Mobil milik Samudra itu membelah jalanan malam dengan kecepatan sedang. Di balik kemudi, Samudra meremas setir dengan buku-buku jari yang memutih. Pikirannya benar-benar kacau, bergelut antara rasa kesal yang membakar dan kebingungan yang makin mengimpit dadanya.
Ia kesal setengah mati karena Jingga begitu gigih menolak dan berniat membatalkan perjanjian konyol mereka. Namun di sisi lain, kepalanya mendadak pusing membayangkan apa yang akan terjadi jika Jingga benar-benar angkat tangan dan menolak membantunya.
Satu hal yang pasti: Samudra sama sekali tidak sudi menikah dengan Casandra.
Kakek dan Papanya boleh saja membangga-banggakan Casandra sebagai wanita cantik dari keluarga terpandang. Ya, Samudra tidak menampik kalau secara visual Casandra memang memikat. Tapi kalau keluarganya bilang wanita itu lembut, baik-baik, dan cocok jadi pendamping hidupnya? Bullshit.
Samudra sudah mengenal siapa Casandra jauh sebelum Kakek dan Papanya membawa nama wanita itu ke dalam percakapan keluarga. Di lingkaran pergaulannya, Casandra terkenal sebagai wanita bermuka dua. Hobi gonta-ganti pasangan, kerap terlihat mabuk-mabukan di club malam hingga larut pagi, dan selalu memasang topeng anak penurut di depan orang tua. Samudra paling benci wanita sejenis itu—penuh kepalsuan dan drama.
Jika harus memilih antara dua racun, Samudra tanpa ragu akan memilih Jingga. Ya... walaupun Jingga itu sangat menyebalkan, cerewet, galak, dan mulutnya tajam seperti pisau, setidaknya Jingga adalah wanita baik-baik. Dia jujur dengan emosinya dan punya harga diri yang tinggi.
Begitu memarkirkan mobil di garasi rumah mewahnya, Samudra mendapati lampu-lampu utama sudah menyala terang. Rupanya Kakek, Papa, dan Mamanya sudah tiba lebih dulu. Tanpa berniat menyapa siapa pun di lantai bawah, Samudra memilih melangkah tergesa-gesa menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Tenaganya serasa terkuras habis. Menghadapi Jingga selama satu jam lebih tadi rasanya lebih melelahkan daripada memimpin rapat direksi seharian penuh.
Namun, menginjakkan kaki di koridor lantai atas tidak Lantas membuat penderitaannya berakhir.
Di depan pintu kamarnya, tampak sesosok gadis bersandar santai dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Mutiara Rinata. Adiknya yang tengil—sifat menyebalkan yang sangat mirip dengan Samudra saat SMA dulu—sudah menunggunya dengan cengiran penuh arti. Kamar Tiara memang tepat berada di sebelah kamarnya.
Samudra memutar bola matanya malas, menghembuskan napas berat. "Bisa geser sedikit? Mas mau masuk, capek."
Samudra mengabaikan adiknya dan meraih gagang pintu. Namun, belum sempat pintu terdorong terbuka, Tiara dengan gesit memotong langkahnya. Gadis itu berdiri tepat di hadapan Samudra, membusungkan d**a sejenak, lalu tanpa rasa dosa memutar tubuhnya dan menerobos masuk ke dalam kamar sang kakak lebih dulu.
"Astaga, Tiara..." Samudra mendesah lelah sambil memijat pelipisnya. Ia ikut melangkah masuk dan membiarkan pintunya terbuka sedikit. "Keluar sana. Mas mau mandi, mau istirahat."
Bukannya menurut, Tiara justru melangkah santai menuju sofa empuk di sudut kamar dan mendaratkan bokongnya di sana. Ia melipat kaki, menatap kakaknya dengan pandangan penuh selidik yang tajam.
Malas berdebat di dengan adiknya, Samudra melangkah menuju pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Ia membukanya lebar-lebar, membiarkan angin malam yang dingin berembus masuk untuk menyegarkan kepalanya yang panas, lalu berdiri menyandar di ambang pintu sambil bersedekap d**a.
"Mau ngomong apa lagi? Cepat," ujar Samudra datar, menatap lurus ke arah kegelapan malam.
Tiara meletakkan bantal sofa di pangkuannya. "Mas dapat cewek secantik Mbak Jingga dari mana, sih? Beneran penasaran aku. Kok bisa-bisanya cewek anggun dan manis kaya gitu mau sama Mas Samudra?"
