Jingga menghembuskan napas berat, menatap Samudra dengan pandangan yang sanggup melubangi kepala pria itu jika saja tatapan mata memiliki kekuatan supranatural. Tidak ada pilihan lain. Mengingat rekaman aib masa lalu yang siap menyebar luas dan menghancurkan reputasinya di depan teman-temannya, Jingga terpaksa menyerah pada pemaksaan konyol ini.
Samudra yang memperhatikan raut wajah frustrasi Jingga mengulum senyum tipis. Rasa puas membuncah di dadanya karena berhasil memenangkan negosiasi kilat tersebut. Ada sedikit rasa bersalah yang terlintas saat melihat bibir gadis itu mengerucut kesal, tetapi Samudra dengan cepat menepisnya. Siapa suruh Jingga muncul di saat yang tepat ketika otaknya sedang buntu total? Bagi Samudra, keberadaan Jingga di lorong ini adalah garis takdir yang dikirim untuk menyelamatkannya dari perjodohan paksa.
"Ingat," bisik Samudra setengah menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Jingga hingga gadis itu merinding. "Bersikaplah layaknya kekasih yang nurut. Senyum yang manis, jangan pasang muka seperti ingin makan orang."
"Aku nggak janji ya, Kak," balas Jingga lewat geraman halus di balik giginya yang merapat. "Awas saja kalau video itu nggak dihapus setelah ini."
Samudra tidak membalas. Tanpa peringatan, jemari tangannya yang kokoh merayap masuk ke sela-sela jemari Jingga, menggenggamnya erat dan hangat. Jingga sempat meronta kecil karena terkejut, namun cengkeraman Samudra justru makin mengunci. Dengan langkah percaya diri dan d**a terangkat, Samudra menarik Jingga melangkah menuju pintu kayu jati berukir yang membatasi ruangan VIP.
Jingga mengekor pasrah di belakang punggung lebar Samudra. Langkah kakinya terasa berat, seolah-olah ia sedang melangkah menuju ruang eksekusi. Di dalam hatinya, deretan makian dan sumpah serapah untuk sang mantan kakak kelas terus bergema tanpa henti.
Cklek.
Suara engsel pintu yang terbuka memecah keheningan ruangan VIP Restoran L'Étoile. Dalam sekejap, empat pasang mata yang berada di dalam ruangan langsung teralih lurus ke arah pintu.
Suasana seketika membeku. Percakapan yang sempat tertunda mati mendadak saat mereka menyaksikan Samudra kembali, bukan lagi seorang diri, melainkan sambil menggandeng erat jemari seorang wanita bertubuh ramping dengan paras yang sangat cantik.
Samudra tersenyum penuh kemenangan. Dengan ritme langkah yang santai namun tegas, ia menuntun Jingga mendekati meja makan utama. Jingga yang merasa menjadi pusat perhatian hanya bisa menunduk tipis, berusaha mengulas senyum sekilas meskipun jantungnya berdegup kencang seperti genderang.
"Kakek, Papa, Mama... kenalkan," ujar Samudra dengan nada suara yang tenang, memecah kebisuan. Ia mengangkat sedikit genggaman tangannya dengan Jingga ke udara. "Ini Jingga. Wanita yang selama ini mengisi hari-hari Samudra. Samudra nggak bohong kan tadi? Samudra memang sudah punya calon sendiri."
Seluruh anggota keluarga Wiryoatmojo masih terpaku, memandangi Jingga dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kehadiran gadis berwajah manis dengan riasan natural dan tatapan mata yang teduh itu benar-benar di luar ekspektasi mereka.
Kakek Wiryo menjadi orang pertama yang memecah keheningan. Sudut-sudut bibirnya terangkat, mengukir senyuman lebar yang memancarkan rasa puas. "Jadi... ini alasan kamu menolak Casandra dari tadi, Sam?"
Namun, sebelum Samudra sempat menjawab, sebuah suara sumbang bernada provokatif kembali menyela dari sudut meja.
"Tunggu, tunggu..." Tiara menyipitkan matanya curiga, menatap Samudra dan Jingga bergantian. "Mas Samudra dapat cewek secantik ini dari mana? Nyulik di mana, Mas? Atau jangan-jangan Mas sewa jasa pacar sewaan demi meloloskan diri dari Kakek?"
"Mutiara Rinata! Jaga mulut kamu!" tegur Samudra tajam, menatap adiknya dengan kilatan mata mengancam.
Tiara hanya tertawa tanpa dosa, lalu menyilangkan tangan di d**a sambil bersandar santai di kursinya.
Samudra kembali mengalihkan pandangannya pada pria tua di ujung meja. "Kakek sudah percaya sekarang kan? Samudra nggak bohong soal punya calon."
