Suara sirine polisi yang samar-samar terdengar dari kejauhan, seolah menjadi pengiring bagi kehancuran yang baru saja dimulai. Di dalam mobil mewah yang melaju kencang membelah malam Jakarta, suasana terasa sesak dan mencekam. Damian menyetir dengan satu tangan, rahangnya mengeras, sementara tangan lainnya mencengkeram setir hingga buku-bukunya memutih.
Amber duduk di kursi penumpang, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia merasa sakit di d**a. Penggeledahan KPK. Proyek Tanjung Lesung. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti pusaran air hitam. Ia ingat artikel yang dibacanya semalam—proyek pembangunan resort mewah yang gagal total dan menelan kerugian triliunan rupiah. Dan ayahnya... ayahnya pernah bekerja sebagai konsultan keuangan paruh waktu untuk salah satu sub-kontraktor proyek itu lima tahun lalu.
"Damian," panggil Amber, suaranya bergetar namun tegas. "Apakah ini ada hubungannya dengan utang ayahku?"
Damian tidak menjawab segera. Matanya tetap fokus pada jalan raya yang sepi, lampu-lampu kota berlalu cepat di samping mereka. Setelah hening yang panjang, ia akhirnya berbicara, suaranya rendah dan penuh tekanan.
"Ayahmu bukan sekadar korban penipuan investasi biasa, Amber. Dia adalah bagian dari rantai pasokan dana ilegal yang digunakan untuk menutupi kebocoran anggaran di proyek Tanjung Lesung. Uang yang kau kira hilang karena judi atau investasi bodong... sebagian besar itu adalah uang haram yang dicuci melalui rekening shell company milik ayahmu."
Dunia Amber seolah runtuh seketika. Ayahnya? Pria tua yang lemah, yang selalu bercerita tentang kejujuran dan kerja keras? Mustahil.
"Itu bohong," bantah Amber, meski keraguan mulai merayap masuk. "Ayahku tidak mungkin..."
"Dia tidak tahu dia sedang mencuci uang," potong Damian tajam. "Dia hanya tanda-tangan dokumen yang disodorkan oleh atasan lamanya. Tapi di mata hukum, tandatangannya sah. Dan sekarang, KPK memiliki bukti baru. Bukti yang menghubungkan aliran dana itu langsung ke rekening pribadi keluarga Ardhana."
Amber menelan ludah, tenggorokannya kering. "Jadi... pernikahan ini? Apakah ini cara kalian menyelamatkan diri? Dengan menikahkan aku, apakah kalian berharap bisa mengalihkan perhatian atau menyembunyikan aset?"
Damian membanting rem mendadak saat lampu merah menyala, membuat tubuh Amber terlempar sedikit ke depan. Ia menoleh, matanya menyala dengan amarah yang tertahan.
"Jangan menghina aku, Amber. Aku menikahimu karena itu syarat warisan, titik. Tapi aku membiarkan pernikahan ini berlanjut karena aku butuh seseorang yang bisa kuperdaya jika situasi memburuk. Maaf harus jujur, tapi itulah kenyataannya."
Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. Amber merasa dirinya benar-benar hanyalah pion dalam permainan catur raksasa ini. Namun, di balik rasa sakit itu, ada kemarahan yang mulai tumbuh. Kemarahan terhadap Damian, terhadap keluarganya, dan terhadap nasibnya sendiri.
"Maka biarkan aku membantu," kata Amber tiba-tiba.
Damian mengerutkan kening, bingung. "Apa?"
"Aku seorang peneliti dan penulis, Damian. Aku terbiasa mencari pola, menghubungkan titik-titik yang tampak tidak berhubungan. Jika ayahku terlibat, berarti ada celah dalam sistem pencatatan mereka. Ada kesalahan administrasi. Dan jika ada kesalahan, ada bukti yang bisa membersihkan namanya—dan mungkin juga memberimu leverage terhadap orang yang sebenarnya bertanggung jawab."
Damian menatap Amber lama, seolah melihat wanita asing untuk pertama kalinya. Ada kecerdasan di mata Amber, sebuah ketajaman analitis yang tidak ia duga. Selama ini, ia menganggap Amber hanya wanita biasa yang terjebak keadaan. Ternyata, ia salah.
"Kau sadar risikonya?" tanya Damian pelan. "Jika kita menggali lebih dalam, kita mungkin menemukan hal-hal yang lebih buruk. Hal-hal yang bisa mengirim kita berdua ke penjara."
"Aku sudah di dalam 'penjara' ini sejak hari pertama, Damian," jawab Amber dingin. "Setidaknya, beri aku kesempatan untuk memilih jeruji besinya sendiri."
Mobil kembali melaju. Damian tidak menjawab, namun ketegangan di bahunya sedikit berkurang. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan singkat kepada asistennya, Raka.
