"Duh, Nad, lama banget sih. Kenapa bisa bangun telat? Ngapain aja semalam? Tuh rambut kamu berantakan banget."
Begitu Nadia sampai di halaman kantor, Mayra sudah memberondong dengan pertanyaan. Nadia tidak menjawab, hanya mengibaskan tangan sambil mengatur nafas dengan susah payah. Berlari dari parkiran basement sampai halaman kantor bukan hal mudah dilakukan oleh perempuan seusia Nadia. Apalagi Nadia tipe orang yang tidak suka olahraga. Bukan anti, tapi memilih menjaga kesehatan dengan cara yang lain.
Mending rebahan dong, dari pada bergerak tapi melelahkan. Toh ujung-ujungnya sama untuk merefresh badan. Begitulah jawaban Nadia saat Mayra sering mengajaknya olahraga.
Tak sabar menunggu Nadia menjawab, Mayra melanjutkan, "udah yuk, kita ke bus. Bapak Manajer yang Terhormat udah orasi tuh dari tadi. Takut kalau-kalau staf yang paling berkompetennya ini nggk jadi ikut beneran."
Nadia hanya mengangguk-angguk, belum mampu untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Baru saja mereka berbalik akan menuju bus, Melisa sudah ada di hadapan mereka. Melisa dan Mayra adalah sahabat Nadia semenjak Nadia bergabung di perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi ini. Meskipun usia Melisa dan Mayra terpaut beberapa tahun di bawah Nadia, tapi mereka bertiga sangat kompak. Layaknya gadis seumuran, Nadia dapat mengimbangi candaan, pola pikir, juga gaya hidup Melisa dan Mayra.
"Kamu ngapain malah turun, Mel? Kita baru mau naik." Sambil menyampirkan tas ranselnya di bahu Mayra bertanya.
"Disuruh turun sama Bapak Manajer. Tempatnya nggak cukup."
"Kok bisa sih? Kan sudah ada koordinasi sebelumnya, peserta berapa, akomodasi gimana." Seperti biasa Mayra selalu ekspresif dan menggebu-nggebu.
"Mana aku tahu May, aku kan bukan panitianya. Kamu kok bengong aja sih, Nad? Suka ya sama dress baru aku?"
Nadia yang dari tadi hanya melongo, mengerjap-ngerjapkan mata kaget. Bukannya apa, dari tadi Nadia mengamati penampilan Melisa. Dress putih dengan motif bunga-bunga yang cerah, sepatu merah dengan heels kira-kira 10 senti, dan jangan lupakan topi pantai yang dikenakannya.
"Udahlah Nad, nggak usah bingung. Namanya juga Melisa, penampilan harus cetar membahana di Khatulistiwa." Seolah mengerti apa yang dipikirkan Nadia, Mayra memberi penjelasan. Bukannya marah atau cemberut Melisa malah tersenyum sambil mengedip-ngedipkan mata.
"Melisa tahu kan, kalau kita mau lokakarya?" Sambil berbisik Nadia bertanya pada Mayra.
"Tahulah. Sudah biarin aja. Sudah biasa kan dia salah kostum seperti ini. Sekarang yang perlu kita pikirkan kita naik apa ini?"
"Benar kan feeling aku. Emang seharusnya aku nggak ikut. Belum apa-apa sudah ada masalah kayak gini." Nadia melorotkan bahunya malas. Acara kantor kali ini diadakan di kantor pusat perusahaan yang ada di Jakarta. Nadia malas jika harus kembali ke kota itu lagi. Kota yang mengukirkan banyak cerita dalam kehidupannya. Kota yang menyimpan berjuta kisah dan kenangan.
Nadia mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, saat mendengar klakson mobil berbunyi. Begitu juga Mayra dan Melisa serempak menolehkan kepala ke arah suara berasal.
"Hai guys, yuk naik." Mas Bimo yang mengemudikan mobil mengisyaratkan dengan kepala agar ketiga perempuan cantik itu masuk ke mobil.
"Kok Mas Bimo bawa mobil sih? Katanya kita pakai bus doang?" Nadia bingung saat melihat Mas Bimo bawa mobil perusahaan.
"Iya, gimana sih kok jadi kacau gini." Mayra sudah mulai meningkat emosinya.
"Ini perintah Pak Bos, Mayang. Biar nanti di sana ada kendaraan buat operasional. Lagian kan bus nya udah nggak muat. Buruan gih naik semua. Tuh bus nya udah mau berangkat." Naufal yang berada di kursi samping pengemudi memberi penjelasan sambil menaik-naikkan alisnya ke arah Mayra.
"Enak aja ganti-ganti nama orang. Bapak aku tuh sampai puasa Senin Kamis buat nyiapin nama," sewot Mayra saat Naufal memanggil namanya asal.
"Eits, siapa yang ganti nama kamu. Mayang itu akronim Mayra sayang."
