Hari-hari berganti begitu cepat dan kini tiba waktunya dimana sepasang anak adam yang bertemu karena sebuah ketidak sengajaan, berakhir dengan mengikat hubungan mereka dalam sebuah ijab qobul. Rissa ditemani Melody berdiam diri di kamarnya, matanya berkaca-kaca saat mendengar suara lantang Satya di bawah sana. Lalu disusul seruan dari orang-orang yang menjadi saksi pernikahan mereka, saat itulah tangis Rissa pecah di pelukan Melody. Kini, ia bukan lagi seorang gadis biasa yang bebas seperti beberapa menit yang lalu, tapi sudah resmi menyandang status Nyonya Abimayu dan menjadi istri dari seorang abdi negara.
Awal kehidupan yang sama sekali tidak pernah Rissa bayangkan sedikitpun kini terjadi dalam hidupnya. Rissa hanya mampu berdoa dan terus berdoa kepala Allah, memohon supaya ia diizinkan menjalani rumah tangga yang diridhoi dan ia pun akan berjuang untuk menjadi yang terbaik untuk Satya meski cinta belum hadir di antar mereka.
Penghulu yang tadi menikahkan mereka mulai membaca doa, Melody melepaskan pelukan mereka. Hening, tidak ada satu pun tamu yang berbicara, semuanya mengaminkan doa yang dipimpin oleh penghulu tersebut.
"Sekarang lo udah jadi istri, bersikaplah layaknya seorang istri yang menyayangi suaminya, gue berdoa semoga Allah segera menghadirkan cinta di antara kalian," ucap Melody ikut menangis.
"Makasih, makasih banyak, Mel."
"Udah lo gak boleh nangis lagi, entar luntur," kekeh Melody disambut dengusan kesal dari Rissa.
"Lo harus keliatan cantik, Ra. Jangan sampe Satya nyesel nyebut nama lo pas akad nikah tadi," ujar Melody dengan wajah menyebalkannya.
Rissa memukul lengan Melody kesal, bahkan bibir gadis itu mencibir tidak terima.
"Ayo, lo udah dipanggil tu." Melody membantu Rissa berdiri.
"Bentar," seru Rissa menahan langkah Melody, gadis itu menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia melakukannya berulang kali.
Perlahan keduanya melangkah keluar dari kamar, menuruni tangga menuju lantai bawah, dimana hampir seluruh keluarga dari kedua mempelai sudah menunggu kehadiran Rissa.
Satya yang duduk di tempatnya tidak bisa memungkiri jantungnya sudah berdetak tidak normal sejak tangannya digenggam erat oleh pria paruh baya yang kini sudah resmi menjadi ayahnya. Semua orang memandang ke arah Rissa yang sudah mendekati Satya. Namun tidak dengan Satya yang berulang kali memejamkan mata cukup lama sebelum membukanya kembali, terdengar hembusan napas berat darinya. Seolah menggambarkan bahwa pria itu tengah memikirkan hal berat.
Rissa duduk tepat di samping Satya. Hal yang paling Rissa cemaskan sedari tadi adalah saat ini, saat dimana ia akan mencium tangan Satya dan Satya akan mencium keningnya. Dengan jantung yang berdebar-debar, Rissa menarik lembut tangan Satya dan mencium punggung tangan pria itu, dan Satya dengan lembut mengecup kening Rissa.
Berlanjut dengan pemasangan cincin sebagai simbol sebuah pernikahan. Lalu menandatangani buku nikah yang masih tidak bisa Rissa percayai bisa ia miliki di umurnya yang sekarang. Selesai semuanya, kedua mempelai menghampiri kedua orang tua mereka, meminta restu. Rissa menangis terisak di pangkuan ibunya.
"Bu, Ridhoi pernikahan Ara, restui hubungan kami dan doakan Ara. Maafin Ara yang belum bisa ngebahagiain ibu sama ayah. Maafin Ara yang sering buat ibu marah, maafin Ara, Bu."
