"Lo gak makan?" Tanya Rissa saat sadar hanya pesanannya yang datang.
"Sudah," jawab Satya singkat, ia meminum air yang ia pesan dengan mata yang terus saja fokus memandang layar handphone.
Rissa hanya mengangguk, ia memilih fokus pada makanannya dari pada memandang wajah Satya yang tanpa ekspresi.
"Lagi ngapain?" Tanya Rissa basa-basi. Ia marasa suasana di antara mereka harus segera dicairkan dan dia lah yang harus memulai semuanya.
Suasana canggung masih saja menghiasi kebersamaan mereka, padahal mereka akan resmi menjadi suami istri, Rissa ingin sebelum mereka menikah, mereka berdua harus saling mengenal dan memahami satu sama lain.
Satya mengangkat kepalanya, "Ada apa?" Tanyanya tanpa basa-basi, pria itu bahkan langsung menyimpan handphone miliknya dan memandang Rissa serius.
Rissa langsung menundukan kepalanya, "Gak papa, cuman nanya doang. Soalnya sibuk dari tadi," jawab Rissa dengan kepala yang masih saja menunduk.
Satya mengangkat alisnya sebelah, "Ingin membahas sesuatu?" Tanyanya.
"Gak ada. Lupain aja," jawab Rissa yang tiba-tiba ragu untuk mengajak Satya saling terbuka.
Rissa memberanikan diri mengangkat kepalanya, ia merasa tengah diperhatian. Rissa menghembuskan napas saat melihat Satya yang terus saja menatapnya, seolah meminta dirinya untuk membicarakan apa yang ia inginkan.
"Gak ada apa-apa, Sat," ujar Rissa sekali lagi tapi Satya sepertinya tidak percaya, pasalnya pria itu terus saja menatap Rissa bahkan kini pandangannya berubah sangat tajam.
"Huuhhfff....gue cuman mau kita saling terbuka, lo bilang nanti kita bakal ada pembinaan dan sebagainya, gak lucu dong kalau gue ditanya tentang lo, malah cuman jawab lo gak banyak omong. Lagian juga kita mau nikah tapi gue sama sekali gak tau gimana lo." Akhirnya Rissa mengatakan keinginanya dengan kepala yang kembali menunduk.
"Saya tentara dan anak tunggal, umur saya du----
"Yang itu udah tau," potong Rissa malas, dugaannya ternyata benar. Akan sangat sulit membuat Satya terbuka.
"Lalu?" Tanya Satya santai, wajahnya datar, seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Ya gue mau tau lo itu gimana. Jujur, gue gak mau ada kata permainan di rumah tangga kita nanti. gue...ah udah jangan bahas." Rissa dengan cepat menghentikan ucapannya, ia tidak ingin terlihat seperti perempuan yang memohon untuk tidak ditinggalkan atau dicampakan dengan alasan tidak mencintai padahal mereka sudah terikat sebuah pernikahan.
"Saya tidak pernah berpikir untuk mempermainkan sebuah pernikahan. Jadi kamu tenang saja. Sudah?"
Rissa tersenyum miring, “Mutusin buat nikah aja udah keliatan main-main.”
Alis Satya terangkat mendengar perkataan Rissa, ia yang tengah sibuk dengan handphone-nya langsung memfokuskan dirinya pada Rissa yang sibuk makan, sama sekali tidak lagi menoleh ke arahnya.
“Apa maksud kamu?” Tanya Satya langsung, tatapan yang tadinya biasa saja berubah tajam saat Rissa mendongak ke arahnya.
“Maksud gue apa? Kita tu dua orang yang gak kenal, tiba-tiba lo setuju gitu aja sama permintaan ayah gue buat nikah. Ya apa namanya kalau bukan main-main?”
“Habiskan makanan kamu.”
“Gue ini siapa sih? Babu? Dari tadi diperintah gak jelas.”
“Kamu ngajak saya bertengkar?” Sentak Satya dengan nada penuh peringatan, dipandangnya Rissa yang untuk pertama kalinya berani memandang wajahnya dengan sorot mata yang kacau, namun tatapan itu seperti berusaha Rissa buat setajam mungkin.
