Malam semakin larut, melarutkan sisa-sisa kehangatan sore ke dalam pekatnya polusi dan hawa dingin kota Jakarta. Di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit berwajah fasad kaca gelap di kawasan bisnis Sudirman, Dr. Adrian Marcello tidak lagi mengenakan jas putih dokternya.
Ia berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota seperti taburan berlian tak berharga di atas beludru hitam. Tubuh tegapnya dibalut kemeja hitam satin yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan perban medis yang membungkus rapi telapak tangan kanannya jejak luka dari amarah posesifnya beberapa jam yang lalu di depan toko bunga Gema Nurani. Di tangan kirinya, sebuah gelas kristal berisi whiskey berusia puluhan tahun berputar pelan, membuat es batu di dalamnya berdenting ritmis.
Tuk. Tuk.
Suara ketukan pintu kayu jati di ruangan kantor pribadinya terdengar dua kali. Sangat terukur.
"Masuk," ucap Adrian tanpa membalikkan badan. Suaranya rendah, berat, dan membawa vibrasi d******i yang mutlak.
Pintu terbuka dan menutup tanpa suara yang berarti. Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam tanpa dasi melangkah masuk. Pria itu memiliki potongan rambut cepak dengan belahan luka parut vertikal yang melewati alis kirinya sebuah tanda lahir dari kerasnya jalanan yang telah ia lalui sebelum menjadi tangan kanan paling tepercaya keluarga Marcello.
Ia adalah Marco. Jika Adrian adalah otak
dan maestro dari seluruh simfoni darah di dunia bawah, maka Marco adalah bilah pisau bedah yang mengeksekusi setiap sayatan dengan presisi yang mematikan. Marco tidak pernah bertanya 'mengapa'; ia hanya memastikan bahwa perintah Adrian selesai tanpa meninggalkan remah kotoran sedikit pun.
"Tuan Marcello," Marco membungkuk hormat, berdiri tiga langkah di belakang Adrian dengan tangan tertangkup di depan tubuh.
"Seluruh laporan mengenai faksi Pelabuhan Utara sudah dirapikan. Pembersihan kasino Jakarta Barat juga telah selesai sesuai instruksi Anda dini hari tadi."
Adrian tidak merespons laporan itu. Masalah bisnis dunia bawah yang biasanya menyita perhatiannya malam ini terasa begitu hambar. Pikirannya masih tertambat pada jemari halus Clara yang kini telah dinodai oleh sebuah cincin perak murahan milik pria lain.
Adrian menyesap whiskey-nya perlahan, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya, sebelum akhirnya membalikkan tubuh. Tatapan matanya yang gelap gulita mengunci sepasang mata Marco.
"Aku tidak memanggilmu ke sini untuk urusan pelabuhan atau kasino, Marco," kata Adrian dingin.
Marco sedikit menaikkan alisnya, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar papan kayu. "Lalu, apa yang bisa saya selesaikan untuk Anda, Tuan?"
Adrian melangkah mendekati meja kerja mahoninya. Dengan gerakan elegan, ia meletakkan gelas kristalnya, lalu mengambil sebuah map folder tipis berwarna cokelat yang sejak tadi tergeletak di sana. Ia melemparkannya ke arah Marco. Map itu mendarat tepat di depan d**a sang tangan kanan, yang dengan cekatan langsung menangkapnya.
"Buka," titah Adrian.
Marco membuka folder tersebut. Di lembar pertama, langsung terpampang sebuah foto amatir yang diambil dari jarak jauh. Foto seorang pria muda berwajah tipikal kelas pekerja dengan senyum lebar yang jujur, tengah memegang sebuah kunci pas di depan sebuah bengkel motor.
"Reno Hadiwijaya. Umur dua puluh empat tahun. Pekerjaan mekanik senior di Bengkel Otomotif Jaya, Jakarta Pusat,"
Marco membaca data singkat yang terlampir dengan suara datar. Ia kemudian membalik halaman, menemukan beberapa foto lain, termasuk foto target saat sedang mengobrol dengan seorang gadis di depan toko bunga.
Mata Marco menyipit sesaat ketika mengenali gadis di dalam foto itu. Clara Anindita. Gadis yang beberapa minggu terakhir ini sering dikunjungi oleh bosnya dengan penyamaran sebagai seorang dokter yang ramah. Marco segera memahami ke mana arah pembicaraan ini. Pria di dalam foto ini bukan sekadar target bisnis; ini adalah masalah personal sang predator.
"Pria ini," Adrian menjeda kalimatnya, berjalan kembali mendekati jendela kaca besar, "telah memiliki sesuatu yang seharusnya menjadi milikku. Dia mengotori pemandangan, Marco. Dan aku tidak suka jika milikku disentuh oleh tangan yang penuh dengan oli."
Hawa membunuh (bloodlust) yang sangat pekat mendadak menguar dari tubuh Adrian, menurunkan suhu ruangan kerja yang luas itu dalam sekejap. Marco, yang sudah terbiasa dengan kegelapan, bahkan bisa merasakan bulu kuduknya meremajakan diri menghadapi intensitas emosi sang atasan yang tertahan dengan sangat rapi.
"Anda ingin saya melenyapkannya malam ini juga, Tuan?" tanya Marco, suaranya siap mengeksekusi titah.
