Beberapa hari berlalu sejak insiden makan malam yang menegangkan di Restoran L'Étoile. Samudra sengaja menyibukkan diri di kantor, menenggelamkan dirinya di antara tumpukan berkas dan agenda rapat yang padat. Dalam hati kecilnya, ia sempat berharap ancaman Kakek Wiryo malam itu hanyalah gertakan biasa atau luapan emosi sesaat yang akan menguap seiring berjalannya waktu.
Namun, harapan tinggal harapan.
Pagi itu, suasana ruang kerja Kakek Wiryo di kediaman utama keluarga Wiryoatmojo terasa hangat oleh sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela kaca besar. Aroma kopi hitam pekat membumbung di udara, berpadu dengan wangi kayu jati dari interior ruangan. Kakek Wiryo duduk santai di kursi kebesarannya sambil menyesap kopi, sementara Samudra berdiri di hadapan meja kerja sang kakek dengan dokumen laporan keuangan triwulan di tangannya.
"Bagaimana, Samudra?" tanya Kakek Wiryo tiba-tiba, meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan bunyi 'tak' yang halus.
Samudra menaikkan pandangannya dari berkas. "Laporan keuangan anak perusahaan di Surabaya sudah beres, Kakek. Minggu depan tinggal ditandatangani—"
"Bukan itu yang Kakek tanyakan," potong Kakek Wiryo santai namun memotong kalimat cucunya dengan tegas. Matanya menatap Samudra lurus-lurus. "Kapan kita bertandang ke rumah orang tua Jingga untuk membahas lamaran kalian?"
Samudra tersentak pelan. Cengkeramannya pada map kulit di tangannya sedikit mengerat. Ia tidak menyangka sang kakek akan menagih hal tersebut secepat ini.
Aduh, mampus aku, batin Samudra merutuki kesalahannya sendiri. Satu hal lagi yang baru ia sadari belakangan ini: ia sama sekali lupa meminta nomor telepon atau kontak Jingga malam itu! Saat menurunkan gadis itu di depan gang perumahannya, kepalanya terlalu panas sampai lupa menanyakan hal paling mendasar.
Namun, Samudra berusaha tetap memasang wajah tenang. Toh, secara teknis itu bukan masalah besar. Ia tahu lokasi perumahan tempat tinggal Jingga. Meski tidak tahu pasti blok dan nomor rumahnya, ia yakin bisa singgah sebentar di pos satpam kompleks untuk bertanya dimana Jingga tinggal.
Mengulur waktu adalah satu-satunya strategi yang ada di otak Samudra saat ini.
"Maaf, Kakek," ujar Samudra sambil berdehem pelan, membetulkan letak dasinya. "Minggu ini jadwal Samudra sangat padat. Ada audit internal, peluncuran proyek baru di Jakarta Selatan, plus kunjungan investor asing besok lusa. Pekerjaan di kantor benar-benar menumpuk dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja."
Samudra mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan alibinya. "Bagaimana kalau kita selesaikan dulu agenda penting perusahaan ini? Setelah semua pekerjaan Samudra beres dan senggang, baru Samudra akan bicarakan lagi soal tanggal lamaran bersama Kakek, Papa, dan Mama."
Mendengar penolakan halus nan diplomatis dari cucunya, raut wajah Kakek Wiryo berubah sedikit kecewa. Ia menghela napas panjang, bersandar pada sandaran kursi kulitnya.
"Kamu ini selalu saja menjadikan pekerjaan sebagai alasan, Sam," keluh Kakek Wiryo dengan nada suara melunak, ada guratan kerinduan di matanya. "Umur Kakek ini sudah tidak muda lagi. Kakek ingin sekali melihat cucu sulung Kakek ini bersanding di pelaminan, lalu menimang cicit dari kamu."
Kakek Wiryo mendadak menyunggingkan senyuman tipis. Pandangannya menerawang ke arah langit-langit ruangan, membayangkan masa depan yang belum terjadi.
"Jingga itu anaknya manis, wajahnya teduh dan ayu. Kamu juga ganteng, mirip Kakek waktu muda dulu," puji Kakek Wiryo tanpa ragu. "Coba kamu bayangkan, kalau kamu dan Jingga menikah, nanti anak kalian pasti bakal luar biasa cantik dan tampan. Matanya mirip Jingga, tegasnya mirip kamu... Ah, membayangkannya saja sudah bikin Kakek senang bukan main."