“Kenapa?” Tantang Rissa membuat Satya menarik napas dalam, ia memejamkan matanya sebentar sebelum kembali membukanya lagi, ditatapnya wajah Rissa yang masih saja menunjukkan kemarahan.
“Saya minta maaf, kita bahas ini nanti. Kamu makan dulu.”
Rissa yang mendengar itu memilih untuk tidak menjawab, bahkan untuk melanjutkan makan pun rasanya ia tidak bernafsu. Rissa hanya memakan dua suap sebelum akhirnya berdiri tanpa suara. Satya yang melihat itu memicing, namun sama sekali tidak bersuara. Ia membiarkan gadis aneh yang akan ia jadikan istri itu melangkah pergi. Satya pikir ia akan pergi ke kamar kecil, tapi ternyata pergi ke arah kasir. Satya bergerak cepat mengejar.
"Tunggu di mobil, saya bayar,” ujar Satya pelan ditelinga Rissa yang sudah bersiap mengeluarkan dompetnya.
Tanpa suara Rissa memutar tubuhnya, pergi meninggalkan Satya dan menunggu di dalam mobil seperti perintah calon suaminya itu. Rissa menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam rapat, merenungi sikapnya tadi yang entah kenapa seperti lepas kendali. Pikirannya kacau belakangan ini dan memikirkan menyerahkan seluruh hidupnya pada pria yang tidak mencintainya benar-benar membuat Rissa hampir setres. Terlebih sikap Satya membuatnya ingin menyerah saja tapi mengingat bagaimana keluarganya dan keluarga Satya yang terlihat sangat bahagia menanti pernikahan mereka membuat Rissa tidak tega untuk menghentikan semuanya.
Rissa membuka matanya saat mendengar suara pintu dibuka. Jantungnya terpacu, pikirannya menerka-nerka apa yang akan Satya ucapkan padanya setelah perlakuannya yang kurang bijak tadi.
“Lanjutkan,” suara Satya terdengar dingin membuat Rissa menoleh.
Satya terus menatap Rissa yang diam membisu, “Ingin semuanya batal?” kembali Satya bersuara, kali ini membuat Rissa menghembuskan napas.
“Udahlah gak usah dibahas,” sahut Rissa pelan, ia merasa sedang tidak baik-baik saja, jadi lebih baik diam untuk saat ini.
“Saya tidak suka bertengkar, terlebih di tempat umum. Jika ada yang mengganggu bicarakan sekarang.”
“Dan gue lagi gak mau bahas apapun sekarang.”
Satya menyalakan mobil, “Setelah ini saya tidak akan mendengarkan keluhan apapun,” ucap Satya penuh penekanan, memperingati Rissa bahwa ia hanya memberi gadis itu satu kali kesempatan untuk bersuara.
Rissa yang mendengar itu menarik napas dalam, mulai berpikir kalimat apa yang bisa ia ucapkan, “Menikah itu seumur hidup,” suara Rissa terdengar pelan, ia memandang lurus ke depan, tanpa berniat menatap wajah Satya yang sudah menjalankan mobil meninggalkan parkiran.
“Gue emang pengen nikah tanpa pacaran, tapi dengan orang yang bener-bener pengen nikah dan yang pasti bukan kayak gini caranya.” Rissa menoleh pada pada Satya yang hanya diam, pria itu terlihat benar-benar tidak mendengarkan perkataannya.
Melihat itu Rissa menarik napas dalam, menghempaskan tubuhnya dan memilih kembali menutup matanya, sibuk dengan pikiran dan hatinya yang tak menentu arah, terlebih berbicara dengan Satya saat ini bukanlah hal yang bisa membuatnya lebih baik, malah semakin berantakan.
Satya sama sekali tidak berbicara sepatah katapun, meskipun ia mendengar namun sama sekali tidak berniat untuk bersuara. Hingga sampai di depan kost Rissa, "Sampai," ujar Satya singkat.
"Makasih, Assalamualaikum." Rissa bergerak cepat membuka pintu mobil.
“Tunggu.” Rissa yang sudah membuka pintu mobil kembali menoleh, menatap bingung pada kotak persegi empat yang Satya arahkan padanya.
“Apaan tu?” Tanya Rissa bingung, alisnya terangkat sebelah.
