Malam pertama di mansion Ardhana berlalu dengan dingin yang menusuk tulang, bukan karena suhu AC, melainkan karena keheningan yang memisahkan dua sisi tempat tidur king size itu. Amber tidur di tepi kanan, sementara Damian mengambil sisi kiri. Di antara mereka terbentang jarak kosong selebar satu meter—jarak simbolis yang lebih lebar daripada lautan.
Amber tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran rumit, mendengarkan napas Damian yang teratur dan tenang di sebelahnya. Pria itu tampaknya tidak memiliki masalah untuk tidur nyenyak setelah seharian menghancurkan hidup orang lain. Bagi Damian, ini hanyalah rutinitas. Bagi Amber, ini adalah perang psikologis yang baru saja dimulai.
Pagi harinya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah tirai sutra, membangunkan Amber dari tidur gelisah. Jam dinding digital menunjukkan pukul 06.00 pagi. Sebelum ia sempat bergerak, pintu kamar diketuk pelan.
"Selamat pagi, Nyonya," suara Pak Hendra terdengar dari balik pintu. "Tuan Damian sudah turun. Beliau meminta Anda bersiap dalam lima belas menit."
Amber melompat dari tempat tidur. Lima belas menit? Ia belum mandi, belum sarapan, dan bahkan belum sepenuhnya sadar. Namun, ia tahu aturan tak tertulis di rumah ini: Damian tidak suka menunggu.
Dengan gerakan cepat, Amber membersihkan diri, mengenakan gaun kerja sederhana berwarna krem yang tersedia di lemari, dan menyisir rambutnya menjadi ponytail rapi. Ia tidak memakai makeup tebal, hanya sedikit bedak dan lipstik nude. Ia ingin terlihat profesional, bukan seperti boneka pajangan.
Saat ia turun ke ruang makan, Damian sudah duduk di kepala meja, menyeruput kopi hitam dari cangkir porselen tipis. Di depannya ada tablet dan beberapa dokumen. Ia bahkan tidak menoleh saat Amber memasuki ruangan.
"Pagi," ucap Amber singkat, mencoba terdengar santai.
Damian mengangkat satu jari, memberi isyarat agar Amber diam. Ia terus mengetik di tabletnya selama dua menit penuh sebelum akhirnya meletakkannya dan menatap Amber. Matanya menyapu penampilan Amber dari atas ke bawah, ekspresinya datar.
"Kau terlambat tiga puluh detik," kata Damian dingin.
Amber mengerjap, bingung. "Maaf? Saya kira—"
"Saya tidak peduli apa yang kau kira," potong Damian tajam. "Di dunia bisnis, keterlambatan sekecil apa pun adalah tanda ketidakdisiplinan. Dan sebagai istri saya, kau adalah representasi dari disiplin keluarga Ardhana. Mulai sekarang, jam enam pagi kau harus sudah siap. Pukul tujuh kita sarapan bersama. Pukul delapan aku berangkat ke kantor, dan kau bebas melakukan apa pun selama tidak melanggar aturan."
Amber mengepalkan tangan di bawah meja. Rasa marah mulai mendidih di dadanya, namun ia menelannya kembali. Berdebat dengan Damian di pagi hari sama saja dengan bunuh diri sosial.
"Apa aturannya?" tanya Amber, suaranya datar.
Damian tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya. "Aturan pertama: Jangan pernah menghubungi media atau memposting apa pun tentang kehidupan pribadi kita di media sosial tanpa izin tertulis dariku. Aturan kedua: Jangan membawa tamu ke rumah ini, terutama teman-teman lamamu yang berisik. Aturan ketiga: Jika ada acara keluarga atau bisnis, kau harus hadir dan bersikap sempurna. Tidak ada drama, tidak ada air mata, tidak ada keluhan."
Ia berdiri, merapikan jasnya. "Dan aturan keempat: Jangan jatuh cinta padaku. Itu akan mempersulit proses perceraian nanti."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada begitu enteng, seolah sedang membicarakan cuaca, namun dampaknya seperti tamparan keras di wajah Amber. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa sakit dan penghinaan.
"Saya mengerti, Tuan," jawab Amber kaku. "Apakah ada lagi?"
"Tidak. Oh, ya." Damian mengambil kunci mobil dari meja. "Sopir akan mengantarmu ke mana pun kau mau siang ini. Gunakan waktu itu untuk berbelanja pakaian yang layak. Gaun-gaun di lemari itu mungkin terlalu formal untuk kegiatan sehari-hari. Belanjalah sesukamu, tagihannya akan dibayar oleh departemen keuangan. Tapi ingat, pilihlah dengan selera yang baik. Aku tidak ingin istriku terlihat murahan."
Tanpa menunggu respons, Damian berbalik dan berjalan keluar menuju garasi. Suara mesin mobil sportnya menderu, lalu menghilang ke jalan raya.
Amber tertinggal sendirian di ruang makan yang luas dan sunyi. Ia menatap piring kosong di hadapannya, nafsu makannya lenyap. Kata-kata Damian bergema di kepalanya. Jangan jatuh cinta padaku. Seolah-olah itu pilihan yang mudah. Seolah-olah hati manusia bisa dikontrol seperti saklar lampu.
Pak Hendra muncul di ambang pintu, wajahnya masih tetap netral. "Nyonya, apakah Anda membutuhkan sesuatu?"
Amber menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya. "Tidak, Pak Hendra. Tolong siapkan mobil. Saya akan pergi ke pusat perbelanjaan."
"Baik, Nyonya."
Perjalanan ke mal terbesar di kota itu terasa hampa. Sopir pribadi, seorang pria bernama Budi yang ramah namun sangat tertutup, mengantar Amber tanpa banyak bicara. Di mal, Amber berkeliling dari satu butik mewah ke butik lainnya. Ia memilih beberapa potong pakaian kasual namun elegan—blus sutra, rok pensil, dan sepatu hak rendah. Ia tidak membeli barang-barang mencolok atau logo besar. Ia ingin mempertahankan identitasnya sendiri, meski dompetnya diisi oleh uang Damian.
Saat ia sedang mengantri di kasir sebuah toko buku, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Selamat datang di klub para tawanan emas, Amber. Hati-hati dengan Nyonya Elena. Dia punya mata di mana-mana."
Amber mengerutkan kening. Siapa pengirimnya? Ia mencoba membalas, namun pesan itu sudah hilang, diganti dengan notifikasi lain dari grup w******p keluarga besarnya yang penuh dengan pertanyaan cemas tentang kondisinya.
Ia mematikan layar ponselnya, merasa tiba-tiba diawasi. Mal yang ramai tiba-tiba terasa sempit. Apakah ini peringatan? Atau sekadar iseng dari seseorang yang tahu situasinya?
Amber mempercepat langkahnya keluar dari mal. Ia perlu pulang. Ia perlu memikirkan strategi. Damian mungkin mengira ia telah membeli Amber sepenuhnya, tapi ia lupa satu hal: Amber Briliana adalah seorang penulis. Dan setiap penulis tahu bahwa konflik adalah awal dari cerita yang menarik.
Jika Damian menginginkan permainan, maka Amber akan memberikannya permainan. Tapi kali ini, bukan Damian yang akan memegang kendali penuh.
Saat mobil membawanya kembali ke Bukit Duta, Amber menatap gedung megah itu dengan pandangan baru. Bukan lagi sebagai penjara, melainkan sebagai panggung. Dan pertunjukan baru saja dimulai.