Ponsel di dalam tas bahu Jingga terus bergetar tanpa henti. Layarnya menyala berulang kali memperlihatkan nama salah satu temannya yang memanggil. Jingga baru teringat bahwa ia telah meninggalkan teman-temannya di area parkir restoran cukup lama. Namun, berada di bawah tatapan hangat keluarga Samudra membuat Jingga merasa sangat segan dan tidak berani untuk sekadar mengangkat telepon tersebut di depan mereka.
Dengan gerakan sembunyi-sembunyi di balik meja, jemari Jingga dengan cepat mengetik pesan singkat di aplikasi hijau: 'Kalian pulang duluan aja ya, maaf banget tiba-tiba ada urusan mendadak sama kenalan lama. Nanti aku pesan taksi online. Hati-hati di jalan!'
Setelah menekan tombol kirim, Jingga kembali mematikan layar ponselnya. Samudra yang berdiri tepat di samping Jingga sempat melirik gerakan canggung gadis itu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa bahu Jingga tampak tegang dan raut wajahnya menyiratkan rasa tertekan yang luar biasa. Meski jahil, Samudra tahu batas—ia sadar gadis di sebelahnya ini sudah berada di titik jenuh.
"Kakek, Papa, Mama... karena malam sudah makin larut, Samudra pamit antar Jingga pulang dulu ya," potong Samudra memutus obrolan hangat keluarganya. "Kasian Jingga pasti sudah lelah."
Ratna tersenyum makin lebar, mengangguk setuju. "Iya, betul itu. Kasihan Jingga dari tadi cuma berdiri. Ya sudah, kamu antar Jingga pulang dengan selamat ya, Sam. Jaga calon menantu Mama baik-baik. Jangan ditinggal di jalan!"
"Pasti, Ma," jawab Samudra singkat.
Jingga hanya bisa menyunggingkan senyum formal yang sangat dipaksakan sambil mengangguk sopan pada Kakek Wiryo dan kedua orang tua Samudra, sebelum akhirnya ditarik perlahan oleh pria itu keluar dari area VIP room.
Begitu pintu ruang VIP tertutup rapat dan langkah kaki mereka sudah berada cukup jauh di lorong restoran yang agak sepi, pertahanan Jingga runtuh.
Sret!
Dengan sekuat tenaga, Jingga menyentak tangannya hingga terlepas bebas dari genggaman Samudra. Ia membalikkan badan dengan cepat, mengikis jarak dan menatap Samudra dengan tatapan tajam yang seolah sanggup menelan pria itu bulat-bulat.
"Kak Samudra benar-benar gila ya?!" semprot Jingga dengan suara tertahan namun penuh penekanan. "Kenapa Kakak nggak bilang dari awal kalau aku harus pura-pura jadi calon istri?! Janjinya tadi cuma pura-pura jadi pacar!"
Samudra mengerutkan alisnya, mengangkat kedua tangannya ke udara seolah membela diri. "Mana aku tahu kalau Kakek bakal langsung minta kita nikah bulan depan?! Aku juga kaget, Jingga! Ini di luar skenario!"
Jingga terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangan di dadanya seraya menggelengkan kepala. "Luar biasa... Sial banget aku malam ini. Dari sekian banyak orang di restoran ini, kenapa harus bertemu sama Kak Samudra sih?"
Samudra melebarkan matanya, terkejut mendengar balasan menohok itu. Rahangnya mengeras. "Hei! Kamu pikir aku senang ketemu sama kamu? Aku juga nggak mau ketemu kamu kalau bukan karena terdesak!"
"Kalau begitu batalin!" tegas Jingga tanpa ragu. "Aku nggak mau terima tawaran gilamu ini. Aku nggak mau nikah sama Kak Samudra! Titik!"
Mendengar penolakan mentah-mentah itu, rahang Samudra makin mengetat rapat. Jika saja situasi di dalam tidak makin rumit dan Kakeknya tidak memegang kendali penuh atas posisinya di perusahaan, Samudra juga tidak sudi harus bersanding dengan gadis menyebalkan dan keras kepala seperti Jingga.
Sikap terdesak membuat insting licik Samudra kembali muncul. Pria itu menyunggingkan senyum miring yang paling dibenci Jingga.
"Kamu yakin mau membatalkan?" pancing Samudra santai sambil merogoh saku celananya. "Ingat ya, Jingga... video bebek badut kamu masih aman di cloud aku. Kalau kamu mundur sekarang, jangankan di media sosial... aku bakal sewa videotron di seluruh penjuru Jakarta buat mutar video kamu yang jalan jongkok kayak bebek itu!"
Napas Jingga tercekat. Matanya membelalak lebar, tidak percaya dengan tingkat kelicikan pria di hadapannya. Ia mengangkat jari telunjuknya, menunjuk wajah Samudra dengan gemetar karena geram. "Kak Samudra... kamu benar-benar—"
"Samudra? Jingga? Kok kalian masih berdua di situ?"
Suara lembut namun mengejutkan milik Ratna tiba-tiba terdengar dari arah belakang lorong. Ternyata sang mama dan yang lainnya baru saja keluar dari ruangan VIP untuk ikut pulanh.
Samudra tersentak kaget. Secara refleks, ia langsung menurunkan tangan Jingga yang menunjuknya, lalu menyambar jemari gadis itu dan menggenggamnya kembali dengan amat erat.
