Rissa dan Melody baru saja keluar dari laboratorium dengan wajah yang bisa dikatakan sangat lelah, waktu sudah menunjukan pukul empat sore dan mereka belum istirahat sama sekali.
“Lo langsung pulang?” Tanya Melody saat keduanya sudah berada di parkiran kampus.
“Iya, di jemput sama Satya.”
“Kok? Tumbenan lo mau antar jemput sama cowok.” Melody terkekeh pelan.
“Ya karena dia bukan orang yang bisa ditolak, dia juga bilang mau foto abis ini mangkanya tadi dianter, biar bareng.” Melody mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
“Kayaknya udah gak niat mundur ni,” godanya yang masih ingat bagaimana Rissa frustasi tiga hari yang lalu.
“Udah ah, gue duluan,” pamit Rissa saat sudah menemukan keberadaan mobil Satya di parkiran. Gadis itu melambai pada Melody seraya melangkah menghampiri mobil Satya.
“Ini mau langsung?” Tanya Rissa saat mobil yang Satya kendarai mulai meninggalkan halaman kampus.
“Hm,” gumam Satya tak jelas.
“Boleh makan dulu? Nanti pasti macet, gue belom makan.” Sekali lagi Rissa mendapat jawaban berupa gumaman tak jelas dari Satya membuat gadis itu memutar bola matanya malas. Tak ingin banyak berbicara, Rissa memilih untuk menutup matanya.
Satya menatap wajah Rissa yang masih terpejam, hampir setengah jam ia membangunkan gadis itu namun tidak ada reaksi. Panggilannya sama sekali tidak Rissa dengar membuatnya menarik napas lelah, “Sa..,” panggilnya sekali lagi, namun tetap tidak mendapat respon.
Tak ada pilihan lain, akhirnya tangan Satya bergerak menyentuh lengan Rissa, hanya telunjuknya yang menyentuh baju gadis itu, “Sa,” panggilnya lagi dengan suara yang lebih keras dan hanya disambut dengan gerakan kecil dari Rissa.
Sekali lagi Satya menyentuh lengan Rissa dan kini diikuti dengan dorongan kecil, cukup lama sampai akhirnya Rissa membuka matanya, “Hm? Udah sampai?” Tanyanya memandang sekeliling.
Satya tak menjawab, pria itu langsung keluar dari mobil tanpa berniat berbasa-basi, Rissa yang melihat itu menatapnya bingung, “Kenapa sih dia,” gumamnya kesal.
Rissa segera beranjak turun, mencari tempat duduk saat ia melihat Satya masih berdiri di tempat antrian. Ia melotot saat melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 18.55 WIB dan ia belum menunaikan shalat magrib.
Satya kembali dengan nampan berisi pesanannya.
“Gue belom shalat,” ucap Rissa langsung saat Satya berdiri di dekatnya.
“Belum adzan,” jawabnya singkat, Satya memilih langsung duduk dan memakan makanannya.
“Shalat magrib maksudnya, kenapa gak berhenti di masjid tadi?”
Satya mengangkat kepalanya, menatap Rissa dengan wajah datarnya, “Makanlah,” ucapnya tanpa berniat menjawab perkataan Rissa.
“Emang semacet apa sih tadi?” gumam Rissa, ia beranjak dari duduknya untuk mencari tempat shalat yang ada di tempat mereka makan. Satya yang melihat itu hanya diam membiarkan. Menurutnya berhadapan dengan Rissa memang hanya cukup diam, saat gadis itu mengamuk sekalipun ia harus tetap diam.
Tak sampai lima menit dari kepergian Rissa suara adzan terdengar, menandakan waktu isya sudah masuk. Rissa meringis lalu kembali memutar arah tujuannya, kembali ke meja mereka. Rissa memilih makan dalam diam, merasa kesal dengan Satya yang tidak berhenti di masjid, sedangkan orang yang dituju hanya melihat tanpa berniat berkomentar sedikitpun membuat Rissa semakin kesal.
Selesai makan keduanya langsung memasuki mobil dengan masih saling diam, Rissa menarik napas dalam, “Ini jadi fotonya?” Tanya Rissa akhirnya.
“Tidak,” sahut Satya singkat.
“Kenapa?” Tanya Rissa terdengar sudah lelah, “Tadi sampe gak berenti bukannya biar cepet? Sekarang malah gak jadi fotonya.”
