Amber menatap punggung Damian yang menghilang di balik pintu kamarnya. Peringatan terakhir pria itu—“Jangan percaya apa pun yang dikatakan ibuku”—bergema di kepalanya, menciptakan rasa waspada yang baru. Mengapa Damian memperingatkannya? Apakah hubungan ibu dan anak itu sedingin yang terlihat, atau ada rahasia lain yang tersembunyi di balik tembok mansion ini?
Malam itu, Amber tidak bisa tidur. Ia membuka laptopnya, cahaya biru layar menerangi wajahnya yang lelah. Alih-alih mencari hiburan, ia mulai menggali informasi tentang "Gala Amal Ardhana" dan sejarah keluarga tersebut. Ia menemukan artikel-artikel lama tentang skandal korupsi yang pernah melanda perusahaan ayah Damian sepuluh tahun lalu, serta rumor tentang hilangnya seorang akuntan kunci yang belum pernah terpecahkan.
Apakah ini terkait dengan utang ayahku? pikir Amber, alisnya berkerut. Ia merasa ada benang merah yang menghubungkannya dengan masa lalu kelam keluarga Ardhana, namun ia belum bisa melihat pola besarnya.
Keesokan harinya, tepat pukul lima sore, sebuah tim penata gaya dari butik elit tiba di mansion. Tiga wanita dengan pakaian serba hitam masuk ke kamar Amber dengan sikap profesional yang dingin. Mereka tidak banyak bicara, hanya bekerja dengan efisien.
Amber dipakaikan gaun evening gown berwarna midnight blue dengan detail payet halus yang berkilau seperti bintang di langit malam. Gaun itu membelai tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan lekuk tubuh Amber yang selama ini ia sembunyikan di balik pakaian longgar. Rambutnya disanggul tinggi dengan beberapa helai dibiarkan jatuh lembut di sisi leher, dan makeup-nya dibuat natural namun menonjolkan mata cokelatnya yang dalam.
Saat Amber turun ke ruang tamu, Damian sudah menunggu. Ia mengenakan tuxedo hitam klasik yang membuatnya terlihat lebih tampan dan berbahaya daripada biasanya. Saat matanya bertemu dengan Amber, ada jeda hening sejenak. Damian tampak sedikit terkejut, meski ia cepat-cepat menutupi ekspresinya dengan wajah datar.
"Cukup layak," gumam Damian, meski nada suaranya terdengar sedikit lebih lunak dari biasa. "Ayo, mobil sudah menunggu."
Perjalanan ke Hotel Mulia terasa lebih tegang daripada sebelumnya. Damian memegang tangan Amber erat-erat, bukan karena kasih sayang, melainkan sebagai tanda kepemilikan dan perlindungan. "Ingat," bisik Damian saat mereka mendekati lobi hotel yang dipenuhi fotografer. "Senyum. Jangan lihat ke kamera langsung. Biarkan aku yang memimpin."
Begitu pintu mobil terbuka, kilatan lampu kamera menyilaukan mata. Amber merasa pusing, namun ia mengingat instruksi Damian. Ia tersenyum tipis, anggun, dan membiarkan Damian menuntunnya melewati karpet merah. Bisik-bisik para tamu undangan terdengar samar-samar.
"Itu dia istrinya..."
"Katanya dari kalangan biasa..."
"Lihat gaunnya, mahal sekali..."
Amber mengabaikan semua suara itu. Ia fokus pada langkah kakinya, menjaga postur tubuhnya tetap tegak. Di dalam ballroom yang megah, mereka disambut oleh berbagai tokoh penting: politisi, selebriti, dan pengusaha. Damian memainkan perannya dengan sempurna—charming, ramah, dan berwibawa. Amber berperan sebagai pendamping yang tenang dan misterius.
Namun, ujian sesungguhnya datang ketika mereka mendekati kelompok orang yang dipimpin oleh Nyonya Elena. Di samping Elena berdiri seorang pria muda tampan dengan senyuman miring—Rian, sepupu Damian yang disebutkan dalam kontrak sebagai saingan warisan.
