Mobil SUV hitam milik Samudra akhirnya melaju melambat saat mendekati kawasan perumahan tempat tinggal Jingga. Begitu melihat papan nama kompleks di depan gang, Jingga langsung menunjuk ke arah pinggir jalan.
"Turunkan aku di depan gang itu saja, Kak," potong Jingga cepat, suaranya tak memuat bantahan.
Samudra menaikkan sebelah alisnya, melirik spion samping. "Kenapa di depan gang? Rumahmu kan masih di dalam? Ini sudah malam, Jingga."
"Nggak mau!" Jingga menggeleng tegas, matanya melotot memperingatkan. "Kalau Kakak nganterin sampai depan rumah, bisa heboh satu rumah! Selama ini aku nggak pernah bawa atau mengenalkan laki-laki ke keluarga. Apalagi laki-laki itu Kak Samudra... Aku sangat tidak sudi kalau sampai keluargaku tahu dan salah paham!"
Samudra mendecak pelan, namun ia akhirnya menepi dan menginjak rem di depan gang yang cukup terang. "Ya sudah, turun sana. Lagi pula aku juga nggak berniat mampir."
"Baguslah!" Jingga menyambar tas bahunya, melempar tatapan sengit terakhir pada Samudra sebelum keluar dan menutup pintu mobil dengan sedikit hentakan.
Ia memandangi mobil Samudra yang berlalu pergi dengan perasaan lega yang membuncah. Jingga lalu membenarkan tali tasnya dan melangkah menyusuri trotoar menuju gerbang tinggi rumahnya. Begitu Jingga sampai di depan pagar ukir besi, Pak Yono—satpam rumahnya—langsung sigap membukakan pintu pagar kecil untuk cucu majikannya itu.
"Eh, Mbak Jingga baru pulang? Malam amat, Mbak," sapa Pak Yono ramah.
Jingga mengulas senyum manis, rasa kesalnya pada Samudra langsung menguap sejenak. "Iya, Pak Yono. Tadi keasyikan ngobrol sama teman-teman. Terima kasih ya, Pak!"
"Sama-sama, Mbak. Hati-hati, pintu depan belum dikunci kok."
Jingga mengangguk paham lalu melangkah melintasi halaman depan. Namun, begitu ia menggeser pintu kayu utama dan melangkah masuk ke dalam rumah, samar-samar pendengarannya menangkap suara tangisan bayi yang melengking dari arah ruang keluarga.
Bibir Jingga seketika membentuk senyum lebar. Matanya berbinar-binar. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju sumber suara di area ruang tengah. Dan benar saja tebakannya! Di atas sofa panjang, tampak kakak perempuannya sedang menimang-nimang sesosok mungil yang terbungkus selimut lembut bertotol merah muda.
"Mbak Ranum!" panggil Jingga setengah berbisik namun penuh antusias.
Wanita berparas anggun yang dipanggil Ranum Renjana Putri itu menoleh, mengulas senyum lega saat bayinya perlahan mulai tenang di pelukannya. "Eh, Jingga. Baru pulang kamu?"
Jingga mendekat dengan mata tak berkedip menatap bayi mungil itu. "Mbak Ranum nginap di sini? Mas Bagas ke mana?"
"Iya, menginap beberapa hari. Mas Bagas sedang ada dinas luar kota ke Surabaya dari tadi sore," jawab Ranum pelan sambil menepuk-nepuk lembut punggung anaknya.
Gemas melihat pipi gempal keponakannya, tangan Jingga terulur gatal untuk mencubit pelan. Namun, baru saja ujung jarinya hendak menempel di pipi bayi itu—
Plak!
"Aww!" Jingga meringis sambil menarik tangannya kembali saat Ranum menepis jarinya cukup bertenaga.
"Jingga! Tangan kamu itu baru dari luar, banyak kuman!" omel Ranum galak, matanya melotot memperingatkan. "Cuci tangan dulu sana! Cuci kaki, ganti baju sekalian. Jangan langsung pegang-pegang Rauna!"
Jingga memberenggut kesal, memanyunkan bibirnya beberapa senti. "Ih, Mbak Ranum bawel banget deh! Padahal aku cuma mau noel dikit!"
Walau menggerutu, Jingga tetap menunduk mendekatkan wajahnya pada bayi mungil itu sambil berbisik lembut, "Tunggu Tante Jingga ya, Rauna sayang... Tante cuci tangan dulu sebentar."
Jingga berbalik dan menaiki tangga kayu menuju lantai dua tempat kamarnya berada. Ia dengan sigap mengganti pakaian jalannya dengan baju santai kaos longgar dan celana kain, lalu membersihkan diri di kamar mandi.
Saat baru saja keluar dari kamar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, pintu kamar sebelah terbuka. Mamanya keluar dari sana.
"Lho, Jingga? Baru sampai, Nak?" tanya wanita paruh baya bernama Nirmala Andini itu dengan suara lembut khasnya.
"Iya, Ma," jawab Jingga. Ia langsung mendekat dan bergelayut manja di lengan sang mama, menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu.
