Tiga hari telah berlalu sejak Amber pindah ke mansion Ardhana. Tiga hari di mana ia hidup seperti hantu di rumah sendiri—ada, namun tak terlihat; didengar, namun tak dianggap. Damian jarang pulang sebelum larut malam, dan ketika ia pulang, ia langsung masuk ke kamarnya tanpa sepatah kata pun. Hubungan mereka lebih mirip dua orang asing yang berbagi alamat surat, bukan suami istri.
Namun, ketenangan semu itu pecah pada pagi hari keempat.
Amber sedang duduk di ruang perpustakaan pribadi yang luas, mencoba membaca buku untuk mengalihkan pikiran dari kesepian, ketika suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Bukan langkah Damian yang ringan dan cepat, melainkan langkah seseorang yang membawa beban kemarahan.
Pintu perpustakaan terbuka kasar. Seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan mengenakan gaun sutra berwarna ungu tua melangkah masuk. Matanya yang tajam menyapu ruangan sebelum akhirnya tertuju pada Amber. Wajahnya cantik namun keras, dengan garis-garis halus di sekitar mulut yang menunjukkan kebiasaan mencibir.
Itu Nyonya Elena Ardhana. Ibu mertua Amber.
"Jadi, inilah 'gadis kampung' yang berhasil menjerat putraku," ucap Elena dengan nada dingin, suaranya bergema di ruangan sunyi itu. Ia tidak menyapa, tidak tersenyum. Hanya penghinaan telanjang.
Amber menutup bukunya perlahan, lalu berdiri. Ia membungkuk sopan, meski dadanya berdebar kencang. "Selamat pagi, Ibu. Saya Amber."
Elena tidak membalas salamnya. Ia berjalan mendekati Amber, matanya menilai penampilan Amber dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Kau tahu, aku sudah menyiapkan daftar calon menantu untuk Damian. Putri diplomat, pewaris bank, bahkan model internasional. Tapi Damian memilih... kau." Ia mendecakkan lidah. "Apa yang sebenarnya kau lakukan padanya? Hipnotis? Atau kau punya foto-foto memalukan?"
Amber menegakkan punggungnya. Ia tahu ini adalah ujian pertama. Jika ia menunjukkan ketakutan atau kemarahan, Elena akan menang.
"Saya tidak melakukan apa-apa, Bu," jawab Amber tenang, menatap mata Elena lurus-lurus. "Saya dan Tuan Damian menikah karena kesepakatan bersama. Saya menghormati keputusan beliau."
"Kesepakatan?" Elena tertawa sinis, suara tawanya nyaring dan tidak menyenangkan. "Jangan bodoh, gadis kecil. Di keluarga ini, tidak ada yang namanya kesepakatan setara. Kau hanyalah alat. Dan alat yang rusak akan dibuang."
Elena melangkah lebih dekat, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Amber. "Dengarkan baik-baik. Aku tidak akan pernah menerima kau sebagai bagian dari keluarga ini. Kau mungkin punya sertifikat pernikahan, tapi kau tidak akan pernah punya tempat di hati kami. Jika kau pintar, kau akan mencari cara untuk membuat Damian membencimu secepat mungkin, lalu minta cerai dengan uang pesangon yang besar. Itu satu-satunya jalan keluar mulia bagimu."
Jantung Amber berdegup kencang, namun ia menolak untuk mundur. "Saya tidak menikah untuk uang, Bu. Dan saya tidak akan meminta cerai kecuali Tuan Damian yang menginginkannya."
Mata Elena menyipit berbahaya. Tampaknya ia tidak senang dengan keteguhan Amber. "Kita lihat saja. Besok malam ada acara amal gala di Hotel Mulia. Damian akan membawamu. Jangan buat malu. Jika kau merusak reputasi Ardhana bahkan sedikit saja, aku pastikan hidupmu di Jakarta menjadi neraka."
Tanpa menunggu jawaban, Elena berbalik dan keluar dari perpustakaan, meninggalkan Amber dengan tangan yang mengepal erat di sisi tubuhnya.
Sore harinya, Damian pulang lebih awal dari biasanya. Ia tampak lelah, dasinya longgar, dan ada kerutan di dahinya. Saat melihat Amber duduk di ruang tamu, ia berhenti sejenak.
"Ibu sudah menemuimu?" tanya Damian datar, melempar kunci mobilnya ke meja konsol.
Amber mengangguk. "Ya. Beliau... sangat ekspresif dalam menyampaikan ketidaksetujuannya."
Damian menghela napas panjang, lalu duduk di sofa berhadapan dengan Amber. Untuk pertama kalinya, ia terlihat sedikit manusiawi, sedikit lelah oleh beban keluarganya sendiri.
"Maafkan dia," kata Damian, suaranya lebih rendah dari biasa. "Ibu sangat protektif terhadap nama keluarga. Dia pikir semua wanita yang mendekatiku hanya mencari harta. Dan secara teknis... dia tidak sepenuhnya salah tentang motif awal kita."
Kata-kata itu menusuk, namun Amber memilih untuk mengabaikannya. "Apakah saya perlu mempersiapkan sesuatu untuk acara besok malam?"
Damian menatap Amber, matanya menyelidiki wajah wanita itu. Ia mencari tanda-tanda kebencian atau ketakutan, namun yang ia temukan hanya ketenangan yang membingungkan.
"Aku akan mengirim penata gaya ke sini jam lima sore besok," kata Damian. "Dia akan mengurus rambut, makeup, dan gaunmu. Gaun yang akan kau pakai adalah rancangan desainer Prancis khusus untuk acara ini. Harganya setara dengan rumah orang tuamu."
Amber mengerutkan kening. "Itu berlebihan."
"Itu standar," koreksi Damian. "Di dunia itu, penampilan adalah senjata. Dan besok malam, kau akan bertemu dengan serigala-serigala berjas yang siap menerkammu jika mereka mencium bau kelemahan. Jadi, jangan lemah. Jangan menangis. Dan jangan pernah melepaskan tanganku."
Damian berdiri, hendak menuju tangga, namun ia berhenti sejenak. "Oh, dan Amber?"
"Ya, Tuan?"
"Jangan percaya apa pun yang dikatakan ibuku. Dia memang ibuku, tapi dia juga politikus ulung. Kata-katanya adalah perangkap."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Damian naik ke lantai atas, meninggalkan Amber dengan banyak pertanyaan. Mengapa Damian memperingatkannya? Apakah ada bahaya lain selain ibunya?
Amber menatap tangga kosong itu. Peringatan Damian, ancaman Elena, dan misteri pesan anonim di mal kemarin semuanya terhubung menjadi jaring laba-laba yang rumit. Amber menyadari, pernikahan ini bukan sekadar transaksi bisnis. Ini adalah medan perang. Dan dia harus belajar cara bertahan hidup di dalamnya.
Malam itu, Amber tidak tidur. Ia membuka laptopnya dan mulai mencari informasi tentang acara amal Gala Ardhana, para tamu undangan, dan sejarah skandal keluarga Ardhana. Jika Elena menganggapnya alat yang bisa dibuang, maka Amber akan membuktikan bahwa alat itu bisa menjadi pisau bermata dua.
Pertunjukan besok malam akan menjadi debut resminya sebagai Nyonya Ardhana. Dan Amber bersumpah, ia tidak akan menjadi korban.