Aku menarik napas pelan, memaksakan diriku tetap tersenyum. Apa pun yang kurasakan, aku masih seorang pelayan yang sedang berbincang dengan pelanggan.
"Sunny?" ulangku, berusaha menjaga suaraku tetap terdengar wajar. "Nama yang indah.”
"Nama lengkapnya Sunshine," ucap Savana. "Semua orang memanggilnya Sunny. Kurasa itu memang lebih cocok untuknya."
Sorot matanya berubah seketika. Ada kehangatan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Usianya baru empat tahun. Dia memang pendiam jika berada di tempat baru dan lebih suka memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Tapi begitu sampai di rumah ..." Savana terkekeh pelan. "Rasanya dia bisa bercerita tanpa henti."
Tanpa kusadari, aku ikut tersenyum. Mungkin memang seperti itulah wajah seorang ibu ketika membicarakan anaknya.
Aku mengangguk pelan. "Pasti menyenangkan memiliki anak seperti Sunny."
"Menyenangkan," jawab Savana, terkekeh. "Sekaligus sangat melelahkan."
Tawa itu cepat menghilang. Dia kembali mengalihkan perhatian ke layar laptop, jemarinya mulai bergerak di atas kibor.
"Kalau begitu, selamat melanjutkan pekerjaan. Panggil aku jika membutuhkan sesuatu."
Aku melangkah kembali ke arah kasir. Langkahku terasa lebih berat.
"Hunter."
Suara Rose membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh. Dia berdiri di sampingku sambil mengamatiku dengan tatapan penuh selidik.
"Kau baik-baik saja?"
Aku mengusap wajah pelan sebelum mengembuskan napas.
"Ya. Aku hanya ... baru saja mendapatkan jawaban yang kucari.”
Mengetahui bahwa Savana telah menikah dan memiliki seorang anak seharusnya menjadi penanda yang cukup bagiku untuk mundur.
Logikaku mengatakan demikian.
Aku baru berusia dua puluh dua tahun, seorang mahasiswa perantauan yang masih sering dipusingkan oleh pilihan sederhana, membeli buku kuliah yang kubutuhkan atau membayar uang sewa kamar untuk bulan berikutnya.
Sementara Savana ...
Dia telah membangun kehidupan yang sama sekali berbeda. Seorang perempuan dewasa, dengan karier, tanggung jawab, dan keluarga kecil yang menunggunya pulang.
Duniaku dan dunianya terasa seperti dua garis yang berjalan berdampingan tanpa pernah benar-benar ditakdirkan untuk bertemu. Kami hanya kebetulan dipertemukan oleh sebuah kafe kecil.
Namun, perasaan sering kali tidak mengenal logika.
***
Malam itu, jam kerja di kafe telah berakhir sejak pukul delapan. Lampu utama dipadamkan, menyisakan cahaya redup dari lampu-lampu gantung di atas meja kasir.
Kini hanya aku dan Rose yang masih berada di kafe, menyelesaikan pekerjaan sebelum pulang.
"Hunter, kau mau membereskan meja luar dulu atau membantuku menghitung stok bahan?" tanya Rose sambil menggulung rambutnya menjadi sebuah sanggul sederhana.
"Aku urus meja luar saja."
Aku mengambil kain lap dan botol pembersih kaca, lalu melangkah ke area utama yang mulai lengang.
Tanpa sadar, pandanganku kembali jatuh ke meja sudut di dekat jendela.
Meja itu telah kosong.
Namun, bayangan Savana yang duduk di sana sore tadi—beserta senyum hangat yang muncul setiap kali dia menyebut nama Sunny—masih tertinggal jelas di benakku.
Mengapa keyakinanku bahwa Savana telah menikah dan memiliki seorang anak tidak juga mengurangi ketertarikanku?
Justru sebaliknya.
Makin mengenalnya, makin kuat keinginanku untuk berada di sisinya. Aku ingin melihatnya beristirahat sejenak, tertawa lebih lepas, dan melupakan wajah lelah yang hampir selalu dia sembunyikan.
"Kau masih memikirkannya?"
Suara Rose memecah keheningan. Dia menyusulku ke area depan, lalu bersandar pada salah satu tiang kayu dengan kedua tangan terlipat di d**a.
