Enam bulan sebelum malam yang mencekam di lorong bawah tanah rumah sakit itu, dunia Clara Anindita dipenuhi oleh warna-warni kelopak bunga dan kehangatan yang sederhana. Tidak ada lorong dingin beraroma antiseptik, tidak ada jas putih yang ternoda darah, dan tidak ada sepasang mata gelap yang menatapnya dengan pandangan sedingin iblis. Hidupnya mengalir tenang di antara harum mawar, anyelir, dan lili yang memenuhi sudut-sudut toko bunga kecil miliknya, Gema Nurani.
Toko itu terletak di salah satu sudut distrik urban yang tidak terlalu ramai, sebuah bangunan tua berlantai dua yang diwariskan oleh mendiang ibunya. Bagi Clara, toko bunga ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan tempatnya merajut mimpi.
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya naik, Clara sudah sibuk memotong batang-batang berduri, merapikan daun, dan menyusun buket-buket indah sembari menyenandungkan lagu-lagu ceria.
"Clara, anyelir merah di depan sudut pot harus dipindah, ya? Supaya tidak terlalu banyak terkena matahari langsung," sebuah suara bariton yang renyah memecah keheningan pagi.
Clara menoleh, dan sebuah senyuman tulus langsung merekah di bibir mungilnya. Di ambang pintu toko, berdiri seorang pria muda dengan kaus katun polos yang sedikit pudar dan celana jin belel. Tangannya yang kecokelatan memegang sebuah kotak perkakas kecil.
Dia adalah Reno. Kekasih Clara sejak masa kuliah, pria sederhana yang telah menemaninya berjuang dari titik paling bawah dalam hidupnya.
Reno tidak memiliki garis keturunan aristokrat, tidak mengendarai mobil sport mewah, dan tidak memiliki setelan jas mahal. Dia hanyalah seorang mekanik di sebuah bengkel motor lokal, pria yang tangannya sering kali menyisakan bekas oli hitam di sela-sela kuku, namun memiliki hati yang paling bersih yang pernah Clara temui.
"Reno? Kamu sudah datang? Bukankah shift bengkelmu baru mulai siang nanti?"
Clara meletakkan gunting bunganya, lalu berjalan mendekat sembari menyeka keringat tipis di dahinya dengan ujung celemek kain.
Reno terkekeh pelan, meletakkan kotak perkakasnya di atas meja kayu toko. Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan sebotol s**u kotak dingin dan sebungkus nasi uduk hangat, lalu menyodorkannya pada Clara.
"Aku tahu kamu pasti melewatkan sarapan lagi karena asyik mengurus kiriman mawar dari Lembang tadi subuh. Makan dulu, Clara. Nanti maag-mu kambuh."
Clara menerima bungkusan itu dengan binar mata yang penuh rasa terima kasih. Di sinilah letak kebahagiaan Clara. Dia tidak membutuhkan kemewahan yang megah. Perhatian kecil yang konsisten dari Reno, cara pria itu memastikan dirinya sudah makan, dan binar ketulusan di mata Reno saat menatapnya sudah lebih dari cukup untuk membuat Clara merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Mereka duduk berdampingan di kursi kayu panjang di teras toko. Di luar, jalanan mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan. Sembari Clara menyuap sarapannya, Reno dengan telaten mulai memeriksa engsel pintu toko bunga yang sempat mengeluh beberapa hari lalu, melumasinya dengan minyak agar tidak lagi berdecit.
"Clara," panggil Reno di sela-selas kesibukannya mengetuk engsel besi.
"Ya?"
Reno menghentikan kegiatannya sebentar. Dia menatap Clara, tatapannya mendadak berubah menjadi lebih dalam, menyiratkan garis keseriusan yang bercampur dengan rasa gugup yang samar. Dia menyeka tangannya yang kotor ke selembar kain lap, lalu bergeser duduk lebih dekat di samping Clara.
"Tabunganku untuk uang muka rumah sederhana di pinggiran kota sudah hampir separuh jalan," kata Reno, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan harapan masa depan.
"Kalau bulan ini aku bisa mengambil banyak lemburan pasang mesin, kurasa akhir tahun kita sudah bisa mulai mencari kaplingan yang cocok. Aku... aku ingin segera membangun tempat berteduh yang layak untukmu, Clara. Aku tidak ingin kamu terus-menerus tidur di kamar lantai atas toko yang sempit dan pengap ini."