Samudra menghembuskan napas lega, mengira sandiwaranya telah berhasil seratus persen dan masalah selesai sampai di sini. Namun, alih-alih sekedar mengangguk setuju atau menyuruh mereka duduk makan, jawaban yang keluar dari mulut Kakek Wiryo justru bagaikan petir di siang bolong.
Kakek Wiryo menepuk tangannya sekali, matanya berbinar penuh semangat. "Bagus! Kalau begitu, tidak perlu tunggu lama-lama lagi. Akhir minggu ini kita datang ke rumah orang tua Jingga, lalu bulan depan kamu langsung melamar dan menikahi dia!"
Glek.
Samudra menelan ludahnya kasar. Tenggorokannya mendadak terasa sekering padang pasir. Pria itu membeku di tempat, matanya membelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Di sampingnya, Jingga bahkan jauh lebih terkejut. Tubuh gadis itu menegak kaku, matanya melotot sempurna menatap Kakek Wiryo. Ekspresi terkejut yang berbaur dengan rasa tertekan hebat terpancar jelas dari wajah cantiknya. Menikah?! Bulan depan?! jerit Jingga dalam hati, merasa dunianya runtuh dalam hitungan detik.
Belum sempat Samudra merangkai kata untuk membantah, Ratna Ayu sudah melangkah mendekat dengan senyuman hangat yang mengembang lurus ke arah Jingga. Sang mama mengelus lengan Jingga dengan penuh kasih sayang.
"Aduh, cantik sekali calon menantu Mama," puji Ratna tulus, matanya berbinar-binar. "Pantas saja Samudra menyembunyikan kamu terus, takut diincar orang lain ya? Mama setuju sekali dengan Kakek. Pernikahan kalian tidak usah ditunda-tunda lagi. Lebih cepat lebih baik!"
"M-mama... tunggu dulu, Ma!" Samudra tergagap, suaranya naik satu oktav karena panik. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Jingga yang kini sudah tidak memberikan respons apa pun. "Maksud Samudra bukan begitu... Kami... kami masih baru berpacaran. Jingga dan Samudra masih ingin menikmati masa-masa pacaran dulu, belum ada rencana untuk menikah secepat ini!"
Ratna mengibaskan tangannya santai, menepis alibi anak sulungnya. "Ah, buat apa pacaran lama-lama kalau sudah sama-sama cocok? Pacaran setelah menikah itu justru jauh lebih romantis, Sam! Lagipula umur kamu itu sudah matang, mau nunggu apa lagi?"
Di sudut meja, Tiara meledakkan tawa kecil yang berusaha ia tahan. Wajah panik dan tertekan yang langka dari sang kakak menjadi pemandangan paling menghibur malam ini. Tiara sangat tahu tabiat kakaknya, dan melihat respons spontan serta kebisuan Jingga, ia makin yakin seribu persen bahwa wanita cantik di sebelah kakaknya itu hanyalah 'korban jebakan' yang diseret kakaknya mendadak.
"Tuh, Mas Sam. Dengar kata Mama," goda Tiara dengan nada mengejek. "Kenapa mukanya tegang banget gitu? Harusnya seneng dong mau langsung dinikahin sama pacar cantiknya? Ya kan, Mbak Jingga?"
Jingga hanya bisa mengulas senyum kaku yang terlihat seperti cengiran meringis. Lidahnya terasa kelu, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Haryo Pramuditya yang sejak tadi memperhatikan kini ikut menimpali perkataan ayahnya. "Papa setuju dengan Kakek dan Mamamu, Sam. Kenapa harus diulur-ulur lagi kalau memang calonnya sudah ada dan sepadan seperti Jingga? Urusan dokumen dan lamaran biar Papa dan Mama yang bantu persiapkan. Kamu tinggal siapkan diri saja."
"Tapi, Pa—"
"Tidak ada tapi-tapi, Samudra," potong Kakek Wiryo tegas namun diselingi senyuman puas. "Keputusan Kakek sudah bulat. Sabtu malam kita keluarga besar akan silaturahmi ke rumah orang tua Jingga."
Samudra bungkam total. Segala argumen dan alibi cerdas yang biasanya menumpuk di otaknya mendadak menguap tanpa sisa. Pria yang biasanya selalu memegang kendali itu kini berdiri mematung dengan rasa tertekan yang luar biasa.
Sementara di sampingnya, Jingga hanya bisa membisu. Seluruh tenaga dan daya pikirnya seolah-olah telah tersedot habis oleh kata-kata bertubi-tubi dari keluarga Samudra. Niat hati hanya ingin menyelamatkan harga diri dari ancaman video aib, Jingga kini justru menyadari bahwa dirinya baru saja melangkah masuk ke dalam perangkap yang jauh lebih besar dan mengerikan: sebuah pernikahan dadakan.