Bagi dunia bawah yang berlumuran darah dan mesiu, nama Adrian Marcello adalah sinonim dari ketakutan yang senyap. Pria berdarah campuran Italia-Indonesia itu memegang kendali atas separuh jalur penyelundupan senjata api dan jaringan kasino eksklusif di kota metropolis ini.
Namun, tiga minggu terakhir telah menjadi neraka yang menguras habis sisa-sisa kesabaran dinginnya. Perang wilayah melawan faksi saingan dari pelabuhan utara memaksa Adrian terjaga selama berhari-hari, memimpin eksekusi, dan menyusun strategi pembersihan yang melelahkan.
Siang itu, udara kota terasa membakar. Adrian berada di dalam mobil sedan hitamnya yang antipeluru, baru saja kembali dari sebuah pertemuan rahasia di pinggiran kota yang berakhir dengan dua mayat pengkhianat terkunci di dalam bagasi mobil anak buahnya. Kepalanya berdenyut hebat. Stres yang akut membuat rahang tegasnya mengatup rapat, dan jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam mengetuk setir dengan ritme yang tidak sabar. Dia membutuhkan pengalihan, atau seseorang akan mati lagi hari ini karena emosinya yang tertahan.
Saat mobilnya terjebak dalam kemacetan parah di sebuah distrik urban yang agak menua, tatapan Adrian yang jenuh menyapu deretan ruko di tepi jalan. Dan di sanalah, di antara dinding-dinding beton yang kusam dan abu-abu, matanya mengunci sebuah pemandangan yang seketika menghentikan detak jam di dalam kepalanya.
Sebuah papan kayu tua bertuliskan Gema Nurani tergantung agak miring di atas ruko kecil. Namun, bukan papan itu yang menyita seluruh atensi Adrian. Melainkan sosok gadis yang sedang berdiri di terasnya.
Gadis itu Clara Anindita sedang memegang sebuah wadah penyiram kuningan kuno. Dia mengenakan gaun katun sederhana berwarna putih gading dengan celemek kain bermotif linen. Rambut panjang bergelombangnya diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang polos tanpa riasan tebal.
Clara sedang menyiram deretan pot mawar merah dan lili yang berjejer di rak besi. Di bawah bias cahaya matahari siang yang menembus celah gantung, bulir-bulir air yang keluar dari wadah penyiramnya berkilau seperti berlian kecil yang beterbangan.
Lalu, sebuah senyuman terbit di bibir mungil gadis itu. Itu bukan jenis senyuman artifisial penuh kepalsuan yang biasa Adrian lihat pada wanita-wanita sosialita atau para p*****r kelas atas yang kerap mengelilingi mejanya di kasino. Itu adalah senyuman yang murni, lepas, dan begitu tulus ketika dia melihat seekor kupu-kupu kecil hinggap di atas kelopak mawar yang baru saja dibasahinya.
Senyuman yang memancarkan aura kedamaian yang begitu mutlak, seolah-olah dunia di sekitarnya tidak pernah disentuh oleh kejahatan, kemiskinan, atau penderitaan.
Di dalam mobil yang kedap suara dan dingin, Adrian Marcello membeku.
Denyut hebat di kepalanya mendadak sirna, digantikan oleh keheningan yang asing bagi jiwanya. Adrian menurunkan kaca mobilnya yang gelap sedikit, hanya sekitar dua inci, membiarkan aroma angin jalanan masuk bercampur dengan sayup-sayup harum nektar bunga yang terbawa angin dari seberang jalan.
Sisi gelap di dalam d**a Adrian bagian dari dirinya yang paling purba, kejam, dan egois mendadak menggeliat bangun dengan intensitas yang mengerikan. Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, Adrian selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan kekerasan atau uang. Dia hidup di dunia yang hitam, di mana setiap orang memiliki harga dan setiap kesetiaan bisa dibeli.
Namun gadis di seberang jalan itu... dia tampak seperti selembar kertas putih bersih yang belum pernah ternoda oleh setitik pun tinta hitam. Dia adalah perwujudan dari kemurnian yang tidak pernah Adrian miliki, sesuatu yang begitu suci hingga memicu insting predator di dalam darah Adrian untuk bergerak.
