Hari itu, langit di atas ruko Gema Nurani perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan yang hangat. Aroma tanah kering yang tersiram air sisa penyiraman sore berpadu dengan keharuman mawar yang sedang mekar penuh. Bagi Clara, sore ini terasa sedikit berbeda. Ada letup-letup kegembiraan yang aneh di dalam dadanya, terutama setelah Reno mengirimkan pesan singkat satu jam yang lalu, memintanya untuk tidak menutup toko terlebih dahulu karena ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan.
Lonceng pintu toko berdenting. Clara mendongak, mengharapkan sosok tinggi berjas putih yang biasanya datang pukul lima sore untuk menukar lili layunya. Namun, yang melangkah masuk adalah Reno.
Pria itu tidak mengenakan pakaian kerjanya yang bernoda pelumas. Sore ini, Reno tampak sangat rapi dengan kemeja flanel kotak-kotak biru dan celana jin hitam yang bersih. Rambutnya yang biasa acak-acakan kini disisir rapi ke belakang, menyisakan aroma sabun mandi yang segar. Wajahnya yang tegas tampak tegang, dengan rona merah yang samar di kedua pipinya.
"Reno? Kamu... rapi sekali?" Clara terkekeh pelan, meletakkan celemek kainnya di atas meja konter.
"Ada acara apa? Bukankah shift bengkelmu baru selesai?"
Reno tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati Clara dengan langkah yang tidak biasa setengah ragu, namun dipenuhi oleh bera kekuatan tekad yang besar. Tangannya meraba saku celananya, mencengkeram sebuah benda kecil di dalam sana untuk menyembunyikan tremor di jemarinya.
"Clara," panggil Reno. Suaranya serak, sarat akan emosi yang tertahan.
"Ya?" Clara memiringkan kepalanya,
menatap mata kekasihnya yang biasanya teduh, namun kini memancarkan keseriusan yang amat dalam.
Reno meraih kedua belah tangan Clara, menggenggamnya erat. Kulit tangannya yang kasar bergesekan dengan kulit halus Clara, memberikan rasa hangat dan aman yang selama ini selalu menjadi jangkar hidup bagi gadis itu.
"Dua tahun lalu, di tempat ini, aku berjanji padamu bahwa aku akan bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang layak," Reno menarik napas dalam-dalam, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Clara tanpa berkedip.
"Hari ini, tabunganku untuk uang muka rumah itu sudah mencukupi. Dan hari ini juga..."
Reno perlahan menurunkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di atas lantai kayu toko yang menebarkan wangi serutan kayu dan nektar bunga. Dari saku celananya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil yang sederhana. Ketika penutupnya dibuka, sebuah cincin perak polos tanpa permata mewah berkilat di bawah temaram lampu toko.
"Aku tahu ini bukan cincin emas bertakhta berlian mahal, Clara. Ini hanya cincin perak yang kubeli dari hasil lemburku sebulan ini," suara Reno bergetar, namun matanya berkaca-kaca penuh ketulusan yang murni.
"Tapi di dalam cincin ini, ada seluruh hidupku, seluruh cintaku, dan seluruh masa depanku yang kupertaruhkan untukmu. Clara Anindita... maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu berjalan bersamaku dari titik ini hingga rambut kita memutih?"
Air mata seketika merebak di pelupuk mata Clara. Seluruh pasokan udara di sekitarnya seolah digantikan oleh rasa haru yang membuncah. Ia tidak peduli dengan kesederhanaan cincin itu; ia tidak butuh kemewahan aristokrat. Yang ia lihat di depannya adalah seorang pria jujur yang mencintainya dengan seluruh jiwanya.
"Reno..." Clara terisak kecil, mengangguk cepat dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia miliki.
"Ya... ya, aku mau, Reno! Aku mau menikah bersamamu."
Reno mengembuskan napas lega yang luar biasa. Dengan tangan yang gemetar, ia menyematkan cincin perak itu ke jari manis Clara. Pas berselisih tanpa cela. Pria itu langsung bangkit, merengkuh tubuh mungil Clara ke dalam pelukan eratnya, memutar tubuh gadis itu di antara keharuman kelopak mawar yang menjadi saksi bisu janji suci mereka. Clara tertawa lepas, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata kebahagiaan di ceruk leher Reno.
Mereka berada di puncak kebahagiaan tertinggi mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, waktu untuk mereka telah habis.