Ibu Rissa mendekap tubuh anaknya erat, air matanya ikut menetes, "Ibu merestui kalian. Doa Ibu akan selalu menemani perjalanan kalian. Jadilah istri yang sholehah, Nak. Turuti semua perintah suamimu, jangan lawan dengan teriakan, tapi tenangkan dia dengan kelembutan. Jadilah istri yang kuat, terima semua kekurangan suamimu. Jalani semuanya dengan penuh keikhlasan."
Rissa mengangguk-anggukan kepalanya, ia bertekad akan menjadi seperti apa yang ibunya inginkan. Tidak ada cinta bukan berarti ia harus mempermainkan pernikahan. Allah menjodohkan ia dengan Satya berarti Allah telah menetukan Satya-lah yang terbaik untuknya.
Rissa beralih pada ayahnya, "Yah, restui pernikahan Ara. Maafin Ara yang banyak salah, maafin Ara, Yah." Rissa tidak sanggup berkata banyak. Tapi ia mendekap tubuh ayahnya erat, kini ia sudah bukan lagi tanggung jawab ayahnya.
"Ma, terima kasih sudah mengizinkan Rissa memiliki anak Mama, izinkan Rissa menemaninya sampai Allah memisahkan kami, Ma." Rissa memeluk tubuh mama Satya dan dibalas pula dengan pelukan tak kalah erat.
Rissa berlanjut menyalami papa Satya yang dengan senang hati merestui hubungan mereka yang terkesan tidak wajar. Begitupun dengan Satya yang mengikuti gerakan Rissa dari belakang.
Pernikahan memang momen paling membahagiakan dan mengharukan untuk semua orang. Begitupun dengan Rissa, walaupun pernikahannya tidak seperti yang lain, tapi apa yang ia rasakan tidak jauh berbeda dengan pengantin lain. Setelah selesai, seluruh keluarga yang datang dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah disedikan.
Melody memeluk tubuh Rissa erat, keduanya tidak berbicara tapi air mata mereka menetes, rasanya Melody tidak bisa menjelaskan seberapa bahagianya dia saat melihat Rissa melepas masa lajangnya dengan pria yang Melody harapkan benar-benar jodoh Rissa dan bisa membahagiakan sahabatnya ini.
"Udah ah, Mel. Makan sono," ujar Rissa sambil melepas pelukan mereka.
"Gue sedih tau, Ra. Nanti lo pasti susah buat keluyuran sama gue." Melody memasang wajah cemberutnya.
"Itu aja yang lo pikirin. Insya Allah bisa. Gue bakal izin sama Satya."
"Siapa Ra?"
"Apa?" Rissa menatap Melody heran.
"Tadi lo bilang izin sama siapa?" tanya Melody menaik turunkan alisnya menggoda.
"Satya," jawab Rissa apa adanya.
"Kok Satya sih? Mas dong, Ra. Mas Satya." Melody tertawa geli.
Rissa tertawa kecil, wajahnya tiba-tiba saja terasa panas. "Apaan sih lo," ketusnya.
"Melody gak makan?" Ibu Rissa datang menghampiri mereka.
"Iya Tan. Ini mau makan, Tan." Melody tersenyum manis, ia mencolek dagu Rissa jahil sebelum melenggang pergi dengan tawa menghiasi langkahnya.
"Ibu udah makan?" tanya Rissa beralih pada ibunya.
"Nanti. Kamu aja dulu makan, sekalian siapin buat Satya."
Rissa menggigit bibir bawahnya ragu, ia menolehkan kepalanya ke arah Satya yang tengah mengobrol dengan beberapa saudaranya.
"Satya lagi ngobrol, Bu."
"Masih Satya kamu manggilnya? Gak sopan sama suami manggil nama." ibu Rissa menyentil kening anaknya gemas.
Rissa mengusap tengkuknya bingung, "Terus apa dong?" tanyanya polos.
"Ya terserah, asal jangan nama. Gak enak kedengeran sama orang, istri manggil nama gitu."