Mama Andin tersenyum mengusap-usap lengan anak bungsunya. "Bagaimana makan malamnya? Senang kan akhirnya bisa keluar ketemu teman-teman? Kemarin-kemarin ngeluh bosan terus karena harus mengurus butik dari pagi sampai malam."
Ya, Jingga memang memiliki sebuah butik pakaian wanita yang ia bangun dan kelola sendiri. Usahanya sedang berkembang pesat, yang membuat harinya kerap diisi dengan kesibukan mengurus bahan dan desain.
Namun, mendengar pertanyaan mamanya soal 'makan malam', bayangan wajah Samudra yang tersenyum menyebalkan di lorong restoran seketika melintas di benak Jingga. Rasa dongkol yang sempat mereda mendadak membakar dadanya lagi.
Secara refleks, Jingga melepaskan tangannya dari lengan sang mama. Wajahnya ditekuk, matanya menatap lurus ke depan dengan ketus.
Mama Andin tertegun melihat perubahan sikap anak bungsunya yang drastis. Ia menatap Jingga heran. "Lho... kenapa tiba-tiba mukanya ditekuk begitu? Ada yang salah sama pertanyaan Mama?"
Jingga tersentak sadar bahwa reaksinya terlalu berlebihan. Ia tidak ingin mamanya curiga apalagi sampai tahu soal kejadian tragis bersama Samudra tadi.
"Eh? Nggak kok, Ma! Nggak ada apa-apa," alibi Jingga cepat, kembali mengulas senyum paksa. Ia langsung menyambar lengan mamanya lagi dan menariknya pelan. "Ayo Ma, ke kamar Mbak Ranum! Aku mau main sama Rauna!"
Jingga menuntun mamanya menuju kamar tamu lantai atas yang ditempati kakaknya. Namun, saat pintu kamar dibuka perlahan, harapan Jingga langsung pupus. Rauna rupanya sudah tertidur lelap di tengah kasur dengan posisi menyamping yang sangat menggemaskan.
Jingga memberenggut sedih, mendesah kecewa. "Yaaa... kok sudah tidur lagi sih?"
Ranum yang sedang merapikan botol s**u membalikkan badan lalu berbisik, "Anak bayi ya jam segini sudah waktunya tidur nyenyak. Jangan diganggu! Ayo keluar saja, kita ngobrol di luar daripada berisik di sini."
Mereka bertiga akhirnya turun kembali ke lantai satu. Jingga berjalan lebih dulu ke dapur untuk menyeduh teh hangat dan mengambil beberapa camilan stoples, lalu membawanya ke meja kecil di depan televisi tempat mama dan kakaknya sudah bersandar santai.
Jingga meletakkan nampan dan ikut duduk bersila di karpet. Mereka bertiga mulai mengobrol hangat seputar perkembangan butik Jingga dan cerita lucunya Rauna siang tadi. Suasana keluarga itu terasa hangat dan damai... sampai Ranum meletakkan cangkir tehnya dan menatap Jingga dengan tatapan penuh selidik.
"Jingga," panggil Ranum santai. "Kamu sebenarnya sudah punya pacar belum sih?"
Jingga yang baru saja hendak mengunyah biskuit mendadak terhenti. Ia menaikkan alisnya. "Kenapa memangnya?"
"Ya tanya saja. Soalnya kalau kamu memang belum punya pacar dan tidak sedang dekat sama siapa-siapa, Mas Bagas kemarin sempat cerita. Dia mau mengenalkan kamu sama teman kerjanya di kantor. Katanya orangnya baik, mapan, dan masih single."
Jingga langsung memutar bola matanya malas. "Aduh, Mbak... Nggak usah aneh-aneh deh. Aku lagi nggak mikirin pacar-pacaran."
Kata 'pacar' dan 'perjodohan' yang diucapkan Ranum mendadak menjadi pemantik yang membakar ingatan Jingga kembali pada Samudra. Wajah tengil pria itu saat mengancam akan menyebar video ospek dan mengajaknya menikah betulan langsung berputar bagaikan kaset rusak di dalam kepalanya.
Rasa kesal, tertekan, dan gemas yang bercampur aduk membuat emosi Jingga tak terbendung lagi.
Set! Buuk! Buuk!
Tanpa sadar, Jingga mengepalkan kedua tangannya dan meninju udara kosong di depannya bertubi-tubi dengan raut wajah berkerut penuh dendam, seolah-olah wajah Samudra benar-benar berada di sana untuk ia pukuli.
Tindakan impulsif Jingga yang tiba-tiba itu membuat suasana hening seketika.
Mama Andin yang sedang memegang cangkir teh membeku di tempat. Ranum menghentikan kunyahannya, matanya membelalak kaget memperhatikan tingkah aneh adik bungsunya yang sedang 'bertarung' dengan angin.
Kedua wanita itu saling pandang dengan deretan tanda tanya besar di kepala mereka.
"Mama..." bisik Ranum perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari Jingga, "adikku kenapa sih, Ma? Kesurupan di jalan ya?"
Mama Andin menggelengkan kepala bingung, menatap Jingga dengan raut prihatin sekaligus heran. "Mama juga nggak tahu, Ranum... Dari tadi pas pulang memang sudah aneh begitu."