“Baju.” Setelah kotak di tangannya diambil Rissa, Satya kembali memandang ke depan, seolah menyuruh Rissa keluar dari mobilnya.
Rissa mengangkat bahunya acuh, tidak ingin repot-repot bertanya baju apa yang pria itu berikan, ia bergegas keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tidak ada istilah ucapan atau belaian perpisahan, seperti kebanyakan pasangan jaman sekarang. Mereka berdua layaknya dua manusia yang tidak saling mengenal namun takdir menuntut mereka untuk bersatu hingga sebuah perpisahan yang ditentukan oleh penentu takdir.
Begitu sampai di kamar, ia langsung melepas hijabnya, menyimpan tas dan segala perlengkapan yang tadi dibawanya ke kampus. Baru setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Astagfirullah." Rissa yang baru saja keluar dari kamar mandi terlonjak kaget saat melihat seseorang tepat berdiri di depannya.
"Hehe...sorry Ra. Gak maksud gue." Melody tersenyum, menampilkan gigi rapinya di depan wajah Rissa yang masih berdebar.
"Lo kok di sini sih?" ketus Rissa dengan napas memburu.
"Gue mau pipis, misi ya calon Ibu tentara," Dengan jahil Melody menyenggol bahu Rissa yang langsung mendengus tidak suka.
"Ibu tentara dari mana coba, tau kerjaan suami aja ibarat cuman judul doang. Tapi isinya enggak tau," gerutu Rissa yang masih kesal dengan Satya karena kejadian tadi.
"Kenapa lo?" Tanya Melody yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia memerhatikan Rissa yang mengerutu di depan kaca sambil menyisir rambutnya.
"Gak papa, lo ngapain?"
Melody duduk di atas ranjang sebelum menjawab pertanyaan Rissa, "Main doang. Bosen di rumah."
"Gak jalan lo?"
"Enggak, uhuy... Tau deh yang tadi jalan, kemana kalian?"
Rissa memutar bola matanya malas, "Butik," jawabnya singkat.
"Butik doang?" Seru Melody memicingkan matanya tidak yakin.
"Hm...makan," jawab Rissa seadanya.
"Terus ngapain lagi kalian?"
"Gak. Langsung pulang."
Melody yang tengah mengamati kamar kost Rissa yang baru tersenyum saat matanya tidak sengaja memandang sebuah kotak di atas meja, “Apaan ni?” Dengan penuh rasa penasaran Melody mengambilnya.
Rissa menoleh, “Gak tau, tadi dikasi sama dia,” jawabnya sambil berpindah posisi ke atas kasur yang diikuti oleh Melody.
“Gue buka ya, Ra?” Seru Melody bersemangat.
“Iya.” Rissa pun sejujurnya sangat penasaran dengan baju yang dimaksud oleh Satya tadi.
Melody dengan semangat membukanya dan seketika takjub dengan apa yang ia lihat, berbanding dengan Rissa yang mengangkat alisnya bingung.
“Waahh Ra, gila sih udah langsung dapet bajunya. Secepet itu emang kalian mau nikah?”
Rissa mengangkat bahunya, “Ya iyalah, orang udah ngurus berkas-berkasnya. Lagian ni baju buat apaan?” Tanya Rissa ikut mengamati baju yang dipegang oleh Melody. Selain baju adapula sepatu dan barang lainnya.
“Lo tu mau nikah harusnya tau. Ini baju lo pake buat foto sama dia entar, terus ke kantornya juga kan lo pake baju ini. Berasa gue yang mau nikah elahh.” Melody menggerutu, tak habis pikir dengan Rissa yang terlihat tidak berminat.
“Ya kan gue gak tau, kirain pake baju putih biasa. Lagian dia juga gak ngasi tau gue apa-apa. Tiba-tiba ngasi baju ini, gak ada tu ngasi penjelasan apapun ataupun ngasi arahan entar gue gimana. Bukan salah gue dong, Mel.” Sedikit banyaknya Rissa merasa kesal dengan Satya yang sama sekali tidak memberitahunya apapun, pria itu hanya datang lalu memerintah.
“Baca di internet mangkanya, lo niat gak sih nikah sama dia?” Melody menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan Rissa.
“Gak. Gue gak niat, Mel,” jawab Rissa yang tiba-tiba merasa sendu, ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur, memandang langit-langit kamar dengan perasaan kacau.
