Savana berdiri, menggendong Sunny dengan satu tangan, sementara tangan satunya meraih tas di atas meja. Saat menatapku, sorot matanya dipenuhi rasa bersalah.
"Hunter, maaf ... aku harus pergi sekarang," ucapnya tergesa. "Terima kasih sudah menjaga Sunny."
"Savana, kau—"
"Aku tidak apa-apa," potongnya cepat.
Dia memaksakan seulas senyum yang begitu rapuh hingga membuat dadaku ikut terasa sesak. Tanpa memberi kesempatan bagiku untuk berkata apa pun, Savana berbalik dan bergegas menuju pintu.
Aku hanya bisa memandanginya dari balik jendela.
Jacob membuka pintu mobil untuknya. Setelah memastikan Savana dan Sunny masuk, dia menutup pintu, berjalan mengitari sedan hitam itu, lalu duduk di balik kemudi.
Beberapa detik kemudian, mobil itu melaju meninggalkan Kafe Sunrise, menelan ketiga sosok itu bersama gelapnya malam.
Keheningan kembali memenuhi kafe.
Di atas meja, marshmallow berbentuk kelinci yang tadi begitu lucu kini telah tenggelam sepenuhnya di dalam cokelat hangat yang mulai mendingin.
Pandanganku bergeser pada cangkir Americano milik Savana yang nyaris tak tersentuh.
Kini, aku benar-benar menyadari betapa jauhnya dunia kami.
Di sana ada Jacob—dengan jas mahal, sedan mewah, dan wibawa seorang pria yang seolah terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Sementara aku …
Bahkan tidak punya hak untuk bertanya apakah Savana baik-baik saja.
***
Dua jam setelah kafe tutup, aku masih terduduk di tepi ranjang kamar sewaku. Kamar berukuran empat kali empat meter itu terasa lebih sempit dari biasanya. Di atas meja belajar, diktat Analisis Struktur terbuka begitu saja, tetapi tak satu pun isinya berhasil masuk ke kepalaku.
Yang terus berputar di benakku justru sedan hitam mewah itu, cangkir hot chocolate Sunny dengan marshmallow kelinci yang telah tenggelam, dan wajah Savana yang mendadak berubah dingin saat menerima telepon.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunanku.
Aku berdecak pelan dan melirik jam dinding. Pukul sebelas malam.
Siapa pula yang bertamu selarut ini di rumah co-living ini?
Dengan enggan aku bangkit, berniat menyuruh siapa pun di balik pintu untuk kembali besok. Namun, kata-kata itu langsung tertahan ketika pintu terbuka.
Rose berdiri di ambang pintu.
Dia mengenakan hoodie beritsleting dipadukan dengan celana piama. Rambutnya dikucir seadanya, sementara kedua tangannya membawa sebuah wadah makanan yang masih mengepulkan uap hangat, lengkap dengan dua sendok.
"Aku tahu kau belum tidur." Sudut bibirnya terangkat jahil. "Dan aku juga tahu kau belum makan malam."
Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah masuk.
"Ibuku baru kirim sup daging tadi sore. Kebanyakan kalau kumakan sendiri."
"Rose, ini sudah hampir tengah malam," tegurku, berusaha terdengar tegas.
Sayangnya, perutku memilih saat yang paling memalukan untuk berbunyi begitu aroma gurih sup itu memenuhi kamar.
Rose terkekeh pelan. "Bahkan perutmu membelaku."
Dia duduk lesehan di lantai, meletakkan wadah sup di antara kami, lalu menepuk lantai di sampingnya.
"Ayo. Cerita. Mukamu sangat kusut. Ada apa di kafe hari ini?"
Aku mengembuskan napas panjang. Pada akhirnya, aku menyerah. Aku ikut duduk di sampingnya, sementara Rose mendorong wadah sup itu ke tengah agar kami bisa makan bersama.
Kami makan dalam diam selama beberapa menit. Kehangatan kuah sup itu perlahan mengendurkan sesak di dadaku, tetapi bayangan Jacob tetap enggan meninggalkan pikiranku.
"Dia membawa anaknya ke kafe," ucapku akhirnya, memecah keheningan. "Namanya Sunny. Umurnya empat tahun."
Rose mengangguk pelan, membiarkanku melanjutkan.
"Bukan cuma itu." Aku mengembuskan napas pelan. "Suaminya ... Jacob. Dia datang menjemput mereka tadi. Sedan mewah, jas mahal ... terlihat seperti orang yang hidupnya sudah mapan."