"Eh, Mama..." Samudra berbalik cepat sambil menyunggingkan senyum manis yang sangat canggung. "Ini Ma, Jingga tadi cuma... aduh, tali tasnya sempat tersangkut. Ini kami mau langsung menuju ke parkiran kok."
Jingga yang tersadar langsung mengubah raut wajah murkanya menjadi senyuman anggun nan sopan. Ia mengangguk pelan pada Ratna. "Iya, Tante... kami pamit duluan ya."
"Oalah, Mama kira ada apa. Ya sudah, hati-hati di jalan ya sayang," balas Ratna hangat.
Tanpa membuang waktu lagi, Samudra setengah menyeret Jingga berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor menuju area parkir, menghindari kecurigaan sang mama yang masih memperhatikan dari kejauhan.
Brak!
Suara pintu mobil SUV hitam milik Samudra tertutup cukup keras. Begitu mesin mobil menyala dan pendingin udara mulai berembus, Jingga langsung melepas sabuk pengaman yang baru dimasukkannya separuh dan memutar tubuhnya menghadap Samudra.
"Aku nggak mau diantar pulang sama Kak Samudra!" omel Jingga langsung, meluapkan seluruh emosinya yang tertahan sejak di lorong tadi. "Berhenti di depan gerbang restoran sekarang! Aku bisa pesan taksi online sendiri!"
Samudra menginjak pedal gas, melajukan mobilnya membelah jalanan malam kota yang mulai lengang. Pria itu menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin. "Kamu pikir aku mau nganterin kamu? Kalau bukan karena pesan Mama tadi, aku juga malas ya!"
"Ya sudah, turunin aku!"
"Nggak bisa! Nanti kalau Mama atau Tiara lihat kamu turun di pinggir jalan, aku yang kena semprot!" balas Samudra tak mau kalah.
Jingga mendengus keras, melempar pandangannya ke luar jendela mobil. "Terserah. Yang jelas, besok pagi Kak Samudra harus cari alasan ke keluarga Kakak kalau kita putus. Aku tetap nggak mau jadi calon istri Kak Samudra."
Hening seketika merayapi kabin mobil.
Samudra membisu. Jemarinya mencengkeram kemudi makin erat. Pikiran pria itu berputar hebat. Bagaimana kalau Jingga benar-benar menolak dan nekat kabur? batin Samudra panik.
Satu fakta besar yang sama sekali tidak diketahui oleh Jingga: Samudra sebenarnya tidak memiliki video aib ospek itu sama sekali. Ponsel lamanya yang menyimpan rekaman masa SMA itu sudah rusak total dan hilang bertahun-tahun lalu. Ancamannya tadi murni gertakan saja yang ia karang secara spontan karena terdesak. Jika Jingga mengetahui hal ini, habis sudah riwayat Samudra. Ia akan dipaksa menikah dengan Casandra atau dicoret dari silsilah warisan Kakek Wiryo.
Menit demi menit berlalu dalam keheningan yang mencekat. Jingga masih bersedekap d**a sambil menatap lampu-lampu jalanan, sementara Samudra sibuk memutar otak mencari jalan keluar yang masuk akal bagi mereka berdua.
Setelah sekian lama tenggelam dalam pikiran masing-masing, Samudra akhirnya berdehem pelan, memecah kebisuan.
"Jingga," panggil Samudra dengan nada suara yang jauh lebih tenang dan serius dari sebelumnya.
Jingga tidak menoleh, hanya melirik Samudra sekilas. "Apa?"
"Bagaimana kalau... kita buat kontrak pernikahan?"
Kalimat itu meluncur mulus dari mulut Samudra. Jingga menoleh seketika dengan raut wajah terkejut yang tak tertutupi. Matanya membelalak menatap samping wajah Samudra. "Apa? Kontrak pernikahan?"
"Iya," Samudra melirik sekilas lewat kaca spion tengah sebelum kembali fokus pada jalanan. "Kita menikah secara resmi di hadapan keluarga, tapi di antara kita berdua, ada surat perjanjian tertulis. Kita jalani pernikahan ini selama satu tahun saja. Setelah itu, kita pisah secara baik-baik dengan alasan sudah tidak cocok. Kamu bebas, dan aku juga lepas dari perjodohan Kakek."
Jingga tertawa hambar, menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Kak Samudra ini benar-benar gila ya? Pernikahan itu sakral, Kak! Bukan mainan atau transaksi bisnis yang bisa dikontrak lalu dibatalin begitu saja kalau sudah bosan! Aku nggak mau menikah cuma gara-gara kontrak konyol!"
Samudra menghela napas panjang, lalu membalas dengan cepat tanpa jeda, "Kalau begitu, kita menikah betulan saja."
Deru napas Jingga terhenti. Matanya membelalak makin lebar, kepalanya menggeleng-geleng kaku seolah-olah baru saja mendengar bahasa asing yang tidak masuk akal. "M-maksudnya apa?!"
Samudra menoleh sekilas ke arah Jingga, menatap mata gadis itu tepat di manik matanya dengan raut wajah yang mendadak sangat serius dan tanpa nada bercanda sedikit pun.
"Pilihannya cuma dua, Jingga," ujar Samudra tegas. "Kalau kamu tidak mau menikah kontrak... berarti kita harus menikah betulan dan jalani rumah tangga ini selayaknya suami istri. So, which one do you prefer?"