"Ah, Damian! Dan... istri barumu," ucap Elena dengan suara keras yang sengaja ditarik agar didengar orang-orang di sekitar. Matanya menyapu Amber dengan tatapan kritis. "Gaun yang menarik. Sayangnya, gaya rambutmu agak ketinggalan zaman. Apa kau tidak punya penata gaya pribadi?"
Beberapa orang di sekitar mereka tertawa kecil. Amber merasakan pipinya memanas, namun ia tidak menunduk. Ia tersenyum manis, senyuman yang sama tajamnya dengan pedang.
"Terima kasih atas masukannya, Bu," jawab Amber dengan suara jernih dan tenang. "Saya memang memilih gaya klasik karena saya percaya bahwa keanggunan sejati tidak perlu mengikuti tren sesaat. Selain itu, Tuan Damian mengatakan bahwa kesederhanaan adalah kemewahan tertinggi. Saya hanya mencoba mencerminkan selera suami saya."
Hening.
Damian menoleh, mengangkat alis sedikit, terkejut dengan respons cepat Amber. Nyonya Elena tampak tersentak, mulutnya sedikit terbuka sebelum ia kembali menyusun ekspresi masamnya. Rian, sepupu Damian, justru tertawa renyah.
"Wah, pintar juga gadis ini, Damian," kata Rian sambil mengedipkan mata ke arah Amber. "Mungkin kau akhirnya menemukan lawan yang sepadan."
Elena mendesis pelan, lalu berbalik tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kekalahan kecil itu jelas membuatnya marah, namun Amber telah memenangkan ronde pertama di depan umum.
Sepanjang malam, Amber menyadari bahwa banyak mata yang mengamatinya. Bukan hanya karena status barunya, tetapi ada sesuatu yang lain. Tatapan curiga dari beberapa direktur lama perusahaan Ardhana. Bisik-bisik yang berhenti saat ia mendekat.
Di tengah pesta, Damian menarik Amber ke teras balkon yang sepi. Udara malam terasa dingin, kontras dengan panasnya bola mata para tamu di dalam.
"Kau melakukan dengan baik," kata Damian, melepaskan genggamannya dan bersandar di pagar besi. Ia mengeluarkan rokok, namun tidak menyalakannya, hanya memainkannya di antara jari-jari.
"Itu hanya insting bertahan hidup," jawab Amber jujur.
Damian menatap Amber lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ada rasa hormat di matanya. "Ibuku tidak akan berhenti di situ. Dia akan mencoba cara lain. Dan Rian... hati-hati dengannya. Dia tersenyum seperti ular, tapi giginya berbisa."
"Apa yang sebenarnya terjadi, Damian?" tanya Amber tiba-tiba, keberaniannya muncul karena adrenalin malam itu. "Mengapa semua orang seolah-olah ingin menjatuhkan kita? Apakah pernikahan ini hanya untuk menutupi sesuatu yang lebih besar?"
Damian membeku. Matanya menjadi gelap, topeng dinginnya kembali terpasang rapat. Ia membuang rokok yang tidak tersulut itu ke tanah.
"Jangan bertanya hal yang tidak perlu kau tahu, Amber," suaranya dingin kembali. "Tugasmu hanya bersanding denganku. Sisanya, biarkan aku yang mengurusnya."
Sebelum Amber bisa mengejar pertanyaan itu, pintu balkon terbuka. Seorang pria tua dengan tongkat emas muncul—Pak Hendra, namun kali ini wajahnya pucat pasi.
"Tuan... Nyonya..." suara Pak Hendra gemetar. "Ada telepon darurat dari kantor. Ada... ada penggeledahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi di kantor pusat. Mereka mencari dokumen terkait proyek Tanjung Lesung lima tahun lalu."
Wajah Damian berubah drastis. Semua ketenangan hilang, digantikan oleh ketegangan murni. Ia menatap Amber, lalu menatap kejauhan kota Jakarta.
"Jeratan itu bukan hanya untukku," gumam Damian pelan, hampir tak terdengar. "Tapi untuk kita berdua sekarang."
Ambar merasa darah di tubuhnya membeku. Proyek Tanjung Lesung. Itu adalah nama yang ia baca di artikel semalam. Nama yang terhubung dengan ayahnya.
Permainan baru saja berubah menjadi perang nyata.