Jingga melebarkan matanya dengan mulut menganga lebar. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku, seolah-olah waktu berhenti berputar saat kata 'kekasih' meluncur mulus tanpa dosa dari mulut Samudra.
Mama Andin berdiri mematung di tempat. Rasa terkejut terpancar jelas dari raut wajah anggunnya. Bagaimana tidak? Baru beberapa hari yang lalu saat mereka mengobrol santai, anak bungsu kesayangannya itu dengan sangat yakin menegaskan bahwa ia tidak sedang dekat atau menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun. Lantas, dari mana datangnya pria berjas rapi yang tiba-tiba mengaku sebagai kekasih Jingga pagi-pagi begini?
Suara percakapan yang agak heboh di ruang tamu rupanya memancing rasa penasaran dari area dalam rumah. Ranum bersama suaminya, Bagas—yang kebetulan baru saja pulang dari perjalanan dinas luar kota dan menginap di sana—melangkah keluar menuju ruang tengah.
Namun, begitu pandangan mata Bagas tertuju pada sosok pria jangkung yang berdiri di sebelah Jingga, langkah kakinya terhenti seketika.
"Samudra?!" panggil Bagas setengah tak percaya.
Samudra yang mendengar namanya dipanggil ikut membalikkan badan. Matanya ikut membelalak kaget mendapati kehadiran pria bertubuh tegap berjas kasual di hadapannya. "Mas Bagas?"
Kedua pria yang saling mengenal itu langsung mengikis jarak. Samudra dengan sigap mengulurkan tangannya, menjabat jemari Bagas dan menyalaminya dengan sikap formal nan hormat.
Bagas menatap Samudra dengan dahi berkerut heran. "Kamu... kenapa bisa ada di rumah ini, Sam? Ada urusan pekerjaan sama orang rumah?"
Sebelum menjawab pertanyaan itu, otak cerdas Samudra yang serba cepat langsung mencerna situasi. Pria ini berada di dalam rumah Jingga. Demi memastikan dugaannya, Samudra melirik Bagas dan bertanya santai, "Maaf, Mas Bagas... kalau boleh tahu, hubungan Mas Bagas sama Jingga sebenarnya apa, ya?"
Bagas tertawa kecil sambil merangkul bahu Ranum yang berdiri di sampingnya. "Oalah, kamu belum tahu? Jingga ini adik ipar saya, Sam. Ranum ini istri saya, dan Jingga adik kandung istri saya."
BINGO!
Mendengar pengakuan jujur itu, senyuman penuh arti yang sangat licik mengembang sempurna di bibir Samudra. Matanya berbinar, seolah baru saja menemukan kartu AS terbaik dalam permainan caturnya.
"Oalah, ternyata begitu..." ujar Samudra dengan raut wajah berakting penuh keterkejutan yang manis. Ia lalu menatap keluarga di sekelilingnya dengan percaya diri. "Sebenarnya, Mas... saya ke sini mau bertemu Jingga. Saya ini kekasihnya Jingga."
DAMN!
Bagas dan Ranum terbelalak lebar. Mulut Ranum sampai tertutup oleh telapak tangannya sendiri karena saking tidak menyangkanya.
"Hah?! Kamu... pacarnya Jingga?!" seru Bagas setengah tertawa lantang, tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. Pria itu menepuk dahi sendiri. "Ya ampun! Ranum, kamu dengar kan? Kamu tahu nggak, Sam? Orang yang dari kemarin-kemarin mau saya kenalkan ke kamu... itu ya Jingga ini!"
Ranum ikut membelalak, langsung menimpali ucapan suaminya dengan heboh. "Iya, betul! Jingga, kamu ingat kan kata Mbak tempo hari? Yang Mbak bilang Mas Bagas mau mengenalkan kamu sama teman kerjanya yang mapan dan baik itu... ya Samudra ini!"
Sebuah kebetulan yang sangat luar biasa dan tidak masuk akal sedang terjadi di depan mata mereka semua.
Jingga yang berdiri di sudut ruangan benar-benar tercengang. Tubuhnya gemetar, kepalanya mendadak berdenyut pening. Kebetulan konyol apa lagi ini ya Tuhan?! jerit Jingga dalam hati. Dunia terasa begitu sempit dan kejam padanya pagi ini.
Bagas kemudian beralih menatap Mama Andin dengan wajah berbinar-binar. "Mama, tahu tidak? Samudra ini teman bisnis Bagas yang sangat handal. Dia ini CEO muda yang berprestasi, sopan, dan dari keluarga baik-baik. Sebenarnya dari kemarin Bagas berniat mau menjodohkan Jingga sama Samudra, eh... ternyata mereka berdua malah sudah pacaran duluan!"
Mama Andin yang mendengar penjelasan menantunya seketika menghela napas lega. Raut wajah terkejutnya berganti menjadi senyuman hangat penuh rasa syukur. Mengingat rekam jejak Bagas yang selalu memilih rekan bisnis berkualitas, Mama Andin langsung mempercayai dan merestui kebersamaan mereka. "Oalah... begitu ceritanya? Ya ampun, Mama sampai kaget tadi. Tapi syukur deh kalau ternyata kalian sudah saling kenal."
Sementara itu, Jingga yang melihat respons keluarganya hanya bisa meringis kaku. Mengingat ucapan kakaknya tempo hari yang menyebut bahwa teman Mas Bagas ini 'pria baik-baik', Jingga menggerutu dalam hati: Baik dari mananya?! Laki-laki ini penipu, pemeras, dan tukang ancam!