Hati Clara bergetar mendengar penuturan itu. Dia tahu betapa kerasnya Reno bekerja. Pria itu sering kali pulang dengan punggung yang pegal-pegal dan tangan yang terluka akibat gesekan besi mesin, semuanya demi bisa mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk masa depan mereka bersama.
"Reno, aku tidak pernah keberatan tinggal di sini," Clara menyentuh lengan Reno yang kokoh, mengusapnya dengan kelembutan yang menenangkan. "Di mana pun tempatnya, asalkan itu bersamamu, aku akan selalu merasa cukup."
Reno menatap tangan Clara yang berada di atas lengannya. Kontras yang kentara terlihat di sana tangan Clara yang putih, halus, dan harum aroma nektar bunga, bersanding dengan tangannya yang kasar dan berbau pelumas. Namun, Reno tidak pernah merasa minder, karena Clara selalu memperlakukannya seolah-olah dia adalah ksatria paling berharga di dunia ini.
"Aku tahu kamu gadis yang baik, Clara. Justru karena kamu tidak pernah menuntut apa-apa dariku, aku merasa harus memberikan yang terbaik yang aku mampu," Reno menggenggam jemari Clara, membawa tangan gadis itu ke bibirnya, memberikan seulas kecupan yang hangat dan penuh rasa hormat di punggung tangan Clara.
"Tunggulah sebentar lagi, ya? Aku akan memastikan kita bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius segera."
Clara mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Reno yang lebar. Di bawah kehangatan sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah daun tanaman gantung di teras toko, Clara merasa masa depannya sudah tertata dengan sangat indah. Sebuah kehidupan yang damai, penuh cinta yang jujur, dan jauh dari segala bentuk kepalsuan dunia.
Namun, di tengah momen romantis yang sederhana itu, Clara tidak pernah menyadari bahwa di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca yang sangat gelap tengah terparkir diam sejak satu jam yang lalu.
Di dalam mobil yang sejuk oleh hawa pendingin ruangan, sepasang mata gelap tengah mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari balik kemudi. Pria di dalam mobil itu mencengkeram setir kulitnya dengan kekuatan yang perlahan membuat buku-buku jarinya memutih. Tatapan matanya yang tajam mengunci siluet Clara yang sedang tertawa lepas mendengarkan lelucon Reno.
Bagi pria di dalam mobil itu, senyuman Clara yang murni dan tulus adalah sebuah anomali di tengah-tengah kehidupannya yang dipenuhi oleh darah, pengkhianatan, dan keserakahan. Kemurnian gadis itu menarik sisi paling gelap dari dalam dirinya sebuah obsesi instan yang menuntut kepemilikan mutlak.
Pria itu meraba saku jas dokternya, mengeluarkan sebuah pulpen perak mahal, lalu mencatat nama toko bunga tersebut di atas secarik kertas kecil: Gema Nurani.
Adrian Marcello, yang saat itu sedang berada di titik jenuh tertinggi akibat perang wilayah mafia yang berdarah, baru saja menemukan sebuah "cahaya" yang ingin dia miliki sendirian dalam sangkar emasnya. Dan baginya, keberadaan pria sederhana seperti Reno di samping Clara hanyalah sebuah kerikil kecil yang mengganggu pemandangan—sebuah hama yang harus segera dia singkirkan dengan cara yang paling bersih dan tak kentara.
Clara, yang masih bersandar nyaman di bahu Reno, tiba-tiba merasakan firasat dingin yang aneh berdesir di tengkuknya. Dia menegakkan tubuhnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling jalanan, namun tidak menemukan apa pun selain keramaian kota yang biasa.
"Ada apa, Clara?" tanya Reno menyadari perubahan ekspresi kekasihnya.
"Tidak ada apa-apa," Clara menggeleng pelan, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang mendadak muncul. Dia kembali tersenyum, menatap mata Reno yang teduh. "Hanya... tiba-tiba anginnya terasa agak dingin."
Reno tersenyum, lalu melepas jaket jins luarnya dan menyampirkannya di pundak Clara dengan penuh kasih. "Sekarang sudah tidak dingin lagi, kan?"
Clara tertawa kecil, mengeratkan jaket milik Reno di tubuhnya. Aroma parfum murah khas Reno yang bercampur bau detergen pakaian menyeruak, memberikan rasa aman yang instan.
Clara memejamkan matanya, menikmati detik-detik kebahagiaan itu, sama sekali tidak menyadari bahwa waktu yang dimilikinya bersama pria yang dicintainya ini sudah mulai dihitung mundur oleh takdir yang dikendalikan oleh seorang iblis berjas putih.