak usah ngurusin gue, fokus aja ke depan. Biar nanti prakteknya lancar," sahut Rissa membuat Melody mencibir. Tapi gadis itu kembali fokus ke depan, benar-benar mengikuti apa yang Rissa suruh.
Dua puluh menit berlalu dan Rissa sudah bersiap untuk pulang. Ia sudah berdiri di samping Melody yang masih merapikan buku-buku miliknya.
"Lo bawa mobil atau motor?" Tanya Melody setelah selesai memasukan semua bukunya ke dalam tas. Ia beranjak dari duduknya, menggandeng tangan Rissa, mengajak sahabatnya itu untuk pergi meninggalkan kelas.
"Bawa mobil, kenapa?"
"Biasa. Lo kayak gak tau gue aja," kekeh Melody dengan wajah yang menurut Rissa sangat menyebalkan.
"Tapi makan dulu, gue laper."
"Oke, tapi lo bayar." Rissa mendengus tapi tetap mengangguk.
"Nah gitu dong. Lo kan mau nikah sama tentara jadi harus traktir gue makan.” Rissa yang mendengar itu memutar bola matanya jengah.
"Ya Allah. Lo tu anak orang kaya kenapa pas sama gue kayak gak punya serupiah pun sih," gemas Rissa yang heran dengan kelakuan Melody.
"Gue bukan kayak gak punya apa-apa. Tapi gue gak mau pamer sama apa yang gue punya. Jadi ya mending minta bayarin sama lo," jawab Melody dengan wajah songongnya.
"Itu bukan gak mau pamer namanya tapi pelit!" Melody hanya tertawa, sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan kasar Rissa.
"Eh Ra, lo tau gak?"
"Apaan?"
"Gue nyari di internet tentang pedang pora," ucap Melody antusias.
Rissa yang mendengar itu melongo tak percaya, dia yang ingin menikah tapi Melody yang dengan begitu antusiasnya mencari hal-hal seperti itu. Rissa menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kelakuan Melody.
"Dan lo tau apa? Ternyata yang pedang pora itu cuman yang pangkatnya udah perwira. Mungkin si calon lo itu belom perwira jadi dia gak ada istilah pedang pora. Tapi gue juga ada liat kalau yang bukan perwira itu ada juga. Nah itu gue lupa namanya apaan," jelas Melody serasa menggaruk tengkuknya diakhir kalimat karena penjelasannya harus berakhir dengan kata lupa yang memang menjadi kekurangannya selama ini.
"Yang mau nikah itu gue kanapa jadi lo yang repot nyari di internet segala," sahut Rissa yang kembali di sambut cengiran di wajah Melody.
"Kan gue kepo."
"Kebi...Satya," ucapan Rissa terpotong dan berganti memanggil nama pria tampan yang tengah bersandar santai di pintu mobilnya, ia menatap pria itu dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya.
"Satya?" Tanya Melody menatap Rissa bingung, namun sedetik kemudian ia mengikuti arah pandang Rissa dan sama kagetnya, "Ganteng banget."
Rissa memukul bahu Melody kesal, "Zina mata namanya mandangin calon suami orang," ketus Rissa seraya meninggalkan Melody yang tertawa.
"Ngapain?" Tanya Rissa setelah berdiri satu meter di depan Satya yang langsung menegakkan posisinya begitu melihat kehadiran Rissa.
"Kunci mobil," pinta Satya mengarahkan tangannya pada Rissa.
"Buat apa?" Tanya Rissa, matanya menatap ke arah lain, sama sekali tidak memandang wajah Satya yang tengah menatapnya tajam.
"Mana?" Satya kembali meminta kunci mobil Rissa tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.
"Buat apa? Lagian ngapain ke sini segala?" Rissa mendengus kesal, ia paling tidak suka pertanyaannya diabaikan begitu saja.
"Kita ke butik," jawab Satya singkat, tangannya masih terangkat meminta kunci mobil.
Rissa mengambil kunci mobil miliknya yang ada di dalam tas, menyerahkannya pada Satya begitu saja.
"Mel," panggil Rissa seraya menoleh ke arah Melody yang sudah berdiri tenang di sampingnya.
"Hm?" Jawab Melody dengan mata yang masih terus menatap wajah Satya, sedangkan yang ditatap seperti tidak terganggu sama sekali.
"Lo pulang sendiri gimana? Gue ma---
"Iya iya. Gak papa, gue bisa minta jemput sama adek gue," jawab Melody cepat, ia tersenyum memandang Rissa yang sebenarnya ingin sekali menggetok kepala sahabatnya itu.
"Ya udah kalau gitu. Hati-hati ya," ujar Rissa tersenyum miring saat mendapati wajah ceria Melody berubah masam.
"Lo gak mau ngenalin gue ke dia?" bisik Melody yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Rissa.