Tawa hambar lolos dari bibirku.
"Sedangkan aku?" Aku menunduk menatap sup yang mulai mendingin. "Aku hanya mahasiswa yang bekerja paruh waktu sebagai waitstaff di kafe. Perbandingan kami terlalu jauh."
Aku memejamkan mata sejenak, lalu mengusap wajah dengan kasar.
"Lagi pula ..." suaraku mengecil. "Aku tidak mungkin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain."
Dadaku kembali terasa sesak.
"Aku harus melupakannya."
Rose perlahan meletakkan sendoknya. Dia merapatkan kedua lututnya, lalu menatapku dengan sorot mata yang sulit kuterjemahkan.
"Hunter," panggilnya pelan. "Apa kau sudah memastikan kalau mereka memang masih bersama?"
Aku menoleh, mengernyit.
"Maksudmu?”
"Maksudku, coba pikir lagi," ujar Rose. "Kau sendiri melihat bagaimana dia duduk di meja sudut itu. Dia bekerja berjam-jam, kan?"
Aku mengangguk pelan.
"Kalau suaminya memang semapan itu, apa menurutmu Savana masih perlu bekerja sekeras itu?"
Aku menyandarkan tubuh ke dinding.
"Bisa saja dia memang tipe perempuan yang tidak suka bergantung pada suaminya."
“Itu masuk akal.” Rose menyandarkan kepalanya di tepi ranjangku sebelum melanjutkan, "Tapi ... entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.”
Tiba-tiba Rose menegakkan tubuhnya, seolah baru teringat sesuatu.
"Hunter ..." Tatapannya mengunci mataku. "Selama kau memperhatikan Savana di kafe, apa kau pernah melihat dia memakai cincin nikah?"
Aku mengernyit.
Bayangan jemari Savana yang menggenggam cangkir kopi, membalik halaman buku, hingga mengusap pipi Sunny satu per satu terlintas di kepalaku.
"... Tidak," jawabku pelan.
Keheningan menyelimuti kamar selama beberapa saat.
"Bisa saja ada banyak kemungkinan," gumamku. "Mungkin dia memang sengaja melepas cincin itu saat bekerja. Atau memang tidak terbiasa memakainya."
Ya, semua itu terdengar masuk akal.
Hanya saja, bayangan wajah Savana saat menerima telepon Jacob kembali memenuhi pikiranku. Wajah yang seketika kehilangan kehangatannya, seolah tengah mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang enggan dia hadapi.
Rose menarik napas pelan. "Tapi ... bagaimana kalau mereka sudah tidak bersama lagi?"
Aku langsung menoleh.
"Mereka masih bersama," kataku mantap, lebih seperti sedang meyakinkan diriku sendiri daripada Rose. "Meskipun ... dari luar kelihatannya mereka memang sedang tidak baik-baik saja."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Mungkin itu cuma pertengkaran suami istri biasa, Rose. Rumah tangga mana yang tidak pernah mengalami masa sulit?"
Aku mengembuskan napas pelan sebelum melanjutkan,
"Lagi pula, Jacob datang menjemput mereka. Savana ikut pulang bersamanya. Kalau hubungan mereka benar-benar sudah berakhir, kupikir dia tidak akan masuk ke mobil itu semudah tadi."
Rose terdiam. Dia hanya menatapku lama, seolah ada sesuatu yang ingin diucapkannya. Lalu, pada akhirnya dia mengurungkan niatnya.
"Ya ..." gumamnya pelan sambil mengalihkan pandangan ke jendela yang gelap. "Mungkin kau benar. Mungkin itu hanya pertengkaran suami istri biasa.”
Rose akhirnya berdiri setelah memastikan aku menghabiskan sup yang tersisa. Dia membawa wadah kosong itu, mengucapkan selamat malam, lalu meninggalkan kamarku.
Setelah pintu tertutup, kesunyian kembali memenuhi ruangan.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Percakapanku dengan Rose terus berputar di kepala.
Bagaimana kalau mereka sudah tidak bersama lagi?
Pertanyaan itu sempat membuat harapan kecil kembali muncul.
Aku menggeleng pelan, memaksa diriku kembali berpijak pada kenyataan.
Tidak. Mereka masih bersama.
Apa pun yang sedang terjadi di antara mereka, Jacob tetap datang menjemput Savana dan Sunny malam ini. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengingatkanku agar tidak membiarkan perasaanku melangkah lebih jauh.
Aku menarik napas panjang, lalu memejamkan mata.
Mulai besok ...
Aku harus belajar melupakan Savana.