Seminggu berlalu sejak malam ketika sedan hitam itu menjemput Savana. Aku berusaha keras menjalankan keputusanku.
Setiap kali datang ke kafe, aku memusatkan seluruh perhatianku pada pekerjaan. Aku mengelap meja hingga benar-benar bersih, memastikan susunan piring di etalase sejajar sempurna—bahkan sampai Nyonya Margaret yang biasanya selalu menemukan sesuatu untuk dikritik kehabisan alasan untuk mengomeliku.
Aku memaksa diri bersikap profesional.
Jika Savana datang, aku hanya akan menjadi Hunter, seorang pelayan kafe.
Tidak lebih.
Namun, mengatur logika di kepala ternyata jauh lebih mudah daripada mengendalikan mata ketika orang yang ingin kuhindari benar-benar muncul.
Kamis sore, bel pintu kafe berdenting.
Aku yang sedang mengelap cangkir di balik meja bar refleks menoleh.
Savana melangkah masuk sendirian.
Dia tampak lelah. Jauh lebih lelah dari biasanya. Jas kerjanya terlipat di salah satu lengan, sementara tas laptop yang menggantung di bahunya terlihat berat.
Pandangannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti padaku. Untuk sesaat, guratan lega melintas di wajahnya.
Dia memesan seperti biasa, lalu berjalan menuju meja sudut favoritnya. Sementara aku hanya berdiri diam, memperhatikannya.
Aku mengeratkan pegangan pada lap di tanganku, berusaha kembali fokus pada pekerjaan. Namun, pandanganku terus saja kembali tertuju padanya.
Baru setelah barista selesai menyiapkan pesanan Savana, aku akhirnya bergerak.
"Aku yang antar kopinya," ucapku pada waitstaff lain sebelum dia sempat mengambil nampan.
Rose yang berdiri tidak jauh dariku menoleh. Salah satu alisnya terangkat. "Yakin?" tanyanya. "Bukannya kau mau jaga jarak?"
"Aku cuma mengantar pesanan, Rose," jawabku tegas. Entah kenapa, kalimat itu terdengar lebih seperti usaha meyakinkan diriku sendiri.
Aku melangkah menuju meja sudut.
Savana sudah bersandar di kursinya dengan mata terpejam. Jemarinya memijat pangkal hidung, seolah berusaha meredakan lelah yang menumpuk.
"Satu Americano," kataku pelan sambil meletakkan cangkir di hadapannya.
Savana membuka mata. Tatapannya berpindah dari cangkir itu kepadaku.
"Terima kasih, Hunter." Dia terdiam sejenak. "Dan maaf ... soal Sabtu malam kemarin. Aku pergi begitu saja tanpa pamit dengan benar."
"Tidak apa-apa," jawabku hati-hati. "Urusan keluarga memang lebih penting."
Aku sengaja menekankan kata terakhir itu. Keluarga. Sebuah pengingat untuk diriku sendiri tentang batas yang tidak boleh kulewati.
Savana terdiam.
Jemarinya yang semula hendak meraih cangkir membeku di udara. Dia menatapku lekat-lekat, seolah berusaha memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, aku sudah lebih dulu menarik diri.
"Selamat menikmati kopinya," ucapku singkat, memberi anggukan sopan, lalu berbalik dan melangkah cepat ke balik meja bar.
Aku segera meraih kain lap, menggosokkannya ke permukaan meja yang sebenarnya sudah bersih mengilap.
Dari sudut mata, aku masih bisa merasakan tatapan Savana mengikutiku.
Jam-jam berikutnya berlalu dalam keheningan yang melelahkan. Aku menyibukkan diri dengan pekerjaan ... dan berpura-pura tidak melirik meja sudut.
Pukul delapan malam, shift kerjaku akhirnya berakhir.
Setelah berganti pakaian dan menggantung apron di loker, aku berjalan menyusuri sisi bangunan menuju area parkir motor. Angin malam berembus dingin, menembus jaket tipis yang kukenakan.
"Hunter!"
Aku menoleh.
Savana berdiri beberapa langkah dariku. Tas laptop tersampir di bahunya, sementara kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuh, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanyaku.
Dia tersenyum tipis, agak canggung.
"Maaf mengganggumu sepulang kerja. Aku tadi sudah coba pesan taksi daring, tapi tidak ada yang mau mengambil pesanan." Dia tersenyum kecut. "Bisa ... mengantarku pulang?”
Aku membeku beberapa detik sebelum menggaruk tengkuk.
"Boleh saja, tapi ..."