“Apa gue mundur aja ya, Mel?” tanyanya lirih.
“Ha?” Melody memandang Rissa bingung, “Maksudnya?”
“Ya mundur, Mel. Berhentiin semuanya.”
Melody yang mendengar itu menarik napas dalam, bahkan ia mengubah posisinya menjadi menghadap Rissa seutuhnya, “Lo telat kalau mau mundur sekarang,” sahutnya.
Rissa termenung dengan pikirannya sendiri, “Rasanya gak semudah itu, Mel. Berapa hari yang lalu gue masih jadi Rissa yang cuman mikirin gimana biar praktek gue lancar, biar gue cepet lulus, biar tugas gue selesai, dan sekarang lo liat. Cuman dalam waktu satu malem semuanya berubah gitu aja.” Rissa tertawa sumbang, hidupnya sekarang terasa sangat menyedihkan, “Gue sekarang bukan lagi Rissa yang dulu, Mel. Beban gue seketika bertambah, mental gue berasa kena kalau kayak gini.” Rissa menutup wajahnya, menangis tanpa suara.
Melody mengusap tangan Rissa lembut, tak tahu harus mengatakan apa sebab sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa mengerti dengan apa yang Rissa rasakan. Cukup lama Melody membiarkan Rissa menangis tanpa melakukan apapun, saat dirasa sahabatnya itu sudah mulai tenang, Melody perlahan merapatkan tubuhnya, “Ra,” panggilnya pelan sambil terus mengusap tangan Rissa yang masih menutupi wajahnya.
“Gue gak pernah tau, bahkan sampai kapanpun gue gak akan tau apa yang lo rasain saat ini, tapi Ra kalau lo bilang mau mundur sekarang, semua juga gak semudah itu. Lo bilang mundur dalam keadaan semua persiapan udah hampir beres sama aja lo ngancurin semua pihak. Kecuali lo bilang dari awal, saat ayah lo nyaranin lo harusnya ngomong. Tapi buktinya lo gak bisa kan? Apa lagi sekarang, Ra. Semuanya udah telat banget dan cuman dengan kuasa Allah aja bisa gagal.”
Rissa menatap Melody dengan wajah yang basah oleh air mata, “Telat ya, Mel?” bisiknya pelan, terdengar putus asa.
“Ya telat, Ra. Emang lo bisa ngomong sekarang buat batalin semuanya?” Rissa langsung menggeleng mendengar pertanyaan Melody.
“Nah mangkanya, lagian gue liat Satya juga kayaknya baik, dia juga ganteng, tinggi, mancung, berbakat. Secara pasti ya gen dia itu incaran para perempuan, Ra.”
Rissa memutar bola matanya, “Itu mah keinginan kesekian gue, Mel. Yang penting itu keimanan dia.”
“Iya bener, tapi keimanan itu bisa perlahan diubah, sama kayak uang bisa dicari. Tapi kalau gen? Coba lo bayangin gimana mau ngubah gen? Gak bisa, itu keturunan yang udah jelas bakal diwarisin ke anaknya tanpa diubah-ubah. Jadi itu udah nilai unggul banget buat keturunan lo nanti, Ra hahahaaa.” Melody tertawa puas, Rissa yang mendengar itu memajukan bibirnya kesal, walaupun yang dikatan Melody benar tetap saja tidak bisa dengan mudah menenangkan hatinya.
“Gak nyambung lo, kesel gue.”
****
Satya berdiam diri di dalam mobil, matanya menyalang mengamati keadaan sekitar. Setiap gerak-gerik orang di luar sana tidak luput dari penglihatannya. Bahkan benda bergerak pun ditatapnya teliti.
"Menurut info yang didapat, markas mereka emang di sini. Tapi gue kurang yakin, soalnya lo liat sendiri di sini rame. Gak mungkin mereka nyimpen di sini."
"Gue yakin, keadaan yang ramai bikin pergerakan mereka tersamarkan dan gak dicurigai orang sekitar." Satya menjawab tanpa melepas pandangannya dari salah satu pintu rumah yang menurut informasi merupakan tempat buronan yang mereka incar.
Rekan Satya yang bernama Bimo menganggukkan kepalanya paham, "Jadi?" Tanyanya.