Melody mendengus, "Yaudah byeee," ketusnya melenggang pergi begitu saja tanpa mengucap salam.
Bukannya merasa bersalah, Rissa malah tertawa kecil, ia menatap punggung Melody yang semakin lama semakin menjauh.
"Ayok," ajak Rissa pada Satya yang sibuk dengan handphone di tangannya.
"Sebentar." Satya memutar tubuhnya, memandang ke arah gerbang kampus, pria itu melambaikan tangannya pada sebuah mobil yang baru saja masuk.
Mobil itu berhenti tepat di depan mobil Rissa, seorang pria tampan dengan pakaian lorengnya, khas seorang tentara keluar dari mobil dibagian samping kemudi.
"Ndan," sapa pria yang berada di mobil pada Satya dan hanya dijawab anggukan kepala.
Satya menyerahkan kunci mobil milik Rissa pada pria yang turun tadi, "Nanti gue kirim alamatnya," ujar Satya yang langsung dijawab anggukan kepala oleh pria itu.
"Ayo," ajak Satya pada Rissa yang terdiam bingung, gadis cantik itu memandang pria di dekatnya dan Satya yang sudah berlalu secara bergantian.
"Rissa," panggil Satya sekali lagi saat tidak menemukan Rissa di belakangnya.
"Ah, iya iya." Rissa berlari menghampiri Satya setelah balas tersenyum pada pria yang mengambil kunci mobilnya, yang Rissa ketahui bernama Kiki, setelah tadi tidak sengaja membaca nama yang tertera di baju pria itu.
"Kenapa gak pake mobil gue? Terus itu dibawa kemana?" Tanya Rissa pada Satya yang sudah sibuk menyalakan mobil miliknya. Panggilan aku kamu sebenarnya membuat Rissa sangat canggung, tapi apa daya status Satya saat ini membuatnya harus melakukan itu.
"Di antar ke kost." Satya menjalankan mobilnya, meninggalkan halaman kampus.
"Kenapa gak pake mobil gue aja sih? Kan biar gak ribet di antar segala sama orang lain," gerutu Rissa.
Satya melirik calon istrinya sekilas, mengabaikan pertanyaan Rissa yang berbicara dengan mata lurus ke depan.
"Satya!" Panggil Rissa sedikit keras. Ia sebenarnya paling malas berbicara dengan manusia datar seperti Satya, tapi ia sudah terlanjur mengajukan pertanyaan dan ia ingin mendapat jawaban.
"Nanti kamu saya antar pulang," jawaban yang sangat melenceng dari pertanyaan Rissa keluar dari mulut Satya.
Rissa mendengus kesal, ia memalingkan wajahnya ke arah lain, "Dimana letak nyambungnya coba," gerutu Rissa dengan nada pelan namun sayang telinga Satya terlalu peka hingga bisa mendengar semua perkataan itu.
"Supaya kamu tidak perlu antar saya pulang," jawab Satya membuat Rissa yang terus saja mengerutu mengatupkan mulutnya rapat, bahkan ia menggigit bibir bawahnya, tidak menyangka Satya bisa mendengar ucapannya.
Rissa tidak menjawab, ia memilih diam dengan mata yang terus saja memandang keluar jendela. Tidak lagi berniat bertanya atau berbicara pada Satya yang terlihat lebih tertarik dengan dunianya sendiri yang seperti tidak ada hal menyenangkan karena hidup pria itu terlihat sangat datar seperti wajahnya.
Rissa bersiap keluar begitu mobil yang dikendarai Satya berhenti di parkiran sebuah butik ternama di Jakarta. Baru saja ia ingin membuka pintu, gerakan tangannya terhenti saat sadar Satya yang biasa meninggalkannya kini masih bertahan di tempatnya.
Rissa memutar tubuhnya, "Kok diem? Gak ikut turun?" tanyanya pada Satya yang sibuk sendiri.
"Saya harus menelpon seseorang, kamu keluarlah." Rissa kembali mendengus, ia keluar dari mobil tanpa menjawab ucapan Satya.
"Formal aja terus. Gak ada santainya sama sekali." Rissa menghentakkan kakinya kesal.
Rissa memasuki butik yang sudah pernah ia datangi dua hari setelah kejadian menegangkan itu dan sekarang ia akan kembali mencoba kebaya yang mereka pilih saat itu.
"Rissa," sapa seorang wanita paruh baya yang merupakan tante dari calon suami Rissa, Satya.
"Assalamualaikum Tante," sapa Rissa menyalami wanita itu.
"Waalaikumsalam Sayang. Sendiri?" Tanya Tante Satya sambil membimbing Rissa menuju ruangannya.
"Sama Satya, Tan. Dia nelpon di depan."