Langkah kaki yang berat dan tegas tiba-tiba terdengar dari arah lorong dalam. Seorang pria tua dengan rambut beruban rapi, tongkat kayu di tangan kanan, dan tatapan mata yang masih sangat tajam melangkah keluar menuju ruang tamu. Dialah Kakek Surya Baskara—kepala keluarga Baskara yang baru saja kembali dari luar negeri kemarin malam.
Kehadiran Kakek Surya seketika membuat suasana ruang tamu yang riuh mendadak hening dan tegang. Semua orang menaruh rasa hormat yang sangat tinggi pada pria tua itu.
Kakek Surya menghentikan langkahnya, mengedarkan pandangan mengamati situasi di depannya. Matanya yang tajam menangkap kontras yang aneh: cucu perempuan bungsunya, Jingga, tampak memasang wajah kesal dan tertekan setengah mati, sementara anak, menantu, dan tamunya justru tampak sangat gembira.
Bagas dengan cepat melangkah maju, memperkenalkan Samudra. "Kakek... perkenalkan, ini Samudra. Rekan bisnis Bagas sekaligus... teman dekat Jingga."
Kakek Surya mengangguk paham. Ia menerima uluran tangan Samudra yang menjabat tangannya dengan sangat sopan dan takzim.
"Saya Samudra, Kakek. Senang bisa bertemu dengan Kakek," ucap Samudra dengan nada suara yang begitu rendah, tenang, dan berwibawa.
Kakek Surya menatap Samudra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat dalam. "Rapi, berwibawa, dan punya tatapan yang bertanggung jawab," batin sang kakek. Namun, ia tetap bertanya, "Sebenarnya ada keributan apa pagi-pagi begini di rumah saya?"
Kali ini Mama Andin yang angkat bicara, menjelaskan situasi dengan raut bahagia. "Ini, Ayah... nak Samudra ini ternyata kekasihnya Jingga. Dan secara kebetulan, Samudra ini juga orang yang mau dijodohkan oleh Bagas untuk Jingga. Jadi ternyata mereka sudah berhubungan tanpa kita tahu."
Kakek Surya manggut-manggut. Ia kembali menatap Samudra lekat-lekat, menimbang-nimbang kelayakan pria muda berjas mahal ini untuk cucu kesayangannya.
Menyadari dirinya benar-benar sudah terkepung dari segala penjuru dan tidak punya jalan keluar, Jingga akhirnya nekad bersuara. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras, melangkah ke tengah ruangan.
"BOHONG! Semuanya bohong!" seru Jingga dengan suara gemetar menahan amarah dan kepanikan. "Kakek, Mama, Mbak Ranum... jangan percaya sama dia! Jingga nggak pernah pacaran sama Kak Samudra! Dia bohong! Kami nggak ada hubungan apa-apa!"
Mendengar bantahan histeris dari Jingga, Samudra bukannya panik, ia justru memainkan peran dramatisnya dengan sangat luar biasa.
Samudra menghembuskan napas pendek, lalu menatap Jingga dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat terluka dan penuh kekecewaan. Mata pria itu menatap Jingga seolah-olah hatinya baru saja dihempaskan ke batu karang.
"Jingga..." panggil Samudra dengan suara serak nan lembut. "Kenapa kamu tega bicara seperti itu di depan keluarga kamu? Cuma karena kita lagi ada masalah, bukan berarti kamu harus menganggap hubungan kita selama ini nggak ada..."
Samudra kemudian beralih menatap Kakek Surya dan Mama Andin dengan raut penuh penyesalan. "Maafkan saya, Kakek, Tante... Sebenarnya dari semalam saya dan Jingga sedang berselisih paham karena salah paham kecil. Makanya pagi-pagi sekali saya nekat datang ke sini untuk minta maaf dan meluruskan masalah. Tapi sepertinya Jingga masih sangat marah sama saya."
"GAK! JANGAN DENGARKAN DIA!" pekik Jingga frustrasi, menunjuk wajah Samudra dengan jari gemetar. "Dia akting! Percaya sama Jingga, Ma! Dia ini sengaja datang buat jebak Jingga!"
Namun, nasib menyedihkan berada di pihak Jingga. Penampilan Samudra yang begitu tenang, sopan, berwibawa, serta didukung penuh oleh kesaksian Bagas, membuat akting Samudra ribuan kali lebih meyakinkan ketimbang kepanikan Jingga yang terlihat seperti kekanak-kanakan di mata keluarganya.
Mama Andin menggelengkan kepala pelan, memegang pundak Jingga. "Jingga, sudah... Jangan kekanak-kanakan begitu. Masa ada tamu jauh-jauh datang mau minta maaf malah kamu tuduh bohong? Nggak baik, Nak."
"Tapi Mama—"
Melihat Jingga yang sudah benar-benar terpojok tanpa daya dan berada dalam genggamannya, Samudra melirik Jingga sekilas dari sudut matanya. Sebuah senyuman kemenangan yang sangat tipis terukir di sana, sebelum ia mengeluarkan kartu ultimatum pamungkas yang akan mengunci takdir mereka selamanya.
Samudra berdehem pelan, menegakkan posisi tubuhnya, lalu menatap Kakek Surya dan Mama Andin dengan raut wajah yang sangat serius dan mantap.
"Kakek l, Tante... agar tidak ada lagi keraguan di antara kita, dan untuk membuktikan betapa seriusnya niat saya pada Jingga..." Samudra menghentikan kalimatnya sejenak, membuat semua orang menahan napas.
"...Minggu depan, saya bersama Kakek dan seluruh keluarga besar saya akan datang resmi ke rumah ini untuk melamar Jingga secara resmi."
DUARR!
Dunia Jingga rasanya runtuh seketika. Pandangannya mendadak berputar, dadanya sesak, dan kakinya terasa begitu lemas seolah-olah ia ingin pingsan di atas karpet ruang tamu itu saat itu juga.