Suasana ruangan VIP Restoran L'Étoile terasa tenang dan hangat. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan di atas meja panjang yang tertata rapi. Aroma hidangan fine dining yang menggugah selera menyelimuti ruangan, diiringi denting halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
Malam itu, Kakek Wiryoatmojo sengaja mengumpulkan seluruh anggota keluarganya. Di sampingnya, duduk Haryo Pramuditya yang sesekali berbincang santai mengenai bisnis, diselingi anggukan anggun dari Ratna Ayu, sang istri. Di sudut lain meja, Mutiara Rinata—gadis yang kerap disapa Tiara itu—asyik menyesap jus jeruknya sambil mengamati suasana.
Hanya ada satu orang yang tidak tahu-menahu mengenai alasan di balik makan malam mewah ini: Samudra Aksara Bumi. Bagi Samudra, ini hanyalah makan malam keluarga biasa di akhir pekan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Begitu piring-piring hidangan utama diangkat oleh pelayan, Kakek Wiryo meletakkan serbetnya di atas meja, berdehem pelan untuk menarik perhatian seluruh ruangan.
"Samudra," panggil Kakek Wiryo dengan suara berat dan berwibawa.
Samudra menegakkan posisi duduknya, menatap sang kakek hormat. "Ya, Kakek?"
"Makan malam ini bukan sekedar kumpul keluarga biasa," Kakek Wiryo menatap cucu laki-lakinya itu lurus-lurus. "Kakek sudah bicara dengan Om Darmawan, kolega bisnis Kakek. Kami sepakat untuk menjodohkan kamu dengan putrinya, Casandra."
Tak.
Sendok di tangan Samudra terlepas begitu saja. Tatapan santainya seketika berubah menjadi tatapan terkejut. "Jodoh? Maaf, Kakek, tapi Samudra nggak bisa."
"Kenapa tidak bisa?" potong Kakek Wiryo cepat, alisnya bertaut. "Umur kamu sudah semakin matang, karier di perusahaan juga sudah mapan. Apa lagi yang kamu tunggu? Kenapa kamu tidak kunjung menikah, Sam?"
Sebelum Samudra sempat menyusun kata-kata untuk membela diri, sebuah suara lantang tiba-tiba menyela dari sebelah kanan.
"Ya ampun... atau... jangan-jangan Mas Samudra belok?"
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari mulut Tiara. Tanpa beban, tanpa rasa bersalah.
Hening.
Dalam detik itu juga, seluruh mata di meja VIP langsung tertuju pada Tiara. Kakek Wiryo menatapnya tajam, Haryo tertegun, sedangkan Samudra melotot penuh kekesalan. Tiara yang menyadari semua orang menatapnya hanya mengedipkan mata polos. Ia memandang keempat orang di sekitarnya dengan raut wajah seolah-olah bertanya, 'Kenapa? Ada yang salah?'
Toel!
"Aduh! Mama!" ringis Tiara saat lengan atasnya dicubit gemas oleh Ratna.
"Mutiara Rinata! Kalau bicara itu disaring dulu!" bisik Ratna penuh penekanan, matanya melotot memperingatkan. "Kakakmu itu tidak mungkin suka sesama jenis! Mas Samudra itu laki-laki normal!"
Tiara mengusap lengannya yang agak kemerahan lalu memanyunkan bibir. "Ya habisnya wajar dong Tiara curiga, Ma? Kalau Mas Samudra memang normal, kenapa selama bertahun-tahun ini nggak pernah kelihatan dekat sama cewek satu pun? Nggak pernah bawa pacar ke rumah, nggak pernah cerita soal cewek. Wajar kan kalau Tiara mikir yang aneh-aneh?"
"Sudah, sudah!" Kakek Wiryo menghentikan perdebatan ibu dan anak itu dengan lambaian tangan tegas. Ia kembali menatap cucu sulungnya yang kini memegang pelipis. "Samudra, Kakek tidak mau dengar alasan konyol. Soal perjodohan dengan Casandra, Kakek sudah pertimbangkan matang-matang."
Samudra menggeleng keras. "Nggak, Kakek. Samudra tetap menolak. Lagipula... Samudra sebenarnya sudah punya calon."
Mendengar kalimat itu, Tiara langsung memutar bola matanya malas. Basi, batin Tiara. Ia tahu betul kakak laki-lakinya itu sedang berbohong demi meloloskan diri.
Haryo yang sejak tadi menyimak perbincangan akhirnya ikut angkat bicara. "Sam, dengarkan Papa dulu. Casandra itu anak teman bisnis Papa juga. Dia cantik, berpendidikan tinggi, dan sangat pintar. Kamu belum kenal dia, makanya bicara seperti ini. Coba ditemui dulu—"
"Aduh, sebentar, Pa... Kakek..." Samudra tiba-tiba mengambil ponsel dari dalam saku jasnya yang sama sekali tidak berbunyi maupun bergetar. Ia menempelkan layar ponsel itu ke telinganya dengan raut wajah pura-pura serius. "Maaf, ini ada telepon penting dari sekretaris Samudra soal proyek besok pagi. Samudra izin keluar sebentar ya untuk angkat telepon."
Tanpa menunggu persetujuan, Samudra langsung berdiri dan melangkah cepat keluar dari ruangan VIP, meninggalkan tatapan penuh rasa curiga dari keluarganya.
Sementara itu, di lorong luar restoran yang bernuansa elegan, Jingga Senandika Putri baru saja keluar dari area ruang makan umum bersama dua teman dekatnya. Perut mereka sudah kenyang setelah menghabiskan waktu bertukar cerita sampai lupa jam.
"Duh, kenyang banget. Perut gue sampai rasanya penuh," ujar salah satu temannya sambil menepuk perut pelan.