Aku menghentikan gerakan kain lap di atas meja dan mengembuskan napas panjang.
"Seterlihat itu, ya?"
"Sulit untuk tidak menyadarinya," jawab Rose sambil tersenyum tipis. "Sejak kembali dari meja itu sore tadi, kau seperti kehilangan separuh perhatianmu. Seandainya Nyonya Besar masih di sini, ceramahmu mungkin sudah bertambah satu bab lagi."
Aku terkekeh.
"Aku hanya ... bingung pada diriku sendiri, Rose." Pandanganku jatuh ke permukaan meja yang sedang kulap. "Aku tahu jarak di antara kami terlalu jauh. Namun, makin sering aku berkata pada diriku sendiri untuk berhenti memikirkannya, makin sulit aku melakukannya."
Rose melangkah mendekat. Dia mengambil botol pembersih dari tanganku, lalu menatapku dengan sorot mata yang jauh lebih lembut dari nada bicaranya.
"Hunter, kau baru dua puluh dua tahun. Kita bahkan masih berkutat dengan tugas kuliah dan mencari cara agar uang bulanan cukup sampai akhir bulan."
Dia berhenti sejenak.
"Sementara Savana ..." Rose mengembuskan napas pelan. "Dalam pandanganmu, dia sudah memiliki keluarga, seorang anak, dan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan. Apa kau benar-benar siap melangkah ke dunia yang sama sekali berbeda itu?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku tidak segera menjawab. Karena aku menyadari bahwa aku tidak memiliki jawabannya.
"Aku tidak tahu, Rose," ucapku jujur. Pandanganku sempat beralih ke jalanan di balik jendela yang mulai diselimuti gerimis sebelum kembali menemuinya.
"Aku hanya tidak bisa berpura-pura tidak merasakan apa-apa."
Rose terdiam beberapa saat. Ada sesuatu yang samar melintas di wajahnya, begitu cepat hingga aku tidak sempat menangkap artinya. Sedetik kemudian, senyum kecil itu kembali menghiasi bibirnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kalau begitu," ujarnya pelan, "carilah jawabannya sampai kau menemukannya sendiri."
Dia menepuk bahuku dengan ringan.
"Sekarang, selesaikan pekerjaanmu. Besok pagi kita masih harus menghadiri kelas."
Rose kembali ke area kasir, sementara aku tetap berdiri memandangi hujan yang kian rapat di balik jendela.
Mungkin Rose benar.
Aku memang harus mencari jawabannya sendiri.
Hanya saja, aku sama sekali tidak tahu ke mana pencarian itu akan membawaku.
***
Sabtu malam di Kafe Sunrise selalu punya suasananya sendiri. Lampu-lampu warm white memancarkan kehangatan, alunan musik jazz mengalun pelan, dan yang paling kusyukuri, Nyonya Margaret tidak pernah datang di akhir pekan. Hanya Tuan Gerald yang hadir dengan gayanya yang santai dan ramah.
Aku baru saja selesai mengelap meja di area tengah ketika denting bel pintu berbunyi. Refleks, aku menoleh ke arah pintu masuk sambil memasang senyum pelayanan andalanku.
Senyum itu membeku saat melihat Savana melangkah masuk. Tidak biasanya dia datang ke kafe pada hari dan jam seperti ini.
Kali ini, dia hanya membawa tas kecil tanpa laptop. Dia mengenakan gaun kasual berwarna biru navy yang membuat penampilannya tampak jauh lebih lembut, sementara rambutnya dibiarkan tergerai.
Ini pertama kalinya aku melihatnya menggerai rambut. Dan, sialnya, mustahil bagiku untuk tidak terpukau oleh kecantikannya.
Lalu tatapanku turun ke sampingnya, tempat di mana seorang anak perempuan berdiri dengan gaun kuning pastel.
Sunny.
Akhirnya aku bertemu langsung dengannya.
Dan entah kenapa, yang justru membuatku gugup bukan Savana ... melainkan gadis kecil yang kini menatap sekeliling kafe dengan mata penuh rasa ingin tahu itu.
Pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.
Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku? Bagaimana caraku menghadapi putri dari wanita yang kusukai?