Pagi itu, Samudra memutar kemudinya. Alih-alih melaju ke arah gedung pencakar langit tempat kantornya berada, mobil SUV hitam itu justru membelah jalanan pagi menuju kawasan perumahan tempat ia menurunkan Jingga tadi malam. Rasa cemas dan tekanan dari ancaman Kakek Wiryo membuat kepalanya terus berdenyut.
Begitu sampai di depan gang komplek perumahan, Samudra menepikan mobilnya persis di depan pos penjagaan. Ia turun dan melangkah menghampiri seorang satpam perumahan yang sedang bertugas.
"Selamat pagi, Pak," sapa Samudra sopan, menetralkan raut wajahnya yang tegang. "Maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya mau bertanya, apakah Pak Satpam tahu di mana rumahnya Jingga?"
Satpam kompleks itu mengamati Samudra sejenak dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan setelan jas formal yang rapi dan mobil mewah yang terparkir di belakangnya. Ia kemudian mengangguk ramah sambil menunjuk ke arah dalam kompleks.
"Oh, Mbak Jingga? Tahu, Mas. Itu lho, rumah besar cat putih yang berjarak dua rumah dari pos ini. Yang gerbang besarnya warna hitam."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak," ujar Samudra lega.
Tanpa membuang waktu, Samudra kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan itu perlahan. Hanya dalam hitungan detik, ia sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu gerbang besi tinggi sesuai petunjuk tadi.
Pintu pagar kecil tiba-tiba terbuka. Pak Yono, satpam pribadi rumah keluarga Jingga, melangkah keluar setelah melihat sebuah mobil asing berhenti di depan gerbang majikannya. Samudra yang baru saja turun dari mobil langsung mendekat untuk memastikan.
"Selamat pagi, Pak. Permisi, apa benar ini rumahnya Jingga Senandika Putri?" tanya Samudra memastikan.
Pak Yono, yang baru pertama kali melihat sosok pria tinggi tegap berwajah tampan dan berjas rapi ini, mengangguk cepat. "Iya, benar sekali, Mas. Ini rumahnya Mbak Jingga. Mas ini... teman dekatnya Mbak Jingga, ya?"
Mata Pak Yono berbinar curiga namun ramah. Seumur-umur bekerja di sana, Pak Yono tidak pernah melihat ada laki-laki sebaya Jingga yang bertamu pagi-pagi begini, apalagi dengan penampilan sangat rapi layaknya seorang eksekutif muda. Di pikiran Pak Yono, pria di hadapannya ini pastilah kekasih rahasia dari cucu majikannya.
Tanpa ragu, Pak Yono langsung membuka lebar-lebar gerbang besi rumah tersebut. "Mari, Mas! Masukkan saja mobilnya ke halaman dalam, biar aman dan tidak mengganggu jalanan."
"Wah, terima kasih banyak, Pak," balas Samudra penuh rasa syukur.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi di halaman rumah yang asri dan luas itu, Samudra merapikan jasnya dan melangkah mantap menuju pintu kayu utama. Rasa terdesaknya mengalahkan rasa sungkan. Begitu pintu depan yang memang sedang terbuka itu ia lewati, seorang asisten rumah tangga yang sedang mengelap sofa ruang tamu langsung menghentikan pekerjaannya. Ia menghampiri Samudra dengan raut wajah heran.
"Selamat pagi, Mas. Ada yang bisa dibantu? Mencari siapa, ya?" tanya asisten rumah tangga itu ramah.
"Selamat pagi, Mbak. Saya mencari Jingga. Apa Jingga ada di rumah?" sahut Samudra dengan nada tenang.
"Ada, Mas. Mbak Jingga masih ada di lantai atas. Silakan duduk dulu, Mas, saya panggilkan Mbak Jingga-nya sebentar."
Sementara itu di lantai dua, Jingga yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya dan mengenakan pakaian santai rumahan berjalan santai menuruni tangga. Ia penasaran setelah mendengar ketukan di pintunya tadi dari si Mbak yang mengabarkan ada tamu laki-laki di bawah.
Siapa pagi-pagi begini yang nyariin aku? batin Jingga heran. Apa anak-anak yang semalam? Tapi kan biasanya mereka ngabarin dulu lewat chat.
Namun, begitu pijakan kakinya sampai di anak tangga terakhir dan pandangannya mengarah ke ruang tamu, mata Jingga seketika melotot sempurna. Tubuhnya membeku di tempat.
Di atas sofa empuk ruang tamunya, tampak Samudra Aksara Bumi sedang duduk tenang sambil mengedarkan pandangan memperhatikan interior rumahnya.
Astaga! Apa lagi ini?! jerit Jingga dalam hati, merutuki dirinya sendiri yang malam itu mau saja diturunkan di depan gang. Ia lupa bahwa pria ini punya seribu cara untuk mencari tahu alamat rumahnya hanya dengan bertanya pada satpam kompleks! Padahal niat hatinya yang paling dalam, ia sama sekali tidak ingin bertemu lagi dengan laki-laki menyebalkan itu seumur hidupnya.
Dengan napas memburu dan langkah cepat, Jingga menghampiri Samudra. Pria itu menyadari kehadirannya dan langsung berdiri.
"Kak Samudra!" geram Jingga setengah berbisik, matanya menatap Samudra dengan kilatan kemarahan yang membara. "Kenapa Kakak bisa ada di rumah aku?! Mau apa lagi sih?!"