Satya membenarkan posisi duduknya, "Sebelum atau setelah akad nikah gue turun," jawab Satya.
"Lo serius mau nikah?" Bimo terkekeh geli, sebenarnya ia masih tidak yakin dengan gosip yang beredar, tapi mendengar kata akad yang keluar dari mulut Satya sepertinya sudah sangat menjelaskan bahwa gosip itu bukan hanya angin lalu, tapi fakta yang sebenarnya.
"Hm."
"Sama siapa? Maaf sebelumnya, bukannya lo gak punya pacar," ujar Bimo yang memang benar adanya.
Satya tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis manapun. Kabar yang mengatakan Satya akan menikah tentu menjadi gosip paling menghebohkan di markas mereka. Bahkan banyak yang merasa prihatin dengan calon istri Satya karena harus menikah dengan manusia minim ekspresi seperti pria itu. Namun jika melihat dari kemampuannya, siapa pun rela menikah dengannya dan menjadi wanita paling beruntung.
"Buat apa pacaran kalau bisa langsung dinikahin," sahut Satya santai, tapi mampu membuat Bimo diam dengan kepala mengangguk-ngangguk.
"Gak mau sebelum Akad aja lo turun? Kasian bini lo, baru nikah udah ditinggal."
Satya menarik napas kuat. "Nanti gue pikirin," ujar Satya, ia menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan perumahan sederhana yang akan menjadi tempat tinggalkan selama manjalankan tugas.
"Soal rumah?" Tanya Bimo yang bertugas membantu Satya karena pria itu tengah sibuk mengurus pernikahan dadakannya.
"Sewa yang jaraknya gak terlalu jauh dari tu rumah biar mudah ngawasin setiap pergerakan mereka dan jangan lupa pasang CCTV di sepanjang jalan."
"Sat, lo kan mau nikah, gimana kalau bawa istri lo sekalian. Jadi penyamaran lo gak terlalu mencolok."
Satya melirik Bimo tajam, Bimo menelan ludahnya susah payah, ia mengangkat dua jarinya, meminta damai pada Satya yang sudah mengeluarkan aura menyeramkannya.
"Oke, cuman saran. Posisi lo udah nikah sedikit banyaknya bakal memengaruhi juga. Apa lagi kalau sampai ada tamu undangan kalian ngeliat lo di daerah situ dan tahu pekerjaan lo. Kemungkinan bocor emang dikit tapi dari hal kecil kayak gitu perlu kita pikirkan. Inget, Sat. Gak ada yang boleh tahu misi kita." Bimo berbicara serius, pekerjaan mereka memang bukan main-main dan tidak bisa dipandang sebelah mata, "Setidaknya kalau lo bawa istri lo, ya ada alesan kalau kalian emang tinggal disitu tanpa ada omongan aneh dan kecurigaan lainnya," lanjut Bimo.
Satya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, misinya yang belum selesai menjadi alasan utama dirinya meminta pernikahan mereka tanpa pesta. Ia tidak ingin wajahnya dikenali banyak orang dan mempersulit penyamarannya.
"Pernikahan gue cuman akad dan di Bandung acaranya. Gue juga udah mikirin kemungkinan kayak gini. Soal keluarga nanti gue bicarain sama calon gue," ujar Satya dijawaban anggukan mengerti dari Bimo.
Kejadian tidak terduga itu sangat memengaruhi Satya. Dia yang sama sekali tidak memikirkan sebuah pernikahan malah dihadapkan dalam posisi sulit seperti ini, dimana ia harus menikahi gadis disaat ia sibuk menyelesaikan misinya dan itu sangat menguras pikiran Satya.
"Sat," panggil Bimo sama sekali tidak Satya tanggapi. Pria itu menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya.
"Satyaaa.....," sentak Bimo dan kali ini berhasil membuat Satya menoleh ke arahnya dengan mata tajamnya yang berubah menyeramkan.
Bimo langsung menunjukan handphone miliknya pada Satya, membiarkan pria itu membaca sendiri pesan penuh kode yang dikirim salah satu rekan mereka.
Satya tanpa menjawab langsung memutar arah mobilnya, menuju tempat dimana rekan mereka yang lain berkumpul.