Bagas, yang sebenarnya sudah harus berangkat menuju kantornya, memecah keheningan dengan melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Pria itu menyalami Kakek Surya, mengangguk pada Mama Andin dan Ranum, lalu menepuk bahu Samudra pelan.
"Sam, saya duluan ya. Nanti kita sambung lagi obrolannya. Jingga ini kalau lagi ngambek memang sedikit keras kepala, jadi pintar-pintar kamu merayunya," bisik Bagas sambil terkekeh kecil.
"Siap, Mas Bagas. Hati-hati di jalan," balas Samudra dengan senyuman paling sopan dan penuh wibawa.
Setelah keberangkatan Bagas, Mama Andin menatap Jingga dan Samudra secara bergantian. Wajah anggun ibunya itu memancarkan rasa pengertian yang mendalam. "Ya sudah kalau begitu. Jingga, ajak Samudra mengobrol baik-baik di teras depan. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Mama, Mbak Ranum, sama Kakek masuk ke dalam dulu ya."
"Iya, Tante... Kakek... terima kasih banyak," sahut Samudra santai.
Begitu derap langkah Mama Andin, Ranum, dan Kakek Surya menghilang di balik pintu kayu utama yang tertutup rapat, atmosfer di teras rumah seketika berubah 180 derajat. Aura manis nan hangat yang baru saja tercipta hancur berkeping-keping.
Jingga memutar tubuhnya perlahan, memicingkan mata dan menatap Samudra dengan kilatan permusuhan yang seolah sanggup membakar pria itu hidup-hidup. Sementara itu, sosok yang sedang ditatap justru dengan santainya membenarkan letak jam tangan mewahnya, memasang ekspresi polos tanpa dosa seolah-olah tidak terjadi apa pun beberapa menit yang lalu.
Dada Jingga naik turun menahan gelombang amarah yang sudah mencapai puncak kepalanya. Tanpa peringatan, ia mengikis jarak dan—
BUGH!
Jingga mengayunkan kepalan tangannya dan memukul lengan atas Samudra dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Pukulan emosional yang sebenarnya tidak begitu berarti bagi fisik Samudra yang tegap itu mendadak direspons secara berlebihan oleh sang pelaku drama.
"Aww! Aduh!" Samudra memegangi lengannya, memejamkan mata dan mengaduh berpura-pura meringis kesakitan. "Jingga... kamu kasar sekali sih? Ini kekerasan dalam rumah tangga namanya, padahal kita belum resmi menikah!"
"DIAM!" geram Jingga dengan suara berbisik yang ditahan setengah mati agar tidak terdengar sampai ke dalam rumah. "Jangan berani-berani sebut kata 'menikah' lagi di depan aku, Kak! Kakak itu benar-benar gila ya?! Bisa-bisanya ngomong sembarangan di depan Kakek dan Mama?! Lamaran minggu depan dari mananya, hah?!"
Samudra meluruskan kembali badannya, menatap Jingga dengan alis terangkat santai. "Lho, kan memang benar? Kan dari kemarin kita sudah sepakat. Kamu sendiri yang bilang mau bantu aku—"
"AKU NGGAK PERNAH SEPAKAT!" teriak Jingga tertahan, wajahnya memerah padam. "Aku sudah bilang berturut-turut kalau aku nggak mau! Aku nggak peduli lagi sama video ospek bebek badut itu! Mau Kakak sebar di videotron se-Jakarta juga terserah! Sekarang, Kakak masuk lagi ke dalam dan jelaskan yang sebenarnya sama keluargaku!"
Samudra menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah mengejek. "Nggak mau. Kenapa harus dijelaskan? Keluargamu sudah menerima aku dengan tangan terbuka. Mas Bagas setuju, Mamamu senang, Kakekmu juga sudah beri restu. Semuanya sudah berjalan sempurna, Jingga."
"Kak Samudra!" Jingga menggeram frustrasi. Setiap kali ia mencoba bicara, Samudra selalu punya jawaban licik untuk membalikkan keadaan. Kesabarannya benar-benar habis. Dengan emosi yang membuncah, Jingga mendorong d**a Samudra menggunakan kedua tangannya. "Pergi nggak dari sini?! Pergi dari rumah aku sekarang!"
