Deru mesin sedan hitam yang antipeluru itu terdengar seperti geraman binatang buas yang tertahan di dalam kandang besi. Di dalam kabin yang senyap dan dingin, Adrian Marcello tidak lagi menyerupai manusia. Pria yang beberapa jam lalu dipuja di koridor rumah sakit sebagai dokter bedah berhati emas itu kini telah sepenuhnya ditelan oleh kegelapan yang menjadi identitas aslinya di dunia bawah.
Sepasang matanya yang gelap, sedingin kedalaman samudra tanpa cahaya, terpaku tanpa berkedip pada kaca besar toko bunga Gema Nurani. Di seberang jalan sana, di bawah pendar lampu neon toko yang berpendar kuning hangat, sebuah dunia yang ideal sedang tercipta. Dan di dalam dunia itu, Adrian Marcello adalah orang asing yang tidak diinginkan.
Clara masih berada di dalam pelukan Reno. Gadis itu mengalungkan kedua lengan mungilnya di leher pria berkaus lusuh itu, menyembunyikan wajahnya di d**a bidang yang berbau pelumas dan keringat. Reno mengecup puncak kepala Clara berulang kali, mendekapnya seolah-olah gadis itu adalah harta paling berharga yang siap ia pertahankan dengan nyawanya.
Di jari manis Clara, cincin perak murah tanpa permata itu memantulkan cahaya, berkilau seperti sebuah ejekan langsung yang menusuk tepat ke dalam ego tertinggi seorang Marcello.
Kreeek...
Suara gesekan kulit yang ekstrem menggema di dalam kabin mobil yang kedap suara. Cengkeraman tangan Adrian pada setir kulit mobilnya mengencang hingga ke batas yang tidak manusiawi.
Buku-buku jarinya memutih, lalu berubah menjadi merah tua keunguan akibat tekanan yang luar biasa. Seluruh urat nadi di lengan kokohnya menonjol seperti akar pohon yang mencengkeram bumi.
Rahangnya mengatup begitu keras hingga otot-otot di sekitar pelipisnya berkedut hebat, menciptakan sensasi nyeri yang membakar di dalam kepalanya.
Namun, rasa nyeri di kepalanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai kecemburuan purba yang egois, posesif, dan merusak yang saat ini sedang meluluhlantakkan dadanya.
Adrian tidak pernah ditolak. Adrian tidak pernah kalah. Baginya, apa pun yang telah ia tandai dengan pandangannya adalah miliknya, mutlak tanpa pengecualian. Dan melihat "cahayanya" selembar kertas putih bersih yang ia rencanakan untuk diisi dengan tintanya sendiri sedang didekap oleh pria lain, membuat kewarasan Adrian terkoyak hingga lapis terdalam.
Krrrkk.
Tekanan yang terlalu besar pada jemarinya akhirnya mencapai titik jenuh. Kuku-kuku tangan Adrian yang terpotong rapi melesak ke dalam kulit setir yang keras, robek di bagian pinggirnya. Darah segar yang merah pekat mulai merembes keluar dari sela-sela kuku dan telapak tangannya, mengalir lambat membasahi permukaan setir kulit mahal bermerek Italia tersebut.
Warna merah yang familier. Darah.
Adrian menurunkan pandangannya sekilas, menatap cairan merah yang kini menodai tangannya sendiri. Menariknya, pemandangan darah itu tidak membuatnya tenang. Biasanya, melihat darah musuh mengalir di lantai interogasi akan memberikan kepuasan tersendiri bagi jiwanya yang sakit.
Namun malam ini, melihat darahnya sendiri keluar karena rasa frustrasi yang disebabkan oleh seorang penjual bunga sederhana, membuat kemarahannya bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan: sebuah ketetapan hati yang dingin dan tak tersentuh.
Ia tidak melepaskan cengkeramannya. Ia membiarkan darah itu terus mengalir, melumuri setir mobil, membiarkan rasa sakit fisik itu membakar habis sisa-sisa kemanusiaan atau keraguan yang mungkin masih tersisa di dalam dirinya.
"Kamu telah melewati batasmu, tikus kecil," bisik Adrian.
Suaranya tidak lagi bariton yang menenangkan; suara itu keluar berupa desisan rendah, parau, dan sarat akan hawa kematian yang pekat.
Matanya kembali mengunci sosok Reno. Di dalam kepala Adrian yang jenius dan sosiopat, gambaran anatomi tubuh Reno mendadak terproyeksi dengan sangat detail.
Sebagai dokter bedah forensik dan trauma, ia tahu persis di mana letak setiap arteri besar, bagaimana struktur tulang manusia, dan seberapa besar tekanan yang dibutuhkan untuk menghancurkan organ vital tanpa meninggalkan jejak yang mencurigakan bagi polisi amatir.
Ia bisa saja keluar dari mobil ini sekarang. Ia bisa saja menyuruh dua orang kepercayaannya yang berjaga di mobil belakang untuk menyeret Reno ke dalam gang gelap, mematahkan setiap tulang di tubuhnya, dan membiarkan Clara melihat siapa penguasa sebenarnya.