Samudra menatap Jingga dengan raut wajah yang mendadak berubah memelas—sebuah pemandangan sangat langka bagi seorang Samudra. Pria itu menurunkan sedikit bahunya, melangkah mendekati Jingga.
"Jingga, tolong... aku benar-benar terdesak," bisik Samudra penuh permohonan. "Aku mohon sama kamu, bantu aku sekali ini saja. Tolong mau ya nikah sama aku?"
Jingga bersedekap d**a, menggelengkan kepalanya keras-keras tanpa ragu. "Enggak! Aku sudah bilang dari kemarin malam, aku enggak mau! Kakak kira pernikahan itu hal main-main?!"
"Jingga, pliss..."
"Bahkan kalau Kakak mau menyebarkan video ospek aku zaman SMA dulu sampai viral se-Indonesia raya, sebar saja! Aku enggak peduli lagi!" potong Jingga tegas. "Aku lebih memilih menanggung malu karena video bebek badut itu daripada harus terikat pernikahan sama Kakak!"
Jawaban telak Jingga membuat Samudra bungkam seketika. Pria itu mencengkeram rambut belakangnya pelan, benar-benar bingung dan panik. Ketakutan terbesar yang membayanginya malam itu kini menjadi kenyataan di depan mata. Benteng ancaman gertakannya sudah tidak mempan lagi pada Jingga.
Bagaimana ia harus memberi alasan pada Kakek Wiryo nanti? Ia tidak bisa membayangkan jika posisi CEO dan seluruh usaha keluarga yang sudah ia bangun mati-matian akhirnya jatuh ke tangan Rendy—si cucu keponakan yang pemalas dan tukang foya-foya itu.
Samudra menatap mata Jingga dalam-dalam, suaranya makin lirih dan sarat akan keputusasaan. "Jingga... ini bukan cuma soal video konyol itu lagi. Masa depanku dan masa depan banyak orang di perusahaanku sedang dipertaruhkan sekarang. Kalau kamu enggak mau bantu aku, semuanya bakal hancur."
Jingga terkekeh sinis, menyilangkan lengan di dadanya makin rapat. "Masa depan Kakak dipertaruhkan? Terus Kakak pikir, kalau aku menikah sama laki-laki menyebalkan kaya Kak Samudra, masa depan aku enggak dipertaruhkan juga, begitu?"
Samudra tercengang mendengar ucapan Jingga. Alisnya bertaut heran, merasa harga dirinya sedikit tersentil. "Lho... memangnya apa yang dipertaruhkan kalau kamu menikah sama aku?"
Samudra menegakkan kembali posisi tubuhnya, membusungkan d**a dengan rasa percaya diri yang mendadak kembali membumbung tinggi. "Aku punya segalanya, Jingga! Aku tampan, karierku mapan, aku kaya raya, keluarga berpengaruh. Rugi di mananya coba? Apa yang bikin masa depan kamu dipertaruhkan kalau bersanding sama aku?"
Jingga memutar bola matanya malas, hendak menyemburkan makian dan bantahan menohok atas kesombongan pria di hadapannya ini. Namun, belum sempat sepatah kata pun meluncur dari bibirnya—
"Ehem... ada tamu rupanya?"
Suara lembut nan berwibawa dari arah belakang membuat Jingga dan Samudra tersentak kaget. Mereka refleks menoleh bersamaan.
Di sana, berjalan mendekat sosok wanita paruh baya berparas anggun—Mama Andin—yang sedang membawakan nampan berisi dua cangkir teh hangat dan piring kue kering.
Tadi di dapur, Mama Andin tidak sengaja bertemu dengan asisten rumah tangganya yang sedang menyiapkan minuman. Saat bertanya siapa yang bertamu pagi-pagi begini, dengan polosnya si Mbak menjawab bahwa 'teman laki-laki Mbak Jingga yang sangat tampan' sedang menunggu di ruang tamu. Penasaran karena merasa anaknya tidak pernah membawa teman laki-laki ke rumah, Mama Andin akhirnya mengambil alih nampan tersebut untuk melihatnya sendiri.
Dan benar saja, di ruang tamunya kini berdiri seorang pria muda berparas sangat tampan, bertubuh jangkung, dan mengenakan setelan jas formal yang sangat rapi.
Mama Andin meletakkan nampan tersebut di atas meja kaca, lalu tersenyum hangat memandangi Samudra dan Jingga bergantian. "Jingga... ini siapa, Nak? Kok Mama baru lihat?"
Jingga mendadak panik luar biasa. Gagap, ia mencoba merangkai kata. "M-mama... ini... ini sebenarnya cuma—"
Melihat celah kesempatan emas yang terbuka lebar di depan matanya, insting licik dan serba cepat Samudra langsung bekerja seketika. Sebelum Jingga sempat menuntaskan kalimat pembelaannya dan merusak segalanya, Samudra dengan cepat mengikis jarak, memotong pembicaraan, dan membungkuk sopan memberi salam pada Mama Andin.
"Selamat pagi, Tante," sapa Samudra dengan suara beratnya yang sangat ramah dan penuh wibawa. Wajahnya tersenyum manis tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Perkenalkan, nama saya Samudra. Saya... kekasihnya Jingga."
Deg!