Beribu kata syukur Rissa lontarkan saat bertemu pertama kali dengan Tante Satya. Wanita cantik yang sudah tidak muda lagi itu sangat baik padanya, tidak ada istilah tatapan sinis atau pertanyaan memojokan yang wanita itu berikan pada Rissa. Ia malah menyambut Rissa dengan tangan terbuka, bahkan ia berterima kasih pada Rissa karena bersedia menerima Satya yang tentu saja akan sering meninggalkannya saat sudah menikah nanti.
Terlebih ibu Satya, dipertemuan pertama mereka wanita itu memeluk Rissa dan mengucapkan kata maaf karena kelakuan anaknya yang membuat Rissa harus rela menjalani pernikahan ini. Rasa takut dan cemas yang Rissa rasakan musnah begitu saja, bahkan ia merasa sangat senang berinteraksi dengan kedua orangtua Satya tapi tidak dengan anak mereka yang masih sudah seperti dinding datar.
"Ini udah Tante sesuaikan sama ukuran badan kamu, semoga aja pas ya." Lamunan Rissa terputus saat Tante Satya bersuara sambil menunjukan kebaya berwarna putih di tangannya pada Rissa.
"Rissa coba dulu ya, Tan." Rissa mengambil baju tersebut dan berlalu memasuki ruang ganti yang ada di ruangan itu.
Sebelum keluar dari ruang ganti, Rissa berkaca sebentar, melihat penampilannya sendiri, tangannya terulur menyentuh wajahnya, hembusan napas berat terdengar. Rasanya Rissa ingin semuanya berhenti dan ia kembali menjadi Rissa yang dulu. Gadis biasa yang tengah menyelesaikan kuliahnya. Bukan Rissa yang sekarang tengah mempersiapkan sebuah pernikahan.
Namun Rissa tak dapat lagi menghindar, semuanya sudah terjadi, tidak ada yang bisa membuatnya menghilangkan kekacauan ini dan memperbaikan semuanya. Rissa hanya bisa menjalani semua yang sudah menjadi takdirnya, seperti yang dikatakan Melody.
Rissa kembali menarik napas, sebelum membuka pintu dengan satu tangan yang mengangkat jilbab panjangnya agar tidak menutupi bagian depan tubuhnya, "Tante gima....na?" Dengan cepat Rissa menurunkan kembali jilbabnya saat melihat keberadaan Satya.
Tante Satya langsung mendekat dengan senyum lebarnya. Ia terlihat sangat puas melihat Rissa dengan kebaya rancangannya, "Cantik. Udah pas sama kamu," ujarnya membuat Rissa ikut tersenyum.
"Ya kan, Sat?" Tanyanya beralih pada Satya yang hanya mengangguk. "Ck anak itu, mukanya tetep aja datar," gerutunya kembali fokus pada Rissa.
Rissa yang mendengar itu tertawa kecil, sangat setuju dengan apa yang Tante Satya ucapkan. Ternyata bukan hanya dia yang mendapat sikap datar Satya selama ini.
"Nanti tinggal model jilbabnya aja yang disesuaikan."
"Jilbabnya model syar'i bisa, Tan?" Tanya Rissa meringis. Ia memang tidak ingin menggunakan jilbab dengan model yang menurutnya tidak menutupi dadanya.
"Bisa, pokoknya sesuai keinginan kamu nanti." Rissa mengangguk.
"Udah?" Suara Satya terdengar, menghentikan obrolan kedua wanita beda generasi yang terlihat masih sibuk membicarakan sesuatu hal yang tidak Satya mengerti.
"Ya sudah Ris, nanti kita bahas lagi ya. Kamu ganti baju sana, calon suamimu itu emang gak sabaran." Rissa tertawa kecil, ia mengangguk sebelum kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti bajunya.
Rissa keluar sambil membawa bajunya, ia mendekati Satya yang tengah mengobrol bersama Tantenya.
"Kita pulang, Tan," Pamit Satya langsung beranjak dari duduknya.
Rissa menyerahkan kebaya tadi pada Tante Satya sebelum ikut berpamit pulang.
"Kalian hati-hati pulangnya."
"Iya, Tan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Satya dan Rissa keluar dari butik dengan Satya yang sibuk dengan handphone ditangannya, meninggalkan Rissa yang mengerutu di belakangnya.
"Sudah makan?" Tanya Satya setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Belom."
Satya tidak memberi respon, ia malah menjalankan mobilnya. Melihat Satya yang seperti itu, Rissa mencibir. Ia sedikit bersyukur dengan sikap Satya yang datar seperti itu membuatnya tidak perlu susah payah menyesuaikan sikapnya. Rissa tidak pernah menjalin hubungan itulah yang membuatnya bingung setiap kali berinteraksi dengan Satya. Jadi ia hanya berbicara seperlunya dan berusaha untuk tidak terlihat canggung.
"Kita makan," ujar Satya, membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan.