"Malam, Hunter," sapa Savana ramah begitu pandangan kami bertemu.
"Malam, Savana," jawabku, berusaha keras menjaga ekspresi dan detak jantung yang mendadak tak lagi beraturan. "Meja sudut yang biasa masih kosong. Mau duduk di sana?"
"Boleh. Terima kasih."
Savana menuntun Sunny menuju meja favoritnya di dekat jendela. Dengan sabar, dia membantu putrinya naik ke kursi kayu, merapikan poni lurus yang sedikit berantakan, lalu mengusap pipi mungil itu dengan penuh kasih sayang.
Aku meraih buku catatan pesanan dan menghampiri mereka.
Begitu tiba di sisi meja, sepasang mata bulat sebening kaca menatapku tanpa berkedip. Tatapan itu tenang—seolah sedang mengamati siapa laki-laki berapron hitam yang berdiri di hadapan ibunya.
"Sunny, ini Hunter yang sering mengantarkan kopi untuk Mami," kata Savana memperkenalkanku.
Sunny terus menatapku selama beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
"Halo, Paman," sapanya dengan suara lembut dan sopan.
Sapaan Paman itu seolah langsung mengingatkanku pada jarak yang terbentang di antara kami. Anehnya, aku sama sekali tidak keberatan. Tatapan polos anak itu justru membuat sudut hatiku terasa lebih hangat.
Aku berlutut di samping meja agar tinggi kami sejajar.
"Halo, Sunny." Aku tersenyum. "Sunny suka minum apa? Di sini ada hot chocolate dengan marshmallow berbentuk kelinci. Mau coba?"
Mata Sunny seketika berbinar. Antusiasme kecil itu begitu jelas terpancar di wajahnya yang semula tenang. Namun, alih-alih langsung menjawab, dia lebih dulu menoleh ke arah Savana, meminta izin.
Savana terkekeh pelan, lalu mengangguk. "Satu hot chocolate dan croissant cokelat untuk Sunny, Hunter. Untukku, Americano seperti biasa."
"Siap." Aku mengangguk kecil. "Tunggu sebentar ya, Little Princess."
Baru setelah mengucapkannya, aku menyadari panggilan itu keluar begitu saja. Aku hanya bisa berdeham pelan sebelum buru-buru berbalik menuju meja barista.
Sepuluh menit kemudian, aku kembali ke meja sudut sambil membawa pesanan mereka. Kuletakkan secangkir hot chocolate dengan marshmallow berbentuk kelinci di depan Sunny. Anak kecil itu langsung memperhatikan kelinci yang mengapung di atas cokelat hangatnya dengan mata berbinar, lalu mendongak menatapku.
"Terima kasih, Paman. Kelincinya lucu."
Senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang entah mengapa begitu mengingatkanku pada Savana.
"Sama-sama, Sunny. Dihabiskan ya," kataku, tersenyum.
Savana memperhatikan interaksi kecil kami dengan tatapan yang begitu lembut. Ada rasa syukur yang samar terpancar di matanya, seolah lega melihat putrinya yang merasa nyaman.
"Kau pandai menghadapi anak kecil, Hunter," ujarnya sebelum menyesap Americano-nya.
Aku menggaruk tengkukku, salah tingkah menerima pujian itu.
"Aku hanya berusaha menjadi teman yang baik untuk Sunny," jawabku jujur.
Malam itu, di bawah hangatnya cahaya kafe, aku menyadari sesuatu.
Melihat Savana tersenyum sambil menemani Sunny menikmati hot chocolate sederhana itu membuat perasaanku tak lagi bisa kusebut sekadar kagum.
Aku mulai berharap ... suatu hari nanti, bisa menjadi bagian dari kebahagiaan kecil mereka.
Saat Sunny mengangkat wajahnya setelah menyesap hot chocolate, sedikit busa cokelat tertinggal di sudut bibirnya. Aku refleks hendak mengambil tisu, tetapi Savana sudah lebih dulu mengusapnya dengan lembut.
"Enak?" tanya Savana.
Sunny mengangguk cepat. "Enak!" serunya sebelum kembali menyesap hot chocolate-nya dengan hati-hati.
Tanpa sadar, aku ikut tersenyum.
Aku baru saja hendak kembali ke pekerjaanku ketika ponsel Savana yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Suara dengungnya memecah kehangatan yang sejak tadi menyelimuti meja kecil itu.
Layar ponselnya menyala, menampilkan satu nama yang pernah kulihat sebelumnya—nama yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya di benakku.
Jacob.
Senyum di wajah Savana seketika memudar. Bahunya menegang, sementara sorot matanya berubah menjadi campuran amarah yang dipendam dan kelelahan yang seolah sudah terlalu lama ditanggung. Dia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu menatapku.
Tatapan itu ... seolah sedang memohon pertolongan.
"Hunter ... bisa titip Sunny sebentar di sini?" ucapnya lirih. "Aku perlu menerima telepon."