"Bicara yang sopan ya," tegur Samudra tanpa menoleh. "Jingga itu memang pacar Mas. Memangnya aneh kalau Mas punya pacar cantik?"
Tiara tertawa kecil—sebuah tawa remeh yang sangat khas. "Mas... pliss deh. Nggak usah bohong sama Tiara. Kita ini tumbuh di rumah yang sama bertahun-tahun. Tiara tahu banget gelagat Mas kalau lagi bohong atau kepepet."
Tiara memperbaiki posisi duduknya, menatap punggung kakaknya dengan raut wajah yang berubah agak serius. "Mas, jangan libatkan orang lain ke dalam masalah hidup Mas sendiri. Apalagi cewek polos kaya Mbak Jingga."
Punggung Samudra membeku sejenak, namun ia berusaha tetap bersikap tenang. "Mas nggak bohong, Tiara. Mas sama Jingga memang sudah pacaran. Cuma memang sengaja diam-diam, nggak mau heboh dulu sebelum waktunya."
Mendengar alibi itu, Tiara bangkit dari sofa. Langkah kakinya terdengar perlahan mendekati pintu balkon, hingga ia berdiri persis di samping Samudra. Gadis itu menyandarkan bahunya di kusen pintu, menatap samping wajah kakaknya dari dekat.
"Kalau memang beneran pacaran, kenapa tadi pas Kakek bilang mau melamar bulan depan, muka Mbak Jingga langsung pucat kaya mau pingsan?" pancing Tiara pelan.
Samudra bungkam, enggan merespons.
"Mas..." suara Tiara melunak, meninggalkan nada ejekannya. "Tiara beneran kasihan sama Mbak Jingga kalau dia cuma Mas jadikan tameng buat lari dari perjodohan Mas sama Casandra. Menikah itu bukan main-main, Mas. Jangan sampai Mbak Jingga jadi korban cuma gara-gara sifat egoisnya Mas Samudra."
Samudra tetap menatap lurus ke depan, bibirnya terkatup rapat. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya untuk membela diri.
Melihat kakaknya yang memilih membisu, Tiara hanya bisa menghela napas panjang. "Ya sudah. Tiara cuma mau ingatkan itu saja. Terserah Mas mau dengar atau nggak."
Tiara berbalik dan melangkah keluar kamar, membiarkan pintu kamar Samudra tertutup pelan di belakangnya.
Sepeninggal Tiara, hening kembali menyelimuti kamar berukuran luas itu. Samudra berdiri mematung di pintu balkon, membiarkan terpaan angin malam menerpa wajahnya.
Kata-kata Tiara tadi meresap dalam-dalam ke dalam pikirannya, sukses membuatnya makin kalut. Perasaan bersalah sempat mencubit hatinya. Tiara benar... menjadikan Jingga sebagai tameng memang terkesan egois.
Tapi di sisi lain, Samudra tidak punya pilihan lain! Situasinya sudah terdesak sampai ke ujung tanduk.
Hanya Jingga satu-satunya wanita yang bisa ia ajak kerja sama dalam situasi gila ini. Mengapa? Karena ia sudah mengenal Jingga sejak masa sekolah. Ia tahu karakter Jingga, tahu latar belakangnya, dan tahu bahwa gadis itu bisa dipercaya. Jika ia harus menyewa aktris atau membayar wanita asing untuk menjadi kekasih pura-puranya demi mengelabui Kakek Wiryo, Samudra sadar resiko kegagalannya sangat tinggi. Kakeknya bukan orang sembarangan yang mudah dibodohi oleh sandiwara amatir.
Samudra menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengusir segala keraguan yang menumpuk di benaknya. Tatapannya mendadak mengeras, dipenuhi tekad bulat.
Nasi sudah menjadi bubur, batin Samudra.
Jika Kakeknya terus memaksakan pernikahan ini, maka ia akan benar-benar menikahi Jingga. Dan jika Jingga tidak mau serta terus menolak... maka Samudra tidak akan segan-segan memakai segala cara untuk memaksanya. Ia akan menekan gadis itu sampai Jingga tidak punya pilihan lain selain menerima takdir sandiwara ini.
Memang terdengar sedikit licik dan manipulatif. Namun di tengah kepungan rencana perjodohan keluarga yang mengekang, hanya Jingga Senandika Putri—si gadis cerewet dari masa lalunya—wanita satu-satunya yang bisa ia percaya untuk menjalankan sandiwara besar ini hingga tuntas.