Aku menginginkannya. Kata-kata itu tidak muncul sebagai sebuah pemikiran santai, melainkan sebagai sebuah dekret absolut dari seorang penguasa dunia bawah. Adrian tidak hanya ingin melihat kemurnian itu; dia ingin memilikinya secara mutlak. Dia ingin mengurung gadis itu di dalam dunianya, mengisolasinya dari seluruh pria lain, dan memastikan bahwa senyuman tulus itu hanya akan tercipta karena dirinya.
Sifat posesif dan obsesif yang menjadi bakat alaminya sejak kecil kini bangkit dan mengunci Clara sebagai target utama. Namun, momen kekaguman yang gelap itu terganggu ketika seorang pria muda dengan pakaian kasual yang agak kotor oleh pelumas berjalan keluar dari dalam toko bunga. Pria itu Reno tersenyum lebar, lalu tanpa ragu meraih sebelah tangan Clara dan mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya yang kasar. Clara tidak menghindar; dia justru menyandarkan wajahnya di telapak tangan pria itu, lalu tertawa lepas bersama-sama.
Mata Adrian menyipit seketika. Sinar kehangatan yang sempat menghiasi matanya berubah menjadi kilatan sedingin es dalam sekejap mata.
Cengkeraman tangan Adrian pada setir mobil mengencang hebat, membuat kulit sarung tangannya berdecit keras. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.
Ada rasa tidak terima yang luar biasa membakar dadanya melihat tangan kotor pria itu menyentuh kulit halus Clara. Baginya, pemandangan itu terlihat sangat salah. Gadis seindah dan sesuci itu tidak seharusnya bersanding dengan seorang pria kelas pekerja rendahan yang berbau oli. Pria itu tidak layak berada di dekat "cahaya" miliknya.
"Pria itu mengotori pemandangan," bisik Adrian pada dirinya sendiri, suaranya sangat rendah, sedingin angin malam di pemakaman.
Adrian meraba saku bagian dalam jas dokternya hari itu dia memang sengaja mengenakan pakaian medis karena memiliki jadwal formal untuk mengunjungi rumah sakit yayasan milik keluarganya sebagai penyamaran publiknya.
Dia mengeluarkan sebuah pulpen perak dan secarik kertas nota kecil. Dengan gerakan tangan yang terlatih dan presisi, dia menuliskan nama toko bunga tersebut: Gema Nurani.
Dia menatap kertas itu selama beberapa detik, sebelum melipatnya dan memasukkannya kembali ke balik saku.
Adrian kembali menatap ke seberang jalan. Clara kini sedang memakai jaket jins milik Reno yang kebesaran di tubuh mungilnya. Senyumnya masih ada di sana, melekat pada pria kelas pekerja itu.
"Tersenyumlah sesukamu untuk saat ini, Sayang," gumam Adrian di balik kaca mobil yang gelap, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat manipulatif dan berbahaya.
"Nikmati sisa waktu yang kamu miliki bersamanya. Karena segera, aku sendiri yang akan menghapus pria itu dari hidupmu, dan memastikan kamulah yang akan memohon untuk berada di dalam sangkarku."
Lampu lalu lintas di depan berubah hijau. Klakson mobil di belakangnya mulai bersahut-shutan. Adrian perlahan menginjak pedal gas, membuat sedan hitam itu bergerak maju dengan tenang, membelah keramaian dan perlahan menghilang di balik tikungan jalan.
Dia pergi, namun jiwanya telah tertinggal di toko bunga itu. Adrian Marcello telah menandai mangsanya. Dan di dalam kamus hidup seorang Marcello, begitu sang predator telah mengunci pandangannya pada seekor merpati yang suci, maka hanya ada dua pilihan yang tersisa bagi merpati itu: tunduk di bawah cengkeramannya, atau patah sayap di dalam genggamannya.
Rencana penyingkiran yang halus, manipulatif, dan berdarah dingin baru saja lahir di kepala sang bos mafia, tepat di bawah sinar matahari siang yang cerah.