"Hehe iya Bu."
"Udah sana, ajak suami kamu makan."
"Sekarang Bu?" tanya Rissa ragu, memanggil Satya saja ia bingung, apalagi harus menghampiri dan menawarinya makan.
"Iya. Kapan lagi."
Rissa mengalah, akhirnya ia melangkah pelan dengan pikiran yang terus berputar menentukan panggilan apa yang pas ia berikan untuk Satya.
"Mas Satya," panggil Rissa sambil menyentuh pundak Satya pelan, gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan wajah merona malu.
Satya yang merasakan sentuhan serta panggilan Rissa, langsung menoleh ke belakang, sedikit kaget dengan perubahan panggilan yang Rissa berikan untuknya. Namun wajah pria itu tetap datar, seolah sudah biasa dipanggil seperti itu.
"Mau makan?" tawar Rissa yang rasanya ingin pergi secepat mungkin dari sana karena semua orang yang tadi mengobrol dengan Satya kini menatapnya, bahkan ada di antara mereka yang tersenyum tidak jelas, membuat Rissa semakin malu.
Satya yang melihat wajah Rissa, langsung beranjak dari duduknya, "Ayo," ajaknya.
Tanpa berpamit ia langsung membawa Rissa pergi dari kumpulan sepupu-sepupunya itu.
Rissa mengambilkan makanan untuk Satya yang duduk di salah satu kursi yang di sediakan untuk tamu. Setelah selesai ia menyerahkan piring itu pada Satya.
"Makasih," ujar Satya diangguki oleh Rissa, gadis itu duduk diam di samping Satya.
"Tidak makan?" Rissa hanya menggeleng menjawab pertanyaan Satya, ia masih canggung berinteraksi dengan Satya yang sekarang sudah menyandang status sebagai suaminya.
Sampai Satya selesai makan pun keduanya sama sekali tidak ada yang bersuara. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Rissa berusaha menghilangkan kecemasannya mengenai kemungkinan yang terjadi setelah acara ini selesai, sedangkan Satya pikirannya tengah berputar tentang pekerjaannya yang belum selesai.
Keluarga yang sudah selesai, bergantian mengucap selamat untuk mereka sebelum pulang ke rumah masing-masing. Kini hanya tertinggal kedua orang tua Satya dan beberapa sepupu dekat Rissa serta Melody yang memang berniat tidur di rumah Rissa untuk membantu membereskan bekas acara. Merasa tidak ada lagi tamu, Rissa dan Satya masuk ke dalam rumah. Keduanya duduk di rumah tamu, ada kedua orang tua mereka dan beberapa keluarga yang belum pulang, serta Melody yang duduk tenang sambil mengobrol dengan ibu Rissa.
"Mau pulang, Ma?" tanya Satya saat melihat kedua orang tuanya sudah berdiri dari duduk mereka dengan mamanya yang membawa tas.
"Iya, kita ke hotel dulu. Nanti malam insya Allah ke sini lagi."
Rissa dan Satya serempak menganggukkan kepala, menyalami sepasang suami istri itu. Kedua orang tua Satya berlalu pergi setelah pamit pada semuanya.
"Ara, ajak suami kamu istirahat di kamar." ayah Rissa langsung menyuruh anaknya saat melihat Satya yang menyandarkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya.
"Hah? I..iya Yah." Rissa menganggukkan kepalanya, ia beranjak dari duduknya.
"Ayo Mas, ke kamar," ajak Rissa pelan.
Satya membuka matanya, baru saja ia berniat menjawab, terdengar suara pintu di ketuk, menarik perhatian semua orang di sana. Satya menoleh ke arah pintu, mata yang tadi sayu kini terbuka sempurna, tanpa kata ia langsung beranjak menghampiri orang itu.
"Hormat." tamu yang datang langsung berdiri tegak dan memberi hormat pada Satya saat komandannya itu berdiri di depannya.