"Tentu." Aku mengangguk tanpa ragu. "Biar aku yang menemani Sunny.”
Aku menarik salah satu kursi dan duduk di hadapan Sunny, yang masih memperhatikan marshmallow berbentuk kelinci di dalam cangkirnya.
"Kelincinya hampir tenggelam," gumamku.
Sunny buru-buru menyendok marshmallow itu hingga membuatku terkekeh.
"Sunny suka kelinci?"
"Suka."
"Kenapa?"
"Karena lembut."
"Kalau dinosaurus?"
Sunny langsung menggeleng. "Terlalu besar. Sunny takut."
Bibir mungilnya langsung mengerucut. Sorot matanya berubah ragu, seolah tinggal menunggu sedikit lagi sebelum air mata itu benar-benar jatuh.
Aku buru-buru mengangkat kedua tangan. "Tenang!" kataku cepat. "Dinosaurus sudah lama punah. Mereka tidak bisa datang ke sini."
Sunny berkedip beberapa kali, lalu menatapku lekat-lekat. Sesaat kemudian, dia mengangguk lega dan kembali menyesap hot chocolate-nya.
Aku akhirnya berani bernapas lagi, bahkan tanpa sadar mengusap d**a sendiri yang rasanya nyaris copot karena takut membuatnya menangis.
Gerakan sebuah mobil yang berhenti di depan kafe menarik perhatianku. Melalui jendela kaca, kulihat sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di tepi trotoar, hanya beberapa langkah dari tempat Savana berdiri.
Pintu pengemudi terbuka.
Seorang pria keluar dari balik sedan itu. Jas gelap yang dikenakannya tampak dijahit dengan presisi, sementara setiap langkahnya memancarkan ketenangan dan wibawa yang sulit diabaikan. Dia membawa diri seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah—dan terbiasa dipatuhi.
Pria itu berjalan lurus menghampiri Savana.
Dari balik jendela kafe, kulihat tubuh Savana seketika menegang. Tatapannya yang semula lembut berubah dingin, seolah sebuah benteng tak kasatmata kembali berdiri di sekelilingnya.
Sunny yang sedang menikmati hot chocolate sama sekali tidak menyadari kedatangan pria itu.
Melalui jendela kaca besar kafe, aku memperhatikan mereka dari kejauhan. Aku tidak dapat mendengar sepatah kata pun yang mereka ucapkan, tetapi bahasa tubuh keduanya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa percakapan itu sama sekali tidak berjalan baik.
Jacob berdiri tegak di hadapan Savana dengan sikap yang begitu dominan. Salah satu tangannya terselip di saku celana bahan, sementara tatapannya tak pernah lepas dari wajah Savana.
Sebaliknya, Savana melipat kedua tangan di depan d**a. Dagunya sedikit terangkat, tatapannya dingin dan penuh kewaspadaan—ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Mereka saling bertukar kata selama beberapa saat.
Lalu, tanpa peringatan, Jacob mengalihkan pandangannya ke arah kafe.
Tatapan kami bertemu.
Sorot matanya dingin, tajam, dan penuh penilaian. Hanya berlangsung beberapa detik, tetapi entah kenapa cukup membuatku merasa seolah sedang diperingatkan untuk tidak ikut campur.
Tak lama kemudian, percakapan itu berakhir. Jacob berbalik dan bersandar santai di kap mobil mewahnya, seolah yakin Savana akan melakukan apa yang diinginkannya.
Denting bel pintu berbunyi pelan ketika Savana kembali memasuki kafe.
Langkahnya terburu-buru. Bunyi tumit sepatunya berketuk cepat di atas lantai, sementara wajahnya tampak jauh lebih pucat dibanding beberapa menit yang lalu. Jemarinya bahkan bergetar samar saat meraih tas yang tergeletak di atas meja.
"Sunny, Sayang ... kita harus pergi sekarang," ucapnya lirih, berusaha terdengar setenang mungkin meski napasnya masih belum sepenuhnya teratur.
Sunny mendongak. Jemari mungilnya masih melingkari gagang cangkir keramik.
"Mami ... kelincinya masih ada sedikit lagi."
Savana memejamkan mata sesaat, lalu berlutut di samping putrinya. Dengan lembut, dia mengusap pipi Sunny.
"Nanti Mami buatkan lagi di rumah, ya?" Savana mengusap rambut Sunny. "Jacob ..."
Dia terdiam sesaat, lalu mengembuskan napas pelan.
"Maksud Mami, Papi sudah menunggu di luar.”
Binar di mata Sunny perlahan memudar. Jemari mungilnya perlahan melepas gagang cangkir. Tanpa merengek atau membantah, dia turun dari kursinya.
Melihat itu, dadaku justru terasa makin sesak.
Jadi pria di luar itu ...
Jacob. Suami Savana. Ayah Sunny.
Dadaku mendadak terasa sesak. Harapan kecil yang baru saja tumbuh di dalam hatiku runtuh bahkan sebelum sempat berkembang.