Jingga tertawa kecil, membenarkan letak tali tas bahunya. "Kalian duluan aja ke parkiran atau tunggu di depan lobby. Aku mau ke kamar mandi sebentar, kebelet."
"Oke, Ngga. Jangan lama-lama ya!"
Jingga mengangguk lalu membalikkan badan, melangkah menyusuri lorong berlantai marmer yang mengarah ke toilet. Namun, baru saja ia berbelok di belokan lorong dekat area ruang VIP, langkah kakinya mendadak terhenti.
Dari arah berlawanan, tampak seorang pria berjas rapi sedang berjalan tergesa-gesa sambil memegang ponsel di telinga. Begitu mata mereka saling bertumpu, Jingga terpaku.
Samudra Aksara Bumi.
Pria yang paling ingin ia hindari sepanjang hidupnya. Kakak kelas usil zaman SMA yang hobinya tidak pernah absen membuat harinya menderita.
Samudra ikut terkejut. Langkahnya tertahan, matanya membelalak menatap gadis di hadapannya. Namun sebelum Samudra sempat menyapa, Jingga dengan cepat membuang muka. Gadis itu menaikkan dagunya, berpura-pura tidak kenal, lalu berniat berjalan melewati Samudra begitu saja seolah-olah pria itu hanyalah patung pajangan.
Melihat respons Jingga dan teringat akan posisi terdesaknya di dalam ruangan VIP, sebuah ide gila yang sangat nekat mendadak melintas di otak Samudra.
Greb!
"Aww!" Jingga meringis kaget saat pergelangan tangannya tiba-tiba dicekal dengan kuat dari samping.
"Jingga! Tunggu sebentar, tolongin aku!" bisik Samudra setengah memohon, wajahnya tampak panik namun ada kejahilan terselubung di matanya.
Jingga melebarkan matanya. Dengan sekuat tenaga, ia menyentak genggaman tangan Samudra hingga terlepas. Wajah Jingga seketika merah padam karena terkejut sekaligus murka.
"Apa-apaan sih, Kak?!" semprot Jingga dengan suara ditahan agar tidak menimbulkan keributan di lorong. "Nggak sopan banget ya main tarik-tarik tangan orang sembarangan! Kita nggak seakrab itu!"
Samudra mendecak kesal melihat penolakan mentah-mentah itu. Tanpa memberikan jeda untuk Jingga berpikir, pria itu kembali meraih jemari Jingga dan menggenggamnya makin erat.
"Aku nggak punya waktu buat debat sekarang. Kamu harus ikut aku!" tegas Samudra sambil mulai menarik langkah Jingga menuju ke arah pintu ruang VIP.
"Nggak mau! Lepasin nggak?!" Jingga menahan tubuhnya ke belakang, berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang terkunci rapat dalam genggaman Samudra. "Kak Samudra, lepasin! Kalau Kakak nggak lepasin sekarang juga, aku teriak minta tolong ya! Aku teriak kalo Kakak mau nyulik aku!"
Samudra mendadak menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan, menatap Jingga yang dadanya naik turun menahan marah. Perlahan, bibir pria itu melengkung membentuk senyuman miring—smirk khas yang sangat dibenci Jingga sejak zaman sekolah.
Samudra merogoh saku celananya dengan satu tangannya yang bebas, lalu menggoyangkan ponselnya di depan wajah Jingga.
"Teriak aja kalau berani," bisik Samudra santai. "Tapi setelah itu, aku pastikan video waktu kamu di-ospek dulu langsung tersebar luas di seluruh media sosial."
Jingga membeku. Matanya melebar sempurna. "V-video... apa?"
"Video waktu muka kamu dikasih bedak belepotan kaya badut, pakai pita warna-warni di rambut, terus kamu dipaksa jalan jongkok geal geol kaya bebek sambil bunyi wek-wek di depan anak-anak satu angkatan," terang Samudra detail dengan nada penuh kemenangan. "Masih tersimpan rapi di cloud hpku. Kualitas HD lagi."
Tubuh Jingga bergetar menahan malu dan syok. Ingatan pahit masa SMA itu kembali berputar di kepalanya. "Kak Sam... kamu benar-benar jahat ya! Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah! Jangan macam-macam ya, hapus video itu!" Jingga menggelengkan kepalanya panik.
Samudra terkekeh pelan, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Aku nggak macam-macam kok, Jingga. Aku cuma butuh satu macam."
Jingga menatap pria di hadapannya dengan tatapan membunuh. "Apa? Mau Kakak apa sebenarnya dari aku?!"
Samudra menatap mata Jingga dalam-dalam, lalu tersenyum sangat menyebalkan. "Aku butuh kamu masuk ke dalam ruangan VIP itu sekarang, dan berpura-pura jadi pacar aku di depan seluruh keluarga besar aku."
"GILA!" seru Jingga setengah berbisik, matanya membelalak hampir keluar. "Kak Samudra udah gila ya?! Aku nggak mau! Kita aja musuh, kenapa harus pura-pura jadi pacar?!"
Samudra kembali menggoyangkan ponselnya di udara dengan wajah tanpa dosa. "Pilihannya cuma dua, Jingga Senandika. Kamu masuk ke dalam jadi pacar pura-pura aku malam ini... atau video bebek badut kamu viral besok pagi dan ditonton sama seluruh teman teman kamu? Your call."
Jingga mengepalkan tangannya erat-erat. Tatapan jenaka dan mengancam dari Samudra membuatnya sadar bahwa pria ini benar-benar tidak main-main. Terjebak di antara harga diri dan ancaman aib masa lalu, Jingga hanya bisa menghembuskan napas berat dengan kekesalan yang sudah sampai di ubun-ubun.