"Ada apa?" tanya Satya langsung. Perasaannya mulai tidak tenang.
"Lapor Komandan! Terjadi penculikan dan kita di perintahkan terjun langsung!"
Satya mengusap wajahnya kasar, ia menoleh ke belakang dimana orang-orang tengah menatapnya penuh tanda tanya, terlebih Rissa yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tanpa menjelaskan apapun, Satya melangkahkan kakinya cepat keluar rumah, menuju mobilnya. Keluarga Rissa yang melihat itu saling pandang. Masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Rissa yang melihat pergerakan cepat suaminya hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri. Entah bagaimana perasaaanya saat ini. Melihat pakaian orang yang menghampiri Satya, membuat Rissa menyadari satu hal pasti, suaminya akan pergi.
"Demi negara, Ra. Demi negara. Lo harus ikhlas, lo harus rela suami lo pergi tugas," gumam Rissa berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Tak selang berapa menit kemudian, Satya kembali masuk dengan jas pernikahan yang sudah tidak lagi ia pakai. Satya berlari menghampiri Rissa yang memandangnya dalam kebisuan.
"Maafkan saya," bisiknya pelan, ia menyentuh wajah Rissa lembut dengan sebuah senyuman penuh penyesalan.
Tanpa menunggu respon Rissa, Satya memutar tubuhnya dan kembali berlari keluar rumah, menghampiri anak buahnya yang sudah menunggu di dalam mobil.
"Pulanglah dengan selamat, aku menunggu." Rissa memandang kepergian Satya dengan air mata yang setetes demi setetes mulai membasahi wajahnya.
Ibu Rissa langsung beranjak menghampiri anaknya, ia memeluk tubuh lemah Rissa, "Jadilah istri yang kuat, Nak. Dia pergi untuk negara. Kamu harus ikhlas."
Rissa menganggukkan kepalanya, ia menghapus air matanya, "Ara ke kamar dulu, Bu." Rissa memilih berpamit pergi.
Setelah melepas pelukan mereka dan mendapat jawaban dari ibunya, Rissa langsung bergegas menuju kamarnya. Melody yang melihat itu beranjak dari duduknya, namun ibu Rissa menggelengkan kepalanya.
"Biarin dulu, Mel." Melody mengangguk paham. Ia menatap Rissa yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Rissa langsung masuk ke dalam kamar. Ia duduk di atas kasurnya, berulang kali ia menarik napas, lalu menghembuskan perlahan. Berusaha mengurangi sesak di dadanya yang terasa sangat menyiksa. Rissa tidak pernah membayangkan akan seperti ini hari pernikahannya. Hari yang seharusnya ia lalui dengan penuh kebahagian, malah berbanding terbalik. Suami yang Rissa harapkan akan membaca doa di atas kepalanya dan menunaikan shalat sunnah bersamanya malah pergi begitu saja.
Air mata Rissa menetes, ia tahu Satya pergi untuk bertugas. Tapi apa harus saat hari pernikahan mereka? Apa harus pergi begitu saja? Tangis Rissa semakin kencang merasakan sesak di dadanya. Satya pergi dan Rissa tidak tahu dimana pria itu berada, apa yang tengah suaminya itu lakukan sekarang. Rasa cemas menghimpit d**a Rissa. Ada rasa khawatir saat membayangkan Satya bertugas di luar sana. Rissa memang tidak tahu bagaimana pekerjaan Satya yang sebenarnya, tapi satu hal yang selalu Rissa dengar tentang tentara.
"Astagfirullah." Rissa beristigfar berulang kali saat merasakan perasaanya yang mulai gelisah tak menentu.
"Ya Allah, hamba berserah diri pada-Mu. Lindungi suami hamba dimana pun ia berada. Lindungi dia dari marabahaya. Hanya Engkau yang maha pelindung, hanya Kepada-Mu kami memohon perlindungan dari apa pun yang ada di dunia ini. Kuatkan hati hamba untuk mendampingi suami hamba ya Allah."