"Saya bisa mengirim dua orang untuk membuat seolah dia tewas dalam perkelahian antar-geng di area bengkel."
"Tidak," Adrian menolak dengan nada sinis.
"Aku sudah mengatakannya pada eksekutor lapangan lewat telepon tadi. Aku tidak ingin dia mati sebagai pahlawan atau korban kejahatan jalanan biasa di mata Clara. Jika dia mati dikeroyok, Clara akan menangisinya sebagai martir yang malang. Cinta gadis itu akan terkunci pada mayat pria itu seumur hidupnya, dan aku menolak untuk berbagi tempat dengan hantu."
Adrian membalikkan tubuhnya, menatap Marco dengan seulas senyuman tipis yang sangat manipulatif dan kejam.
"Aku ingin kematiannya terlihat seperti sebuah kesialan murni yang tragis. Skenariokan sebuah tabrak lari. Malam hari, di pertigaan jalan yang sepi dan minim kamera pengawas saat dia pulang lembur dari bengkel dua minggu lagi tepat di malam ulang tahun Clara."
Marco mengangguk, otaknya yang taktis langsung menyusun rencana. "Dua minggu. Waktu yang cukup untuk mempelajari rute pulangnya secara presisi. Saya akan menggunakan mobil SUV curian dari luar kota yang nomor rangkanya sudah dihapus. Eksekutornya akan langsung membawa mobil itu ke pabrik peleburan besi di Tangerang satu jam setelah tabrakan untuk dihancurkan menjadi rongsokan tak berbentuk. Tidak akan ada saksi, tidak akan ada bukti fisik yang tersisa untuk polisi."
"Bagus," Adrian menyipitkan matanya.
"Tapi yang paling penting dari rencana ini bukan hanya hilangnya nyawa pria itu, Marco. Melainkan apa yang dia bawa malam itu."
Adrian melangkah mendekat, menatap Marco dengan pandangan tirani yang tak terbantahkan. "Dia baru saja melamar Clara sore ini dengan sebuah cincin perak murahan di dalam kotak beludru merah kecil. Malam itu, dia pasti akan membawa kotak itu bersamanya, atau cincin itu sudah berada di jari Clara. Jika cincin itu sudah dipakai Clara, biarkan saja. Tapi kotak beludru merah dari dalam tas atau saku jaketnya... pastikan eksekutor mengambilnya setelah pria itu dipastikan tidak bernyawa."
Marco sedikit tertegun dengan detail perintah tersebut. Mengambil sebuah kotak cincin dari tubuh korban tabrak lari adalah tindakan yang berisiko jika ada orang yang melihat, namun ia tahu Adrian tidak pernah bermain-main dengan instruksinya.
"Saya sendiri yang akan mengawasi jalannya eksekusi dari jarak aman, Tuan Marcello. Saya yang akan memastikan kotak merah itu diambil dan diserahkan langsung ke tangan Anda," tegas Marco.
"Jangan kecewakan aku, Marco," Adrian menepuk pundak tangan kanannya dengan telapak tangannya yang dibalut perban.
"Aku ingin semuanya berjalan sehalus sutra. Biarkan gadis itu merasakan puncak kebahagiaan tertingginya selama dua minggu ini bersama tunangan miskinnya. Dan tepat di malam ulang tahunnya, saat dia sedang menunggu pria itu datang membawa kue atau hadiah... aku akan meruntuhkan dunianya hingga tidak bersisa."
Adrian kembali berjalan menuju mejanya, mengambil gelas whiskey-nya yang tinggal setengah.
"Dan di saat dunianya hancur berkeping-keping, saat dia menyadari bahwa hukum dan polisi tidak bisa memberikannya keadilan atas kematian pria itu... di sanalah Dr. Adrian Marcello akan datang. Aku akan menghapus air matanya, memeluk tubuhnya yang rapuh, dan menjadi satu-satunya pelindung yang dia miliki di dunia ini."
Adrian mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah pantulan lampu kota, seolah-olah sedang merayakan sebuah kemenangan yang sudah berada di dalam genggamannya.
"Dia akan berjalan masuk ke dalam sangkarku dengan sukarela, Marco. Menyerahkan seluruh jiwa dan raga murninya kepadaku, tanpa pernah tahu... bahwa pria yang dia tangisi setiap malam adalah pria yang kepalanya telah kuhargai seharga sebutir peluru."
Marco membungkuk dalam untuk terakhir kalinya.
"Perintah dipahami, Tuan. Dua minggu lagi, Reno Hadiwijaya akan dihapus dari sejarah."
Dengan langkah senyap, Marco berbalik dan meninggalkan ruangan kantor tersebut, membawa folder cokelat yang berisi vonis mati bagi seorang mekanik jujur bernama Reno.
Pintu jati tertutup rapat kembali, menyisakan Adrian Marcello sendirian di dalam keheningan ruangannya yang mewah. Adrian memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tar dan sandalwood yang mengelilinginya. Di dt5alam benaknya, ia sudah bisa membayangkan ekspresi hancur di wajah Clara dua minggu lagi sebuah kehancuran indah yang akan ia sembuhkan dengan kehangatan palsu jas putihnya.
Bagi sang predator, permainan ini baru saja dimulai, dan bidak catur bernama Reno telah melangkah ke petak terakhir hidupnya tanpa jalan untuk kembali.