"Siapkan akses ke arsip digital proyek Tanjung Lesung. Level keamanan tertinggi. Kirim ke email pribadi Amber."
Amber melihat notifikasi itu masuk ke ponselnya beberapa menit kemudian. Password enkripsi disertakan dalam pesan berikutnya.
"Sampai di rumah, jangan tidur," perintah Damian. "Kita akan bekerja semalaman. Jika KPK sudah bergerak, berarti musuh kita sudah panik. Dan orang yang panik biasanya membuat kesalahan."
Malam itu, perpustakaan mansion Ardhana berubah menjadi pusat komando darurat. Lampu utama dimatikan, hanya diterangi oleh cahaya layar laptop dan lampu meja. Damian dan Amber duduk berhadapan, dikelilingi oleh tumpukan dokumen fisik yang dibawa pulang oleh Damian sebelum penggeledahan selesai.
Amber membaca dengan cepat, matanya menyapu baris demi baris laporan keuangan, faktur palsu, dan catatan transaksi bank. Otaknya bekerja keras, menghubungkan nama-nama yang familiar dengan angka-angka yang mencurigakan.
Di sisi lain, Damian memantau berita di televisi dan berkomunikasi via telepon dengan pengacara pribadinya. Wajah keduanya serius, konsentrasi penuh.
Tiba-tiba, jari Amber berhenti di atas sebuah halaman. Matanya melebar.
"Damian," panggilnya. "Lihat ini."
Damian mendekat, menunduk untuk melihat layar laptop Amber. Itu adalah scan surat perintah transfer dana sebesar 50 miliar rupiah, ditandatangani oleh Direktur Operasional lama perusahaan Ardhana—pria yang meninggal dalam kecelakaan mobil misterius tiga tahun lalu. Namun, yang menarik perhatian Amber bukan nominalnya, melainkan nomor rekening tujuan.
"Nomor rekening ini..." gumam Amber. "Ini bukan rekening offshore biasa. Ini terdaftar atas nama yayasan amal."
Damian mengambil alih laptopnya, mengetik cepat untuk melacak yayasan tersebut. Wajahnya berubah pucat saat hasil pencarian muncul.
"Yayasan Cahaya Harapan," baca Damian lirih. "Dikelola oleh... Nyonya Elena Ardhana."
Hening mencekam menyelimuti ruangan. Ibu Damian. Wanita yang tadi siang menghina Amber di pesta.
"Dia menggunakan proyek itu untuk mencuci uangnya sendiri?" bisik Amber, ngeri. "Dan dia menjebak ayahku serta menyalahkan divisi operasional Damian untuk menutupi jejaknya?"
Damian mengepalkan tinjunya, matanya gelap oleh pengkhianatan. "Ibuku... Dia rela menghancurkan reputasi putranya sendiri demi mempertahankan gaya hidupnya?"
"Tidak hanya itu," tambah Amber, menunjuk tanggal pada dokumen. "Transfer terakhir dilakukan dua minggu sebelum pernikahan kita. Dia tahu ultimatum ayahmu akan datang. Dia menyiapkan skenario ini agar ketika skandal meledak, semua tuduhan akan jatuh padamu, bukan padanya. Dan aku... aku adalah alat untuk mengalihkan perhatian media dari investigasi keuangan ke gosip pernikahan."
Damian menatap Amber, lalu menatap dokumen di tangannya. Untuk pertama kalinya, topeng dingin Tuan Muda retak sepenuhnya. Di matanya terlihat rasa sakit, kemarahan, dan sesuatu yang lain—kebutuhan akan sekutu.
"Kita harus berhati-hati," kata Damian, suaranya serak. "Jika ibuku tahu kita tahu, nyawa kita yang taruhannya. Dia punya koneksi di kepolisian, di kejaksaan, bahkan di media."
Amber menutup laptopnya perlahan. Ia menatap Damian, dan kali ini, ia tidak melihat musuh. Ia melihat pria yang sama-sama terperangkap dalam jaring laba-laba keluarganya sendiri.
"Lalu apa rencana kita, Tuan Muda?" tanya Amber, sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang berbahaya. "Apakah kita akan diam dan menunggu dihancurkan? Atau kita balik menyerang?"
Damian menatap Amber lama. Lalu, perlahan, ia mengulurkan tangannya. Bukan untuk menggenggam, melainkan untuk berjabat tangan. Sebuah perjanjian baru.
"Kita hancurkan dia," kata Damian dingin. "Dari dalam."
Amber menjabat tangan Damian. Genggaman itu kuat, padat, dan penuh janji. Perang dingin di mansion Ardhana telah berakhir. Sekarang, perang terbuka dimulai.