Nadia, Mas Bimo, dan Melisa terkikik mendengar jawaban Naufal. Mayra hanya bisa melotot.
"Gas pol bro, jangan kasih kendor." Ternyata ada Wildan yang duduk di kursi belakang, tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Naufal memberi dukungan.
"Hai, tungguin. Jangan berangkat dulu." Terdengar suara dari kejauhan meminta mereka menunggu. Ternyata Teh Hana yang baru datang tergopoh-gopoh ke arah mereka.
Teh Hana usianya 3 tahun di atas Nadia, sudah menikah dan punya 2 anak. Anak keduanya masih balita. Kalau keluar rumah di saat weekend seperti ini susah sekali karena anaknya pasti akan mengikuti kemanapun Teh Hana pergi. Jadi harus pergi dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan. Itulah yang membuat Teh Hana bisa sangat terlambat seperti ini.
Nadia sangat kagum pada perempuan yang sudah menikah, sudah punya anak, tapi tetap mampu menjalankan kehidupan karirnya. Jadi wanita karir atau ibu rumah tangga, menurut Nadia bukanlah suatu pilihan. Keduanya bisa dijalankan secara beriringan dan seimbang. Dulu, dulu sekali, Nadia punya mimpi menjadi ibu rumah tangga saja di rumah. Mengurus anak-anak dan rumah. Menunggu suami pulang sambil melakukan kegiatan yang bermanfaat. Dulu, sebelum mimpi itu hancur oleh keegoisan.
Perjalanan Bandung Jakarta tidak terasa membosankan karena mereka asyik mengobrol diselingi canda tawa. Mas Bimo yang memang terbiasa menyetir jarak jauh juga enjoy saja. Tidak terlihat raut lelah di wajahnya. Apalagi kalau Naufal sudah mulai menggoda Mayra dan ditanggapi dengan tatapan sewot atau balasan olokan. Hiburan tersendiri di saat menghadapi keramaian jalan. Belum lagi tingkah konyol Melisa yang sok bergaya seperti artis yang bak princess itu.
Dari luar Nadia terlihat tertawa lepas seolah tanpa beban. Dalam hati dia cemas bukan main. Dari tadi dia memilin-milin jari tangannya untuk mengurangi kegugupan. Dari awal Nadia sebenarnya tidak ingin ikut acara kantor ini. Nadia sudah menyiapkan beberapa alasan yang masuk akal agar bisa bebas dari kegiatan kali ini. Tapi sebelum Nadia mengajukan alasannya, manajer bagian menyampaikan acara ini wajib hukumnya diikuti semua staf. Berkaitan dengan nilai kinerja juga promosi jabatannya. Nadia tidak peduli dengan jabatan, namun konsekuensi yang harus diterima bila tidak ikut acara ini membuat Nadia bergidik ngeri. Nadia belum berniat resign dari perusahaan ini. Nadia masih ingin bekerja di perusahaan yang gajinya lumayan bisa untuk tabungan kelak jika dia ingin membuka usaha sendiri.
Mulai masuk Jakarta tingkat kecemasan Nadia naik level. Kalau tadi dia masih sempat bercanda gurau dengan yang lain, kali ini hanya bisa menatap keluar jendela. Nadia memberi sugesti pada dirinya sendiri. Itu sudah masa lalu Nadia, kamu sudah memiliki kehidupan yang baru, dia pun juga sama pasti sudah bahagia bersama orang baru dalam hidupnya. Jakarta luas, untuk bertemu seseorang di antara jutaan orang kemungkinan sangat kecil. Tapi bukan tidak mungkin terjadi kan? Batin Nadia mulai berperang antara mensugesti dirinya untuk tetap tenang dengan pikiran-pikiran buruk yang melintas di kepalanya.
"Nad, kenapa sih? Kok wajah kamu pucet banget. Mabuk ya?" Saat menoleh kepala ke belakang Wildan menyadari Nadia agak gelisah. Terlihat berkeringat dingin. Nadia yang duduk di jok paling belakang bersama Mayra dan Melisa menggangguk. Mengiyakan saja lebih baik daripada menjelaskan alasan sebenarnya.
"Minum gih." Mayra menyodorkan air mineral, yang disambut Nadia dengan segera meminumnya sampai seperempat bagian. Lumayan lebih tenang.
Begitu pikiran Nadia mulai tenang, tiba-tiba terdengar dentuman keras dari arah depan. Mas Bimo banting setir ke arah kanan. Kejadiannya begitu cepat, mobil tiba-tiba oleng arah tak terkendali. Nadia hanya bisa berpegangan jok kursi di depannya sambil merapalkan doa yang dia bisa. Nadia merasakan tubuhnya bergoyang ke kanan dan kiri, kap mobil seperti menggesek sesuatu dan braaak...... Mobil berakhir menabrak sesuatu dengan suara keras. Disusul suara mencicit dan seperti suara benda-benda berjatuhan. Ya Tuhan, apa yang terjadi?
* * *