Di seberang jalan, di dalam kabin mobil sedan hitam yang gelap dan kedap suara, atmosfer berubah menjadi sebuah neraka jidat yang membekukan.
Adrian Marcello duduk di balik kemudi dengan postur tubuh yang luar biasa kaku. Stetoskop mahalnya tergeletak mengenaskan di lantai mobil, dicampakkan begitu saja. Matanya yang gelap gulita terkunci rapat pada kaca besar toko bunga Gema Nurani, merekam dengan detail presisi setiap fragmen adegan yang baru saja terjadi di dalam sana.
Ia melihat kotak merah itu. Ia melihat cincin murahan itu disematkan ke jari manis Clara. Dan yang paling menghancurkan kewarasannya: ia melihat senyuman Clara. Senyuman murni, lepas, dan penuh penyerahan diri yang selama satu minggu ini ia buru dengan topeng malaikatnya kini diberikan secara cuma-cuma kepada seorang mekanik miskin yang kotor.
Brak!
Cengkeraman tangan Adrian pada setir kulit membuat buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan bunyi decit yang mengerikan. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga gigi-giginya bergemeletuk. Hawa membunuh yang pekat dan dingin seketika memenuhi kabin mobil, membuat suhu udara yang diatur pendingin terasa seperti es yang menusuk tulang.
Ada rasa tidak terima, sebuah amarah purba yang egois dan posesif yang meledak di dalam d**a sang bos mafia. Baginya, pemandangan di seberang jalan itu adalah sebuah penistaan terhadap "cahaya" yang telah ia tandai sebagai miliknya.
"Berani sekali tangan kotor itu menyentuhnya..." bisik Adrian, suaranya sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan. Sudut bibirnya berkedut, membentuk seulas senyuman sinis yang luar biasa sadis.
"Kamu salah memilih pelindung, Clara manisku. Pria rendahan itu tidak akan bisa menjagamu dari badai yang akan kubawa."
Adrian merogoh saku dalam jas dokternya, mengeluarkan ponsel satelit khusus miliknya. Ia menekan satu tombol cepat, menghubungkannya langsung ke tangan kanan kepercayaannya di dunia bawah.
Panggilan langsung tersambung pada dering pertama.
"Ya, Tuan Marcello? Ada perintah?" suara berat di seberang telepon terdengar patuh.
Adrian tetap menatap lurus ke arah toko bunga, di mana Clara masih bersandar manja di d**a Reno. Tatapan mata Adrian kini sepenuhnya menjelma menjadi tatapan seorang predator yang siap merobek leher mangsanya. Topeng
"Dr. Adrian" telah tanggal, menyisakan sang monster yang haus darah.
"Laksanakan rencana pembersihan untuk target bernama Reno," perintah Adrian. Suaranya terdengar begitu tenang, sangat teratur, namun sarat akan titah kematian yang mutlak.
"Buat skenario yang bersih. Tabrak lari di pertigaan sepi saat dia pulang lembur malam. Pastikan tidak ada rekaman, tidak ada saksi, dan tidak ada sisa nyawa yang tertinggal."
"Baik, Tuan. Kapan eksekusi dilakukan?"
Adrian terdiam selama beberapa detik. Ia melihat Reno mengecup kening Clara dengan lembut di seberang jalan. Senyuman sadis di bibir tipis Adrian semakin melebar, memancarkan aura manipulatif yang mengerikan.
"Beri mereka waktu tiga minggu," bisik Adrian dingin.
"Biarkan mereka merayakan ilusi kebahagiaan itu sedikit lebih lama. Aku ingin melihat seberapa hancur merpati kecilku saat sayap pelindungnya dipatahkan dalam sekejap mata. Dan saat dia menangis di atas makam pria itu... di sanalah aku akan datang sebagai satu-satunya dewa penyelamatnya."
Adrian memutus panggilan sepihak. Ia melempar ponselnya ke kursi penumpang, lalu perlahan menginjak pedal gas. Sedan hitam itu bergerak maju dengan perlahan, meninggalkan area toko bunga Gema Nurani yang mulai temaram ditelan malam.
Malam itu, di bawah langit kota yang mulai meredup, sebuah cincin perak telah terpasang di jari manis Clara sebagai lambang cinta. Namun di saat yang sama, sebuah peti mati tak kasatmata telah dipesan oleh Adrian Marcello untuk pria yang menyematkannya.