Kakek Wiryo terkekeh sendiri membayangkan gambaran cicit ideal di kepalanya, membuat Samudra hanya bisa berdiri mematung sambil menelan ludah dengan susah payah. Bahkan bayanhan anak kami pun sudah dirancang Kakek, ringis Samudra dalam hati.
Namun, kekehan Kakek Wiryo tidak bertahan lama. Pria tua itu kembali menegakkan posisi duduknya, menatap Samudra dengan tatapan tajam yang mendadak berubah serius dan berwibawa. Rasa takut bahwa cucunya hanya akan terus memberikan alasan berbelit-belit membuat insting kepemimpinannya bangkit.
"Tapi Kakek tidak mau dijanjikan angin surga terus-menerus, Samudra," tegas Kakek Wiryo. "Kakek tahu betul tabiat kamu kalau sudah menunda-nunda sesuatu."
Samudra mengerutkan alisnya pelan. "Maksud Kakek?"
Kakek Wiryo mengetukkan jarinya di atas meja kayu. "Kakek beri kamu batas waktu. Jika sampai hari Minggu depan kamu masih belum juga mau membawa Kakek dan orang tuamu untuk membahas lamaran dan pernikahan dengan Jingga..."
Kakek Wiryo sengaja menggantung kalimatnya, membuat atmosfer di dalam ruang kerja itu mendadak terasa makin mengimpit.
"...Maka keputusan Kakek sudah bulat. Jabatan CEO di holding utama yang harusnya diserahterimakan kepadamu bulan depan, akan Kakek alihkan dan berikan kepada Rendy."
Brak!
Rasa-rasanya ada hantaman keras yang menghantam kepala Samudra saat nama itu diucapkan. Matanya membelalak lebar. "Rendy?! Kakek bercanda?!"
"Kakek pernah bercanda soal urusan keluarga dan bisnis?" balik tanya Kakek Wiryo dengan sebelah alis terangkat.
Darah Samudra serasa mendidih seketika. Kepalanya mendadak pening luar biasa. Rendy adalah cucu keponakan Kakek Wiryo dari jalur sepupu. Sepanjang hidupnya, Rendy terkenal sebagai pemuda pemalas yang kerjaannya hanya foya-foya, mengendarai mobil sport hasil belas kasihan keluarga, dan sama sekali tidak memiliki kompetensi di bidang bisnis. Membayangkan perusahaan keluarga yang dibangun dengan darah dan keringat selama puluhan tahun jatuh ke tangan orang yang tidak kompeten seperti Rendy benar-benar membuat perut Samudra mual.
"Kakek, Rendy itu bahkan tidak bisa membaca laporan keuangan dengan benar!" protes Samudra dengan nada suara yang naik satu oktav, tak mampu menahan kekesalannya. "Bagaimana bisa Kakek mempertimbangkan posisi CEO untuk orang seperti dia?!"
"Makanya," potong Kakek Wiryo santai sambil mengibaskan tangannya, "pilihannya ada di tangan kamu sendiri, Samudra. Mau segera melamar Jingga dan memimpin perusahaan ini... atau membiarkan Rendy yang duduk di kursi kepemimpinanmu?"
Samudra mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh. Gigi-giginya merapat kaku. Ia tahu betul karakter kakeknya—jika Kakek Wiryo sudah mengeluarkan ultimatum, maka pria tua itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Baik," sahut Samudra lirih namun penuh penekanan dari balik rahangnya yang mengetat. "Samudra mengerti."
Tanpa menunggu sepatah kata pun lagi, Samudra berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja kakeknya dengan langkah lebar dan tergesa-gesa.
Begitu pintu ruang kerja tertutup, Samudra melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar. Napasnya memburu. Pikirannya berputar hebat bagaikan angin p****g beliung.
Situasinya kini resmi menjadi darurat level atas. Pertaruhannya bukan lagi sekedar menghindari perjodohan dengan Casandra, melainkan masa depan karier dan seluruh kerja kerasnya di perusahaan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus segera bertemu lagi dengan Jingga Senandika Putri. Pria itu menyambar kunci mobil di atas meja kamarnya. Hari ini juga, ia harus mendatangi perumahan tempat tinggal Jingga, bertanya pada satpam kompleks untuk mencari alamat pasti rumah gadis itu, dan memaksa Jingga sampai gadis cerewet itu tidak punya pilihan lain selain menandatangani kontrak pernikahan mereka.