“Saya mau istirahat.” Jawaban yang sangat menguras emosi itu benar-benar membuat Rissa ingin marah.
“Lah? Lo kira gue gak capek? Gue kuliah dari pagi terus lanjut praktek dan tadi sampe gak shalat cuman buat ngejar waktu biar gak telat. Sekarang malah dengan seenaknya bilang gak jadi, gimana sih?” Rissa memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
“Tidurlah.” Hanya itu jawaban yang Satya berikan, semakin membuat Rissa ingin mencekiknya saat itu juga.
“Lo kenapa sih?” Rissa yang sejak dari memadang ke depan, kini menoleh Satya sengit.
Satya yang awalnya berusaha menahan amarah menoleh Rissa dengan wajah mengeras, ia menatap gadis di depannya tajam. “Tidak bisa sopan ngomongnya? Saya dari tadi diam, tapi sepertinya percuma.”
Rissa yang mendapat tatapan tajam Satya tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia merasa takut seketika. Terlebih perkataan Satya yang mempertanyakan kesopannya membuat Rissa merasa sangat buruk.
Satya yang melihat Rissa tampak takut berusaha mengendalikan dirinya sendiri, “Kamu capek, saya juga capek. Saya minta maaf, besok kita fotonya. Sekarang pulang dan kamu istirahat.” Satya menyentuh kepala Rissa singkat sebelum menjalankan mobilnya.
Rissa yang merasakan sentukan Satya tersentak kaget, ia menatap Satya dengan pandangan tak terbaca.namun yang ditatap hanya diam. Seperti tidak melakukan apapun, padahal tindakannya beberapa waktu lalu berhasil mendebarkan jantung Rissa.
“Maaf,” ucap Rissa pelan setelah berhasil menurunkan egonya yang sejak tadi memberontak.
“Sudahlah, lupakan.” Satya memberikan senyuman singkat, seolah mengatakan semuanya sudah baik-baik saja.
*****
Rissa berdiri di depan gerbang kost-nya, menanti kedatangan Satya dengan jantung yang tidak ada habisnya berdetak dengan kencang, bahkan Rissa harus menarik napas berulang kali agar bisa merasa lebih tenang, walaupun nyatanya semakin cepat jarum jam bergerak maka semakin cepat pula detakan jantung Rissa. Hingga sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya dan kaca mobil terbuka menampilkan wajah datar Satya.
Rissa menarik napas kuat sekali lagi sebelum masuk ke mobil, ia melirik Satya yang terlihat sangat santai, berbanding terbalik dengan dirinya yang merasa akan menghadapi sesuatu yang luar biasa.
“Nanti gimana?” Pertanyaan yang selalu Rissa ajukan sebelum sampai ditempat yang mereka tuju.
“Kita sama-sama belum pernah.” Jawaban yang sama selalu Satya lontarkan, walaupun kenyataannya pria itu sudah tahu apa yang akan dilakukan nanti.
“Selalu gitu, biasanya juga kamu tau, tapi diem. Kali ini kasi tau kenapa sih? Biar aku bisa siap-siap.”
Semenjak kejadian waktu itu Rissa langsung mengganti bahasanya pada Satya, ia tidak ingin kejadian kala itu terulang kembali. Pemberontakan hatinya perlahan memudar, meskipun belum sepenuhnya bisa menerima tapi setidaknya Rissa sudah tidak sekacau diawal rencana pernikahan mereka. Terlebih urusan menikah dengan Satya bukanlah hal yang mudah, banyak tahapan yang mereka lalukan dan membuat keduanya harus bertemu hampir setiap hari.
Seiring berjalannya waktu keduanya mulai saling terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Satya dengan sikapnya yang acuh tak acuh sering kali membuat Rissa merasa kesal. Namun ia tidak lagi bertindak bodoh dengan memancing kemarahan Satya. Karena jika hal itu terjadi entah apa yang akan terjadi. Menurut Rissa Satya hanya memberi kesempatan kepada orang lain satu kali dan jika ia melakukan kebodohan lagi belum tentu Satya akan melupakannya seperti dulu.
“Sama seperti kemarin,” jawab Satya singkat.
“Ini apa namanya? Kemaren kan kita ke Resimen, kalau sekarang? Ada test tertulis sama wawancara kayak kemaren?”