Namun, Adrian Marcello bukan b******n jalanan yang tidak berotak. Ia adalah seorang arsitek kejahatan kelas atas. Menghancurkan Reno di depan mata Clara hanya akan membuat pria itu menjadi martir seorang pahlawan yang akan ditangisi dan dicintai Clara seumur hidupnya. Dan Adrian menolak untuk berbagi ruang di dalam hati Clara, bahkan dengan sebuah kenangan dari orang mati.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati sebagai pahlawan di matanya," gumam Adrian, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang sangat mengerikan. Senyuman seorang predator yang telah menemukan cara paling sadis untuk menguliti mangsanya dari dalam.
"Aku akan menghapusmu seolah-olah kamu hanyalah debu yang lewat. Tanpa nama, tanpa keadilan, dan tanpa sisa."
Adrian mengambil ponsel satelitnya kembali dengan tangan kiri yang bersih dari darah. Ia menatap layar yang menyala, memanggil ulang nomor sang eksekutor yang tadi sempat ia hubungi.
"Ya, Tuan Marcello? Ada perubahan rencana?" suara di seberang sana terdengar waswas, menyadari fluktuasi emosi yang tidak biasa dari sang atasan.
"Tiga minggu terlalu lama," kata Adrian, suaranya sangat datar, dingin, dan mutlak.
"Ubah jadwalnya. Lakukan dalam dua minggu. Tepat di malam hari ulang tahunnya yang ke-23. Aku ingin hari yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupnya berubah menjadi awal dari keputusasaan yang abadi."
"Dimengerti, Tuan. Skenario tabrak lari di pertigaan jalan dekat bengkel akan disiapkan dengan matang. Mobil yang digunakan akan dihancurkan di pabrik peleburan besi satu jam setelah insiden."
"Satu hal lagi," Adrian menjilat setitik darah yang menempel di ibu jarinya sendiri, merasakan cecap anyir yang familier.
"Pastikan kotak cincin yang dia bawa malam itu... jangan sampai hilang di lokasi kejadian. Ambil kotak itu dari tubuhnya setelah dia tidak bernyawa, dan bawakan kepadaku sebagai laporan pertanggungjawaban."
"Baik, Tuan Marcello. Segala sesuatunya akan berjalan sesuai perintah Anda."
Panggilan terputus. Adrian meletakkan ponselnya di dasbor. Ia merogoh laci mobil, mengeluarkan sebotol alkohol pembersih dan kain mikrofiber. Dengan gerakan yang sangat metodis, tenang, dan tanpa ketergesa-gesa, ia mulai menyeka darah yang menodai setir mobilnya. Satu usapan, dua usapan. Cairan merah itu berpindah ke kain, meninggalkan permukaan setir yang kembali bersih dan mengilap seperti baru.
Ia kemudian menuangkan alkohol langsung ke atas luka di telapak tangannya. Rasa perih yang luar biasa menyengat syaraf-syarafnya, namun wajah aristokrat Adrian tidak bergeming sedikit pun. Ia membalut tangannya dengan perban medis yang selalu ia siapkan di dalam mobil dengan rapi.
Topengnya telah terpasang kembali. Sempurna tanpa cela.
Di seberang jalan, Reno tampak sedang merapikan beberapa pot bunga di luar ruko sebelum akhirnya menutup pintu kayu besar toko Gema Nurani. Clara berdiri di sampingnya, mengenakan jaket jins milik Reno yang kebesaran, tampak melambaikan tangan dengan tawa kecil yang menggemaskan saat Reno menggoda pinggangnya. Pintu toko ditutup, dan lampu utama dimatikan, menyisakan kegelapan malam yang perlahan merayap menguasai distrik tersebut.
Adrian menyalakan mesin mobilnya. Lampu depan sedan mewah itu menembus kegelapan jalanan, memantulkan bayangan ruko yang kini telah sunyi.
"Selamat malam, Clara manisku," bisik Adrian di balik kemudi, menatap lantai atas ruko di mana lampu kamar tidur Clara baru saja menyala.
"Tidurlah yang nyenyak di dalam duniamu yang rapuh. Nikmati setiap detik kehangatan palsu yang diberikan oleh mekanikmu itu. Karena ketika waktu yang kuberi habis... aku sendiri yang akan meruntuhkan langitmu, dan memastikan bahwa satu-satunya tempat bagimu untuk mengemis perlindungan... adalah di dalam pelukanku."
Sedan hitam itu perlahan bergerak maju, meluncur membelah keheningan malam kota Jakarta yang pekat. Meninggalkan ruko kecil itu dengan bayang-bayang badai besar yang siap menyapu bersih segala bentuk kebahagiaan yang baru saja ditanam di sana. Dan di dalam kegelapan yang ditinggalkannya, sang iblis berjas putih telah memastikan bahwa takdir Clara Anindita tidak lagi berada di tangannya sendiri, melainkan telah terkunci rapat di dalam laci rencana berdarah milik seorang Marcello.