Samudra menahan pijakan kakinya di lantai teras, sama sekali tidak bergeming dari dorongan Jingga. Pria itu justru sengaja membiarkan Jingga mendorongnya sambil terus menatap gadis itu lekat-lekat.
"Oke, aku akan pergi," ujar Samudra datar, memotong dorongan Jingga. "Tapi aku cuma mau memastikan satu hal. Minggu depan, aku benar-benar akan datang membawa Kakek dan seluruh keluarga besarku ke rumah ini untuk melamar kamu secara resmi. Kamu harus siap-siap."
Jingga melotot, berniat menyemburkan makian lagi, namun Samudra dengan cepat memotongnya.
"Satu hal lagi... sebelum aku pergi, minta nomor kontak kamu dulu," pintanya santai sambil menyodorkan ponsel pintarnya.
Jingga terkekeh sinis, menyilangkan tangan di d**a. "Ogah! Sudi amat aku kasih nomor ponselku ke Kakak! Mending Kakak angkat kaki dari sini sekarang sebelum aku panggil Pak Yono buat seret Kakak keluar!"
Samudra tidak panik. Senyuman miring khasnya kembali terbit di sudut bibirnya. Ia menurunkan ponselnya sedikit, lalu menunduk mendekatkan wajahnya ke telinga Jingga.
"Yakin nggak mau kasih?" bisik Samudra pelan namun penuh penekanan. "Kalau kamu nggak mau kasih sekarang, aku punya banyak cara lain. Aku bisa saja berbalik masuk ke dalam ruangan sekarang, lalu bilang ke Kakek kamu kalau kita sebenarnya... pernah menginap sekamar dan melakukan 'hal itu' di luar nikah."
DEG!
Napas Jingga tersendat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar sampai terasa ingin melompat keluar dari kelopaknya. Ia menatap Samudra dengan pandangan horor yang luar biasa tak percaya.
"K-Kak Samudra... Kamu... kamu benar-benar sudah gila ya?!" seru Jingga dengan suara gemetar karena syok hebat. "Otak Kakak itu geser ya?! Kakak harus dibawa ke rumah sakit jiwa sekarang juga!"
"Terserah mau bilang apa," sahut Samudra santai, kembali menegakkan tubuhnya tanpa rasa bersalah. "Pilihannya di kamu. Kasih nomor ponselmu sekarang... atau aku masuk ke dalam dan buat cerita baru yang makin bikin Kakekmu jantungan?"
Pria di hadapannya ini benar-benar iblis berwujud manusia. Tidak punya urat malu, tidak punya empati, dan menghalalkan segala cara demi memenangkan keinginannya.
Lelah, frustrasi, dan merasa energinya sudah terkuras habis meladeni drama gila di pagi hari ini, Jingga menghembuskan napas kasar. Dengusan pasrah keluar dari hidungnya.
"Mana sini!" sentak Jingga kasar.
Ia merebut ponsel dari genggaman Samudra dengan gerakan kasar, lalu dengan jemari gemetar mendial nomor ponselnya di layar. Setelah selesai, Jingga menekan tombol simpan dan melempar ponsel itu kembali ke d**a Samudra.
"Nih! Puas Kakak?!" omel Jingga sengit.
Samudra menangkap ponselnya dengan cekatan. Ia melihat deretan nomor baru di layarnya lalu tersenyum sangat puas. Pria itu mengantongi ponselnya kembali ke dalam saku jas.
"Bagus. Begitu dong dari tadi, kan nggak perlu pakai drama," ujar Samudra tanpa dosa. Ia memutar tubuhnya, bersiap melangkah menuju mobil SUV hitamnya yang terparkir di halaman.
Namun, sebelum langkah kaki Samudra benar-benar melewati anak tangga teras, Jingga kembali berteriak menahannya dan menghampirinya.
"Kak Samudra!"
Samudra menoleh sekilas, menaikkan sebelah alisnya.