“Tidak.”
“Terus kita ngapain?”
“Test Bintal.”
“Apaan Bintal?”
“Bimbingan Mental.”
“Dimana?” Satya menoleh dan Rissa tersenyum menampilkan giginya, “Mangkanya jawabnya jangan singkat.”
“Kesatuan.”
“Gimana testnya?” Kembali Rissa mengajukan pertanyaan.
“Saya tidak tau.”
“Masa sih gak tau?” Alis Satya terangkat sebelah, menatap Rissa tak bersahabat. Rissa tersenyum lagi, “Kan kamu selalu tau.”
“Dan saya pun tau kamu tidak bodoh, jadi jangan banyak bertanya. Tidak ada yang perlu disiapkan, kita tidak sedang ujian.”
Rissa mengerucutkan bibirnya kesal, “Ya bilang aja pinter, jangan gak bodoh,” gumamnya pelan.
“Ya, pintar.” Satya menjawab dingin, pria itu keluar dari mobil dan berdiri menunggu Rissa yang mendengus kesal.
Satya menatap Rissa yang sudah berdiri di sampingnya, memberi kode pada gadis itu untuk menggandeng tangannya dan Rissa yang melihat itu menarik napas dalam. Seperti sebelumnya Rissa hanya memegang jempol Satya.
“Saya nyuruh kamu memakai sarung tangan,” ujar Satya saat melihat tangan Rissa yang sudah memegang jempolnya.
“Lupa,” cengir Rissa yang bergegas mengikuti langkah lebar Satya.
“Hapal lagunya?” Tanya Satya saat mereka sudah duduk di kursi untuk menunggu pengarahan selanjutnya setelah tadi menghadap staff yang ada di depan untuk menyampaikan tujuan mereka.
“Udah dong, kan pinter,” sahut Rissa bangga.
Proses pengajuan yang mereka jalankan mengharusnya keduanya untuk saling mengenal lebih dalam dan banyak sekali hal yang membuat Rissa takjub dengan apa yang baru ia ketahui tentang Satya. Berbagai test yang dilalui juga membuat Rissa tahu seputar dunia militer, sekarang ia sadar apa yang dikatakan Melody benar adanya. Menjadi istri dari orang seperti Satya harus memiliki pengetahuan yang luas dan Rissa merasa bersyukur dengan otaknya yang tidak kacau saat menjalani test.
Setelah kemarin melewati test kesehatan yang tidak Rissa ketahui bahwa akan ada test keperawanan dan dilanjut dengan test tertulis dan wawancara di Resimen, sekarang dilanjut dengan test bimbingan mental di kesatuan. Rissa sudah mencari tahu bagaimana prosesnya, namun tetap saja ia merasa gugup. Terlebih test kali ini mereka akan bertemu dengan komandan yang ada dibayangan Rissa adalah sosok yang lebih menyeramkan dari Satya.
Mereka menghampiri petugas yang ada dibagian depan dan mengatakan tujuan mereka, setelah itu mereka diminta untuk menunggu di depan ruangan yang akan mereka masuki kelak. Rissa sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Satya terlihat santai sambil memainkan handphone.
“Eh Sat,” seruan seseorang mengalihkan pandangan Satya dari handphone-nya, seorang pria dengan seragam lorengnya mendekat ke arah mereka.
“Jadi beneran pengajuan?” Tanyanya dengan wajah geli.
“Hm,” sahut Satya malas, semua orang yang bertemu dengannya pasti menanyakan hal yang sama.
“Mantep, gue kira cuman gosip gak bermutu, ternyata fakta menakjubkan.” Pria itu terkekeh pelan, ia tersenyum menyapa Rissa yang duduk tenang di samping Satya. Rissa yang mendapat sapaan hanya mengangguk singkat dengan senyuman tipis.
“Ada urusan?” Tanya Satya mengalihkan pembicaraan.
“Iya, ketemu si onoh.” Satya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
“Ngomong-ngomong calon lo cantik,” guraunya berniat menggoda Satya yang langsung memberikan tatapan tajam.
“Masih mau disini?” Pertanyaan dengan nada pelan itu berhasil membuat lawan bicaranya menghentikan senyumnya.