Aku menunjuk motorku.
"Aku hanya bawa satu helm."
Savana tampak berpikir sejenak.
"Rumahku dekat, kok."
Aku langsung menggeleng.
"Tetap saja tidak boleh. Ini soal keselamatan."
Savana terkekeh pelan.
"Tenang. Aku akan berpegang erat padamu."
Itu justru terdengar jauh lebih berbahaya.
Savana memiringkan kepala. "Please. Cuma sepuluh menit."
Aku terdiam.
Dia benar-benar tidak seharusnya memasang wajah memohon seperti itu. Dan entah sejak kapan kepalaku lebih dulu mengangguk sebelum logikaku sempat ikut berpikir.
Beberapa menit kemudian, kami sudah melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Begitu motor bergerak, tangan Savana perlahan melingkar di pinggangku.
Seluruh tubuhku langsung menegang. Aku mencengkeram setang lebih erat, berusaha mengingatkan diri sendiri agar tetap fokus pada jalan di depan.
"Maaf," ucap Savana dari belakang. "Aku takut jatuh."
"Ti-tidak apa-apa," jawabku cepat, meski suaraku terdengar jauh lebih kaku daripada yang kuinginkan.
Angin malam berembus pelan, membawa aroma sampo dan parfum lembut Savana yang sesekali singgah di indera penciumanku.
Aku menarik napas panjang.
Tenang, Hunter. Fokus menyetir.
"Kau selalu pulang selarut ini?" tanya Savana tiba-tiba.
"Kalau dapat shift malam."
"Berat, ya. Kuliah sambil kerja."
Aku tersenyum tipis, tetap memusatkan perhatian pada jalan.
"Kau sendiri bagaimana di kampus, Hunter? Tugasmu tidak terlalu menumpuk?"
"Lumayan banyak tugas kelompok, tapi masih bisa dikejar," jawabku singkat.
"Baguslah," gumamnya. "Aku sempat khawatir pekerjaan di kafe ini membuat kuliahmu terbengkalai."
"Tidak, kok. Tuan Gerald cukup fleksibel."
Setelah itu, keheningan kembali mengambil alih. Aku sengaja tidak mengajukan pertanyaan balasan ataupun mencari bahan obrolan baru. Setiap kali Savana berbicara, aku hanya mengangguk, tersenyum tipis, atau menjawab seperlunya.
Karena kalau terus membiarkan percakapan mengalir, aku tahu keputusanku untuk melupakan Savana akan runtuh sedikit demi sedikit.
"Hunter," panggilnya setelah beberapa saat.
"Ya?"
Aku tidak bisa melihat ekspresinya, tetapi bisa merasakan jemarinya di pinggangku perlahan menegang.
"Sejak tadi sore di kafe ... kau kelihatan kaku sekali." Dia terdiam sejenak. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Aku menelan ludah.
"Tidak." Aku berusaha terdengar biasa. "Aku hanya sedikit lelah karena tugas kuliah."
"Kau yakin?"
"Kenapa memangnya?"
Begitu pertanyaan itu keluar dari mulutku, aku langsung menyesal. Seharusnya aku diam saja.
"Karena ..." suara Savana terdengar pelan di balik punggungku, "kalimatmu di kafe tadi."
Jantungku berdetak lebih cepat.
"Yang tentang ... urusan keluarga."
Aku hampir tersedak ludah sendiri.
Sial.
"Ah ... itu …”
Aku mencari-cari kalimat yang tepat, tetapi semuanya terdengar salah.
"Maaf kalau aku lancang," lanjut Savana. "Waktu kau bilang 'urusan keluarga lebih penting'... rasanya seperti kau sedang berusaha mengingatkanku akan sesuatu."
Aku terdiam.
"Aku hanya berpikir ..." gumamku hati-hati. "Jacob suamimu. Jadi kupikir memang ada urusan keluarga yang harus didahulukan."
Hening.
Angin malam kembali berembus, menerbangkan ujung rambut Savana yang sesekali menyentuh tengkukku. Pelukannya di pinggangku perlahan mengendur.
"Hunter …”
Suaranya begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh deru mesin motor.
"Tidak semua yang terlihat dari luar ... benar-benar seperti itu."
Aku mengernyit.
"Maksudmu?"
Savana tidak langsung menjawab. Aku pun tidak mendesaknya. Kubiarkan keheningan mengisi perjalanan, menunggu sampai dia siap melanjutkan.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya kembali bersuara.
"Hubungan kami … jauh lebih rumit daripada yang kau bayangkan.”