Jingga menunjuk wajah Samudra dengan tatapan tajam nan penuh ketegasan. "Dengarkan aku baik-baik ya. Sampai kapan pun, aku NGGAK AKAN PERNAH mau menikah sama laki-laki tengil, licik, dan penuh drama kaya Kakak!"
Mendengar deklarasi kebencian itu, Samudra tidak marah sedikit pun. Ia justru mengulas senyuman tipis penuh arti yang sulit diartikan. Pria itu mengangkat tangannya di udara, melambaikan jemarinya santai.
"Ditunggu minggu depan ya, Jingga," sahut Samudra santai. "Oh iya, titip salam manis buat calon mertuaku di dalam."
Tanpa menunggu balasan lagi, Samudra melangkah santai menuju mobilnya, masuk ke dalam kabin, dan melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman keluarga Baskara.
Jingga berdiri mematung di teras, memandangi kepergian mobil hitam itu sampai menghilang di balik gerbang utama. Ia memutar bola matanya malas, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang berantakan, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam rumah.
Namun, penderitaan Jingga ternyata belum berakhir.
Begitu melangkah melewati ruang keluarga, Jingga mendadak menghentikan langkahnya. Di atas sofa ruang keluarga, Mama Andin dan Mbak Ranum sudah duduk berdampingan. Kedua wanita itu langsung menghentikan obrolan mereka dan menatap Jingga dengan tatapan penuh selidik yang sarat akan rasa penasaran.
"Sudah pulang Samudra-nya, Ngga?" tanya Mama Andin lembut, mengisyaratkan Jingga untuk duduk di dekat mereka.
Jingga mendesah berat, melangkah mendekat dan menjatuhkan diri di atas sofa tunggal dengan wajah lesu. "Sudah, Ma."
Ranum menyipitkan matanya, menyenderkan tubuhnya ke belakang. "Nah, sekarang giliran kamu yang cerita ke kita. Kenapa bisa-bisanya kamu menyembunyikan cowok sekelas Samudra dari kita semua, Jingga? Kalau Mas Bagas nggak kenal sama dia, kamu pasti bakal terus bohong kan?"
Jingga menatap ibu dan kakaknya dengan raut wajah memelas, mencoba sekali lagi meluruskan kebenaran. "Mama... Mbak Ranum... tolong dengarkan Jingga dulu. Yang dikatakan Kak Samudra tadi itu semuanya BOHONG. Jingga nggak pernah pacaran sama dia! Dia itu cuma datang buat jebak Jingga!"
Mama Andin dan Ranum saling pandang sejenak. Bukannya percaya, Ranum justru meledakkan tawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Jingga, Jingga... kalau mau bohong itu yang masuk akal sedikit dong," goda Ranum sambil terkekeh. "Mana ada cowok yang mau jauh-jauh datang pagi-pagi pakai jas rapi, ngaku-ngaku jadi pacar kamu, terus nekat mau membawa keluarga besar buat melamar minggu depan kalau dia nggak serius sama kamu?"
"Tapi Mbak, dia itu cuma mau memanfaatkan aku!" pangkas Jingga frustrasi.
"Sudah, Jingga," sela Mama Andin lembut namun penuh penekanan. Ibunya tersenyum sambil mengelus bahu Jingga. "Mama tahu kamu mungkin ragu karena kalian baru saja berantem. Tapi Samudra itu anak yang sangat sopan dan berwibawa. Mas Bagas juga sudah menjamin kualitas karakternya. Tidak baik menuduh orang sembarangan hanya karena kamu sedang emosi."
Jingga memungut bantal sofa dan menutup wajahnya rapat-rapat sambil menjerit tanpa suara.
Sia-sia. Semuanya benar-benar sia-sia. Penjelasan apa pun yang keluar dari mulutnya sekarang tidak akan pernah mempan, karena di mata keluarga besarnya, Samudra Aksara Bumi telah berhasil membangun citra sebagai sosok pria idaman yang sempurna. Dan Jingga tahu, perangkap sandiwaranya kini telah terkunci rapat dari segala arah.