Guntur berdehem singkat, “Gue duluan, santai Bro.” Tanpa berpamit pada Rissa ia bergegas meninggalkan Satya yang tidak memberikan reaksi apapun, bahkan ia kembali sibuk memainkan handphone-nya.
Cukup lama menunggu sampai akhirnya keduanya dipersilahkan masuk ke ruangan, duduk berdampingan dan dimulai dengan memperkenalkan diri dan pasangan secara bergantian. Ditahapan ini mereka ditanya tentang keagamaan, dimulai dari bacaan shalat sampai surah-surah yang dihapal serta dimintai untuk membaca Al-qur’an. Rissa diam-diam mengamati bagaimana Satya yang terlihat sedikit canggung saat menyentuh Al-qur’an, bahkan pria itu hanya membaca sedikit dengan suara yang tidak terlalu nyaring. Selanjutnya diajukan pertanyaan-pertanyaan umum dan kesiapan keduanya dalam berumah tangga. Rissa juga ditanya perihal kesiapannya menjadi pendamping dari Satya yang bisa kapan saja pergi dan tidak tentu kapan kembali, bahkan bisa saja hanya namanya yang kembali. mereka juga diberi nasihat-nasihat untuk kedepannya.
Selanjutnya menghadap ke wakil komandan dan istrinya, tak jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya, disini Rissa dan Satya juga dimintai untuk memperkenalkan diri dan Rissa diminta untuk menyanyikan lagu yang sudah ia hapalkan, mereka juga diberi nasihat-nasihat seperti sebelumnya. Begitupula saat menghadap komandan dan istrinya. Banyak nasihat-nasihat yang mereka dapatkan selama proses kali ini.
Setelah selesai dengan semua proses mereka mendapatkan surat izin nikah (SIN) yang selanjutnya mengurus pendaftaran ke KUA. Rissa mulai merasa keputusannya menikah dengan sosok Satya adalah keputusan yang tidak salah. Pria itu orang hebat yang terpilih dengan kepribadian yang sulit ditebak. Selama proses tadi, Satya menjawab semua pertanyaan dengan mantap, tidak ada keraguan disuara bahkan ditatapannya. Beberapa jawaban yang pria itu lontarkan berhasil membuat Rissa heran, pria itu mengetahui apa yang tidak pernah Rissa bahas sebelumnya.
“Makan?” Tanya Satya saat mereka sudah berada di mobil.
“Boleh.” Mobil melaju meninggalkan parkiran kantor.
“Saya ada kerjaan minggu ini, kamu bisa urus ke KUA?”
Rissa yang mendengar itu menoleh, “Aku sendiri yang ngurusnya?”
“Ya.”
“Emangnya bisa? Kalau emang bisa gak papa aku yang ngurus, kalau gak bisa gimana?”
“Bisa tidaknya tergantung kamu,” jawab Satya singkat.
Rissa menarik napas, “Maksud aku itu syaratnya, apa gak harus kita berdua atau bisa aku sendiri aja?”
“Bisa, berkas sudah lengkap. Semua sudah saya siapkan.”
“Oke kalau gitu, di Bandung kan akadnya nanti.”
“Di Jakarta?”
“Lho kan kemaren bilangnya di Bandung, ibu sama ayah udah setuju. Om sama tante kan juga udah setuju. Kenapa tiba-tiba minta di Jakarta?” protes Rissa yang memang menginginkan acara mereka dilakukan di Bandung, tempat tinggal kedua orangtuanya.
“Oke Bandung.”
“Kenapa mau di Jakarta? Om sama tante mau di Jakarta?”
“Bandung,” jawab Satya langsung, tak berniat melanjutkan perdebatan dengan Rissa yang sepertinya sangat bersemangat untuk melontarkan protes.
“Kalau mau di—
“Tidak,” potong Satya cepat.
Rissa memajukan bibirnya kesal, “Kan kalau ada apa-apa bisa dibahas,” gumamnya pelan.
“Tidak perlu, kamu jangan bawa mobil ke Bandung.”
“Lah? Terus pake apa? Kan mobil aku juga ada di sini.”
“Jangan.”
“Aku sama Melody aja kalau gitu, dia yang bawa mobil.”
“Oke.”
Rissa mengusap dadanya, kesabarannya benar-benar teruji setiap kali berbicara dengan Satya yang seperti tidak memiliki banyak kosa kata di kepalanya.